
Prisha merasakan pedas yang tak terkira di tenggorokannya karena tersedak kuah yang baru saja ia minum. Andrian dengan cekatan memberikan segelas air putih yang ada di hadapannya.
"Ini, minum dulu" kata Andrian menyodorkan segelas air putih pada Prisha. Prisha segera mengambilnya dan meminumnya.
"Terima kasih pak" Kata Prisha begitu ia selesai minum.
"Melihat sikap kamu yang seperti ini, sepertinya dugaan saya benar. Kemarin kamu dihukum kan?" Andrian masih sibuk makan tetapi tetap mengintrogasi Prisha. Prisha hanya menunduk terdiam. Melupakan makan siang yang tadinya terlihat menggoda karna perut yang kosong.
"Maaf pak" hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Prisha.
"Ngapain minta maaf sama saya. Mau kamu dihukum, diskors atau bahkan yang lebih buruk dari itu gak ada pengaruhnya sama saya"
"Coba aku tebak. Pasti masalahnya sama anak jurusan sebelah itu lagi kan?" lanjut Andrian. Yang langsung dijawab dengan anggukan.
"Sha, Sha. Kamu itu terlalu ngalah dan lemah. Jadi dia degan mudahnya mengintimidasi. Sekali sekali coba ngelawan. Tunjukin kalau kamu gak takut sama dia" Usul Andrian. Ia meletakkan sendoknya dengan posisi tengkurap menunjukkan kalau ia sudah selesai makan.
"Maaf pak" entah kenapa hanya kata kata itu yang lagi-lagi muncul dari mulut Prisha. Membuat Andrian gemas sendiri.
"Maaf aja terus. Udah lah. Saya sudah selesai makan. Kamu segera selesaikan makan siangnya lalu ke butik. Sudah di tungguin mama" Andrian berdiri dari tempat duduknya. Lalu berjalan menjauh meninggalkan Prisha yang masih tertunduk dengan makanan yang ada di piringnya. Sepeninggal Andrian, Prisha segera menghabiskan makanannya lalu membawa piring kotor miliknya dan Andrian menuju wastafel yang ada di dapur. Terlihat simbok yang sedang sibuk beres beres.
__ADS_1
"Udah nduk. Biar simbok aja yang cuci piringnya" Simbok berjalan mendekat kearah Prisha hendak mengambil piring kotor yang ia bawa.
"Gak usah mbok. Biar Prisha aja." Prisha segera membuang sisa makanan yang ada dipiringnya kedalam tempat sampah. Lalu menguyur piring tersebut dengan air. Dengan cekatan ia membersihkan piring yang hanya berjumlah 2 buah tersebut. Kemudian meletakkannya pada rak piring.
"Mbok. Prisha pamit balik ke butik ya" Pamirmt Prisha setelah ia mengelap tangannya yang basah.
"Ya neng. Monggo" Jawab simbok.
Prisha segera kembali menuju butik yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Ia segera membuka pintu dan mendapati Andrian sudah duduk selonjoran di sofa tamu yang sengaja di siapkan untuk para pelanggan. Tanpa menyapa Prisha lewat begitu saja. Dan hanya menyapa mama Ammy.
"Sha, mau kemana?" Perkataan mama Ammy menghentikan langkah Prisha yang hendak melangkah menuju ruang jahit.
"Mau jahit di belakang buk" Jawab Prisha sambil menunjuk arah yang dituju.
"Jadi gini Sha. Sekarang kan udah mau perayaan 17an. Mama pengen adain promo spesial hari kemerdekaan. Ada beberapa baju dan gaun nuansa merah putih yang sengaja kami buat. Jadi mama mau kamu sama Rian yang jadi modelnya. Gimana? Bisa kan?"
"Maaf buk. Kalau harus jadi model Prisha belum bisa. Mending ibu pakai orang yang biasanya aja. Prisha takut nanti hasilnya gak maksimal dan mengecewakan" Jawab Prisha dengan kepala menunduk.
"Gak bakal. Nanti diarahin sama fotografernya." Kata mama Ammy sambil mengibaskan tangannya.
__ADS_1
"Udah lah Sha. Ambil aja. Itung-itung belajar memasarkan produk sendiri. Toh model baju kan yang ditonjolin detail bajunya. Bukan gaya-gayaan kayak model majalah" sahut Andrian yang masih asyik selonjoran sambil memainkan handphone di tangannya.
"Mau ya Sha. Ntar di bantuin sama Rian juga. Tuh fotografer sama periasnya udah dateng."
"Tapi bu......" Ucapan Prisha terpotong karena Ammy sudah mengandengnya dan memperkenalkannya pada tamunya itu. Sementara Andrian tersenyum tipis penuh arti. Bukan tanpa sebab, tapi semua ini terjadi karena campur tangan Andrian. Ia sengaja menyuruh mama Ammy untuk menjadikan Prisha model dadakan di butiknya. Awalnya Ammy juga sedikit ragu. Tapi mendengar alasan Andrian yang ingin menjadikan Prisha sosok yang lebih berani tampil di depan umum dan juga sebagai wadah untuk pembelajaran, maka Ammy pun memberi kesempatan itu. Toh tidak ada salahnya untuk memberdayakan karyawan sendiri. Walaupun ibaratnya Prisha itu belum diangkat jadi karyawan tetap dan baru magang. Tetapi keuletan dan sopan santunnya membuat Ammy terpana. Ia yakin Prisha punya potensi dan bakat menjahit. Hanya perlu bimbingan saja. Dan ahlaknya yang bagus akan membuat siapa saja terpana dengan tingkah lakunya. Kelemahannya hanya satu. Ia terlalu rendah diri dan menganggap dirinya bukan siapa-siapa. Hal itu lah yang membuat teman-teman Prisha bersikap seenaknya.
Perbincangan antara pihak fotografer dan Ammy berlangsung singkat. Ammy memberi tahukan konsep pemotretan yang akan di lakukan. Setelah itu Prisha di make up dan disuruh ganti baju. Begitu pun dengan Andrian. Sementara itu pihak fotografer menyiapakan tempat untuk pemotretan.
"Nih modelnya udah siap" Kata wanita yang tadi merias Prisha. Ia mengandeng lengan Prisha menuju tempat yang sudah di sediakan.
"Ini fotonya yang cewek dulu ya" Kata fotografer yang berkalung kamera. Ia dapat melihat wajah Prisha yang begitu tegang. Sehingga sebisa mungkin ia mencairkan suasananya lebih dulu dengan mengajak Prisha mengobrol obrolan ringan. Hingga Prisha terbawa suasana dan mencair, barulah mereka memotret yang sesungguhnya.
Sebisa mungkin fotografer itu mengarahkan berbagai gaya agar detail baju yang dipakai Prisha terekspos. Mengingat ini adalah kali pertama Prisha menjadi model.
Sesi foto pertama bisa di lalui Prisha tanpa hambatan. Walau tubuhnya masih sedikit kaku saat bergaya di depan kamera, namun karna fotografernya sudah handal dengan jam terbang yang tinggi maka hasilnya pun bisa maksimal. Begitupun dengan Andrian.
"Ok sekarang ganti yang baju couple ya" kata Ammy yang ikut menemani acara pemotretan. Prisha yang sudah siap dengan bajunya kembali menegang mengingat ia akan berdekatan dengan Andrian. Dadanya lembali bergemuruh. Telapak tangannya berkeringat. Tubuhnya sedikit bergetar.
"Kenapa tegang gitu Sha? Tadi udah bagus kok hasilnya" Kata Ammy yang melihat ketegangan di wajah Prisha. Prisha pun hanya membalas dengan senyuman.
__ADS_1
"Kenapa canggung gitu? Lebih deket dong. Ini kan ceritanya kalian itu pasangan" Mama Ammy ikut andil memberikan arahan pada Prisha yang terlihat malu-malu di dekat Andrian. Karena Prisha masih tak merespon, akhirnya Andrian gerak cepat menghampiri Prisha dan langsung mempratikkan apa yang dikatakan oleh fotografernya. Andrian dapat merasakan detak jantung Prisha yang berdegup degan kerasnya ketika mereka berdekatan. Awalnya Prisha terus saja menunduk, membuat fotografer sedikit kesulitan mencari angle yang cepat. Namun Andrian dengan berani menyentuh dagu Prisha dan mendongakkannya. Membuat mata mereka bertemu pandang.
"Ngapain lihat bawah terus? Sekali kali lihat wajah yang ada di dekatmu. Gak dosa kok. Ini namanya profesional" Kata Andrian membuat Prisha mau tak mau harus menuruti perkataannya.