
Prisha mengeluarkan barang belanjaan dari tote bag yang di berikan Andrian. Ia mencari produk yang bisa digunakan untuk menghapus riasan di wajahnya. Tidak lupa ia memperhatikan wajahnya terlebih dahulu di depan cermin. Dari pantulan itu ia seperti melihat Prisha yang lain. Prisha yang begitu cantik dengan make up natural di wajahnya.
"Kalau di perhatikan Prisha lebih cantik kalau pake make up gini deh. Mata terlihat lebih tajam. Pipi terlihat lebih merona. Dan bibir terlihat lebih merah. Hapus gak ya?" Prisha berbicara sendiri di depan cermin. Bertanya sesuatu yang tak akan pernah mendapat jawaban dari pantulan dirinya itu.
"Foto dulu aja kali ya. Buat kenang kenangan" Prisha memutuskan mengambil handphone yang masih ia simpan di tas. Lalu mengarahkan kamera kewajahnya dan berpose.
"Kenapa hasilnya gak sebagus yang dibutik tadi? Ini pasti karna HPnya yang kurang canggih." Prisha memutuskan untuk menghapus riasan wajahnya dengan cuci muka saja. Karena untuk menggunakan toner harus di aplikasikan di kapas terlebih dahulu. Sementara Prisha belum punya itu. Ia berdiri hendak ke kamar mandi namun ada notifikasi dari handphone nya. Ia segera meraihnya dan mendapati pesan dari Elina
[Percuma cantik kalau hasil morotin om-om]
Sontak Prisa pun bertanya-tanya apa maksud pesan Elina tersebut. Namun detik berikutnya ada pesan masuk berupa fotonya yang sedang berbelanja dengan Andrian. Wajah Andrian tak terlihat di foto tersebut. Namun Prisha yakin itu adalah foto mereka tadi sore yang sedang berbelanja di sebuah minimarket. Ia masih ingat jelas pakaian yang di kenakan Andrian tadi persis yang ada di foto.
Melihat hasil foto yang di ambil, sepertinya foto itu sengaja di ambil agar memperlihatkan wajahnya saja dengan punggung laki-laki yang berada di depannya. Kini ia dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud om-om oleh Elina adalah Andrian. Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah siapa yang mengambil foto tersebut. Sementara tadi hanya ada dia dan Andrian di sana.
__ADS_1
"Apa kak Rama yang ambil foto ini ya?" Tanya Prisha dalam hati. Sebab ia sempat bertemu Rama di pintu minimarket.
"Tapi tadi waktu aku masuk kak Rama udah balik. Masak ya pak Andrian sendiri yang ngambil foto. Kayaknya gak deh. Tau ah. Mending mandi aja" Prisha memutuskan untuk melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Membersihkan diri lalu beristirahat. Tak lupa malam harinya ia makan malam bersama keluarga lalu belajar di samping ibunya yang masih menjahit.
"Kamu tadi kok pake make up segala itu ada acara apa tho nduk? " Tanya Ratna memulai obrolan
"Ooo itu. Tadi Prisha di suruh belajar jadi model di butik nya mama Ammy buk. Di make up_in. Suruh gonta ganti baju kayak bintang film. Pokoknya pemotretan kayak artis-artis gitu" jawab Prisha antusias. Ia selalu terbuka dengan ibunya. Menceritakan kejadian yang ia alami tanpa ada yang di tutup tutupi. Kecuali masalah pembullyan yang di lakukan oleh temannya.
"Memangnya fotonya mau dibuat apa sih nduk? Dipajang di toko gitu? " Tanya Ratna
Waktu terus berlalu. Prisha masih asyik mengobrol dengan kedua orang tuanya di ruangan kerja ibunya sambil membantu menyetrika pakaian yang sudah jadi. Begitupun dengan ayahnya. Ia juga ikut membantu memasang kancing baju secara manual. Semua pekerjaan mereka lakukan bersama sama tanpa membebankan pada satu orang saja.
"Udah malam nduk. Sana tidur" Ratna menyuruh anak semata wayangnya itu tidur ketika jam telah menunjukkan pukul 9 malam.
__ADS_1
"Ya buk. Prisha ke kamar dulu ya. Ibu juga harus istirahat" Prisha melangkah pergi menuju kamarnya sambil membawa buku pelajarannya yang ia dekap. Begitu sampai kamar ia pun mengecek handphonenya kembali. Ia lagi-lagi mendapati pesan ancaman dari Elina
[Ingat ya. Besok elo harus nglayanin gue kayak biasa. Kalau gak foto-foto elo bakal gue sebar keseluruh sekolah] Ancam Elina yang tak di tanggapi oleh Prisha. Ia lebih memilih merebahkan dirinya yang begitu capek. Ia mencoba memejamkan mata namun rasanya sulit sekali untuk terlelap. Sampai akhirnya ia mencoba jurus jitu yang menjadi andalannya. Yaitu membayangkan sesuatu yang indah. Ia berfikir bagaimana indahnya jika kelak ia bisa di cintai dan menikah dengan Andrian. Walaupun umur mereka terpaut jauh, namun bagi Prisha tak ada yang tak mungkin jika Tuhan telah menakdirkan. Umur lebih tua pasti lebih dewasa.
Entah baru menit ke berapa ternyata Prisha telah tertidur lelap. Nafasnya yang teratur bersahutan dengan hewan malam yang berbunyi seperti lagu pengantar tidur. Tak ada buku dongeng, namun Prisha berhasil menciptakan cerita yang indah tentang masa depannya. Tentang hidup yang penuh cinta. Tanpa cibiran, tanpa umpatan tanpa hal buruk seperti yang ia rasakan sekarang.
...****************...
Pagi menjelang. Suara kokok ayam jago membangunkan Prisha dari mimpi indahnya. Ia harus bangun. Melawan kantuk yang masih menyerang. Membuang jauh-jauh selimut yang selalu memberi kehangatan. Rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya ia buang dengan aktifitas fisik yang memerlukan tenaga. Membuat matanya terbuka lebar. Ia mulai membuat api di tungku dengan kayu bakar yang selalu dibawa pulang bapaknya dari ladang. Api yang menyala menghilangkan rasa dingin di tubuhnya. Setelah semua rutinitas paginya selesai, Prisha pun segera berangkat kesekolah agar bisa mewujudkan cita-citanya.
...****************...
Sekolah telah ramai dengan hiruk pikuk siswa ketika Prisha datang. Ia mencoba bersikap biasa saja walaupun hatinya diselimuti rasa was-was. Tak lupa senyum ramah selalu ia terbitkan untuk siapapun yang berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Jam segini baru dateng? Haduh. Lelet banget sih" Elina yang berdiri dengan tangan bersedekah di dada segera berjalan menghampiri Prisha. Sepertinya ia sengaja menunggu kedatangan Prisha di dekat gerbang sekolah bersama Fita dan Mega.
Satu per satu dari mereka mulai melempar tas ke arah Prisha, menandakan kalau Prisha harus membawakan tas mereka menuju kelas. Tanpa perlawanan Prishapun membawa ke3 tas tersebut dengan susah payah. Ia berjalan di belakang Elina and the geng yang berjalan angkuh sambil sesekali mereka tertawa.