
Prisha berjalan bersisihan dengan ibunya. Mereka terihat begitu akrab tanpa sekat. Namun Prisha tetap menjaga kesopanan dan tutur kata sebagai wujud hormat kepada Ratna ibunya.
"Buk. Itu diteras kayaknya ada orang deh" Prisha menunjuk ke arah teras rumah yang remang-temang karena lampu yang kurang terang.
"Ya nduk. Siapa yang malam malam datang kesini. Perasaan pelanggan ibu gak ada yang janji mau kesini"
Prisha dan Ratna melangkah berlahan menuju teras. Pencahayaan yang kurang membuat mereka tidak mengenali sosok yang duduk diteras tersebut. Langkah mereka semakin dekat, namun mereka tak juga mengenali sosok yang duduk dengan kepala tertunduk itu. Prisha berjalan dibelakang punggung ibunya sambil memegang erat tangan ibunya. Ia begitu takut jika orang yang di teras adalah orang jahat yang mau mencelakainya.
"Maaf kamu siapa ya? Kok ada di rumah saya?" Tanya Ratna. Sosok yang tertunduk itupun segera mengangkat kepalanya lalu berdiri mendekat ke arah Ratna dan Prisha. Prisha belum berani melihat ke arah sosok tersebut.
"Perkenalkan bu, saya Rama. Kakak tingkatnya Prisha. Saya kesini mau jenguk Prisha" Jawab sosok tersebut yang ternyata adalah Rama. Prisha pun segera membuka matanya dan melepas genggaman tangan dari ibunya. Lalu berdiri disamping ibunya. Ia sedikit heran dengan tingkah Rama yang sepertinya kembali bersikap biasa bahkan cenderung perhatian kepadanya setelah kejadian buruk di lokasi outbound. Ia juga heran kenapa Rama bisa tahu rumahnya, sedangkan sebelumnya Prisha tak pernah mengajak Rama kerumah. Hal itu baru ia rasakan ketika Rama tak bertanya arah ketika mengantarnya pulang. Dan sekarang ia tiba tiba sudah ada di rumah Prisha lagi.
__ADS_1
"Oooh temannya Prisha. Kenapa gak masuk aja. Bapak di rumah kok" Ratna berjalan menuju arah pintu lalu mempersilahkan Rama masuk.
"Monggo, silahkan masuk"
"Terima kasih buk. Saya disini saja." Jawab Rama sungkan. Ratna masuk kedalam rumah lalu memanggil manggil nama bapak sambil mencarinya kesana kemari. Kemudian kembali lagi keluar rumah menemui Rama dan Prisha yang masih sama sama mematung.
"Bapakmu itu kemana sih Sha. Kok ibu cari cari gak ada. Kebiasaan, kalau pergi gak pamitan" celoteh Ratna yang kebingungan mencari keberadaan Wijaya.
"Ooo iya. Ibu lupa. Tadi sore kan pak Rami kesini nyuruh kendurian habis magrib" Kata Ratna kemudian
"Ibu ini. Udah tau juga malah ngomel-ngomel" Timpal Prisha.
__ADS_1
"Namanya juga udah tua nduk. Ya maklum kalau jadi pelupa. Yang penting gak lupa dengan tanggungan pesanan jahitan orang"
"Ini kenapa pada berdiri disini. Ayo masuk. Biar ibu buatin minum" Ratna mempersilahkan Rama untuk masuk kedalam rumah. Namun Rama lebih memilih duduk diteras.
"Terima kasih bu. Gak usah repot-repot. Saya duduk disini saja. Saya cuman bentar kok" Jawab Rama yang kemudian duduk pada kursi plastik yang berada diteras rumah Prisha. Akhirnya mereka bertiga duduk di teras sambil menikmati semilir angin malam.
"Dek. Ini aku bawain martabak manis buat kamu. Buat temen istirahat. Biar cepet pulih tenaganya" Rama menggeser plastik putih yang berisi kardus martabak manis.
"Terima kasih kak" Jawab Prisha sambil mengambil bungkusan yang diberikan Rama. Ia terlihat enggan untuk memakannya. Namun karena senggolan ibunya di lengan, ia faham bahwa ia harus tetap membuka dan memakannya walau sedikit untuk menghormati pemberian Rama.
"Ini aku juga bawain minyak urut. Siapa tau bisa ngobatin tubuh kamu yang terasa sakit karena jatuh" Rama menyodorkan minyak urut yang ia rogoh dari saku jaketnya.
__ADS_1
"Dia fikir aku emak-emak kali ya. Dikasih minyak urut"