Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 29


__ADS_3

"Han, Git, nanti tolong anterin aku ke tempat kerja ya" Kata Prisha ketika mereka berjalan keluar dari kelas.


"Dianterin aku apa Gita?" Tanya Hani meyakinkan


"Dianter kalian berdua" Jawab Prisha sambil tetap melangkah.


"Serakah nih" jawab Gita


"Kan kaliaan bodyguardku. Kata Elina sih. Kalau bagiku ya besti" Jawab Prisha cengengesan.


"Ada sesuatu yang harus kalian tau. Aku gak mau banyak bicara. Cukup menunjukkan fakta. Biar kalian sendiri yang menyimpulkan" jelas Prisha.


"Apa ada hubungannya dengan omongan musuh elo itu?" Tanya Hani dengan menekankan kata musuh. Prisha langsung menjawabnya dengan anggukan.


"Ya elah Sha. Loe fikir kita percaya sama omongan mereka. Gak bakalan. Lagian soal foto kan bisa diedit." lanjut Hani kemudian.


Hani dan Gita melangkah menuju parkiran. Sedangkan Prisha berjalan kearah gerbang.


"Dek Prisha" Sapa Rama yang sepertinya sengaja menunggu Prisha keluar.


"Kak Rama" Jawab Prisha.


"Mau pulang?" Tanya Rama setelahnya. Ia masih setia berdiri disamping Prisha sambil memegangi motornya.


"Gak kak. Mau langsung ke tempat kerja" jawab Prisha yang selalu disertai senyum ramah.


"Aku anterin ya" Tawar Rama.


"Makasih kak. Tapi tadi aku udah janjian sama temenku minta di anterin. Jadi maaf ya. Mungkin lain waktu" jawab Prisha lembut. Ia tak mau Rama tersinggung dengan penolakannya.


"Soal kemarin Prisha juga minta maaf ya kak. Prisha gak ada maksud mempermainkan kak Rama. Cuman pak Andrian aja yang sedikit maksa buat nganterin Prisha." Lanjut Prisha. Ia masih merasa bersalah dengan kejadian kemarin.


"Sebenernya sih masih sebel ya sama dek Prisha. Aku yang mau nganterin malah pulangnya sama kak Andrian. Apa jangan jangan kalian ada hubungan ya?" Tanya Rama mengorek informasi


"Gak kok kak. Sebenernya....."

__ADS_1


"Ayo Sha" Ucap Hani yang sudah stan by di atas kendaraannya. Membuat perkataan Prisha terpotong.


"Kak. Maaf ya Prisha duluan. Itu udah ditunggu" Kata Prisha sambil menunjuk ke arah Hani. Setelah berpamitan ia pun segera membonceng dibelakang Hani. Dimana di belakang Hani ada Gita yang membuntuti.


...****************...


"Makasih ya udah nganterin aku. Ini tempat kerja aku" Kata Prisha begitu sampai di butik mama Ammy.


Tin Tin


Bunyi klakson motor disamping mereka membuat mereka serentak menoleh. Hani dan Gita sedikit terkejut dengan kedatangan Andrian.


"Pak Andrian? Kenapa bapak di sini? Tanya Hani


"Seharusnya yang tanya seperti itu saya. Bukan kalian. Ngapain kalian ada didekat rumah saya? Mau ngapel? Atau sekedar nitip surat cinta ke pembantu yang ada dirumah?" Tingkat percaya diri Andrian sungguh tinggi. Namun itu hal yang sangat wajar. Ia lelaki yang tampan dan juga cerdas. Pamornya sebagai anak pemilik yayasan membuatnya semakin digilai banyak perempuan. Baik itu dari kalangan siswa maupun teman kerjanya. Sikapnya yang cuek dan cenderung arogan justru membuat orang penasaran dan ingin menahlukkan hatinya.


"Bapak ini PD sekali ya" Jawab Hani


"Saya kesini itu buat nganterin teman saya kerja" Lanjut Hani. Sedangkan Gita dan Prisha hanya menyimak. Menjadi pendengar setia.


"Dan yang perlu kamu tahu, temenmu itu kerja di butik mama saya. Kalian tahu kenapa dia bisa kerja disini?" Andrian menunjuk ke arah Prisha. Membuat Prisha sedikit ketakutan. Pasalnya Prisha tak bercerita kepada Hani dan Gita masalah jebakan Elina di kantin hingga membuatnya harus berurusan dengan Andrian. Kas bon yang nilainya tak seberapa itu membuat Prisha harus bekerja paruh waktu. Walaupun begitu Prisha tetap bersyukur. Dengan bekerja di butik ia bisa mendapatkan pelajaran sekaligus pengalaman yang lebih tanpa harus keluar modal. Disamping itu ia juga merasa bahagia bisa bertemu Andrian tiap hari. Memandangnya, bahkan bisa bertutur sapa dengannya.


"Ya sudah lah saya mau pulang dulu. Dan kamu Prisha buruan masuk. Pasti sudah ditunggu mama" Intruksi dari Andrian membuat mereka membubarkan diri. Andrian masuk rumah. Hani dan Gita pamit pulang dan Prisha menuju butik. Melakukan rutinitasnya sebagai pekerja paruh waktu. Ia masuk kedalam butik. Menyapa Ammy dan teman kerja lainnya lalu menganti baju.


"Sha. Ke rumah gih. Makan siang bareng Andrian. Kalian kan sama sama baru pulang dari sekolah. Mesti lapar" Kata Ammy yang melihat Prisha masuk keruang kerja dengan memakai baju rumahan. Kali ini Prisha sudah membawa baju ganti sehingga Ammy tak perlu repot repot mencarikannya baju yang pas.


"Terima kasih bu. Tapi Prisha masih kenyang. Lebih baik Prisha langsung bantuin yang lain menjahit saja." Kata Prisha sungkan. Ia tak mau diperlakukan istimewa. Walaupun pada dasarnya memang Ammy tak pernah pilih kasih. Semua kariyawan mendapatkan jatah makan sekaligus seragam kerja.


Pintu butik terbuka, menandakan ada pelanggan datang. Ammy pun segera ke depan menyambut mereka dengan ramah. Setelah berbincang cukup lama Prisha dipanggil dan segera datang.


"Ya bu. Ada yang bisa Prisha bantu?" Tanya Prisha setelah berada didekat meja kerja Ammy.


"Ibu ini mau pesan baju sarimbit keluarga. Tolong kamu bantu saya catat ukurannya ya. Biar saya yang ukur." Kata Ammy memberi tugas. Prisha pun dengan cekatan membantu Ammy menulis ukuran pelanggan tersebut, sambil sesekali memperhatikan Ammy dalam mengambil ukuran. Setelah pelanggan pergi Prisha segera menyodorkan catatan yang sudah di tulisnya.


"Ini bu ukuran pelanggan yang tadi. Apa boleh Prisha kembali ke belakang? Tanya Prisha.

__ADS_1


"Nanti dulu. Saya mau berikan tugas buat kamu. Tolong buatin saya desain gaun remaja buat acara nikahan. Biar saya buat desain gaun pengantin dan orang tuanya" Ammy memberikan Prisha buku kostum berikut pensil, skala dan alat lainnya.


"Tapi Prisha masih pemula bu. Belum pernah buat desain gaun. Soalnya kalau dirumah biasanya orang suruh jahit sudah request modelnya juga. Takutnya nanti Prisha buat kecewa" Bukannya membantah, hanya saja Prisha masih belum percaya diri dengan kemampuan yang ia miliki.


"Dicoba aja dulu. Nanti kan bisa saya refisi kalau belum pas" Jawab Ammy yang sudah mulai memegang pensil di tangannya. Mau tak mau Prisha pun menuruti perintah Ammy. Semaksimal mungkin ia berusaha menuangkan ide yang ada di kepalanya.


...****************...


"Buk. Saya pamit dulu" Kata seorang kariyawati yang hendak pulang. Membuat Prisha melirik sekilas kearah jam dinding yang tertempel ditembok. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya. Memberesi alat tulis dan skala yang digunakan untuk bekerja. Dan menyisakan kertas pola hasil desainnya.


"Buk ini yang ibu minta. Maaf hasilnya tidak sebagus punya ibu" Kata Prisha sambil menyodorkan kertas bergambar.


"Ok. Sudah bagus kok."


"Kalau gitu saya permisi dulu bu. Mau ambil tas sekalian pulang." Prisha mengulurkan tangannya kepada Ammy seperti yang ia lakukan ketika beramitan kepada ibunya. Ia langkahkan kaki keluar butik dengan terburu-buru. Takut jika ketinggalan angkot.


"Ayo saya antar pulang" Kata Andrian yang sepertinya sengaja menunggu Prisha diatas motornya.


"Terima kasih. Tapi lebih baik saya pulang sendiri naik angkot daripada pulang sama bapak malah jadi masalah" Jawab Prisha sedikit jengkel.


"Maksud kamu apa?" Tanya Andrian kebingungan.


"Bapak kan yang menyebar fitnah kalau saya wanita bayaran"


Andrian hanya bisa melongo mendengar tuduhan Prisha yang jelas jelas ia tak tahu menahu apa apa. Prisha melangkah pergi menjauh meninggalkan Andrian namun dengan cepat tanganya dicekal.


"Jelaskan dulu baru pulang. Jangan buat saya bertanya-tanya dengan ucapan kamu" Kata Andrian


"Saya buru buru pak. Nanti ketinggalan angkot" Prisha menyentak tangan Andrian lalu berjalan cepat menuju pinggir jalan. Melambaikan tangan untuk menyetop angkot yang sudah mulai terlihat. Andrian pun segera merogoh dompet yang ada di sakunya. Memberikan selembar uang kepada Prisha


"Apa ini pak?" Tanya Prisha kaget ketika Andrian memaksa menggenggamkan uang tersebut di tangannya.


"Ini buat bayar angkot. Karena kamu tidak mau saya anter"


"Tapi pak..." Suara Prisha terhenti karena Andrian melangkah menjauh. Sedangkan angkot yang ia stop sudah berhenti disampingnya.

__ADS_1


...****************...


Pagi yang suram kembali Prisha alami. Setelah mendapatkan bullyan dari Elina dihalaman sekolah saat apel pagi. Kini ia dihadapkan oleh teror yang sama. Sebuah foto ia menerima uang dari seorang lelaki serta tulisan dengan kata-kata kasar yang membuat teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan jijik.


__ADS_2