
Ruang Auditorium sudah penuh dengan lautan manusia saat Prisha dan teman-teman barunya masuk. Mereka terlihat saling berbincang santai. Tidak seperti waktu dilaksanakannya tes seleksi dulu. Mungkin karena sekarang mereka sudah saling berkenalan dikelas sehingga mereka terlihat begitu akrab.
"Guys, duduk belakang sini aja yuk. Males kalau harus kedepan nglewatin orang sebanyak itu. Mana mereka duduknya gak beraturan gitu. Gak kasian apa sama yang udah nata kursi" kata Hani sambil menunjuk beberapa kursi kosong yang ada didepan mereka.
Ruangan auditorium sekolah tersebut memang sangat luas. Ada 3 pintu masuk yang bisa mereka lalui. Dan Prisha masuk melalui pintu paling belakang.
"Ya udah yuk duduk sini aja. Pas. Gak terlalu depan juga bukan paling belakang. Jadi aman. Gak bakal di panggil-panggil." Kata Prisha.
Begitulah Prisha, ia sangat takut ketika disuruh maju kedepan kelas menghadapi teman-temannya. Secara akademik Prisha memang pintar tapi untuk mental seperti kerupuk. Kena angin sedikit langsung mplempem.
"Sha Sha. Kamu dari tadi dikelas kok ya takut kalau disuruh maju aja sih. Kenapa?" Tanya Gita.
"Takut aja. Gak bisa berbicara didepan umum" akui Prisha jujur.
"Kayaknya sebelum dikasih pembekalan dari panitia MPLS harus kita kasih pembekalan dulu deh" Kata Hani
"Maksud elo?" Tanya Manda melotot.
"Mau dibekalin jurus-jurus silat dulu sama Hani kali. Kan dia jagonya cuman berantem. Biar entar kalau disuruh maju panitianya langsung diserang duluan gitu? " Ledek Sinta
"Jangan ngremehin gue ya. Gue nih gak cuma jago silat aja lho. Walapun kelihatannya macho kayak preman pasar gini, gue juga pernah jadi juara lomba pidato antar warga pas 17an." Jawab Hani sombong
"Lha ya pasti menang lah. Wong yang lain udah elo ancem duluan. Mana pesertanya kecil-kecil lagi. Lho plototin aja udah ngompol diatas panggung" jelas Sinta yang langsung membuat mereka tertawa. Hanya Hani yang cemberut mengerucutkan bibirnya.
"Assalamualaikum. Selamat siang adek adek" sapa senior yang berkalungkan ID card bertuliskan panitia itu.
"Wa'alaikum salam. Selamat siang juga kak" jawab kami serentak.
"Masih pada semangat gak nih" tanyanya lagi.
"Masih kak" jawab kami kompak.
__ADS_1
Merekapun memulai pertemuan pertama ini dengan suasana yang santai dan riang. Entah jika besok waktu pelaksanaan MPLS masih sama atau justru penuh tekanan dan perpeloncoan panitia.
"Adik-adik mulai besok kalian akan melaksanakan kegiatan MPLS atau masa pengenalan lingkungan sekolah. Selama 3 hari kedepan kita akan mengenal beberapa hal yang erat kaitanya dengan lingkungan sekolah dan proses belajar mengajar. Kalian jangan khawatir kalau ditindas panitia. Kami para panitia juga memiliki aturan dan pengawas yang akan memantau proses MPLS. Sebelum kegiatan MPLS dilaksanakan kami akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Jangan ada yang protes atau sampai tukeran dengan kelompok lain. Kami para panitia sudah berusaha adil dalam pembagian kelompok. Masing-masing jurusan diambil 2 anak dalam 1 kelompok. Tujuannya agar kalian saling mengenal satu sama lain. Bukan hanya teman yang 1 jurusan saja." Kata panitia itu menjelaskan.
Panitia memang mengatakan kalau tidak akan ada perundungan atau penindasan dalam acara MPLS. Namun dalam benak Prisha yang namanya MPLS atau yang dulu disebut MOS adalah kegiatan yang sangat menyeramkan. Teringat pada masa MOS SMP dulu ia menjadi sasaran hukuman dari panitia. Prisha yang sangat pemalu selalu dihukum berdiri di depan teman-temannya saat apel pagi. Panitia seperti sengaja mencari-cari kesalahan Prisha dan menjadikannya bahan lelucon. Dan hal itu menjadi awal perbullyan yang dilakukan teman-teman sekolahnya dulu.
Pertemuan di ruang auditorium itu diakhiri dengan pembagian buku panduan kegiatan MPLS. Didalam buku tersebut sudah tertera pembagian kelompok, jadwal kegiatan, materi kegiatan, struktur kepanitiaan, perlengkapan yang harus dibawa saat MPLS, dan masih banyak yang lainnya. Begitu tebalnya buku tersebut membuat Prisha malas membukanya. Dia hanya melihat sekilas dan lebih memilih mencari pembagian kelompok saja.
"Ya Tuhan.. Kenapa dari sepersikian ratus siswa yang ikut MPLS aku harus 1 kelompok dengan Elina dan Mega?" Kata Prisha dalam hati membuat wajahnya terlihat murung dan sedih. Perubahan wajah itu disadari oleh teman-teman barunya.
"Kenapa wajah elo jadi murung waktu baca buku panduan Sha? Ada sih isi bukunya. Tebel banget" Tanya Gita
"Gak apa-apa Ta. Cuman lagi lihat pembagian kelompok aja." Jawab Prisha tanpa mau memberi tahu masalah pribadinya.
"Kenapa emangnya dengan kelompok kita? Elo gak suka sekelompok sama cewek tomboy kayak gue? Tanya Hani yang membuat Prisha langsung membaca ulang nama-nama kelompoknya. Ternyata dari jurusan tata busana ada Prisha dan Hani.
"Ya Allah Han.. Su'udhon aja kamu. Aku malah seneng bisa satu kelompok sama kamu." Jawab Prisha
"Hallo Sha. Elo dimana?" Tanya Elina pada sambungan teleponnya.
"Aku masih diruang Audit El" jawab Prisha singkat.
"Ngapain? Pembekalan udah selesai lho. Buruan keluar. Udah gue tungguin sama Mega dan anak-anak yang satu kelompok sama kita. Tinggal nungguin elo aja ini."
Bentak Elina yang langsung mematikan sambungan teleponnya. Jika sudah begini maka Prisha harus segera keluar menemui mereka. Karna semakin lelet Prisha maka kelakuan Elina semakin menjadi-jadi.
Prisha segera memasukkan buku panduannya kedalam tas dan mengajak Hani keluar menemui teman sekelompok mereka.
"Itu mereka Han" kata Prisha menunjuk Elina dan Mega yang sudah bergerombol dengan beberapa murid sekelompok mereka.
"Emang elo kenal temen-temen sekelompok kita" tanya Hani penasaran.
__ADS_1
"Ada yang kenal. Dulu temen waktu SMP" jawab Prisha jujur.
"Katanya tadi gak punya besti" tanya Hani lagi
"Kenal kan gak berarti teman dekat Han." Kata Prisha menjelaskan tanpa memberi tahu hubungan mereka yang sebenarnya.
"Hallo teman-teman.. Perkenalkan saya Prisha" Kata Prisha ketika sudah sampai disamping gerombolan kelompok mereka.
"Gue Hani" sahut Hani kemudian. Mereka saling berjabatan tangan dan memperkenalkan nama mereka masing-masing.
"udah cukup perkenalannya ya. Karena semua anggota sudah kumpul, sekarang kita buat struktur organisasi kelompok dulu. Cukup ketua, sekretaris dan bendahara saja. selain itu semuanya jadi anggota kelompok" kata Elina terlihat menggurui.
"Kalau menurut aku lebih baik Elina aja yang menjadi ketua kelompoknya. Dia kan pintar juga biasa tampil didepan umum, jadi nanti kalau disuruh presentasi makalah dia bisa diandalkan." Kata Mega memprofokasi. Namun siapa sangka usulnya malah disetujui teman-teman kelompoknya.
"kalau aku sih setuju" kata salah satu siswa jurusan administrasi Perkantoran. Teman-teman dari jurusan lain pun saling bersahutan dan mengungkapkan bahwa mereka menyetujui Elina untuk menjadi ketua kelompok. Elina tersenyum penuh kemenangan, ini adalah kesempatannya untuk mengerjai Prisha lagi.
" terima kasih teman-teman sudah mempercayai aku jadi ketua kelompok kalian. Aku bakal berusaha sebaik mungkin agar selamat kegiatan MPLS kita jadi kelompok yang aktif dan menonjol dibanding kelompok-kelompok lain. Kalau seandainya sekretaris sama bendahara aku yang nunjuk kalian keberatan gak?" Tanya Elina sok bijak.
"Boleh dong. Malahan enakan gitu. Soalnya mereka yang akan jadi patner kerja kamu selama 3 hari kedepan." Jawab salah satu siswa yang bernama Dila itu.
"Ok kalau kalian setuju. Aku tunjuk Prisha jadi sekretaris dan untuk bendahara aku tunjuk Mega. Gimana kalian setuju nggak sama pilihanku?" Tanya Elina lagi yang langsung disetujui mereka.
"harus ya ada sekretaris sama bendahara El?" Tanya salah satu siswa yang bernama Tasya.
"harus dong. Gini ya teman-teman, besok kita kan harus mengumpulkan makalah dengan tema yang sudah ditentukan panitia. Kalau nggak ada sekretaris terus siapa yang bertanggung jawab nyusun makalah. Gak mungkin kan kita malam-malam kumpul buat tugas. Kita ini tinggal di Jepara bukan Jakarta. Masih tabu kalau anak-anak cewek kumpul di luar malam-malam. Yang ada ntar di sangka cewek nggak bener lagi. Kalau ada sekretaris kan enak. Ntar aku buatin grup wa. Masing-masing orang punya bagian sendiri-sendiri. Semuanya dikirim di grup WA biar sekretaris yang nyusun sama ngeprint. Kita tinggal ganti biayanya saja" jelas Elina.
"ini masih ada yang mau dibahas lagi gak El? Gue buru-buru mau pulang nih" intruksi salah satu siswa.
"udah sih itu aja kayaknya yang perlu dibahas. Kalau ada yang mau pulang silakan" kata Elina
"El, besok kan kita harus bawa bekal nasi kotak sama lauk sayap ayam bagian kanan. Gimana kalau yang handle itu bendahara. Kalau pesannya banyak kan lebih murah" usul salah satu dari mereka yang langsung disanggupi oleh Mega. Setelah itu mereka bubar menuju tempat tujuan masing-masing.
__ADS_1