Cinta Gadis Indigo

Cinta Gadis Indigo
Episode 19 kapten Johan menghilang


__ADS_3

Happy Reading 😊


"JEDUAR!"


Kutoleh kan wajah kekanan, kiri , depan, bahkan belakang namun tak kutemui sosok Alena maupun Cynta.


"jin cepat lah pergi sebelum waktu mu habis!" seru Alena dari arah hutan belantara itu.


"iya sayang cepat lah" timpal Cynta


Dengan berat hati aku mengiyakan ucapan mereka, yang entah di mana, bagaimana pun aku juga masih ingin hidup.


aku pun Kembali mendengar suara kapten Johan, "syukur lah jin, kau berhasil keluar nak, cepat pergi dari situ, dan jangan lupa bawa Nindy, dia berada di dalam lubang di kanan kau!"


Cepat ku tolehkan wajah kekanan dan benar, masih ada Riri di situ, ku papah dirinya dan berjalan ke arah timur sesuai instruksi kapten Johan.


"Cepat jin, waktu mu sampai matahari terbenam" intruksi kapten Johan


aku menoleh pada matahari masih di atas kepala ku, matahari yang terik rasanya sangat panas, "kak..." lirih Riri


"Riri syukur lah kau sadar" ucap ku dengan nafas tersengal sengal, makin kedepan Rasanya makin berat kaki untuk dilangkah kan, tapi aku berusaha terus berusaha.


"kita dimana kak" tanya Riri


"sebentar lagi kita akan pulang ri" sahut ku masih berjalan dengan memapah tubuh Riri yang lemah.


"kak aku udah enggak bisa, kk pulang duluan aja" ucap nya terus


"Tidak Ri, kita harus sama-sama"


"Maafin aku kak, gara-gara aku, kakak ikut terkena masalah..hiks"


"sudah lah jangan menangis " ku hentikan langkah ku sejenak dan menghapus air matanya yang berlinang, membasahi pipi chubby nya.


"kami pun terus berjalan, di sini waktu nya terasa cepat sekali, sekarang matahari sudah bergeser mendekati arah barat yang menandakan sebentar lagi ia akan terbenam, ku percepat langkah ku, seraya menguat kan Riri untuk terus berjalan.


"Ayo ri,kita harus sampai disana sebelum matahari terbenam" ujarku Seraya menunjuk ke arah lingkaran kuning besar.


"kak aku udah enggak kuat"


kenapa semakin mendekat ke sini malah sulit untuk di gerakan. "Ah.. Ya Tuhan Bantu lah hamba" batin ku, keringat mulai bercucuran takut akan terkepung di sini selamanya.


Tapi aku harus berusaha tegar di samping Riri, "kita pasti bisa Ri" ucap ku terus memberi semangat padanya, walau kadang aku pun berputus asa.


Matahari sedikit lagi mendekat titik peraduan nya, aku terus berdoa didalam hati, menguatkan diri, serta berserah diri pada Allah..


Dan karena bantuan Allah kami sudah berada di dekat lingkaran itu, kamu duluan aja ri" ucapku, sebenarnya aku ingin menjemput Alen dan Cynta.


"enggak kak kita berdua saja, kalau kk enggak ikut, aku enggak juga" jawabnya.


kami pun melangkah kelingkaran itu, Mata ku pejamkan erat erat, nafas serasa berhenti sesaat.

__ADS_1


saat aku membuka mata, ku lihat tubuh ku sendiri, di atas ranjang.


"Apa! apa aku sudah mati" ku pegang kepala ku dan memgacak-ngacak rambut ku.


ku pandangi tubuh ku yang terbaring di atas ranjang, dan di infus, seketika aku ingat kapten Johan, "dimana kapten Johan" pikir ku


"Handphone!, mana handphone ku, ku periksa saku celana ku, dan yesss! dapat, ku ketik no kapten Johan, dan menekan tombol telepon, namun tak tersambung.


"kemana kapten Johan..." pekik ku


lalu seorang suster masuk keruangan ku, dan tak lama dia berteriak


"Aaaaaa setan!" seru nya


"apa dia melihat ku?" batin ku memandagi tubuhku


Tak lama suster tadi kembali lagi bersama seorang dokter, "tuh kan dok, telepon nya melayang" pekik perawat itu


dengan cepat ku taruh lagi telepon itu dan mengangkat tangan, "ah apaa yang ku lakukan"


dokter dan perawat itupun kembali berteriak.


"aku harus bagaimana, ah Riri, apakah dia seperti ku juga!" aku lantas beranjak keluar dan menuju kamar rawat Riri sebelumnya.


tapi ketika baru saja melangkah, masuk seorang suster dan perawat laki laki, aku pun memperhatikan gerak gerik mereka, nampak mencurigakan, lalu perawat itu mengeluarkan jarum suntik, dan hendak menyuntik kan nya ke infus ku, dengan sigap ku tarik infus ku, dan membuat suster dan perawat itu terperanjat.


"Kau yang tarik ya!" tuding perawat itu pada suster


"trus apa dong?"


"tak tau!, sudah cepat lakukan!"


"iya!"


dia pun kembali menyuntikkan nya, aku lagi lagi dapat mencegah nya.


"Duh apa jangan-jangan ada roh nya ya disini!" terka perawat itu


"yuk kita kabur saja!" pinta suster itu


Setelah dirasa tubuh ku cukup aman, akupun keluar dan menuju ruangan Riri yang kebetulan disamping kamar rawat ku.


Aku pun membuka pintu


ceklek!


Nampak suster yang sedang mengganti infus Riri, tersentak dan celangak celinguk keluar, dia lekas lekas membereskan alat alatnya dan keluar menembus ku.


"wah!, berarti aku bisa tembus dinding juga dong!" ku ulang sekali lagi keluar dengan menembus dinding ternyata benar, aku pun masuk kembali, Riri masih belum sadar.


Lama ku perhatikan Riri, sampai seorang suster yang kukenal, yaitu suster yani masuk keruangan Riri.

__ADS_1


dia mendekat pada Riri, dan berkata " Nindy, cepat bangun ya.., Anisa menghilang, aku harus bagaimana, keluarganya menitipkan pada ku, aku tak tau lagi mau bicara dengan siapa, aku tak punya keluarga, aku hanya percaya kepadamu , aku mau cerita.. cepat lah bangun Nindy"


"ah aku punya ide!"


aku lantas tembus dari dinding kamar Riri


kekamar ku, karena memang bersebelahan.


"ku cari kertas, dan pena dan menulis kan sesuatu"


Hei suster Yani, tolong jaga Nindy selama dia koma, Jika dia bangun nanti suruh dia menempati apartemen ku yang ada di Bogor, dan minta dia untuk mencari kapten Johan, dan satu lagi, pergi keruang rawat ku dan ambil kalung yang ada di leher ku, pakai lah. dan sebagai imbalan nya, kau pakai telepon ku untuk meminta cari tahu dimana keponakan mu, pada asisten ku 'Asisten deo'.


Jino Darto Santoso


Aku segera tembus kembali dan melempar kan surat itu pada suster Yani.


dia pun menjangkau nya dia diam beberapa saat dan tak lama dia membelalakkan matanya seolah ingin meloncat keluar, cepat cepat dia membuang kertas itu.


"Duh dia takut lagi!" batin ku kesal


"Tak lama dia kembali mengambil kertas itu dan berjalan keluar, ternyata menuju kamar rawat ku, di periksa nya bagian leher ku, dan kembali nampak oleh ku dia terperanjat.


Di ambil nya kalung itu dan mengenakannya sesuai perintah ku tadi.


Aku yang sedang memperhatikan nya terkejut, Karena suster Yani berteriak.


"Tu-tuan jino!, kenapa kau dua!" ucap nya menujuk ku dengan tangan gemetar


Akupun berusaha menenangkan nya, dan menceritakan semuanya padanya, dia nampak mengerti.


"Sus tolong kau pindah kan tubuh ku dari rumah sakit ini, ke tempat yang kau rasa aman" pinta ku pada Suster Yani, saat ini aku mempercayakan semua ini Padanya


"baik tuan, tapi kau harus janji menemukan keponakan ku, dengan segera!"


aku pun mengangguk mengiyakan.


****


sudah Sebulan Riri tak sadar sadar, aku pun sama, sudah sebulan juga aku berkeliaran di luar tubuh ku, kata suster Yani jika roh yang sudah lama keluar dari tubuhnya maka tidak akan bisa kembali lagi.


Aku berfikir sejenak, Tiba tiba aku teringat mama, kemana mama, dia tak pernah sekalipun menjenguk ku.


ku putus kan hari ini untuk pulang ke rumah ku, dan ku suruh suster Yani menjaga tubuh ku dan Nindy.


setelah tiba di depan rumah, kosong tak ada tanda-tanda kehidupan Disana, aku pun melangkah masuk, nampak bik Sutri keluar dengan membawa barang barang nya sambil mengeluh "kemana aku akan pergi sekarang" lirih nya memandangi rumah ku


Akupun menghampiri nya dan satu hal yang membuat ku kaget dia dapat melihat ku


"Tuan jino!, kau kemana saja?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2