
Happy Reading ☺️
"Ya kau benar dan, Analisis ku dia memang tak tau apa apa, dan yang ku lihat dari wajah dan manik matanya, dia sudah keluar dari raganya sebelum kau bertemu dengan nya, jadi Vanya yang kau temui kemarin bukan lah Vanya yang kau temui sekarang" jelas kapten Johan dengan mimik wajah serius
Aku pun menoleh ke arah Vanya dia memandang ku dengan tatapan sinis.
"Kenapa kau liat aku seperti itu!?"
Tanpa menjawab dia pun melangkah pergi
"Hei! oh iya, btw kenapa tubuh mu bisa di ambil oleh makhluk itu?" tanya ku mencoba menenangkan diri
"itu..karena ibuk, tidak terlalu mendengar kan perjanjian mereka, sampai iblis itu pun meminta tubuh ku, ibuk pun mengiyakannya" jawab Vanya, air mata darahnya kembali mengalir dari kelopak matanya.
ia pun melangkah pergi.
"Hei kau mau kemana?"
"Terserah ku mau kemana" jawab nya sinis
"Heh! gue nggak akan bantuin elo!"
"oke!" Vanya berucap dengan mantap
"Gue tempat Nindy aja, wleekkkk.." Vanya menjulurkan lidahnya yang panjang
dan segera menghilang
***
POV AUTHOR
Di kamar rawat Nindy, gadis itu masih terbaring lemah tak dapat membuka matanya.
Sekarang Nindy tengah bermimpi dia berada di lapangan rumput hijau yang luas, sementara tak jauh dari dia berdiri seperti ada lembah pembatas di sana suasana sangat gelap kabut yang menyelimuti di segala sisi, pohon-pohon yang tak berdaun alias kering di sekilingnya.
Nindy mendekati tempat itu, tak jauh dari dia berdiri, disana dia melihat sepupunya, Vanya
Nindy bergumam
"Apa itu Vanya?, Ngapain dia disana"
Nindy pun mendekat semakin mendekat tiba tiba dari arah dia datang jino memanggil manggil nya dan berlari menghampiri nya, entah kenapa Nindy tak mau jino ketempat nya, sehingga Nindy berlari juga.
__ADS_1
"RI.. Riri....R..." Panggil jino seraya berlari terengah-engah
Sedangkan Nindy kini semakin dekat ke arah lembah yang sangat mengrikan itu
Setelah tiba di bibir pembatas Nindy berpikir dia antara ingin masuk dan kembali ketempat dia awal berdiri tadi, tapi hatinya ingin sekali kedalam suasana yang penuh kabut asap itu, tak jauh dari dia berdiri kini Vanya melambai ke arahnya.
"Nindy...." Ucap Vanya seraya melambaikan tangan
Dengan hati yang penuh keraguan Nindy masuk kedalamnya tapi untungnya seseorang langsung menariknya keluar.
Tapi malah Sesuatu kembali menyeret mereka berdua masuk kedalam tempat mengerikan itu.
"Kak jin, ngapain disini?" Tanya Nindy dengan wajah polos
"Kamu! Ngapain disini" jawab jin
"Hem gatau" sahut Nindy dengan wajah yang kali ini menggemaskan bagi jino
"Yuk kita balik kalau gitu" jino menjangkau tangan Nindy dan hendak membawanya dari hutan belantara yang penuh asap dengan suasana yang mencekam itu.
Ketika mereka hendak melangkah keluar sesuatu menahan mereka
"Nindy... Tolong bibi..." Seru seseorang
"Itu suara bibi dan paman ku kak" Nindy menoleh ke belakang yang juga di ikuti jin untuk menengok ke belakang
Tiba tiba sosok Vanya sudah berdiri di depan mereka
"Aaaaaa" mereka berdua berteriak dan saling berpelukan
"Peyukkk jugaaaa" ucap Vanya dengan manja
"Vanya! Ternyata beneran kamu, ngapain kamu disini?" tanya Nindy memandang kearah sepupunya itu
"Iya Nin, tolong bantuin ibuk sama bapak yaa" sahut Vanya dengan wajah memelas
"Emang bapak dan ibuk kenapa?" Tanya Nindy penasaran
"ARGHHHH! TOLONG!!!!" tiba tiba muncul suara jeritan seseorang dan bersahut sahutan dengan suara erangan.
"GRRRRRRRRR!"
"Apa itu kak" Nindy reflek dan bersembunyi dibalik tubuh atletis jin, Vanya pun sama.
__ADS_1
"Nin... Itu ibuk ..hiks hiks" kini Vanya menagis di belakang tubuh jino
"Ibuk kenapa sih,, nyaaa!" Tanya Nindy bingung
Vanya pun menceritakan semua yang menimpa ibuk dan ayah nya, tentang mereka yang di hasut oleh Vanya palsu dan mengambil tubuh Vanya, Vanya palsu hanya membutuhkan ibuk dan paman Nindy hanya untuk memberi kan nya tumbal balasannya kekayaan, seperti ibuk ibuk yang di rumah kosong itu, dia meninggal karena di jadikan tumbal.
Sebenarnya yang meminta tolong itu, bukan orang tua asli mereka, tapi itu hanya tipu daya jin yang mengambilnya tubuh Vanya, dia juga menginginkan Raga Nindy yang kuat.
"Apah!" Nindy berucap tak percaya
"iya nin, plissss bantuin ibuk sama bapak" Vanya terisak
"oke oke, ayo kita kesana" Nindy berkata dengan mantap
"kamu serius RI?" jino menimpali
"iya kak serius, kakak kalau mau balik balik aja"
"kmu kok gitu sih, ngusir ni ceritanya" jino menatap dengan penuh selidik
"enggak gitu kak, maksudnya kakak kalau mau pulang engga papa kami bisa kok" Nindy menatap jin dengan senyum manis nya
"enggak aku ikut " jino menarik tangan Nindy
GRRRRRRRRR!
Karena terkejut Nindy meremas tangan jin dengan sangat kuat sampai dia kesakitan
"haaaaaaaa"
"kakak kenapa?" Nindy bertanya dengan polosnya
"tangan tangan." jin meringis melihat tangan nya
"eh eh sorry kak" tanpa sadar Nindy meniup meniup tangan jin
"eh kalian, udah dong kek gitunya.." Vanya angkat bicara
"gitu ngapain" tanya Nindy dan Jino berbarengan
"mesra-mesraan" Vanya memutar bola matanya sedangkan jin dan Nindy saling bertatapan yang membuat mereka satu sama lain gerogi dan langsung memalingkan wajah masing masing .
"nin itu ibuk!" Vanya menunjuk ke arah pohon besar dan tinggi
__ADS_1
Bersambung....