
Happy Reading...
********
"Ibuk buk.." Nindy turun dari mobil mewah jino
Tok tok tok!
"Eh anak tak tau di untung pulang......!" Ucap Vanya sepupu Nindy setelah membuka pintu
"Maksud mu apa nya?"
"Halah!! Ga usah belagak ***** deh elo!,ni titipan dari ibu " ucap nya seraya melempar kan tas ransel padat
"Itukan tas ku,apa maksud mu nya!" Nindy lansuang berlari mengambil tas nya
"Kau kami usir!, Karena gara gara kau ibuk kehilangan banyak duit!"
"Apa yang aku perbuat!"
"Sudahlah pergi kau sana"
Jino yang masih mengamati Nindy dari mobilnya melihat mereka seperti sedang adu mulut jino pun turun
"Ada apa ini!"
"Aku di usir kak" ucap Nindy lirih
"Wah ganteng banget... Duduk dulu yuk." Ajak Vanya ganjen tapi tak di tanggapi jino ia malah sibuk mengelus pucuk kepala nindy.
"Heh! Sombong banget sih! Tampang seperti aja bangga!" Vanya meracau
"Sudah ri kau ikut aku aja!" Jino menarik lengan Nindy yang termenung memikirkan nasibnya
"Eh ndong elo kemana ntar gue aduin ibuk" Vanya menahan langkah Nindy
"Katamu aku di usir,kenapa aku akan kena marah!"
"Hem hum tidak jadi! Masuk!"
Nindy menoleh pada jino yang di jawab dengan mengangkat kedua bahunya
"Kenapa kak?"
"Tak ada, itu terserah mu"
"Aku disini saja kak, aku sedih harus ninggalin tempat ini..."
"Ya sudah...kamu baik baik ya disini" katanya seraya memegangi kedua pundak Nindy
"Makasih kak, mudahan kita bisa ketemu lagi ya!"
"Pasti" sahut jin yakin
"Ndong cepetan masuk!" Vanya membanting pintu dengan kasar membuat Nindy dan jino terperanjat, mereka berdua saling berpelukan.
Vanya yang masih mengawasi mereka menendang pintu dengan kasar membuat mereka berdua melepaskan pelukan
"Udah ya kak nenek sihir udah ngamuk, aku masuk dulu"
"Kamu yakin enggak apa-apa ni?"
"Yakin kak, lagian aku udah kebal" ucap Nindy seraya tersenyum manis membuat jin enggan pergi
"Nanti kau hubungi saja aku"
"Oke kak, eh bagaimana? Aku kan tak punya handphone" ucap Nindy lirih
"Ini pakai saja hp ku, nanti aku beli lagi" sahut jin menyerahkan handphone nya
"Ah tidak usah kak!"
__ADS_1
"Ambil lah..." Jin terus memaksa tapi Nindy masih saja menggeleng
Jin tidak kehabisan akal dia pun berkata
"Ambil lah, anggap saja ini sebagai hutang ,nanti kau cicil pada ku!"
Nindy nampak diam berfikir
"Oke lah, lagi pula aku membutuhkan nya sekarang"
"Ya sudah .. dadah Nindy Bakrie...."
"Dadah kak jino Darto Santoso.." ucap Nindy seraya melambaikan tangan jin pun berjalan menuju mobilnya di hati seperti ada yang mengganjal, lalu dia kembali lagi
"Ada apa kak?"
"Tadi kau panggil aku apa, kau tau nama lengkap ku?"
"Hum hum ...Kan di dasboard mobil kakak"
" Hem" jino menyempitkan kedua matanya
"Ya sudah daa" ia pun berlalu pergi
'seperti ada yang ilang!' batin Nindy seraya berjalan masuk rumah
"Ah iya!!!!" Pekik nya membuat Vanya kaget karena sedari tadi dia sembunyi di balik pintu untuk memperhatikan Nindy dan jino, ia bersembunyi karena malu dilihat oleh Nindy seperti itu.
"Vanya!, Ngapain kamu disitu"
"ham lagi lagi.. kau di kasih handphone kan sama orang tadi!, Coba liat!" Pinta Vanya mengalihkan pembicaraan
"Kenapa kau tau, kau mengintip ku yah!"
"Ogah sekali aku mengintip orang macam kau!, Sudah liat sini!"
Tanpa curiga Nindy lansung memberikan nya pada Vanya, Vanya lansung merebutnya dengan kasar
"Hei hati hati!"
"Sudah sini"
"Tidak, ini untuk ku, kau ambil hp ku!" Ucap Vanya seenak nya
"Jangan dong nya! Itu aku belom bayar lloh!!, Nanti kak jin marah"
"Udah tinggal bilang ilang aja susah banget!"
"Dih siniin nyaa!"
"Enggak mau!"
Terjadilah tarik menarik kedua bilah pihak
Sampai hp itu terjatuh ke lantai dan BRAK!!
"Vanyaaa!"
"Elo yang salah bukan gue,kan udah gue bilang ambil hp gue!, Tapi elo masih ngeyel" seru nya merasa tak bersalah
"Huaaaa! Maafin kk" pekik nindy dan berjalan terseok-seok menuju kamar karena kaki nya belum pulih
POV JINO
Aku memperhatikan Riri dari kaca mobil ku seraya menelepon dengan mama, Setelah telepon ku usai, aku memandang ke arah kedua gadis yang tak jauh dari mobilku.
nampak gadis yang bersama Riri itu membuang sebuah tas yang langsung di pungut Riri, aku pun berniat untuk turun ketika Akku melangkah kan kaki, malah handphone ku yang melangkah duluan dan membuat nya tak bisa menyala, ku pungut handphone ku dan melangkah mendekati dua gadis itu.
"
"Ada apa ini!" ucap ku memastikan
__ADS_1
"Aku di usir kak" ucap Riri lirih
"Wah ganteng banget... Duduk dulu yuk." Ajakan gadis itu, hm walaupun dia cantik tapi aku merasa ilfil aja liat tingkah nya seperti itu, aku tak menyahut, ku usap pucuk kepala Nindy untuk menenangkan nya.
"Heh! Sombong banget sih! Tampang seperti itu aja bangga!" seru gadis itu yang membuat ku sedikit melongo, mudah sekali mulutnya menghina orang, dan mudah sekali dia awalnya suka sekarang menghujat hanya untuk ketenangan batin nya sendiri
"Sudah ri kau ikut aku aja!" aku lantas menarik lengan Nindy yang termenung
"Eh ndong elo kemana ntar gue aduin ibuk" gadis itu menahan langkah Nindy
"Katamu aku di usir,kenapa aku akan kena marah!"
"Hem hum tidak jadi! Masuk!"
'apa mau ini anak ' batin ku kesal melihat Tingkah nya
Nindy menoleh pada ku yang ku jawab dengan mengangkat kedua bahu, karena Jujur aku juga tak mau ikut campur masalah nya, tapi entah kenapa aku ingin dia bahagia
"Kenapa kak?"
"Tak ada, itu terserah mu"
"Aku disini saja kak, aku sedih harus ninggalin tempat ini..."
"Ya sudah...kamu baik baik ya disini" kataku seraya memegangi kedua pundaknya
"Makasih kak, mudahan kita bisa ketemu lagi ya!"
' emang iya kita akan ketemu lagi ' batin ku
"Pasti" sahut ku yakin
"Ndong cepetan masuk!" Gadis itu membanting pintu dengan kasar membuat ku dan Riri terperanjat, aku dan Riri saling berpelukan, yang membuat ku sedikit gugup
aku pun menoleh ke jendela yang kebetulan di depan ku, nampak gadis itu mengintip di baliknya dan benar saja Dia menendang pintu dengan kasar membuat kami kembali terperanjat dan kami pun melepaskan pelukan
"Udah ya kak nenek sihir udah ngamuk, aku masuk dulu"
"Kamu yakin enggak apa-apa ni?" aku khawatir
"Yakin kak, lagian aku udah kebal" ucap Nindy seraya tersenyum manis membuat ku enggan pergi
"Nanti kau hubungi saja aku"
"Oke kak, eh bagaimana? Aku kan tak punya handphone" ucap Nindy lirih
' aku menoleh ke jendela, gadis itu masih saja stay di sana, aku jadi punya ide' batin ku
"Ini pakai saja hp ku, nanti aku beli lagi" sahut ku menyerahkan handphone ku yang terjatuh tadi
'pasti nanti gadis itu akan merampas hp ini'
"Ah tidak usah kak!"
"Ambil lah..." aku terus memaksa Riri, tapi dia masih saja menggeleng, ' memang gadis yang baik'
Aku tentunya tak kehabisan akal, Ku katakan saja padanya
"Ambil lah, anggap saja ini sebagai hutang ,nanti kau cicil pada ku!"
Riri nampak diam berfikir
"Oke lah, lagi pula aku membutuhkan nya sekarang"
hatiku penuh kelegaan
"Ya sudah .. dadah Nindy Bakrie...." aku melambai tangan padanya
"Dadah kak jino Darto Santoso.." ucap nya seraya melambaikan tangan nya pada ku, aku pun berjalan menuju mobil di hati ku seperti ada yang mengganjal
Bersambung......
__ADS_1
mampir juga ke Novel ku satu lagi
-Sahabat Atau kekasih