
Andrian tak pernah lelah menanti Prisha untuk bercerita. Namun ia juga tidak menekannya. Ia yakin Prisha punya alasan tersendiri menutupi kejadian ini.
"Udah nangisnya?"
Tanya Andrian dengan suara lembut. Tatapan matanya teduh. Emosinya sudah stabil.
"Sudah pak" jawab Prisha dengan kepala masih menunduk.
"Coba kamu lihat saya" Pinta Andrian.
"Apakah dimata saya ada sebuah ancaman yang akan membahayakan kamu?"
Prisha tak bisa menjawab. Ia hanya menggeleng sebagai isyarat bahwa yang di katakan oleh Andrian tentang ancaman itu memang tidak ada.
"Sekarang coba kamu bicara jujur dengan saya apa yang sebenarnya terjadi. Saya berjanji tidak akan membocorkan rahasia kamu kepada Elina"
Andrian sudah meminta secara halus namun Prisha masih enggan menceritakan yang sebenarnya.
"Kamu tidak percaya dengan saya?" Tanya Andrian gemas. Sebab sedari tadi Prisha hanya menunduk tanpa mau berbicara.
"Maaf pak" kata Prisha lagi.
Heeh.. Andrian mendengkus kesal. Ingin rasanya memarahi Prisha namun ia tak tega. Mau tak mau ia yang harus mengalah.
"Baiklah kalau kamu gak mau cerita dengan orang asing seperti saya. Tapi setidaknya berceritalah kepada dua temanmu yang tadi. Biarlah mereka mengerti keadaanmu sehingga tidak ada kesalah fahaman lagi. Mereka begitu percaya denganmu. Mereka siap membelamu. Tapi kamu justru menghianati mereka dan bungkam. Seolah mereka tidak ada artinya bagimu." Kata Andrian lagi.
"Ya sudah. Silahkan kembali ke kelas. Sudah pergantian jam"
"Lho Prisha masih disini pak? Kirain tadi kemana. Soalnya temennya balik dia gak ikut" Kata Maulin yang sedang mengembalikan buku absensi ke ruangan TU.
"Ya bu. Masih ada hal penting yang kami bahas." Jawab Andrian
__ADS_1
"Sebenernya ini ada masalah apa sih pak. Kok saya gak tau apa-apa" Tanya Maulin kemudian.
"Coba ibu yang tanyakan ke murid ibu ini. Saya sudah lelah. Dari tadi tanya melulu gak ada jawaban" Jawab Andrian menjelaskan.
Andrian sangat yakin orang seperti Prisha gak akan mau menceritakan yang sebenarnya kepada orang baru di hidupnya. Termasuk Maulin. Biar pun dia adalah wali kelasnya, tapi untuk urusan ini mesti dia bungkam. Dengan Andrian yang nyata-nyata sudah melihat kejadiannya saja ia masih menutupi faktanya. Apalagi dengan orang lain.
"Sha. Sebenarnya kamu sedang ada masalah apa? Kok sampai di panggil ke ruangan guru BP?" Tanya Maulin sambil mengelus punggung Prisha. Sementara Andrian masih anteng duduk ditempatnya.
"Gak ada apa-apa kok bu. Hanya ada sedikit kesalah fahaman dengan anak jurusan keperawatan." Jawab Prisha
"Kamu yakin? Ibu lihat sepertinya kamu penuh tekanan gini. Kan saya sudah bilang, kalau di sekolah kamu itu tanggungbjawab saya. Jadi tolong kalau ada masalah bicara sama saya. Biar saya bisa menyikapinya dengan bijak." Kata Maulin.
"Ya bu. Terima kasih ibu sudah perduli dengan saya. Kalau ada masalah saya pasti akan cerita dengan ibu. Tapi untuk kali ini memang tidak ada apa-apa. Murni kesalah fahaman."
Prisha menjawab masih dengan kepala yang menunduk seperti tersangka. Membuat Andrian semakin gemas saja. Ingin rasanya ia ungkapkan fakta yang sebenarnya kepada Maulin, tetapi Andrian tidak tega melihat wajah Prisha yang seperti penuh tekanan itu.
"Saya permisi dulu pak. Bu" pamit Prisha kemudian. Ia berdiri dari kursi, membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada Andrian dan Maulin. Lalu melangkah ke luar kantor menuju kelasnya.
"Luar biasa bagai mana pak? Sepertinya dia sama seperti murid yang lain" Jawab Maulin penuh tanda tanya.
"Ya luar biasa nguras kesabaran bu. Dari tadi saya ajak dia kesini buat menceritakan kejadian waktu malam MPLS. Saya sama ke2 murid ibu yang tadi itu melihat kalau dia di aniyaya anak jurusan keperawatan. Tangannya di kasih lilin. Tapi dengan santainya waktu di ruang guru BP dia bilang kalau saya dan 2 temannya itu salah faham. Luka bakar di tangannya itu karena gak sengaja nendang lilin waktu buka hadiah di ruang auditorium. Dia juga memperlihatkan luka di tangannya yang tinggal sedikit karna udah lewat 2 hari. Ini kali pertama saya menyesal berbuat baik. Tau kalau dia bakal seperti ini mending tangannya gak saya obati dulu."
Andrian masih sedikit emosi mengingat kejadian tadi. Dia yang melaporkan kejadian itu kepada pihak keamanan dan minta di tindak lanjuti, dianggap terlalu ikut campur dan membesarkan masalah. Padahal sejujurnya ia hanya niat untuk menolong Prisha dan berharap tidak ada lagi penganiyayaan. Huft memang niat baik tak selalu dapat sambutan baik.
Sambil berjalan menuju ke kelas Prisha memikirkan semua perkataan Andrian. Haruskah ia menceritakan kejadian sebenarnya kepada teman-temannya agar mereka tak marah lagi. Memang yang dikatakan Andrian benar, jika ia bungkam sama saja tidak menghargai teman-teman yang sudah membelanya.
Dengan tekat yang bulat akhirnya Prisha memutuskan untuk menceritakan semua kepada Hani dan Gita. Prisha yakin mereka percaya dengan semua yang dikatakan olehnya. Toh selam masa MPLS Hani juga sudah tau sifat Elina yang sebenarnya.
"Ta, Han aku minta maaf soal kejadian tadi ya" kata Prisha setelah duduk di bangkunya.
"Ngapain minta maaf. Gak ada ruginya tuh di kita." jawab Hani jutek.
__ADS_1
"Hus.. Gak boleh gitu Han.. Prisha pasti punya alasan tersendiri ngelakuin itu" kata Gita menimpali.
Gita mengusap-usap punggung Prisha yang menundukkan wajah dengan mata berkaca-kaca. Ia yakin keterlambatan Prisha tadi pagi pasti ada sangkut pautnya dengan kejadian di ruang guru BP. Namun Gita masih menunggu sampai Prisha siap menceritakan itu kepada mereka.
"Ngapin loe nangis? Kecewa sama omongan gue? Sama dong. Gue juga kecewa sama sikap loe" sinis Hani lagi membuat air mata Prisha jatuh tak tertahankan.
"Maaf Han, maaf Ta. Maaf udah bikin kalian kecewa. Aku makasih banget karena kalian udah mau belain aku. Aku tahu gak seharusnya aku bersikap kayak tadi. Tapi aku ngelakuin itu juga terpaksa. Aku gak mau kalian kebawa dalam masalahku." Prisha berkata sambil mengusap air mata yang terus membanjiri pipi. Gita tak tega hingga memberinya selembar tissu.
"Udah Sha. Gak usah nangis. Gue tahu kok. Ini mesti ada sangkut pautnya sama kedatangan loe tadi pagi dengan seragam kotor" tebak Gita yang langsung di jawab anggukan oleh Prisha.
"Loe di ancam sama si Elina triplek itu?" Tanya Hani dan lagi-lagi Prisha hanya mengangguk.
"Ya ampun Sha. Loe jadi orang lemah banget sih. Pantesan gengnya si triplek itu suka nindas loe." Hani sedikit sewot dengan sikap Prisha yang menurutnya sangat lemah itu.
"Dengerin gue ya Sha. Kalau elo di ancam sama gengnya si triplek gak usah takut. Gue yakin dia itu cuman berani omong doang. Kalau soal sikap, beraninya main belakang. Kalau dia sampai berani gangguin kita gue bisa kok matahin tangannya." imbuh Hani.
"Makasih ya Han. Andai aku punya uang pasti udah aku sewa kamu jadi Bodyguard aku." Prisha mulai menyeka air matanya yang mulai menyurut.
"Ngapain bawa bawa uang segala sih. Tanpa loe bayar gue juga bakal jagain loe. Asal jangan ada rahasia lagi diantara kita. Loe tau gak, sikap loe tadi pagi itu seolah ngatain gue kalau gue itu gak ada artinya di hidup elo." kata Hani
"Makasih ya temen-temen"
Prisha, Hani dan Gita akhirnya baikan. Mereka saling berpelukan menguatkan Prisha. Hingga suara cempreng Sinta mengagetkan mereka.
"Ngapain sih kalian peluk-pelukan"
"Hah.. Gak ngapa ngapain." Jawab Gita
"Kenapa loe syirik?" Ucap Hani
"Syirik.. Bilang bos.." Tambah Hani lagi yang disambut tawa oleh mereka.
__ADS_1
Pagi yang berawal dengan ketegangan kini berangsur berubah menjadi senyuman. Prisha berusaha sedikit terbuka kepada teman-teman barunya. Sedangkan yang lain juga pengertian dan memahami keadaan Prisha. Semudah itu mereka melupakan ketegangan yang tadi pagi mereka lalui. Semoga hubungan Prisha dengan teman-teman sekelasnya semakin erat menjadi sebuah persahabatan.