
Kegiatan belajar mengajar di sekolah mulai aktif. Gedung sekolah SMK Kusuma sudah ramai di padati siswa mulai pukul 6 pagi hingga 4 sore. Mereka datang ke sekolah dengan cara yang sama tetapi dengan tujuan yang berbeda.
Dikatakan berbeda sebab ada dari mereka yang ke sekolah murni keinginan diri sendiri untuk belajar agar bisa mewujudkan cita-citanya namun ada juga yang datang ke sekolah hanya sekedar untuk menuruti keinginan orang tuanya.
Kegiatan pagi Prisha diawali dengan bangun pagi dan melakukan rutinitasnya. Ia membantu ibunya memasak, mencuci perabot dapur, menyapu dan mencuci pakaian. Setelah itu barulah ia mandi dan bersiap siap berangkat ke sekolah.
"Pagi buk. Ibuk lagi ngapain sih kok berisik banget" Prisha berjalan kearah luar dapur untuk melihat ibunya. Terlihat Ratna sedang mengayunkan alu kayu ke dalam sebuah lumpang batu besar.
"Ini lho. Ibuk lagi numbuk daun singkong yang di petik bapakmu tadi sore dari kebun. Mau di masak" kata Ratna yang masih sibuk mengayunkan alu kayu nya.
"Wah.. Makanan kesukaan Prisha itu bu. Nanti di ongseng ya bu. Biar sekalian buat bekal Prisha ke sekolah" kata Prisha bersemangat.
" Iya nduk. Kalau gitu kamu bantuin ibu menyiapkan air buat ngukus daun singkongnya. Ibu masih ngehalusin ini dulu."
Prisha melangkah menuju dapur. Ia mengambil panci yang akan digunakan untuk mengukus daun singkong. Panci tersebut diberi air dan dibiarkan mendidih di atas kompor. Sementara ia menyiapkan bumbu untuk membuat tongseng tumbuk daun singkong.
"Nduk ini bapak ambilkan ikan Wader dari sungai buat lauk." Kata Wijaya sambil menyodorkan kepis yang berisi ikan hasil tangkapannya.
"Makasih pak. Bapak pagi-pagi udah dari sungai aja"
__ADS_1
Tanya Prisha menerima ikan dari bapaknya.
"Iya Nduk. Sekalian olahraga biar sehat." jawab Wijaya sambil membersihkan tangannya di bawah kran.
"Ya Pak. Sekalian menyelam sambil minum air. Bapak dapat sehatnya. Kami dapat ikannya. Lumayan bisa disambal nanti buat lauk."
Prisha segera melanjutkan membuat bumbu untuk menumis daun singkong. Kemudian meletakkan bumbu yang sudah di ulek halus itu ke dalam wadah dan lanjut membuat bumbu ikan.
Hidup di desa memang begitu indah. Tak perlu banyak uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beras diambil dari padi yang ditanam di sawah sendiri. Sayur dan buah tinggal memetik dari ladang. Lauk ikan ada di sungai maupun kolam. Ibarat tak punya uang masih bisa bertahan hidup asal mau bercocok tanam dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Dan Prisha sangat mensyukuri hal itu.
Kehidupan Prisha di rumah memang begitu tenang. Ia memiliki keluarga utuh yang begitu menyayanginya. Namun keadaan itu berbanding terbalik ketika ia berada di lingkungan sekolah. Bahkan setiap berangkat ke sekolah ada rasa takut ketika harus bertemu dengan Elina and the geng. Ingin pindah sekolah tapi itu tak mungkin. Mengingat biaya pindah sekolah yang tidak sedikit. Sementara keadaan perekonomian keluarga mereka kurang mampu. Mau tak mau ia harus menulikan telinganya agar tetap betah tinggal di lingkungan sekolah tersebut.
Perbulllyan memang bukanlah hal yang baru di hidup Prisha. Semasa SMP ia juga dapat perlakuan yang sama dari teman-temannya. Dan salah satu teman yang tetap membullynya sampai sekarang adalah Elina and the geng. Entah mengapa kebetulan yang tak ia inginkan itu justru harus ia alami sekarang. Bertemu dengan musuh bebuyutannya dalam waktu 3 tahun kedepan di sekolah yang sama. Untung di SMK ini Ia masih memiliki teman sehingga ia tak merasa dikucilkan lagi seperti waktu SMP dulu. Di samping itu ia juga punya Andrian. Cinta diam-diamnya yang akan ia jadikan motivasi untuk tetap bertahan di SMK kusuma.
Pagi Prisha yang penuh senyuman mendadak berubah menjadi sebuah ketakutan ketika ia memasuki gerbang sekolah dan bertemu dengan Elina and the geng.
"Hallo gembel. Gimana tangan loe? Udah sembuh?"
Tanya Elina pura-pura perhatian. Prisha pun hanya menjawab dengan anggukan sambil tetap menundukan kepalanya. Langkahnya begitu berat. Dengan tangan Elina yang berada di pundaknya. Menggandengnya layaknya seorang teman. Walau pada kenyataannya gandengannya itu mengandung sebuah tekanan.
__ADS_1
"Ngomong ngomong makasih ya kemaren elo udah bela gue di depan guru BK. Sebagai gantinya ntar siang waktu istirahat gue mau traktir elo di kantin sekolah."
Entah ada angin apa Elina berubah baik seperti itu. Yang jelas Prisha harus tetap waspada. Karena Elina itu penuh tak tik yang menjebak.
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa waktu pelajaran ke 2 telah usai. Bunyi bel sekolah menandakan waktu istirahat telah di mulai. Siswa siswi berbondong ke luar kelas untuk mengistirahatkan badannya sejenak setelah duduk dari pagi. Waktu istirahat memang begitu mereka harapkan. Namun tidak dengan Prisha. Ia masih sibuk menerka nerka dengan tak tik Elina yang pasti akan melakukan pembullyan kepadanya. Ia masih setia duduk di bangku kelas.
"Sha. Ke kantin yuk" ajak Gita yang baru saja selesai memasukkan buku kedalam tas.
"Kalian ke kantin aja dulu. Aku udah bawa bekal nih" Jawab Prisha sambil menunjukkan kotak belak.
"Ya udah kita ke kantin dulu kalau gitu. Mau nitip apa? Ntar gue bawain" jawab Gita kemudian yang langsung di jawab gelengan oleh Prisha. Gita dan Hani pun segera keluar kelas melangkah menuju kantin sekolah.
Di waktu yang bersamaan Elina and the geng telah mengintai dari jauh. Ia yakin pasti Prisha tidak akan datang ke kantin sesuai permintaan mereka. Setelah di rasa aman, Elina segera masuk ke kelas menghampiri Prisha yang baru saja bersiap-siap memakan bekal yang ia bawa dari rumah.
"Sha.. Kenapa gak ke kantin sih. Udah kita tungguin tau gak sih" Elina berbicara sambil mengintari tempat duduk Prisha.
"Terus loe mau ngapain ini. Jangan bilang loe mau makan. Ini kan pakan kuda" Elina mengaduk aduk tongseng tumbuk daun singkong yang ada di wadah bekal Prisha. Kemudian sengaja menendangnya hingga makanan itu jatuh ke lantai.
"Ups jatuh.. Sorry gak sengaja." Kata Elina tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Eh gembel, beresin tuh pakan kuda loe. Kita tungguin di depan. Loe gak lupa kan kalau tadi pagi Elina bilang mau traktir loe di kantin" kata Mega yang selalu setia bersama Elina dan Fita.
"Lupa kali Ga. Dia kan gak pernah minum susu, jadi daya ingatnya rendah hahaha" Cibir Fita yang langsung di sambut gelak tawa dari mereka bertiga. Prisha tak bisa berbuat apa-apa selain memunguti nasi yang sudah bercecer di lantai itu. Ia memasukkannya kembali ke dalam wadah dan kemudian menyimpannya di laci meja. Ia tak membuangnya di tempat sampah karena makanan itu nantinya masih bisa di manfaatkan untuk memberi makan ayam di rumah.