Cinta Gadis Indigo

Cinta Gadis Indigo
Episode 21 Suster Alena Vs Hantu bergaun merah


__ADS_3

*****


Happy Reading 😊


Setelah tiba di parkiran apartemen, Riri masih terlelap, ingin rasanya ku gendong dia ke atas, tapi takut juga nanti dikira melayang, kan wujud ku tak nampak, hufttt.


ku goyang-goyang kan badan Riri untuk membangun nya.


"hemmm" sahutnya


"5 menit lagi..."


"RIRI BANGUN!" Pekik ku


"HEI YO KEMBALI LAGI BERSAMA ANINDY BAKRIE!!" Riri latah yang membuat si pak sopir terkejut


"Yaampun mbakk, untung saya enggak ada riwayat penyakit jantung" ucapnya


"hehe maaf pak"


Riri membuka matanya, Daan segera turun dari mobil, "apartemen kakak gede banget" bisik Riri di telinga ku seraya mengucek-ngucek mata nya.


"Iya dong, usaha sendiri tuh" ucap ku dengan bangga


POV AUTHOR


setelah membayar taksi online mereka bertiga segera melangkah masuk apartemen, tapi hanya Nindy yang nampak oleh orang awam.


Ditengah perjalanan Alena bertanya.


"Nin, kerumah ku kapan?"


"Kerumah mu?, Memang aku pernah janji kerumah mu?" Tanya Nindy mengerutkan keningnya.


"Kan Riri masih enggak ingat tentang semuanya kecuali aku Len" timpal jino dengan bangga.


"oh iya ya" sahut Alena lirih

__ADS_1


"Hem, walau aku enggak ingat, ntar kita kerumah mu aja ya, memang kita mau ngapain kerumah mu?" Tanya Nindy


"Wah benarkah Nin, kamu memang anak yang baik, makasih ya Nin" ucap Alena segera berhamburan ke pelukan Nindy namun lansung di tahan oleh gadis itu.


"Hem sorry sebelum nya nih sus, aku agak negeri juga liat darah yang netes dari perut mu itu" ucap vivi merasa tak enak seraya menunjuk luka tusuk di perut suster Alen yang mengeluarkan darah yang tak hentinya mengalir, yang di akibatkan oleh Tino, ayah tirinya jino.


"Hehe, okh deh" Alen meringis


Setelah di arah kan jino, Nindy segera menuju meja Resepsionis dan meminta kunci di sana, karena hari ini suster Yani tak dapat menemani Nindy, karena dia mengurus keponakan nya yang sudah ditemukan, keponakan nya yang baru saja datang dari Jogja itu, menghilang setelah makan malam.


keponakan nya mengalami trauma berat, karena hampir saja di perkosa, oleh tetangga kontrakan ssuter Yani, tapi untungnya Asisten jino yang mempunyai ahli dalam mencari orang, bisa lebih dulu menyelamatkan nya.


setelah mendapat kunci Nindy berjalan sesuai arahan jino


"Jalan nya buntu kak" tanya Nindy setelah mereka tiba di depan lift


"Enggak buntu kok, kita naik itu ke kamar kamu" jawab jino


"Naik kotak ini kak?, Wait wait, oh iya ya, aku waktu itu di seret om,... Siapa ya namanya" Tanya Nindy dengan wajah polos nya.


"Iya,,,si Tino brengsek!, Hm coba deh kamu tekan tombol itu, ucap jin menunjuk tulisan operation buttons.


"Kamu pencet tombol 3" titah jino


"Ok ka,tapi aku takut, nanti ada hantu, pake baju merah trus kepala nya miring, kaki nya pincang terus..." bisik Nindy di telinga Jino yang langsung di potong jino.


"Udah udah aku jadi ngeri dengerin kamu" jawab jino


"Oh iya, aku baru ingat, kamu hampir di gituin sama tua Bangka itu disini ya" sambung jino .


"Digituin apa kak?"


"Dek ngapain bengong disitu" tanya seorang ofis boy mengejutkan Nindy


"eh enggak mas" Nindy segera masuk kedalam lift


Hawa busuk lansung menusuk hidung Nindy yang membuat gadis itu menutup hidung nya, keadaan dalam lift hanya Nindy seorang yang masih berwujud manusia, tiba tiba sosok yang sudah diceritakan Nindy lansung muncul di samping jino.

__ADS_1


"Kak..." Lirih Nindy menggoyangkan goyang kan pundak Jino seraya menujuk hantu bergaun merah itu. Yang langsung di ikuti jino menoleh ke sana .


"Kyaaaaaaaaaa" pekik jino


Hantu itu, mulai merayap ke segala Diding lift, seraya menggoda Jino.


"Hai ganteng...." Desis nya


"Heh hantu jelek, Minggir" sergah suster Alena


"Heiii! Beraniya..! Selama gue mendiami lift ini enggak ada yang pernah lawan" ucap nya dengan manja


"Bodo amat! Sekarang gue yang akan lawan" seru suster Alena


Hantu bergaun merah minim itu lansung menghampiri Alena dan hendak mencekik nya, tapi untungnya Alena langsung menangkap tangan hantu itu dan memelintir nya.


Terjadi lah pergulatan di antara mereka, Alena menarik rambut hantu itu yang membuat rambutnya terpisah dari daging kepala nya, yg langsung membuat hantu bergaun merah itu lansung murka, dan balik menjambak suster Alena.


Jino dan Nindy hanya memperhatikan dan sesekali berteriak.


"Go Alen go! Go Alen go! Alen go!"


Ting


Pintu lift terbuka


"Ri, mending kita, ke kamar kamu aja biarkan saja mereka" usul Jino


"Enggak papa tu kak?, Suster Alen?" Tanya Nindy


"Enggak papa lah, orang mereka udah meninggal juga" ucap jin seraya menarik tangan Nindy menjauhi lift itu.


Sedangkan hantu Alen dan hantu bergaun merah itu masih asik Jambak-jambakan


Bersambung...


jangan lupa like ya reader tercinta 😘

__ADS_1


Mampir juga ke Novel ku satu lagi


-sahabat atau kekasih


__ADS_2