
"Andriaaaan" Teriak Ammy yang berjalan buru buru menghampiri Andrian dan Prisha yang masih berdiri di parkiran. Ia segera mendekat dan menjewer telinga Andrian layaknya anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan. Sementara Prisha hanya bisa berdiri mematung dengan wajah yang tertunduk. Ia begitu ketakutan melihat wajah Ammy yang begitu marah. Ia berfikir bisa saja Andrian memutar balikkan fakta dan mengatakan kalau ia yang menggoda Andrian seperti yang biasa Elina lakukan padanya di sekolah.
"Mau kamu apakan anak perawan orang? Ha?" Tanya Ammy dengan wajah marah. Ia masih belum menurunkan tangannya dari telinga Andrian. Membuat Andrian mendesis kesakitan.
"Mama apa apaan sih. Main nuduh aja. Lepas dulu tangannya biar Andrian jelasin" Ammy melepas jewerannya dari telinga Andrian. Kemudian Andrian menggosok gosok telinganya dengan telapak tangannya.
"Mama ini main jewer aja. Emangnya Andrian anak kecil apa" Andrian menatap wajah Ammy dengan wajah sebal. Ia begitu malu di perlakukan layaknya anak kecil di hadapan Prisha. Sementara selama ini Andrian selalu menjaga sikap dan pertingkah dingin jika di lingkungan sekolah.
"Emang kayak anak kecil kan. Baru aja di bilangin udah aneh aneh aja. Mendingan Prisha biar pulang sendiri aja. Kayaknya lebih aman" Kata Ammy yang meraih helm di tangan Prisha.
"Mamaaa. Sini balikin helmnya. Biar Andrian anter Prisha pulang sekarang" Andrian meraih kembali helm yang ada di tangan Ammy lalu segera memakaikannya ke kepala Prisha yang tak berani berkutik. Ia hanya berdiri mematung melihat perdebatan ibu dan anak itu. Ammy segera menarik tangan Prisha membuat Andrian semakin sebal menghadapi tingkah ibunya.
"Mamaaa. Prisha nanti kesorean lho. Lepasss. Biar Rian anterin pulang"
"Jelasin dulu kejadian tadi. Baru mama bisa melepas Prisha. Ini anak orang lho Yan. Jangan di buat mainan" Ammy kekeh menahan Prisha.
"Mamaaaa. Tadi itu Prisha minta masker buat nutupin wajahnya yang masih bermake up. Makannya Andrian lihatin biar tahu setebal apa make up nya sampai harus ditutupin. Eh tiba-tiba mama dateng nuduh Rian aneh-aneh. Dasar emak-emak prosesif" Ammy masih enggan melepas tangan Prisha. Membuat Andrian turun tangan melepas gengaman tangan Ammy yang memegang erat pergelangan tangan Prisha. Sementara yang di pegang tak melakukan perlawanan sedikitpun.
"Mamaaa. Lepasss. Kan udah Rian jelasin. Kalau gak percaya tanya aja sama Prisha"
"Benar begitu Sha?" tanya Ammy yang di jawab anggukan oleh Prisha.
"Ya udah kalau gitu buruan anter Prisha pulang"
"Sha. Kalau nanti Rian aneh-aneh dan mau melecehkanmu. Bilang mama ya. Biar mama nikahin aja sekalian." Pesan Ammy pada Prisha begitu mereka sudah berada diatas kendaraan.
"Baik bu. Prisha pamit dulu. Permisi" Prisha menganggukan kepalanya kemudian motor yang mereka kendarai melaju menuju jalanan. Ammy belum beranjak hingga motor yang di kendarai anak lelakinya itu menghilang dari pandangan.
...****************...
Andrian membelokkan motornya pada sebuah minimarket yang berada tak jauh dari rumahnya.
__ADS_1
"Kenapa kita kesini pak?" tanya Prisha begitu motor berhenti.
"Katanya tadi minta masker? Ya udah ayo beli." Andrian melepas helmnya lalu segera melangkah masuk meninggalkan Prisha yang masih kesulitan melepas pengait di helmnya. Begitu ia bisa melepas helmnya, ia pun segera menyusul Andrian masuk. Prisha baru saja akan mendorong pintu dari luar, namun sudah terlebih dahulu ditarik dari dalam. Menampakkan sosok lelaki yang familiar bagi Prisha.
"Dek Prisha" Kata lelaki yang adalah Rama
"Ya kak" Jawab Prisha yang masih berdiri diluar pintu minimarket.
"Kok kamu ada disini. Sama siapa?" Tanya Rama. Ia melihat ke parkiran dan tak menemukan sosok yang ia kenal disana.
"Sama pak Andrian kak. Lagi pulang kerja. Maaf ya kak aku masuk dulu" Prisha pamit masuk meninggalkan Rama yang sepertinya masih ingin mengobrol banyak dengannya.
"Lama banget sih" Kata Andrian begitu Prisha berhasil menemukannya pada deretan kosmetik.
"Maaf pak. Tadi kesusahan ngelepas pengikat helmnya" Jawab Prisha. Ia hanya membuntuti langkah Andrian yang sibuk memilih barang belanjaannya.
"Ambil keranjang sana. Saya tadi belum ambil" Perintah Andrian.
Prisha melangkah pergi menuju tempat diletakkannya keranjang. Mengambil satu, lalu kembali menyusul Andrian.
"Ini pak" Kata Prisha sambil menyodorkan keranjangnya. Namun bukannya menerimanya, Andrian justru mulai mengisinya dengan beberapa produk kosmetik. Dari facil, toner, serum, pelembab hingga bedak pun di masukkan. Tidak lupa Andrian juga memasukkan masker wajah berbagai farian kedalam keranjang belanjaannya. Prisha tak begitu memperhatikan Andrian, ia justru sibuk membaca berbagai produk yang ada di hadapannya. Sebagai perempuan ia memang tak pernah masuk ke rak kosmetik karena memang ia tak pernah menggunakan itu. Seringnya ia membeli pelembab sasetan diwarung dekat rumahnya. Tidak lupa bedak bayi yang selalu menjadi andalannya. Biarpun demikian wajah Prisha jarang berjerawat seperti kebanyakan remaja di usiannya.
"Ayo ke kasir" Ajak Andrian setelah di rasa belanjaannya cukup.
"Baik pak. Sebentar Prisha cari masker dulu" Prisha melangkah pergi mencari masker agar bisa menutupi wajahnya yang masih ber make up. Kemudian menuju kasir dan mendapati Andrian telah berdiri menunggunya dengan dua bungkus es krim di tangannya. Merekapun mengantri untuk menyelesaikan acara belanjanya.
"Ini buat kamu" Andrian menyodorkan tote bag yang berisi barang belanjaan setelah mengambil satu bungkus es krim. Mereka kini duduk di teras minimarket tempat mereka berbelanja.
"Apa ini pak?" Tanya Prisha
"Masker. Buat nutup wajah kamu" Jawab Andrian. Ia membuka bungkus es krimnya lalu memakannya. Prisha menerima tas belanja itu lalu melihat isinya.
__ADS_1
"Kenapa ini dikasih ke saya?" Tanya Prisha yang mendapati beberapa produk perawatan wajah didalamnya.
"Kamu fikir saya ini wanita jadi jadian? Yang pakai kosmetik begituan? Saya beli itu buat kamu" Andrian berhenti sejenak menikmati es krim yang ada ditangannya untuk menatap Prisha.
"Terima kasih pak. Tapi maaf saya tidak bisa menerimanya. Saya tidak terbiasa pakai produk seperti ini" Jawab Prisha. Ia menyodorkan kembali tas yang berisi belanjaan itu pada Andrian.
"Kalau gak mau nerima ya sudah. Buang aja di tempat sampah. Saya juga gak butuh"
"Jangan dong pak. Mending di balikin aja ke dalam"
"Sha, Sha. Kamu ini bisa baca gak sih. Nih lihat" Andrian merogoh struk belanja lalu memperlihatkannya pada Prisha.
"Barang yang sudah di beli tidak bisa dikembalikan. Paham?" Prisha hanya bisa tersenyum malu menyadari kekonyolannya.
"Saya sudah selesai makannya. Itu es krim kamu mau dimakan sekarang apa dirumah saja?" Andrian berdiri membuang bungkus es krim pada tong sampah yang telah di sediakan pihak minimarket.
"Nanti saja dirumah pak" Jawab Prisha sambil menahan malu. Ia memakai masker yang tadi dibelinya untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Ya sudah. Ayo saya antar pulang." Andrian berdiri menuju parkiran dan di buntuti oleh Prisha. Karena hari sudah sore, Prisha langsung diantar Andrian kerumah.
"Saya pamit dulu" Kata Andrian begitu Prisha turun dan meyodorkan helmnya.
"Baik pak. Terima kasih" ucap Prisha yang hanya di jawab deheman Andrian.
"Sama siapa nduk?" Ratna keluar rumah dan mendapati anak perawannya masih berdiri di halaman. Sementara deru motor yang tadi ia dengar sudah tidak ada lagi.
"Di anter sama pak Andrian buk" Kata Prisha sambil menyalami tangan ibunya.
"Kenapa kamu pakai masker? Perasaan wabahnya sudah gak ada"
"Nanti Prisha ceritain" Mereka melangkah masuk kedalam rumah sambil asyik bercengkerama. Mereka terlihat bahagia walau dalam keadaan perekonomian yang pas pasan. Tidak ada pertengkaran atau saling menyalahkan dalam keluarga itu. Mereka saling menerima dan menyadari kekurangan masing masing. Berusaha ikhlas dan sabar menerima semua yang Tuhan berikan.
__ADS_1