
Mohon dukungan nya reader ๐ค
dengan tekan tombol like and rate bintang lima, vote juga boleh๐
Happy Reading ๐
Sedangkan hantu Alen dan hantu bergaun merah itu masih asik Jambak-jambakan.
***
Nindy dan jino pun tiba di depan pintu apartemen.
"Kak, gimana caranya?" Tanya Nindy memperlihatkan sebuah kartu
"Sini" jin meraih kartu itu dari tangan Nindy dan menggesek kan nya ke gagang pintu itu, tak sengaja seorang ofis grill yang selesai membersihkan kamar, melihat aktivitas mereka.
"Kyaaaa!" Pekik nya
Nindy reflek lansung masuk kedalam apartemen setelah kunci berhasil di bukak jin.
"kok aku ditinggal sih Ri'?" protes jino
Nindy tak menyahut ekspresi Nya tak hentinya takjub, memandang ke segala arah penjuru apartemen, pandangannya terhenti pada sebuah tempat di samping lemari, Nindy pun berusaha fokus dan mulai lah terlihat sosok berpakaian putih lusuh terbungkus dan mengenakan wik warna biru, dia menyeringai ke arah Nindy.
tubuh Nindy gemetar, tubuh nya yang belum stabil, membuat nya tumbang dan kepalanya terbentur ke pot bunga yang terbuat dari semen, dan langsung mengundang darah segar, jino panik, dia berjalan mondar-mandir, dan hantu yang dilihat Nindy menjulur kan kotak P3K pada jino, yang langsung di raih pemuda itu.
setelah luka di kepala Nindy di obati Jino, pemuda itu hendak berterimakasih pada seorang yang telah membantu nya mengambil kotak P3K, tapi dia langsung terpikir. "kan aku cuman berdua disini, apa Alen ya" gumam jino perlahan-lahan menoleh ke samping nya, dan telah dia temukan sosok mengerikan disampingnya, seraya melambai kearah nya.
__ADS_1
"Huaaaa!" jino pingsan dan jatuh ke lantai
hantu jeni yang iba melihat jino pingsan dilantai, menaikan nya ke atas sofa.
POV NINDY
Panggilan alam membuat ku terbangun, kutoleh kan wajah ke segala arah, mencari keberadaan jam dinding, sekarang menujuk kan pukuk 01:06 dini hari, perut yang sakit membuat ku harus bangkit dari tempat tidur. aku yang hendak berdiri merasakan kepala ku sangat pusing, ku pegang bagian kepala ku ada perban, ku coba ingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya, dan ternyata aku tadi pingsan.
perut yang makin sakit, membuat ku harus segera menuju tempat pembuangan nya, dengan sempoyongan aku mencari keberadaan di mana kamar mandi berada.
disaat ingin melangkah ku lihat kak Jino tengah tertidur pulas di atas sofa, dengan keadaan yang sama waktu di rumah sakit, yaitu mulut menganga dan mengeluarkan dengkuran.
kubiarkan saja dia tidur, ku lanjutkan aktivitas ku, menuju kamar mandi, karena aku tak tega membangunkannya yang kelelahan, walaupun dia arwah gentayangan sekalipun.
"hum..kamar mandi nya mana ya " pikir ku, disini ada tiga ruangan, aku baru menelusuri dua ruangan, ruangan pertama tempat menonton televisi yang mungkin akan jadi tempat favorit ku, aku sangat suka menonton, walau dulu di rumah bibi aku menonton masih dengan televisi yang kadang-kadang kehilangan sinyal nya, "rumah bibi?" gumam ku, sekelebat bayangan tentang kehidupan ku dulu, membuat kepala ku makin nyeri, tapi nyeri di perut mengalahkan nyeri di kepala membuat ku harus segera ke kamar mandi,
ruangan kedua, adalah dapur juga akan jadi tempat favorit ku, aku juga suka memasak, dan sekarang aku melangkah ke ruangan atau pintu yang ketiga, YESS kamar mandi, "wah gede banget kamar mandi nya, ini mah 2 kali kamar ku dulu" gumam ku takjub, masih dengan memegang kepala, aku melihat sebuah bilik Kecil, sakit diperut sudah tak tertahankan lagi dimana kloset nya, tak kutemukan, kulangkah kan kaki kebilik itu dan membukanya, sesuatu yang tak kuinginkan terlihat, sosok yang kulihat tadi ada didalam bilik itu, dia tengah duduk santai disana, saat dia melihat ku, bukan hanya aku saja yang menjerit tapi dia juga menjerit.
"anak kecil nggak sopan ya! aike lagi boker ko di intip " ucap nya dengan gemulai, aku jadi meragukan nya sekarang, bentuk nya seperti pocong.
"duh om misi dong, aku mau berak juga"
"om om, kamu panggil aku tuh mbak jeni, enak aja om om, udah mahal-mahal operasi ni, sampai aku meninggoy hiks.." ujarnya seraya menujuk bagian sensitif nya.
"entar dulu yang om, eh mbak, udah di ujung banget nih, geser-geser, apa mau aku berak di sini?" tantang ku, aku sudah tak merasa takut lagi dengan sosok didepan ku ini.
"Anak muda sekarang, sungguh terlalu!" ujarnya dan segera menghilang.
__ADS_1
"gimana caranya ya" gumam ku melihat Kloset nya, beda dengan di rumah bibi dulu, ini seperti yang ada di film film itu
"bodo lah" ku letakkan saja pantat di sana dan "puuuuuuut put put, ah.. Lega"
stelah menuntas kan hajat ku, aku lantas melangkah keluar, " kepala ku udah enggak sakit Yeay" gumam ku seraya menarik gagang pintu. sosok kak Jino sudah berdiri sekarang didepan ku.
"kakak kenapa ketakutan gitu?" tegur ku padanya
"itu, hantu genit peluk peluk Aku, hiyyyy" ucap kak Jino seraya memeluk dirinya sendiri.
"hahaha, om jeni, eh mbak jeni itu kak?" tanya ku memegangi perut yang tak tahan lagi untuk tertawa. melihat ekspresi kak Jino yang begitu menggemaskan.
"enggak tau, dan nggak mau tau"
"kak tuh orang nya, eh hantunya"
"Riii..." kak Jino lansung bersembunyi di balik tubuh mungil ku.
"om tolong jangan gangguin teman saya!" kataku pada sosok itu
"iiih jangan panggil aike om napa, tengok ni.." jawab nya seraya menunjuk bagian menonjol di dada nya.
"eh mbak kalo gitu, jangan gangguin teman saya, nanti dia kalau udah takut banget, bisa berubah jadi iron man loh" sahut ku menujuk kak Jino yang masih saja bersembunyi dibalik tubuhku.
"yang rasanya anj*ng itu?"
"hoo'oh, udah tolong minggir mbak"
__ADS_1
Bersambung...
jangan lupa Krisan dan saran nya reader tersayang...