Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 34


__ADS_3

Semua yang ada di dunia ini diciptakan dengan berpasang pasangan. Laki laki, perempuan. Siang, malam. Susah, bahagia. Miskin, Kaya. Memang begitulah hidup. Diciptakan berbeda tapi ditakdirkan saling melengkapi.


Senin ini Prisha sedang berada pada fase sedih. Dimana ia harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang tak pernah ia lakukan. Kasus pencurian HP milik Elina yang terjadi tempo hari memang telah ditangani pihak keamanan sekolah. Namun kasus itu belum selesai. Ia masih harus mengharap guru BP nanti.


Kemiskinan menjadikan Prisha anak yang selalu tertindas. Dipandang sebelah mata bahkan di kucilkan oleh teman sekolahnya. Apalagi setelah ada teror foto yang menuduhnya menjadi wanita bayaran. Belum ditambah lagi kasus baru tentang pencurian. Sungguh Prisha menjadi artis dadakan di sekolah. Namun bukan menjadi artis yang di idolakan melainkan artis yang penuh kontrofersi. Semua orang membicarakan tentang keburukannya. Ingin rasanya Prisha meninggalkan sekolah ini, namun mimpinya tak mau menunggu walau hanya sekedar untuk beristirahat.


Pagi ini Prisha tetap tersenyum ceria seperti biasanya. Tetap bisa bercanda saat sarapan bersama di meja makan. Tetap bisa tersenyum ramah pada setiap orang yang ia temui. Walau pada kenyataannya hatinya risau. Rasa takut, sedih, marah semua bercampur menjadi satu. Menyeruak di dalam dada. Terkadang ingin protes kepada Tuhan, namun ia sadar semua yang terjadi dalam kehidupannya pasti akan ada hikmah yang akan di dapatkan. Setidaknya semalam semangatnya telah di cas dengan cara nonton bioskop bersama Andrian.


Entah candaan apa yang sedang di lakukan Tuhan di hidup Prisha. Kemarin mendapatkan hinaan, cacian, umpatan dari semua teman sekolahnya. Mencacinya sebagai gembel yang kurang uang. Bahkan kata-kata tak senonoh dan menyebutnya dengan nama hewan pun kemarin Prisha dengar. Hatinya begitu hancur. Namun kesakitan itu dibayar lunas setelah bertemu Andrian. Duduk bersisihan bahkan berbagi makanan ringan di bioskop. Ya. Sesimpel itu kebahagiaan Prisha.


Oh Andrian. Jika saja Prisha bukan gadis pemalu, pasti ia sudah memberikan banyak perhatian kepadamu. Mengespresikan perasaan kagumnya dengan hadiah hadiah kecil. Mencari cara agar bisa mengenalmu lebih dekat. Bahkan bisa jadi lebih agresif dari itu. Mungkin jika gadis lain merasakan cinta itu, ia akan mengungkapkan perasaannya kepadamu. Namun kali ini yang jatuh cinta Prisha. Ia lebih suka memendam perasaannya dalam hati. Menatapmu dari jauh. Membayangkan hadirmu disetiap waktu. Tanpa berani berkata apapun kepadamu.


"Kemarin diajak bu Ammy kemana aja Sha? Katanya belanja kok sampai malam baru sampai rumah?" Tanya Ratna ketika mereka sedang menyantap sarapan pagi.


"Kan semalem Prisha udah bilang bu, Prisha diajak belanja kebutuhan butik, makan di restoran, terus jemput pak Andrian di kampusnya. Habis itu diajak jalan-jalan" Jawab Prisha menjelaskan.


"Cie cie yang habis di ajakin jalan. Pantesan pulang-pulang wajahnya cerah banget seperti bulan purnama" ledek Ratna sambil menyuap nasi kedalam mulutnya.


"Ibuk ini apaan sih. Kan yang ngajak bu Ammy, bukan pak Andrian" Prisha hanya tersenyum tersipu malu digoda oleh ibunya. Memang yang mengajak Prisha pergi awalnya Ammy. Tapi siapa sangka ditengah perjalanan bertemu Andrian dan bisa pergi ke bioskop.


"Ya malah bagus itu. Jalan bertiga sama orang tuanya. Ada yang ngawasi. Jadi aman. Gak bakal berbuat aneh-aneh" kata Ammy kemudian.

__ADS_1


"Ibu ini kok sukanya menggoda anaknya terus. Kayak gak pernah muda aja" Kata Wijaya menimpali. Ia baru saja menyelesaikan sarapannya. Mencuci tangannya kemudian menyeruput kopinya yang masih ada kepulan uap tipis.


"Justru karena pernah muda itu pak, ibu tau bagaimana rasanya jatuh cinta." Jawab Ratna. Mereka sarapan sambil kembali bernostalgia tengan masa muda orang tua Prisha.


...****************...


Bel masuk sekolah telah berbunyi. Semua murid berhamburan menuju halaman sekolah untuk melakukan apel pagi yang dipimpin salah satu pengurus OSIS. Tanpa di duga ditengah tengah amanat, nama Prisha dipanggil. Ia di suruh maju kedepan. Prisha tetap maju. Namun batinnya terguncang. Kenapa ia harus dipermalukan seperti ini. Di umumkan kepada seluruh siswa bahwa dia adalah seorang pencuri. Mungkin bagi senior tersebut tindakannya sudah tepat. Menghukum pelaku kejahatan dengan cara memajangnya saat apel pagi dengan dalih agar tidak ada murid lain yang melakukan tindakan tercela tersebut. Namun bagi Prisha tindakan ini sungguh kejam. Ia dipermalukan atas kejahatan yang tak pernah ia lakukan.


Menunduk menyembunyikan wajah dari tatapan siswa lain adalah satu satunya hal yang bisa ia lakukan. Ia malu namun harus tetap bertahan demi sebuah impian yang harus di kejar.


Elina and the geng begitu bahagia melihat apa yang telah terjadi pada Prisha. Ternyata rencana mereka berjalan lancar tanpa ada yang tau siapa pelaku sebenarnya. Walau pada dasarnya yang mereka inginkan adalah skors atau lebih beruntungnya lagi jika Prisha dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat. Dengan begitu Prisha akan kesulitan mencari sekolah lain. Harapan mereka hanya satu yaitu Prisha bisa angkat kaki dari sekolah SMK Kusuma.


"Kamu yang sabar ya Sha. Aku yakin kamu gak melakukan hal tersebut" Kata Gita sambil memeluk Prisha.


"Makasih Git. Han. Kalian udah mau percaya sama aku" Jawab Prisha. Ia tak mau menangis di kelas. Memperlihatkan kelemahannya dengan menitihkan air mata. Ia berusaha tegar walaupun pada dasarnya ia ingin menangis se jadi jadinya.


"Sebenarnya kemarin ceritanya gimana sih. Kok sampe ada HP Elina di tas elo?" Tanya Hani


"Kemarin waktu latihan baris berbaris aki disuruh maju mimpin barisan. Tasnya disuruh meletakkan. Jadi aku taruh aja di barisan tempatku yang kebetulan pas didepan Elina. Sumpah Git, Han. Aku gak ngambil itu dari Elina. Tp tiba-tiba aja pas di geledah HP itu udah ada di tasku" Prisha menceritakan kronologi kejadian itu kepada teman-temannya. Terserah mereka percaya atau tidak yang penting ia sudah bicar jujur.


"Bisa jadi Elina sengaja masukin HPnya ke tas elo waktu elo disuruh maju dan senior sibuk ngasih penjelasan ke elo. Yang lain gak akan ada yang sadar karena konsentrasi mereka ke depan." Jelas Hani.

__ADS_1


"Bisa jadi. Tetus gimana caranya kita membuktikan itu ke guru BP?" Tanya Prisha antusias.


"Ntar kita coba tanya bagian operator CCTV. Kita minta tolong puter pas kejadian" Jelas Hani. Prisha merasa lega, setidaknya ada peluang untuk ia mengelak.


...****************...


Jam pelajaran pertama sudah berlangsung. Perasaan Prisha mulai was was menanti panggilan untuk menghadap guru BP. Apakah benar orang tuanya juga disuruh datang ke sekolah. Bagaiamana kalau seandainya tetangga tahu tentang kasus yang menimpanya. Pasti mereka akan menggunjing keluarga Prisha habis habisan.


"Selamat siang" Sapa Andrian masuk kelas. Ia menemui guru yang mengajar di kelas lalu berbicara bisik bisik. Setelahnya nama Prishapun dipanggil untuk menemui guru BP.


Prisha melangkah keluar kelas membuntuti Andrian. Terus berjalan dengan kepala menunduk. Hingga tanpa sengaja ia menabrak tubuh Andrian yang tiba-tiba berhenti.


"Maaf pak. Prisha gak sengaja" Kata Prisha.


"Kenapa kamu gak cerita kalau sedang ada masalah di sekolah? Padahal kemarin kita jalan" Kata Andrian sinis.


"Maaf pak. Saya rasa bapak gak perlu tahu masalah pribadi saya" Jawab Prisha


"Terus sekarang apa kamu bisa nyelesaiin ini sendiri? Mau orang tuamu sampai dipanggil ke sekolah?" Andrian menjeda ucapannya. Ia hembuskan nafasnya keras.


"Sebelum ke ruang BP silahkan ke ruang saya dulu. Saya mau ngasih pelajaran ke kamu" Tanpa menunggu jawaban dari Prisha Andrian pun melangkah lebih dulu menuju ruanganya.

__ADS_1


__ADS_2