
Bulan Agustus adalah bulan yang bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya pada bulan tersebut tepatnya 78 tahun yang lalu, rakyat Indonesia berhasil mendeklarasikan kemerdekaannya. Masyarakat Indonesia berramai ramai mengibarkan bendera di depan rumah mereka. Berbagai perlombaan juga mereka adakan untuk memperingati hari bersejarah tersebut.
Tak hanya dilingkungan masyarakat yang menyambut bulan agustus dengan suka cita. Lingkungan sekolah pun tak kalah meriah. Mereka membentuk panitia 17an untuk memeriahkan bulan kemerdekaan Indonesia. Berbagai perlombaan mereka adakan. Ada yang sifatnya individu ada juga yang kelompok. Mereka begitu sibuk menyambut bulan agustus dengan cara mereka masing masing.
"Teman-teman sebentar lagi tanggal 17 agustus. Sekolah kita bakal ngadain lomba pentas seni. Seandainya kita nampilin fashion show hasil karya kita gimana?" Kata Gunawan yang merupakan ketua kelas X jurusan tata busana. Gunawan memang sengaja mengumpulkan teman-teman mereka saat jam istirahat untuk membahas siapa saja yang akan mewakili kelas mereka dalam mengikuti berbagai cabang lomba.
"Kalau aku setuju sih. Karna kita anak tata busana ya harus nampilin hasil rancangan kita." jawab salah seorang siswa dikelas tersebut.
"Kalau menurut aku, kalau cuman fashion show aja kok kayak kurang seru ya. Terkesan kayak kita gak punya bakat lain. Gimana kalau drama musikal aja. Lebih menarik. Nanti ada yang nyanyi, ada yang bermain peran, terus pakaiannya nanti hasil karya kita sendiri. Jadi sekali tampil bisa mengeksplor banyak hal" usul siswa yang lain. Mereka saling beradu pendapat dengan argument mereka masing masing. Namun sebagai ketua kelas Gunawan harus tegas dan bisa mengambil keputusan. Ia menerima semua pendapat teman-temannya, menyaringnya dan mengkolaborasikannya dalam sebuah ide baru.
Dalam hal ini semua anggota kelas berperan penting dalam pengambilan keputusan. Karena Gunawan memilih voting agar tak ada pihak yang merasa tersudutkan atau tak didengar pendapatnya. Hingga akhirnya mereka memilih menampilkan fashion show dan menyanyi dalam satu waktu.
"Gimana kalau Prisha dan Gita yang jadi koordinator untuk baju yang bakal di tampilin? Prisha kan emang dasarnya udah pinter jahit dari dulu. Ditambah Gita yang anak pemilik butik pasti udah faham harus nampilin apa buat pentas bertema kemerdekaan nanti" Usul Gunawan yang langsung di setujui yang lain. Mereka semua mengakui bahwa kemampuan Prisha dalam dunia tata busana memang tak di ragukan lagi.
Siang itu waktu istirahat mereka dihabiskan untuk bermusyawarah di kelas. Mereka menunjuk siswa yang akan mewakili berbagai cabang lomba 17an nanti. Sekaligus menyiapkan dana untuk membeli barang-barang yang di akan di gunakan.
...****************...
"Gimana nih Sha, kita ditunjuk buat koordinator fashion show. Mau nampilin apa nanti dipanggung?" Tanya Gita begitu mata pelajaran terakhir usai.
"Nampilin busana dari daur ulang barang bekas aja Git. Ntar kita minta bantuan temen-temen buat ngumpulin desain. Nanti kita ambil beberapa yang paling bagus buat ditampilin" Jawab Prisha. Mereka berjalan bersisihan menuju tempat parkir untuk mengambil kendaraan.
__ADS_1
"Ntar kita bahas di grup kelas aja ya. Aku buru buru nih mau kerja" Kata Prisha. Ia berjalan tergesa meninggalkan Gita dan Hani yang masih asyik membahas lomba 17an.
"Gak usah lari larian. Ntar gue anterin" Teriak Hani yang hanya di jawab dengan isyarat tangan yang diangkat keatas menunjukkan tidak mau. Akhirnya mereka pun berjalan terpisah menuju tempat tujuan masing masing.
"Selamat siang bu" Kata Prisha sambil membuka pintu butik mama Ammy begitu ia sampai.
"Siang juga Sha. Kebetulan banget kamu datang. Sana buruan ganti baju terus makan kerumah" Jawab Ammy yang masih sibuk dengan alat tulisnya di meja kerja. Prisha datang menghampiri Ammy lalu mencium tangan atasannya itu. Memang begitulah kebiasaan Prisha. Setiap datang dan pulang ia akan menyalami tangan atasannya layaknya seorang anak yang meminta restu ibunya. Ammy pun tak keberatan. Walaupun kebanyakan karyawati di butik tersebut tak ada yang bersikap seperti Prisha. Dan hanya sekedar menyapa saat datang dan pulang dari butik. Namun ia selalu menyambut uluran tangan Prisha dengan hangat. Prisha bersikap demikian sebagai wujud penghormatan seorang anak kepada orang yang lebih tua sekaligus atasannya.
Prisha berjalan menuju ruang ganti lalu mengganti seragam sekolahnya dengan celana bahan dan kaos lengan pendek yang akan ia gunakan untuk bekerja. ia menaruh tasnya pada loker yang sudah di sediakan untuk kariawan. Selanjutnya ia melangkahkan kaki menuju kediaman mama Ammy untuk makan siang. Awalnya ia merasa tak enak hati namun setelah dijelaskan bahwa semua kariawan juga melakukan hal yang sama, maka Prisha pun menikmati makan siang itu tanpa malu malu.
"Selamat siang neng" Sapa mbok yang bekerja di rumah Ammy.
"Monggo silahkan dinikmati makan siangnya" Tawar simbok yang selalu setia menemani malan siang Prisha. Prisha pun tersenyum ramah lalu duduk dan bersiap untuk mengambil makanan. Prisha mengambil piring yang telah di sediakan lalu mengisinya dengan secentong nasi.
Terdengar deheman dari arah depan membuat simbok yang tadinya duduk kini berdiri menyambut anak pemilik rumah teesebut.
"Eh den Rian. Mau makan siang juga. Monggo simbok ambilin" Tawar simbok. Andrian duduk disebrang Prisha yang sedang mengambil sayur dan lauk. Merasa di perhatikan, Prisha menjadi salah tingkah hingga kuah sayur yang ia ambil terjecer di meja. Sontak Prisha pun berdiri dan membungkukkan badannya meminta maaf
"Maaf pak. Saya gak sengaja" kata Prisha dengan wajah tertunduk.
"Biar saya bersihkan" Prisha hendak melangkah kebelakang mencari simbok ke arah dapur. Namun di cegah oleh Andrian.
__ADS_1
"Gak usah. Biar nanti di bersihin simbok. Lagian yang tumpah juga cuman dikit aja kan. Mending sekarang kamu makan. Tugasmu sudah menanti" jawab Andrian dengan wajah datarnya.
"Baik pak. Sekali lagi saya minta maaf"
Cek
Andrian berdecak sebal melihat kelakuan Prisha. Ia tak habis fikir dengan kelakuan Prisha yang sudah salah tingkah hanya karna diperhatikan olehnya. Padahal di luar sana banyak sekali siswi yang terang terangan mencari perhatiannya tanpa tau malu. Melihat sikapnya yang begitu lugu terkadang membuat Andrian ingin menjahilinya.
"Tolong dong ambilin nasi dan lauk" Perintah Andrian begitu Prisha duduk kembali di kursinya.
"Baik pak" jawab Prisha dengan wajah tertunduk. Ia lalu mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk Andrian lalu meletakkan piring tersebut di depan Andrian yang masih memperhatikannya. Bagi Andrian tingkah lugu Prisha adalah suatu hiburan yang jarang ia jumpai di era sekarang.
"Kemarin waktu istirahat kemana aja? Kok sampai ketinggalan masuk kelas. Pakai acara nabrak orang lagi. Dasar ceroboh" Andrian bertanya di sela sela makan siangnya. Prisha pun berhenti mengambil makanan dan sejenak meletakkan sendoknya.
"Maaf pak kalau kemarin saya nabrak bapak. Saya buru-buru setelah dari toilet" Jawab Prisha masih dengan kepala tertunduk.
"Ke toilet kok ya ber3. Masak ya mau pipis aja janjian" Andrian makan sambil memperhatian gerak gerik Prisha yang terlihat malu-malu dan salah tingkah.
"Jangan bilang kalian habis di hukum" Pertanyaan Andrian membuat Prisha yang sedang menyeruput kuah di sendoknya tersedak.
Uhuk uhuk
__ADS_1
"Eeeem itu pak anu... Anu"