Cinta Gadis Indigo

Cinta Gadis Indigo
Episode 11 Siapa dia ?


__ADS_3

Happy Reading.


"Ya sudah .. dadah Nindy Bakrie...." aku melambai tangan padanya


"Dadah kak jino Darto Santoso.." ucap nya seraya melambaikan tangan pada ku, aku pun berjalan menuju mobil dengan perasaan seperti ada yang mengganjal,aku pun kembali ingin memastikan bahwa yang mengganjal itu dia tau nama lengkap ku


"Ada apa kak?" Tanya nya pada ku


"Tadi kau panggil aku apa, kau tau nama lengkap ku?" Tanya ku balik


"Hum hum ...Kan di dasboard mobil kakak"


" Hem" aku menyempitkan kedua mataku menatap manik mata indah nya, tapi dia malah menunduk, aku pun mengerti kondisi nya


"Ya sudah daa" aku pun berlalu pergi


Setelah tiba di dalam mobil aku terfikir sesuatu tentang Riri yang waktu pertama kali aku bertemu dengannya, dia terlihat aneh berbicara sendiri, jadi dia bisa melihat hantu sama seperti cynta ku dulu.


Aku merebahkan kepala ku di stir mobil, mencoba menenangkan diri, tiba tiba aku teringat telepon ya kuberikan pada Riri tadi, so pasti telepon itu tak bisa di gunakan, ku nyalakan mobil ku menuju tempat yang berada di kepala ku, ya tokoh handphone.


POV JINO end


*********


POV author


Dikamar Nindy


Nindy tengah menangisi hp pemberian jino yang rusak, tiba tiba tangis nya terhenti kala seseorang memegang pundak nya, dia menoleh ke belakang.


"Alen!,bikin kaget aja!"


"Hehe" Alena meringis


"Setelah melihat kau,aku jadi ingat sesuatu tapi apa ya" Nindy mengerenyitkan dahinya


"Hem" Alena mengakat kedua bahunya


"Ah iya!"pekik Nindy


"Ayam ayam ayam" Alena terkejut


"Nindy ih" ucapnya cemberut yang langsung di sambut tawa oleh Nindy


"Emang ingat apa?" Tanya Alena


"Cynta, pacar kak jino tapi sudah meninggal, katanya pas aku ketemu dia, dia bilang ingin jagain kak jino sampai dia dapat pendamping yang tulus,tapi kok dia enggak Keliatan ya?, Padahal dari tadi kak jino sama aku"


"Ooh cyntaa, adaa, tadi main sama aku"


"Mainn?"


"Hoo'oh"


"Terus sekarang dia di mana?"

__ADS_1


"Tuh" tunjuk Alena ke sudut kamar Nindy


"Cynta ngapain disitu, sini" pinta Nindy


"Kamu kemana aja sih?,kok enggak jagain kak jino?"


"Kan udah ada kamu" jawab cynta seraya tersenyum


"Maksudnya"


"Iya, kalau enggak ada kamu baru aku jagain"


"Aku??"


"Iya kamu, kan kamu pendamping yang tulus untuk nya " sahut nya


"Jangan becanda aja deh cyin,kalau emang aku pendamping yang tulus kok kamu masih disini?"


"Janji aku tuh, sampai kalian menikah"


"Dihhh"


Tok tok tok!!


"Kamu udah pulang nin?, Ngomong sama siapa?" Tanya buk Meri bibi Nindy,sedari kecil Nindy memang disuruh untuk panggiil ibuk.


"Udah buk, em ...enggak buk lagi menggumam aja"


Nindy memang dari kecil sudah memberi tahu kalau dia dapat melihat makhluk tak kasat mata, tapi ibuk alias bibi nya itu tak pernah percaya malah dia pernah menganggap Nindy anak kutukan yang berbicara sendiri, seringkali dia marah marah jika Nindy membahas teman hantunya, dan padahal pernah suatu kejadian ibuk nya itu di jahili makhluk tak kasat mata dan ditolong oleh Nindy, tapi dia masih saja tak percaya, Nindy pun sudah memahami itu dan sejak kejadian itu dia tak pernah lagi jujur tentang makhluk tak kasat mata yang di lihatnya.


"Emang ada apa buk?"


"Sudah bersiaplah" bu Meri berlalu keluar kamar


"Hm bukan di tanyain keadaan ku" lirih Nindy, dia merasa kecewa selama ini tak ada yang memberi nya perhatian dan kasih sayang layaknya orang tua pada anak dan keluarga


"Sabar ya nin" ucap suster Alena menenangkan Nindy yang kini sudah dia anggap seperti adik nya, bahkan temannya, Sedangkan cynta sudah kembali pada Jin.


"makasih sus, eh Alen" Nindy memang diminta suster Alen untuk memanggil namanya saja.


Nindy pun melaksanakan sesuai perintah ibu angkat nya itu, dia memakai baju kaos lengan panjang dan celana jeans longgar tak lupa dengan hijab yang tak pernah lepas dari kepala nya.


"kamu yakin mau keluar nin?" tanya Alena


"memang kenapa?" tanya Nindy tanpa menoleh ke Alena


"sebaiknya jangan" sambungnya lagi


"kenapa sih?"


"kalau kamu di suruh ikut jangan mau ya, soal nya aku ngerasa gimana itu, dan aku jg enggak bisa jagain kamu dari kakek tua itu, dia punya kekuatan yang membuat aku merasa panas berada di dekat nya, dan juga seperti nya aku...." jelas Alena yang langsung dipotong Nindy


"mungkin dia orang yang rajin beribadah, ataau... dia seorang ustadz dan tau keberadaan mu. dan dia mencoba mengusir mu kali, karena di anggap kau mengganggu, lagi pula aku bisa sendiri kok" sahut Nindy masih saja ngeyel


Setelah usai, Nindy pun keluar dari kamar nya, ia mendapati paman, bibi( ibuk) dan ya benar yang dibilang Alena tadi bahwa juga ada seorang pria paruh baya yang tersenyum penuh makna ke arah Nindy, Nindy tertegun.

__ADS_1


"Nindy kemarilah nak" Panggil paman Harjo membuat Nindy kaget dan tersadar.


Nindy pun mendekat dan duduk di sebuah kursi tunggal yang hanya bisa diduduki satu orang


"Ini anak nya Jo?" Tanya pria paruh baya itu menatap Nindy


"Iya no, gimana? " tanya paman Harjo yang disambut dengan anggukan dan senyum smirk pria paruh baya itu.


Nindy terus saja mengamati percakapan orang Dewasa di hadapan nya itu, dia hanya diam, tak mengerti,, ia menatap bergantian orang yang sedang berbicara dihadapan nya, di sedikit salah tingkah karena di lihat oleh pria paruh baya itu dengan tatapan entah Nindy juga tak tau itu.


"Nindy malam ini kau ikut dengan tuan ini ya" ucap bu Meri lemah lembut


"Mau kemana buk?" Tanya Nindy tak mengerti


"Ikut saja, dia yang mau mengurus kuliah mu nanti" sambung paman Harjo


"Benarkah buk?!" Tanya Nindy antusias


"Iyaa"


"Lalu malam ini aku akan di bawa kemana" tanya Nindy polos


"Melihat fakultas fakultas yang cocok untuk mu" jawab buk Meri


"Kenapa tidak besok saja buk, sekarang kan sudah malam, aku capek, lagi pula kaki ku masih terasa nyeri"


"Kan hanya duduk di atas mobil, lagipula kau besok kan sekolah"


"Iya juga ya buk"


" Ya sudah sebaiknya kalian berangkat sekarang dari pada nanti kemalaman" usul buk Meri


Nindy dan pria paruh baya itu pun berpamitan, Nindy merasa senang sekali tapi di sisi lain dia merasa ada yang aneh.


Nindy pun berjalan mengekor di belakang pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu pun membuka kan pintu untuk Nindy, Nindy pun sedikit kaget dengan perlakuan nya, karena Nindy adalah 3 dari 10 anak indonesia yang menghormati orang yang lebih tua darinya.


Didalam mobil Nindy hanya diam menatap pohon pohon yang menari nari di pinggir jalan, sampai lah ia kini di sebuah bangunan mewah yang di depan bertuliskan HOTEL HAPPY dan disampingnya ada tugu bintang yang berjumlah lima.


"Kenapa kita kesini om?" Tanya Nindy, entah kenapa dia jadi teringat kata-kata Alena tadi.


"Saya mau ambil beberapa berkas dulu di kamar hotel, ayo mari" ajak nya dengan wajah smirk nya


Dengan langkah gontai Nindy mengikuti pria itu dengan beribu ketakutan yang kini sudah berada di otak nya


Bersambung..


Semoga suka,... kalau suka jangan lupa kasih jempol dan rate bintang lima ya, kalau boleh vote juga. hehhe biar Ola tambah semangat nulis nya....


mampir juga ke Novel satu lagi


- Sahabat atau kekasih


"

__ADS_1


__ADS_2