
Setelah tiba di rumah sakit Nindy segera dilarikan ke itelasi gawat darurat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut
Sementara Riri di tangani dokter, aku akan pergi dulu ke rumah nya.
Ku pacu mobil ku menuju rumah Riri atau lebih tepatnya rumah bibi nya, untuk menanyai kenapa sampai dia memperjualbelikan Riri seperti itu, dengan di dampingi kapten Johan selaku kepala polisi teman almarhum ayah ku, kami menelusuri jalan demi jalan menuju tempat tujuan awal aku berangkat.
Setelah sampai di depan rumah, ku ketuk pintu berkali kali namun tak ada jawaban dari dalam, ku intip dari kaca jendela memang kosong.
"Kemana mereka" batin ku
"Ada apa ya mas?" Tanya warga yang melintas, mungkin mereka penasaran dengan aksi kami ini, menggebrak pintu rumah orang dengan keras, kenapa tidak aku sudah mulai kesal dengan tingkah Bibi nya Riri ini, kenapa dia begitu jahat dan tega memperjual kan orang yang ada sangkutan dengannya, Tapi aku sudah berfikir juga kalau orang yang sudah buta dengan harta maka ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan nya, sama seperti si tua Bangka yang saat ini mendekam di penjara, karena dia juga ada sangkutannya dengan kejadian ini.
"Oh iya ini buk, penghuni rumah ini mana ya?, Soal nya saya ada urusan" tanyaku mencoba ramah, dengan hati yang masih penuh amarah.
"Pak Harto dan buk Meri ya mas?, Mereka sudah pindah malam tadi, bareng sama anak nya juga" ucap ibuk itu yang membuat ku kaget tapi tak begitu kaget karena memang, sudah terfikir oleh ku bahwa dia akan melarikan diri sekeluarga.
"Kalau boleh tau kemana buk?" Tanya ku, sedangkan kapten Johan diam mengamati
"Enggak tau juga mas!, Saya pamit dulu ya"ibu itupun berlalu pergi
"Gimana ni kap?" Tanya ku pada kapten Johan yang sedari tadi diam
"Mm.. mungkin ibuk- ibuk tadi tahu" ucap nya
"Maksud kapten? Ibuk itu mengetahui kemana pak harjo berserta keluarga nya pergi?" Tanya ku memastikan
"Yap, itu terlihat jelas dari mimik wajah ibuk-ibuk tadi saat berbicara dengan nak jin, dan dia gugup saat nak jino menanyai kemana Mereka pergi"
"Tapi kenapa dia menyembunyikan nya kap?"
"Nah itu yang akan kita cari tahu sekarang!, Mari kita ikuti ibuk itu sebelum dia pergi terlalu jauh" kapten Johan menuntun langkah ku dengan cara bersembunyi sembunyi mengikuti ibuk itu, ya benar kapten Johan adalah salah satu polisi yang memiliki dedikasi tinggi dan kecerdasan tentunya, dia dapat menangkap sesuatu dari mimik wajah seseorang. Aku juga sempat dengar dari ayah ku kalau dia bisa melihat makhluk tak kasat mata.kapten Johan dulunya adalah sahabat almarhum ayah ku, dia juga sering main kerumah ku, tapi sekarang jarang, malah tidak pernah lagi, sampai saat ini aku butuh bantuan nya dan dia pun menyanggupi nya.
Benar saja setelah sedikit lama kami mengikuti ibuk itu, dia berhenti di sebuah rumah kosong, dia tampak celingak-celinguk mungkin memperhatikan orang-orang di sekitar, setelah dirasa cukup aman ibuk itu pun masuk kedalam rumah.
Setelah lama kami mengamati namun tak ada juga orang yang keluar dari rumah itu, lalu tak lama terdengar jeritan, seperti nya jeritan ibuk tadi, aku yang hendak melangkah menuju rumah kosong itu langsung di tahan kapten Johan, dan benar saja dua orang keluar dari rumah itu dengan tergesa-gesa, untung saja aku tak jadi melangkah kesana, satu orang perempuan dan satu orang laki laki, mungkin itu paman dan bibi nya Riri, aku juga tak tau pasti, karena memang aku belum pernah bertemu dengan mereka berdua, aku hanya baru bertemu dengan Vanya sepupunya Riri anak dari pak Harto dan buk Meri.
Dua pasang mungkin suami istri itu langsung pergi dengan tergesa-gesa,
__ADS_1
"Gimana ni kapten? Kita masuk kedalam atau ngikutin dua orang itu ?"
"Sebaiknya kita ikuti dua orang itu, kamu belum tau ya mereka itu siapa?" Tanya kapten Johan yang memang jawaban ku adalah"Tidak"
"Dia itu paman dan bibi nya Riri mu itu" ucap nya
"Dari mana kapten tau?"
"Liat di situ" tunjuk nya ke arah rumah kosong itu, aku pun menoleh kesana membuat ku bingung
"Bukan nya itu ibuk-ibuk yang tadi kap?, Tapi ngapain dia seperti itu?" Tanya ku melihat kearah rumah kosong itu, sudah berdiri ibuk tadi seraya menujuk ke arah kedua pasangan yang sudah melangkah pergi, nampak oleh ku kesedihan dan penyesalan serta kemarahan di wajah ibuk itu.
"Ya benar dia sudah meninggal!" Ucapan kapten Johan membuat ku kaget bukan kepalang
"Sudahlah mari kita ikuti dua sejoli itu!" Kapten Johan lansung berjalan duluan sebagai komando, sedangkan aku masih diam melongo ke arah ibuk itu, sampai wujud nya berubah menakutkan, kepala yang bocor dan lidah yang terulur, ah sudahlah...
aku pun berjalan mengikuti kapten Johan setelah dia memanggil ku berkali kali.
Di ujung sana kami msih melihat dua orang yang diduga paman dan bibi nya Riri itu, mereka nampak menunggu seseorang, kami terus saja menunggu dibalik semak semak seraya memperhatikan mereka.
Dan tak lama datang mobil sedan putih, dan keluar lah gadis yang cantik berkulit putih dan langsung membuat kedua orang tadi yang awalnya cemas dan terlihat pucat kini wajahnya berbinar.
"Itu Vanya!" Pekik ku tanpa sadar berdiri membuat orang orang di depan kami itu terusik
Mereka menoleh kearah kami, dengan sigap kapten Johan menarik ku kebawah untuk bersembunyi lagi, sehingga mereka tak melihat kami.
Namun tiba tiba seseorang memanggang pundak ku, yang sontak membuat ku lansung menoleh ke belakang.
"Vanya!" Seru ku dan menoleh ke arah Vanya yang keluar dari mobil tadi, dia masih ada disana, tapi ini siapa batin ku kalut
Ku toleh kan wajah ke arah Vanya di belakang ku ini, dia tampak menangis.
"Vanya! Apakah kau Vanya!" Tanya ku mencoba memelan kan suara
"Iya aku Vanya..bantu aku, gadis itu mengambil tubuh ku, dan menghasut orang tua ku untuk berbuat jahat" ucap nya sesegukan yang membuat ku bergidik ngeri
"Apa maksud mu, tubuh? Jahat?, Ah... Tapi bukan kah memang orang tua mu itu jahat, sama seperti mu, orang tua mu itu telah menjual Riri, apakah itu tak jahat!" Bentak ku padanya
__ADS_1
" Ma-maaf kan kami, ibu ku itu melakukan semuanya karena kami tak ada lagi uang, dan jika aku, kau anggap jahat padanya, aku tak sejahat yang kau kira, aku hanya kadang kadang kesal melihat tingkah nya yang selalu di puji oleh tetangga dan di banding bandingkan dengan ku, aku tak se jahat yang kau kira! Aku selalu menolong Nindy kalau dia dimaharahi ibu dan tidak di beri makan! "
"Halah kau seperti itu karena ingin dibantu kan, dasar cewek ganjen" ucap ku tanpa sadar karena sudah terlalu emosi
Ku tolehkan wajah kebelakang sudah tak ada lagi orang yang kami amati tadi
"Itu semua gara gara kau! Kami jadi kehilangan jejak!, Apa jangan jangan kau mengecoh kami!"
"Apa maksud mu, kenapa kau sepertii itu padaku! Bahkan aku belum pernah bertemu dengan kau sebelumnya, dan kau pun mengatakan ku ganjen lagi!" Sanggah Vanya bertolak pinggang
"Apa yang kau maksud" aku tak kalah bertolak pinggang
"Sudah-sudah nak jin, gadis ini berkata benar" kapten Johan menengahi
"Apa?? Benar, dih!!! kan kita udah pernah ketemu,itu benar ?"
"Benar" kapten Johan berkata lagi
"Argggh apa maksud semua ini!!!!!" Pekik ku frustasi
"Nak jin, dengar kan saya, saya memang seorang polisi yang tugas nya menangkap orang orang jahat, tapi saya juga bisa melihat sesuatu dari mimik wajah seseorang, dan kau tau itu nak, dan aku juga bisa melihat makhluk tak kasat mata, dan yang di depan kita ini adalah.."
"Hantu" ucap ku memotong perkataan kapten Johan dengan wajah datar
"Ya kau benar dan, Analisis ku dia memang tak tau apa apa, dan yang ku lihat dari wajah dan kulihat dari manik matanya, dia sudah keluar dari raganya sebelum kau bertemu dengan nya, jadi Vanya yang kau temui kemarin bukan lah Vanya yang kau temui sekarang" jelas kapten Johan dengan mimik wajah serius
Bersambung..
Thanks Reader, Sudah memberi ku semangat untuk lanjut Nulis..
I love you so much 😘😂
And jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya, vote juga boleh, hihihi
Mampir juga ke Novel aku satu lagi
-sahabat atau kekasih
__ADS_1
ku tunggu jejak para reader tercinta 🙏💕