
Hai hai, Reader lupp, Nih, sesuai saran Reader tercinta, episode crazy up nya, ya walau enggak terlalu banyak sih.
Happy Reading😊
****
"Tunggu!, Gu-gue mau curhat"
"Whattttttttttts!"
"mau enggak nih!"
"yaa gimana ya, tapi kalau sekarang sepertinya enggak deh soal ny---. " ucapan ku terhenti kala kak Alena sudah datang memanggil nama ku
"Nin, kok malah di toilet cowok sih?" tanya nya
"nyasar tadi kak" kata ku dalam hati, supaya si Bimo ini enggak bilang aku aneh pastinya, ku toleh ke wajahnya, dia nampak salah tingkah, ku toleh kan pula wajah ke kak Alen dia tengah memandang Bimo.
"ngapain kak?" tanya ku masih dalam hati tapi tak di sahut oleh nya.
"kak" pekik ku dalam hati yang membuat kka Alena dan Bimo berteriak serentak
"loh kamu kenapa bim?" tanya ku
"kau bisa liat aku kan?" kini kak Alen memegang pundak Bimo, namun Bimo masih tak berkutik, dia mengambil telepon genggam nya dari saku, dengan tangan yang jelas gemetar
"ndy yaudah aku mau balik ke kamar mama ku aja, udah di cariin soal nya sama adek ku, nanti kita ketemuan di cafe Caramel" katanya dan berlalu pergi, namun anehnya, kaki nya terlihat berat untuk dilangkah kan.
" ha a- oke" sahut ku
"dia dapat melihat ku Nin"
"kayak nya enggak deh kak, soal nya kemaren kan telinganya di tarik sama kak Jino, dia enggak liat tuh, masa iya sekarang bisa liat"
"menurut yang aku baca dan ketahui sih Nin, mata batin itu bisa dibuka---" yg lansung ku potong
"ya iya, itu aku juga tau" potong ku
"iya kan belum selesai" ketus kak Alen
"hehe iya lanjut......."
"enggak ah, aku mau tempat Jino aja" kak Alen merajuk dengan bibir yang dimajukan nya.
"kakak, ayolahhh"
"huftt!, tapi jangan potong ya!"
"okeee!"
"jadi, mata batin itu bisa terbukak dengan sendiri nya, bisa di bukak oleh orang pintar atau spesialis nya gitu, bisa jadi karena kecelakaan, misalnya kepalanya terbentur, atau bisa juga makhluk alus yang nempel ditubuhnya yang bukak mata batin nya"
"jadi kalau Bimo sekarang bisa liat, pasti dia kejadian salah satu yang kakak sebutin dong"
"seperti nya gitu"
"kalau kecelakaan, dia enggak berdarah, kalau di bukak sama orang pintar, masa iya dia berani, setahuku kan dia penakut, sama yang namanya hantu, kalau kebuka sendiri, pasti ada sebab nya dong, apaa ya" aku berfikir
"kalau dibuka makhluk alus yang nempel di badannya?"
"iya ya, tadi aku liat dia jalan kek nyeret gitu" sahutku
"hei, Ri, Len, nagapain sih ghibah disini!" kak Jino tiba tiba muncul di antara aku dan kak Alen yang sedang berhadapan, sontak membuat kami menjerit.
"eh dek kenapa?" pria berbadan atletis, dan tampan memegang pundak ku, dari belakang, rasanya hangat sekali, serta nyaman.
__ADS_1
"eng-enggak kak" kataku gugup
"kok bisa ada disini, ini toilet cowok loh"
"salah masuk kak, tadi soal nya kebelet, heeee" jawaban yang hampir sama dengan jawaban ku pada Bimo tadi dengan sedikit meringis.
"hehe bisa aja kamu" katanya mengacak-acak rambut ku.
' kok aku enggak marah ya' batin ku.
"Nin!, sontak kak Jino membuat ku kaget"
dan berteriak, "haaaaaaaa" sontak aku langsung bersembunyi di balik tubuh atletis pria itu.
"dih pakai acara sembunyi, biasanya enggak takut tuh" celetuk kak jin, membuat ku sakit hati mendengar perkataan nya itu
"Cemburuan banget hantu nya" gumam pria itu yang tak sengaja terdengar oleh ku.
"kakak bilang apa?" tanya ku memastikan
"itu pengawal kamu ya" tunjuk nya pada kak Alen dan kak Jino bergantian, yang membuat ku terperangah kaget
"ha mana kak?" sok tidak lihat
"kamu enggak usah pura pura, iya kan?" tanya nya lagi
"heee, iya kak" entah mengapa membuat ku menurut saja.
"kamu mengingat kan ku pada adik ku, yang hilang 15 tahun lalu, dia mungkin sudah sebesar kamu, dan dia juga punya kemampuan seperti kamu sama seperti ku" ucapnya menerawang ke langit langit toilet
"hm..maap kalau gitu kak" kata ku tak enak
"Ri,, ayok" ajak kak Jino
"enggak mau?, yaudah, yuk Len" kak Jino lansung menjawab pertanyaan nya sendiri dan berlalu menghilang, seraya menarik tangan Alen.
"yaudah aku permisi ya kak" pamit ku
"oh ya silahkan, tapi tunggu kalau boleh tahu nama mu siapa" tanya nya
"hm Indy kak" sahut ku dan segera ngicir keluar toilet.
"kak! Kaaaaak jangan ngambek dong" bujuk ku ketika sudah sampai di kamar rawat kak Jino.
ku hilangkan rasa sakit tadi sejenak, mencoba untuk dewasa, mungkin bukan yang ku maksud yang di maksud kak Jino (huh apaa sih, maksud di maksud) maksudnya kata kata kak Jino yang "pakai acara sembunyi lagi, biasanya enggak takut tuh"
gitu ahah,paham kan?, paham aja lah!
"ih siapa yang ngambek" jawab nya acuh tak acuh
"tuh apa?"
"apaa" jawab nya ketus, ku tatap ke arah wajah nya dia pun sama dan kami sama-sama langsung membuang muka.
"kakak kok jadi kasar sekarang!, kakak juga tadi hampir aja bilang aku cewek ganjen kan" aku bertolak pinggang.
"kapan aku bilang!!, kamu aja tuh, yang sok dekat sama dia tadi, yaaa kalau di pikir-pikir sih yang patut kamu suka, kan dia manusia, ganteng lagi" kata kak jin dan memalingkan wajahnya
"eh kak! siapa yang berfikir seperti itu, aku enggak kepikiran kek itu, udah lah kak, kalau mau balikan sama kak Cynta balikan aja!" kata ku asal
"aku?" tetiba kak Cynta sudah berdiri di dekat kami.
"kalian pada kenapa sih?!" lerai kak Alen
"tau tuh" kata ku
__ADS_1
"cemburu ya jin" ledek kak Alen mencoba bercanda
"cemburu?, ke siapa?!" ketus nya yang entah kenapa membuat hati berdesir hebat, bukan karena cinta melainkan karena sakit. yg entah apa alasannya aku juga tak tau pasti.
Hening, tak ada yang berbicara,
"Permisi, Nindy" dokter Reyna bersama dua Suster masuk
"eh dokter " jawab ku dengan senyum kecut
"saya bawa kabar gembira buat kamu" dokter Reyna tersenyum hangat
"wah apa itu dok?"
"kemarin terjadi kecelakaan mini bus,"
sejak kapan kecelakaan menjadi kabar gembira, batin ku.
" dan kalian tau?, salah satu penumpang nya kapten Johan, menurut polisi sih, mobil itu berplat mobil seorang penjahat yang sudah lama di buru, di dalam mobil itu terdapat 3 orang, dua orang meninggal dan hanya kapten Johan yang selamat sekarang dia tengah melakukan perawatan di kamarnya, beruntung tak begitu parah sebab di melompat ke kasur ya kali kasur, ke rerumputan" jelas dokter Reyna panjang lebar, kami hanya diam menyimak, kak jin yang terlihat acuh tadi menegak kan kepala dan menghadap ke dokter Reyna.
"serius dok" ucapku menanggapi
"bisa antar saya kesana" pintaku
"Tentu, sus tolong antar Nindy ke kamar anggrek 152 saya akan periksa tuan Jino dulu"
Ya, dokter Reyna merupakan mantan dokter keluarga Santoso tapi semenjak keluarga itu dipimpin oleh kepala keluarga Tino jaoyto dia dipecat.
"oke dok"
"kak Alen disini aja" kata ku dalam hati yang langsung di jawab dengan memberi satu jempol pada ku
ku langkahkan kaki mengikuti, suster ber name tag Pina.
setelah tiba di depan pintu, anggrek 152, terdengar suara seperti rintihan kesakitan, kami yang bingung langsung membuka pintu.
terlihat kapten Johan tengah mengerang kesakitan dengan memegang lehernya dengan kedua tangan nya.
"kap, kap" menepuk kedua pipi kapten Johan, sekelebat bayangan datang seseorang tengah mencekik boneka. kulepas kan pipi kapten Johan, " sus tolong panggil dokter da-dan ustadz kalau ada" kata ku panik, tak lama kak Jino datang.
"kap kap" menepuk kedua pipi dan tanpa disadari mata kapten Johan terbuka lebar dan menoleh pada ku dengan pandangan mencabik.
sontak dia langsung berdiri dan merangkak, mendekati ku, kak Jino lansung berdiri di depan ku, seperti melindungi diri ku dari serangan yang mungkin saja di timbulkan oleh kapten Johan, sebab dia seperti orang kerasukan.
di mendekat semakin mendekat, kapten Johan yang memang memiliki postur tubuh lebih besar dari kak Jino dengan mudah membanting tubuh kak jino, hingga menabrak etalase obat.
aku mundur kebelakang dengan waspada, sampai lah tubuh ku merapat ke dinding, perasaan langsung tak karuan, ketakutan mulai menyelimuti diri, seluruh tubuh gemetar hebat, kaki rasanya sudah tak kuat lagi, menompang tubuh, tapi ku coba menguat kan hati, mencoba membaca doa doa yang masih ku ingat.
Namun tak ada reaksi nyata, kapten johan terus saja merangkak mendekati ku, sesekali dia memggeram.
kenapa aku, apa salah ku' batin ku menjerit
kapten Johan telah tiba di depan ku, hanya berjarak dua jengkal saja.
ku pejam kan mata, berharap nasib baik akan menimpa.
Nafas ku terasa sesak, tiba tiba di leher ku sudah ada tangan yang yang melingkar, nafas tercekat, tangan mengepal menahan sakit. "Allahuakbar!!"
Bersambung...
mampirlah juga ke Novel ku satu lagi
-Sahabat atau kekasih
Mohon dukungannya ya
__ADS_1
dengan tekan tombol like and komen, rate bintang lima dan vote juga,
terimakasih Reader 😘