
Kegiatan outbond kelas X SMK Kusuma akan dilakaksanakan besok. Tak banyak persiapan yang Prisha lakukan selain membeli tas ransel baru yang akan ia gunakan untuk membawa barang barang. Kemarin setelah magrib ia bersama Hani dan Gita pergi ke supermarket berbelanja bersama.
[Gais udah pada belanja buat besok belum?] Pesan dari Hani di grup chat mereka bertiga.
[Belum nih. Belanja bareng yuk. Sekalian cuci mata] Balas Gita.
[Ayok. Aku juga mau beli tas] Balas Prisha kemudian. Tadi sore Prisha memang sudah ke supermarket bersama Andrian. Namun ia hanya membeli camilan saja. Ia tak enak hati pada Andrian yang sepertinya suasana hatinya sedang kurang baik setelah bertemu seorang wanita di area parkir. Prisha hanya mengikuti Andrian menuju rak snack dan minuman saja.
Malam hari Prisha menyiapkan barang barang bawaannya untuk di masukkan kedalam ransel. Barang bawaannya pun tak banyak. Ia hanya membawa pakaian ganti, peralatan mandi, minyak angin serta beberapa snack dan air mineral. Karena untuk makan sudah ditanggung panitia. Demikian juga dengan kebutuhan camping.
Kali ini panitia kegiatan memilih puncak Distoroto sebagai lokasinya. Puncak Distoroto sendiri merupakan salah satu destinasi wisata yang dimiliki kabupaten Jepara. Letaknya disebuah desa di lereng gunung muria.
Puncak Distoroto merupakan sebuah dataran tinggi yang penuh dengan pohon pinus milik perhutani. Udaranya yang sejuk dan jauh dari keramaian kota membuat panitia memilih tempat tersebut menjadi lokasi mereka melakukan tadabur alam. Ditempat tersebut juga disediakan mainan tradisional berupa bakiak dan egrang yang akan semakin memeriahkan suasana.
Rombongan berangkat dari SMK kusuma pukul 7.30. Mereka melakukan apel pagi dan diberi beberapa pengarahan terlebih dahulu sebelum berangkat. Mereka berangkat ke lokasi bukan menggunakan bus seperti yang sering dilakukan sekolah. Tetapi mereka diangkut truk yang biasanya digunakan untuk mengankut barang. Elina dan beberapa murid lain yang terkenal cantik cantik dan anak orang kaya pun merengek meminta membawa mobil pribadi milik orang tua mereka. Namun panitia tidak mengizinkan. Mereka mengatakan bahwa semua siswa memiliki hak yang sama. Tidak ada yang di istemewakan ataupun direndahkan.
"Kak. Mana kendaraan yang mau kita naiki? Kenapa yang terparkir cuman truk pengangkut sapi aja" Cibir Elina dengan gaya sok kecantikan sambil memegangi kipas mini yang ia arahkan ke wajahnya. Sontak panitia yang terdiri dari beberapa senior, TU dan beberapa guru pun tertawa mendengar ocehan Elina.
"Memangnya kamu berharap kita ke lokasi bawa kendaraan apa? Mau bawa jet pribadi? Hahaha" Cibir salah satu senior perempuan. Tampaknya ia sudah kesal dengan tingkah Elina yang sok sok'an.
"Adik adik. Dihadapan kalian ini adalah kendaraan yang akan mengantar kita ke lokasi. Karena lokasinya dataran tinggi dan jalannya sempit maka kita gak berani bawa bus seperti biasa. Jadi ayo silahkan naik. Sebelum cuacanya semakin terik" Jelas panitia lainnya. Para siswa berbondong bondong naik kendaraan yang sudah disediakan. Begitupun Elina end the geng. Walaupun wajahnya murung dibarengi dengan bibir yang moncong tetap saja mereka terpaksa naik kendaraan tersebut.
__ADS_1
Perjalanan dari kota Jepara menuju punjak distoroto dilalui dengan penuh suka cita. Mereka begitu bahagia bisa menghirup udara segar dibawah teriknya mentari. Mereka melewati hutan jati, hutan karet dan setelah berjalan beberapa kilometer barulah mobil berbelok masuk desa menuju puncak.
"Adek adek. Kita turun disini ya. Karena sopirnya belum terbiasa melewati jalan tanjakan." Sontak intruksi dari salah satu panitia pun mengundang keramaian. Mereka menyoraki panitia dan menganggap mereka tidak bisa memilih sopir yang benar benar kompeten. Namun walaupun begitu tetap saja semua siswa menuruti apa yang di ssmpaikan panitia.
Siswa yang terdiri dari 100 lebih itu pun berjalan beriringan. Mereka berjalan sambil berbincang tentang suasana desa yang sejuk itu. Ada juga sebagian dari mereka yang bercanda dan sesekali tertawa bersama. Para masyarakat sekitar pun begitu antusias. Mereka berjajar di depan rumah mereka hanya untuk melihat rombongan siswa.
"Sha, ntar elo jangan jauh jauh dari kita ya. Supaya gak di kerjain Elina sama gengnya itu" Kata Hani yang masih berjalan dengan santainya. Latihan fisik yang ia lakoni setiap hari membuatnya tetap bugar menapaki jalan menanjak.
"ok" jawab Prisha sambil menyatukan jari jempol dan telunjuk membentuk huruf o.
Hari sudah siang. Namun suasana di puncak distoroto tetap sejuk. Pepohonan yang menjulang tinggi mampu menghalangi teriknya sinar matahari. Setibanya di puncak mereka segera mengambil tenda yang menjadi salah satu fasilitas yang di sediakan pengelola puncak tersebut. Mendirikannya, lalu sejenak beristirahat menikmati makan siang. Setelahnya mereka bersenang senang dengan acara yang sudah dirancang oleh panitia.
...****************...
"Ya kak" Jawab Prisha ramah.
"Ya sudah kalau gitu biar saya yang dampingi kalian" Tawar Rama.
Toilet umum terletak tak jauh dari cafe joglo. Karena hanya ada beberapa toilet dan jumlah mereka lebih banyak, maka mereka mengantri untuk mandi. Hingga tiba saatnya Prisha mendapat giliran. Ia segera masuk kedalam toilet yang sekaligus menyatu dengan kamar mandi. Airnya begitu dingin menembus kulit membuat Prisha bersihkan diri dengan cepat. Namun tiba-tiba perutnya mulas membuat ia lama di toilet.
Entah bagaimana ceritanya sampai Prisha tertinggal sendiri di toilet umum dengan Rama yang masih menunggu di sebuah bangku panjang yang terletak tak jauh dari toilet.
__ADS_1
"Sudah?" Tanya Rama begitu Prisha keluar dari toilet. Prisha pun mengangguk. Lalu mengedarkan pandangan mencari keberadaan teman - temannya.
"Yang lain mana kak?" tanya Prisha karna tak menemukan yang lain.
"Baru saja balik. Soalnya kamu lama jadi aku suruh duluan aja" Terang Rama
"Ayoo balik. Nyusul yang lainnya. Gak enak kalau mencar sendiri" Ajak Rama kemudian. Mereka berjalan menuju tenda yang mereka dirikan di puncak. Jalanannya menanjak membuat kaki cepat lelah.
"Capek gak?" Tanya Rama begitu mereka setengah jalan.
"Capek kak. Bikin ngos ngosan. Padahal jalannya santai lho. Andai tempatnya gak dingin mungkin udah kringetan lagi" Keluh Prisha sambil memegangi lututnya. Rama tiba tiba berjongkok didepan Prisha.
"Apa yang kakak lakuin?" tanya Prisha kemudian.
"Katanya capek. Ayo naik biar aku gendong" Tawar Rama yang membuat Prisha sejenak membelalakkan matanya. Perlakuan Rama begitu manis. Membuat ia bertanya tanya apa maksud dari sikapnya yang akhir akhir ini begitu gencar mendekatinya.
"Kak Rama mana kuat gendong Prisha. Kita istirahat di gardu itu aja yuk" Ajak Prisha. Terlihat didepan mereka teman temannya masih berjalan dan terkadang berhenti sambil memegangi lutut mereka. Prisha dan Rama melangkah menuju gardu yang terletak di pinggir jalan. Prisha segera duduk dan menselonjorkan kakinya yang terasa capek. Ia letakkan peralatan mandi disampingnya. Kemudian memijit mijit kakinya. Rama yang memang masih berdiri tiba tiba mendekatinya. Memijit Kaki Prisha dengan kedua tangannya. Awalnya tidak ada yang aneh, namun semakin lama pijatan itu semakin naik dan meraba kemana-mana Prisha pun menyentakkan tangan Rama dan langsung berdiri.
"Maksud kak Rama apa ini? Mau lecehin Prisha?" Sentak Prisha dengan nada marah.
"Gak usah sok suci deh. Loe pasti udah sering diraba-raba sama cowok-cowok yang nyewa elo kan? Gak usah munafik. Aku cuman butuh kehangatan aja" Rama tersenyum sinis sambil terus mendekati Prisha. Prisha berusaha keluar dari gardu itu. Berlari meninggalkan peralatan mandinya dan Rama. Namun kakinya yang begitu capek membuatnya terjatuh. Rama yang masih mengejarnya dapat dengan mudah meraih tubuh Prisha. Ia berteriak namun teman teman yang tadinya berjalan didepan mereka sudah tak terlihat lagi. Dibelakang mereka juga tak ada tanda tanda kelompok lain. Membuat Prisha frustasi. Ia hanya bisa menangis sambil berusaha melepaskan diri dari Rama. Tubuhnya dipeluk erat dibawa kedalam gardu. Setibanya digardu Prisha diletakkan disebuah bangku panjang dengan tubuh Rama yang menggagahinya.
__ADS_1
Hari yang semakin petang membuat lokasi tersebut semakin sepi. Tak akan ada seorang warga pun yang lewat mengingat rutinitas kerja mereka hanya sampai waktu asyar tiba. Namun Prisha tak mau menyerah. Ia terus saja melawan Rama sambil berteriak meminta tolong dengan air mata yang terus membanjiri pipi. Tiba tiba saja dari arah jalan ada yang berteriak
"Hooi.. Apa yang mau loe lakuin?"