Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 45


__ADS_3

"Kamu ini ya Yan. Sukanya curi-curi kesempatan" Kata Ammy begitu Prisha pergi mengganti pakaian. Mereka menghabiskan waktu cukup lama saat sesi foto couple. Sikap Prisha yang malu malu dan selalu menundukkan pandangan membuat sang fotografer sedikit kewalahan dalam mencari angle yang tepat.


"Bukan curi kesempatan ma. Tapi profesional" jawab Andrian. Mereka masih diruangan butik yang disulap menjadi studio foto.


"Kalau Rian gak agresif, mungkin sekarang kita masih pemotretan. Mama tau sendiri kan Prisha orangnya kayak apa? Dia itu pemalu. Mama lihat sendiri kan tadi dia nunduk terus gak mau mandang Rian. Kalau gak dipaksa gak bakal dapet kemistrinya" Jelas Rian melakukan pembelaan. Jika sudah begini Ammy hanya bisa mengangguk membenarkan pendapat anak sulungnya yang keras kepala tersebut.


"Ya ya ya. Terserah kamu aja deh. Yang penting jangan kamu rusak itu anak orang. Jaga anak perempuan itu gak mudah. Mama sendiri yang udah ngerasain mengasuh anak perempuan. Salah sedikit bisa bisa terjerumus dan bisa bikin malu keluarga." Kata Ammy mewanti wanti Andrian. Ia bisa merasakan betapa repotnya mengurus anak perempuan. Begitu susah. Apalagi di era digital seperti sekarang. Mereka bisa bergaul dengan siapa saja dan orang dari mana saja. Salah sedikit mereka bisa terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik.


"Kalau mama lihat, Prisha itu anaknya pandai menjaga diri. Makannya dia selalu menjaga jarak dari kamu. Terlihat begitu canggung jika disuruh deket-deket. Padahal diruangan tadi banyak orang. Kalau menurut mama Prisha itu anaknya masih polos dan unik. Beda dengan kebanyakan gadis di luar sana" Lanjut Ammy.


"Tuh kan. Mama juga jatuh cinta sama Prisha. Dia itu beda dari gadis-gadis lain ma. Makannya mama harus bantuin Rian buat nahlukin hatinya" Kata Andrian. Mereka terus mengobrol sambil menunggu fotografernya selesai beres-beres.


"Buk, ini hasil fotonya. Monggo silahkan dicek. Setelah ini baru saya masukin ke flasdisk dan berikan ke ibu. Biar nanti saya antar langsung kesini" Kata fotografer tersebut sambil menyodorkan kameranya yang menyala menunjukkan foto Andrian dan Prisha. Ammy segera mengambil dan mengecek beberapa foto secara langsung.


"Bagus bagus kok. Apalagi untuk model pemula. Terima kasih bantuannya ya mas. Saya selalu suka hasil kerjamu." Ammy segera mengembalikan kamera pada pemiliknya. Lalu meraih 2 amplop yang masing masing di berikan untuk perias dan fotografer.


"Ini honor kalian. Semoga kita tetap bisa bekerja sama ya" Kata Ammy sambil menyodorkan amplop yang berisikan honor mereka.


"Terima kasih bu. Kalau begitu kami pamit dulu"


Mereka keluar dari butik dengan diantar oleh Ammy sampai ke pintu. Setelah mereka pergi Ammy segera kembali menuju meja kebesarannya. Ia harus melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum selesai.

__ADS_1


"Ma, ini kan udah jam 3 lebih. Boleh ya Prisha aku ajak keluar dulu. Kan kerjaannya udah selesai" Kata Rian begitu berada disamping Ammy


"Mau kamu ajak kemana lagi dia?" Tanya Ammy yang sudah sibuk dengan alat tulis ditangannya.


"Mau Rian anterin pulang ma. Sekalian mampir ke suatu tempat" Jawab Rian yang sibuk memijit pundak mamanya itu. Yah begitulah Andrian. Begitu baik jika ada maunya.


"Gak mendesak berarti dong?" Tanya Ammy tak mau terbawa suasana.


"Mama kok gitu sih? Gak asyik ah. Padahal tadi udah Rian bantuin. Andai mama sewa model udah habis berapa coba?" Andrian mencoba bernegosiasi dengan Ammy untuk mendapatkan apa yang ia mau.


"Ooo sekarang mau itung itungan sama mama? Ok. Kalau gitu biar Prisha mama rumahin aja. Biar sekalian kamu gak bisa deketin dia. Mama udah bantu kamu banyak lho. Minta dia kerja disini, ok mama turutin. Minta dia jadi model juga mama turutin. Sekarang mau ajak dia kencan sebelum jam pulang? Maaf ya untuk kali ini mama gak izinin. Enak aja buat peraturan sendiri. Disini yang bosnya itu siapa? Mama kan?" kata Ammy mengungkit semua jasanya dalam membantu Andrian mendekati Prisha. Ya, walaupun sikap Andrian ketus dihadapan Prisha, namun sebenarnya ada suatu hal yang membuatnya tertarik dengan Prisha. Setelah lama putus dengan pacarnya karena sebuah penghianatan besar, Andrian nyaris tak pernah menunjukkan ketertarikannya kepada perempuan. Barulah setelah bertemu Prisha ia kembali menunjukkan sifat aslinya yang begitu gigih dalam mengejar apa yang di inginkan. Sebenarnya ayah Andrian kurang setuju jika Andrian mendekati Prisha. Sebagai ketua yayasan tentu ia tahu jika Prisha sering masuk ruang BK di sekolah. Namun Andrian membelanya. Ia tahu Prisha begitu karena fitnahan dari Elina yang merupakan anak dari salah satu donatur tetap sekolah tersebut. Elina memang sombong dan bersikap semena-mena pada orang yang ia anggap kastanya lebih rendah dari dia.


"mama pelan pelan dong ngomongnya. Ntar kalau denger Prisha gimana? Ya deh makasih mama udah banyak bantu Rian" Rian akhirnya mengalah dari perdebatan ibu anak tersebut. Seberapa kelas kepalanya Andrian ia akan tetap luluh dihadapan Ammy.


"Nah gitu dong. Kalau mau kencan tunggu bentar. Sana kesofa. Bikin konsentrasi mama buyar aja kamu" Ammy mengambil tangan Andrian yang berada di pundaknya.


"Padahal Rian pijitin ini lho. Ya udah lah Rian tungguin disana aja" Rian melangkah menuju sofa lalu membaringkan tubuhnya disana. Ia sibuk dengan handphone yang ada ditangannya. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kariawan di butik mama Ammy satu per satu berpamitan. Begitu juga dengan Prisha.


"Prisha pamit dulu ya buk. Terima kasih atas kesempatannya hari ini. Prisha jadi bisa belajar dunia permodelan" Kata Prisha. Ia berdiri disamping Ammy lalu mengulurkan tangannya untuk berpamitan.


"Sebentar. Ini bonus buat kamu" Ammy menyodorkan amplop kepada Prisha namun langsung ditolak

__ADS_1


"Terima kasih bu. Tapi maaf Prisha gak bisa terima ini. Prisha dikasih kesempatan jadi model aja sudah seneng banget" Kata Prisha lalu segera membalikan badannya dan melangkahkan kakinya keluar. Prisha begitu kaget ketika tiba-tiba tangannya digandeng oleh Andrian.


"Pak Andrian. Ngapain bapak narik narik saya?" Tanya Prisha begitu mendapati wajah Andrian yang menariknya keluar.


"Udah gak usah banyak tanya. Kamu harus membayar saya karna sudah banyak bantu kamu waktu pemotretan tadi" jawab Andrian dengan wajah dinginnya. Jauh berbeda ketika berbicara dengan ibunya.


"Ma.. Rian pergi dulu sama Prisha ya" Pamit Andrian yang tak mau melepas tangan Prisha. Ia terus menuntun Prisha keluar dari butik. Barulah ketika sampai diparkiran rumahnya, Andrian segera melepas genggaman tangannya.


"Ini pakai" Andrian menyodorkan helm dan langsung diterima oleh Prisha. Namun ia tak segera memakainya. Prisha hanya berdiri mematung hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya.


"Pak, maaf. Apa bapak punya masker? Kalau ada saya minta satu" Kata Prisha masih dengan wajah tertunduk.


"Masker buat apa? Kamu flu?" tanya Andrian heran. Karna tak ada tanda tanda flu yang ia lihat pada Prisha.


"Bukan itu pak. Saya hanya malu dengan sisa make up diwajah saya" jawab Prisha dengan wajah menunduk.


"Mana coba saya lihat" Andrian menggunakan kesempatan itu untuk mrndekati Prisha lagi. Ia begitu senang ketika melihat wajah Prisha tersipu dan selalu menghindari kontak mata dengannya. Seolah olah ia takut memandang wajah Andrian. Andrian menarik wajah Prisha mendekat. Membuat wajahnya tersipu malu.


"Kamu justru terlihat cantik kalau pakai make up kayak gini" Puji Andrian yang masih terus memandangi wajah Prisha. Ia semakin mendekatkan wajahnya membuat jantung Prisha semakin berdetak kencang tak beraturan. Hingga suara deheman membuatnya kaget.


Eheeem

__ADS_1


__ADS_2