
Kokok ayam jantan bersahutan dari satu rumah dengan rumah yang lain. Menandakan hari sudah pagi. Prisha segera bangun dari tidurnya. Pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi lalu menyusul ibunya ke dapur.
"Selamat pagi ibuku yang cantik" Sapa Prisha dengan senyum ceria.
"Pagi juga anaknya ibuk. Pagi ini langitnya cerah banget ya Sha" sindir Ratna yang melihat wajah sumringah anaknya.
"Mana ada langit cerah sih bu. Itu di luar masih gelap lho" kata Prisa sambil melongokkan kepalanya keluar. Terlihat langit masih gelap. Matahari belum menampakkan cahayanya.
"Masa sih nduk? Kalau begitu berarti wajah anak ibu yang sudah cerah. Roman-romannya ada yang sedang Kasmaran nih" ledek Ratna menggoda Prisha.
"Ibu itu bisa saja. Siapa juga yang lagi kasmaran." Prisha mengambil kangkung yang telah dipetik Wijaya dari ladang tadi sore. Ia memotongnya pendek-pendek sambil memisahkan antara batang dan daunnya. Hatinya memang sedang bahagia. Sehingga senyum itu selalu mengembang di wajahnya.
"Kamu suka ya nduk sama nak Andrian?" Tanya Ratna menggoda anak gadisnya.
"Ibu itu ngomong apaan sih" Jawab Prisha menyangkal.
"Kalaupun suka juga gak apa apa. Yang penting jangan sampai mengganggu konsentrasi belajar. Lagian kalau ibu lihat-lihat, nak Andrian itu orangnya baik. Dia anak yang sopan sama orang tua. Dan sepertinya ia juga lelaki yang bertanggung jawab. Nyatanya dia mengajakmu pergi juga mengantarkanmu pulang sampai rumah. Kalau bukan laki laki baik pasti dia sudah menurunkanmu di jalan dan membiarkanmu pulang sendiri"
__ADS_1
Prisha tak menjawab semua perkataan Ratna. Sebenarnya ia juga tau kalau Andrian itu orang yang baik. Bahkan beberapa kali dia selalu diselamatkan Andrian saat di bully Elina. Ia begitu mengaguminya. Menginginkannya untuk selalu menjadi malaikat penyelamatnya. Namun ia juga tak mau menggantungkan hidupnya kepada Andrian. Ia takut jika Andrian menjadikannya pelarian agar ia tak lagi di jodoh jodohkan oleh kedua orang tuanya. Dan jika hal itu benar terjadi maka hati Prisha akan sakit se sakit sakitnya.
...****************...
Pukul 06.00 pagi sarapan sudah tersedia di meja makan. Nasi putih mereka letakkan dalam ceting yang terbuat dari anyaman bambu. Ada juga cah kangkung, telur dadar dan juga sambal yang menjadi teman sarapan keluarga Prisha. Tidak lupa segelas kopi hitam untuk Wijaya dan 2 gelas teh hangat untuk Ratna dan Prisha.
"Buk pak nanti Prisha pulang sekolah langsung kerja di butiknya mama Ammy yang ada di dekat sekolah ya. Jadi pulangnya sore." Kata Prisha meminta izin.
"Ya nduk gak apa-apa. Apa nanti sore bapak jemput saja? Biar gak merepotkan nak Andrian seperti kemarin?" Kata Wijaya menawari.
"Gak usah pak. Biar Prisha naik angkot saja. Nanti pulang sekolah kan jam 1, terus Prisha langsung ke butik. Jadi jam 4an sudah pulang. Nanti biar Prisha minta angkotnya pak Karnadi nungguin." Prisha begitu menikmati sarapan sederhana bersama keluarganya. Sesekali mereka mengobrol dan melempar candaan menjadikan suasana di meja makan begitu hangat.
"Piringnya gak usah di cuci nduk. Biar ibu saja. Kamu siap siap sekolah saja" Kata Ratna sambil membersihkan meja. Terlihat Wijaya masih asik menikmati secangkir kopi ditemani segelintir tembakau. Hingga tak lama kemudian putung rokoknya di matikan dalam sebuah asbak.
"bapak berangkat ke ladang dulu ya buk" pamit wijaya yang segera bangkit dari tempat duduknya. Ratna segera meraih tangan suaminya lalu menciumnya dengan takdim. Begitupun Prisha. Ia juga melakukan hal yang sama dengan ibunya.
"Prisha berangkat sekolah dulu ya bu" pamit Prisha setelah ia siap dengan seragam sekolahnya. Ua meminta restu dengan orang tuanya agar ia bisa belajar dengan tenang serta mendapat ilmu yang bermanfaat.
__ADS_1
...****************...
Tiba di sekolah Prisha segera melangkahkan kakinya menuju ruang kelas. Tempat yang menurutnya aman untuk menyembunyikan diri dari bullyan Elina ****end the geng****. Namun ternyata Elina sudah melihatnya sebelum ia sampai di ruang kelas. Bahkan ketika ia baru melewati gerbang sekolah. Sepertinya Elina sengaja menunggunya berangkat agar bisa menyalurkan hobinya membully Prisha.
"Sha.. Sha.. Tungguin gue dong" Suara Elina memanggilnya. Namun bukannya berhenti justru ia semakin mencepatkan langkahnya. Elina semakin mengejar dan detik kemudian langkah Prisha terhenti ketika ada seseorang yang menarik tas ranselnya dari belakang.
"Mau kemana loe" Kata Mega yang berhasil mendapatkan tas Prisha. Elina dan Fita kemudian menyusul menuju depan Prisha.
"Ngapain sih loe pagi pagi udah ngajak kejar kejaran?" tanya Elina sinis. Sebuah pertanyaan yang sama sekali tak meminta jawaban. Prisha tak menggubris. ia hanya diam sambil menundukkan pandangannya.
Teeet.. Teeet.. Teeet..
Suara bel menandakan waktu masuk. Para pengurus OSIS segera menuju ruang kelas untuk menertibkan merega agar segera menuju halaman sekolah melaksanakan apel pagi. Murid-murid berhamburan menuju halaman sekolah. Menciptakan kerumunan yang tak beraturan. Namun suara bel tersebut tak membuat Elina end the geng melepaskan Prisha. Mega justru menarik tas Prisha yang masih dipakai pemiliknya itu menuju ke tengah kerumunan. Menjadikan Prisha bahan kelucon yang bisa sajs menarik perhatian mereka. Sayangnya dari mereka tak ada yang perduli dengan nasib buruk Prisha.
Tas yang Prisha pakai ditarik paksa oleh Mega sampai talinya putus. Setelahnya tas tersebut seolah dijadikan mainan. Tas dilempar menuju arah Elina. Kemudian di lempar menuju arah Fita. Dan kembali lagi di lempar menuju arah Mega. Mereka bertiga berdiri melingkar mengelilingi Prisha. Seolah mengajak Prisha main kucing kucingan. Prisha berusaha mengambil tas yang berisi alat alat sekolah dan juga bekalnya tersebut. Ia begitu khawatir bekal yang sudah ia siapkan dari rumah tumpah dan akhirnya tidak bisa ia makan lagi. Namun seberapa keras Prisha mencoba, ia tetap kalah cepat dengan Elina end the geng. Tas tersebut masih menjadi mainan musuh bebuyutannya tersebut. Prisha merengek memohon agar tas tersebut di kembalikan. Namun rengekannya justru membuat Elina and the geng semakin bersemangat mengacaunya. Prisha menoleh kesana kemari. Berharap ada Hani atau teman lainnya yang bisa menyelamatkannya dari perundungan ini. Namun semuanya nihil. Hani ataupun Gita tak terjangkau oleh pandangannya. Begitupun teman lain yang ada disekitar Prisha. Mereka semua acuh. Tak ada satupun yang berniat menolong Prisha dari suasana tersebut.
"Siaaaaaap grak" Terdengar suara lantang salah satu pengurus OSIS yang bertugas sebagai pemimpin apel. Sejenak suara riuh yang berasal dari para siswa hilang. Berganti sebuah keheningan. Elina and the geng juga menghentikan aktifitas mereka. Mega menyimpan tas Prisha dalam dekapannya. Menjaganya agar tak direbut kembali oleh Prisha. Sejenak mereka semua khidmat mengikuti apel pagi dan mendengarkan pengumuman yang diberikan pembina. Setelah apel selesai Prisha langsung mencoba menarik tasnya dari dekapan Mega. Namun mega masih mempertahankannya. Ia justru segera melemparnya ke arah Elina.
__ADS_1
"Loe mau tas ini?" Tanya Elina sambil menenteng tas yang sudah putus talinya tersebut dengan pandangan yang meremehkan. Prisha tak mampu menjawab. Dadanya begitu sesak menahan air mata. Ia hanya mampu mengangguk atas apa yang diucapkan Elina.
"Ok. Gue balikin tas elo tapi tiap jam istirahat loe harus mau beliin kita jajan. Yah semacam kurir lah." Tak ada pilihan lain. Prishapun hanya bisa mengangguk pasrah. Mengiyakan semua permintaan Elina. Kemudian tas tersebut di lemprakan menuju tengah halaman sekolah. Prisha segera berlari mengambil tas tersebut. Untung saja teman temanya sebagian besar sudah bertolak menuju kelas mereka masing masing. Jadi Prisha tak terlalu malu memungut tas yang telah di lempar Elina. Biarpun begitu ia tetap menangis. Meratapi nasibnya yang selalu menjadi bahan bullyan. Sementara Elina end the geng melangkah menuju kelasnya dengan senyum penuh kemenangan.