Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 21


__ADS_3

Ruang auditorium penuh dengan siswa baru yang silih berganti keluar masuk ruangan untuk melakukan foto kartu pelajar. Suara mereka begitu ramai. Ada yang sedang mengisi biodata diri pada sebuah kertas. Ada yang sibuk menghias diri agar terlihat bagus ketika di foto. Ada juga yang hanya berdiri melamun menunggu giliran. Namun kebanyakan dari mereka menunggu giliran foto sambil bercanda dengan teman temannya.


Prisha, Gita dan Hani berjalan menuju meja pendaftaran. Mereka mengambil formulir yang harus di isi dengan biodata diri mereka.


"Ini kenapa yang harus di isi banyak banget ya. Ada tanggal lahir, hobi, cita-cita. Apa mereka mau ngasih kita kado kalau kita ulang tahun" Kata Hani sewot.


"Ngarep loe" jawab Gita dan Prisha kompak lalu tertawa bersama.


"Mulut elo kenapa sih Han? Bawaannya pengen ngomong terus. Laper? Tanya Gita.


"Apa hubungannya laper sama banyak ngomong Ta?" Tanya Prisha yang masih sibuk menulis.


"Loe gak tau Sha. Tong kosong berbunyi nyaring. Perut kosong ngomong tanpa di saring. Kayak Hani sekarang tuh. Udah tau kartu pelajar itu fungsinya sebagai tanda pengenal. Kok ya ditanya tanggal lahir malah bisa bisanya mikirin kado ultah. Hadeh.. Parah" Gita memegangi dahinya dengan satu telapak tangan menunjukkan ekspresi stress.


Waktu terus berjalan. Prisha dan teman temannya masih setia berbaris menunggu giliran untuk foto. Sesekali mereka bercanda. Berkomentar tentang teman mereka yang sedang di foto. Hingga tak terasa giliran merekapun tiba.


Di antara mereka bertiga, Gita yang mendapat giliran pertama. Ia merapikan rambutnya terlebih dahulu sebelum akhirnya maju untuk foto kartu tanda pelajar. Layaknya membuat KTP, membuat kartu pelajar juga melalui beberapa proses screening. Ada tanda tangan digital, scan retina mata dan sidik jari. Nantinya kartu tanda pelajar ini akan mereka gunakan untuk absensi sekolah.


Setelah Gita dan Hani selesai melakukan sesi foto kini tiba giliran Prisha. Ia duduk di bangku yang telah disediakan.


"ok siap? Satu.. Dua.. Tiga.." cekrek terdengar bunyi tanda pengambilan foto.


"Ulang.. Kenapa kedip sih Sa" Tanya Andrian yang ikut mendampingi proses pembuatan kartu pelajar.


"Siap.. Tahan.. Satu.. Dua.. Tiga.." Cekrek..


"kenapa gerak sih. Jadi jelek kan hasilnya. Ulang lagi" kata Andrian.


"Satu.. Dua.. Tiga.." Cekrek


"kenapa manyun gitu. Ekspresinya biasa aja dong. ulang lagi"


Bagaimana Prisha tak kesal jika dalam sesi foto saja ia selalu disuruh mengulang. Padahal tadi Hani yang cengengesan saja satu kali jadi. Tapi dia? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di diri Andrian.


"Pak. Bapak punya dendam apa sama saya? Kenapa harus mengulang terus sih. Temen yang lain satu kali aja langsung jadi fotonya" kesal Prisha.

__ADS_1


"Jelas beda. Saya ingin foto terbaik kamu." jawab Andrian


"Maksud bapak apa sih? Ini cuman foto kartu pelajar pak. Bukan foto model"


"Diam. Gak usah banyak protes. Ikuti saja arahan saya biar cepat selesai."


"Heem. Ayo kak foto lagi. Jelek gak apa apa. Emang dasarnya saya jelek. Mau disuruh ngulang seribu kali atau bahkan sampai kiamat pun juga gak bakalan jadi cantik. Gak usah turuti pak Andrian" sewot Prisha.


"satu.. Dua.. Tiga.." Cekrek Andrian baru akan melihat hasil fotonya, namun Prisha lebih dulu bicara


"Saya gak mau ulang lagi. Mau jelek juga biarin."


"ya sudah. Terserah kamu. Sekarang tanda tangan digital. Sini" Andrian memberikan alat yang langsung di gunakan Prisha untuk tanda tangan.


"Panjang banget tanda tangannya. Apa kamu nanti gak capek kalau jadi ketua OSIS dan harus tanda tangan surat sampe ratusan."


"Bodo amet. Saya gak minat jadi OSIS" jawab Prisha sebal. Entahlah Andrian begitu pandai mengaduk aduk hatinya. Jika tadi bagi ia bak malaikat penolong yang baik hati. Sekarang ia seperti musuh yang selalu mencari cari kesalahannya.


"Tangan" Prisha memberikan tangannya pada Andrian yang duduk disampingnya. Namun rasa grogi muncul sehingga membuat tangannya bergetar.


"Bapak ini kepedean sekali ya. Lepaskan tangan saya. Biar saya sendiri yang lakuin. Bapak tinggal bilang aja jari apa yang harus di tempel" Prisha tak mau diledek Andrian lagi sehingga ia memilih melakukan sidik jari sendiri tanpa di pegangi. Setelah sidik jari dan scan retina mata, proses pun selesai.


"Sudah. Tapi kamu jangan pulang. Tunggu saya selesai. Ada yang mau saya bicarakan"


"Tapi pak. Saya sudah ditungguin temen saya. Lihat itu mereka duduk dibangku." Prisha menunjuk kursi yang di duduki Gita dan Hani.


"Tinggal bilang kalau nanti kamu pulang sama saya. Beras kan? Kamu itu emang suka membesar besarkan masalah. Sudah sana minggir. Ini temenmu mau screening"


Andrian melanjutkan pekerjaannya. Sementara Prisha berjalan kearah teman temannya.


"Akhirnya selesai juga Sha. Loe itu ngapain aja sih. Lama banget. Yuk pulang" Kata Hani yang berdiri dari duduknya.


"Ayo pulang. Udah laper nih" ajak Gita yang ikut berdiri.


"Temen temen maaf ya. Aku gak bisa pulang bareng kalian. Ada urusan sedikit sama pak Andrian" Prisha begitu berat mengucapkan kata itu. Ia takut membuat temannya kecewa. Pasalnya teman temannya sudah begitu lama menunggu Prisha tapi pada akhirnya ia tak ikut pulang bersama mereka.

__ADS_1


"Maaf ya" kata Prisha lagi.


"Urusan apa nih?" Kata Hani penuh selidik


"Eeeeemm eeeemm" Prisha terlihat berfikir membuat Gita ambil sikap.


"Udah lah Han. Privasi mereka berdua. Ntar juga cerita sendiri kan. Mending kita pulang aja dulu. Katanya lapar"


"Ya udah. Yuk pulang. Duluan ya. Kamu waspada aja sama pak Andrian. Dia itu playboy lho" kata Hani yang langsung di jawab dengan anggukan.


"Duluan ya Sha. Ntar kalau ada apa apa jangan lupa berkabar" Pamit Gita kemudian. Mereka berdua melangkah keluar ruangan. Sedangkan Prisha hanya bisa duduk di ruang auditorium menunggu Andrian bekerja. Ia perhatikan wajah tampan Andrian dari tempat duduknya. Wajah tampan itu tetap segar walau hari sudah sore. Bau tubuhnya wangi. Genggaman tangannya begitu hangat. Membuat Prisha yang tak pernah bersentuhan dengan laki-laki langsung gemetar ketika bersentuhan. Memandangnya dalam waktu yang lama tak membuat Prisha jemu. Justru fikirannya berfantasi berharap kelak punya pendamping seperti Andrian.


"Ngerencanain apa kamu senyum-senyum sambil lihatin saya gitu?" Kata Andrian yang kini telah berdiri di dekat Prisha.


"Gak pak. Hanya mengagumi bapak aja" Kata Prisha yang kemudian tertunduk malu.


"Kenapa? Jatuh cinta? Kan saya udah bilang jangan lama-lama lihatin saya. Nanti jatuh cinta"


Prisha tak menjawab celoteh Andrian. Karena pada dasarnya ia tak hanya terpesona karena wajah Andrian. Tapi ia juga cinta Andrian karena dia selalu jadi malaikat penolongnya. Berbicara tentang malaikat penolong Prisha jadi ingat ia harus membayar uang yang di gunakan Andrian untuk membayar bonnya di kantin.


"Maaf pak. Kata bapak tadi ada yang mau dibicarakan." Tanya Prisha kemudian


"Ya. Makannya ayo ikut saya"


Andrian melangkah keluar dari ruang Auditorium menuju parkiran.


"Pak. Saya tunggu di gerbang saja ya" kata Prisha ketika Andrian hendak masuk kedalam parkiran untuk mengambil motornya. Ia melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Andrian. Tak berselang lama Andrian pun sudah sampai di gerbang sekolah.


"Ayo naik" perintah Andrian.


"Kita mau kemana pak?" tanya Prisha bingung


"Ikut saja. Kamu harus bayar uang yang sudah saya berikan"


"Ya Allah pak. Uang itu kan gak ada 50 ribu kenapa bapak sampe segininya sama saya. Apa bapak punya dendam dengan saya?"

__ADS_1


"Kamu udah di tolong. Gak berterima kasih malah nuduh saya yang bukan bukan. Cepet naik. Biar kamu tahu dengan cara apa kamu harus membayar bonmu" Prisha hanya bisa menurut. Membonceng di belakang Andrian tanpa berani berkomentar apapun. Dadanya begitu bergemuruh. Deg deg deg ia begitu takut Andrian berbuat jahat kepadanya.


__ADS_2