Cinta Gadis Indigo

Cinta Gadis Indigo
Episode 11 Si Brengsek


__ADS_3

Happy Reading..


Pandangan ku lama lama memudar


"Dasar pria tak tau di untung kau!" Pekik pria tampan itu yang tak lain adalah kak jino ku


Lalu pandangan ku kelam ...


POV JINO


Aku menoleh ke luar jendela sekarang sudah gelap


"uhhk lama sekali" gerutu ku menunggu kalung ku, yang kalung permata biru itu, aku jadi penasaran kata-kata Riri, jika aku mengenakan kalung itu aku bisa juga melihat makhluk tak kasat maata, tujuan pertama ku adalah Cynta, aku ingin bertemu dengan nya.


Aku duduk di sebuah cafe di samping tokoh Emas yang ditemani secangkir kopi hangat, aku menoleh ke jam tangan ku, sekarang tepat pukul 07:00, handphone yang ku beli tadi sudah bersamaku sekarang, ku ambil handphone itu dan kunyalakan, ku Salin no handphone baru ku, serta ku aktifkan JPS nya.


"permisi tuan, kalung ada sudah siap" petugas toko berlian menghampiri ku dan membuat ku segera mengakhiri aktivitas, ku masukkan semua nya lagi seperti semula lalu ku ikutin petugas toko itu.


setelah dapat kalung ku, aku langsung menuju mobil, setelah tiba di mobil ku pakai kalung itu, dan langsung membuat ku terperanjat, kenapa tidak wanita kesayangan ku duduk di samping ku, ku kucek- kucek mata berkali-kali untuk memastikan nya, tapi Cynta tetap tak hilang.


"Cynta.." lirih ku


"jino? kau melihat ku" sahutnya


"yah!" aku langsung menghambur ke ke pelukannya, dingin dingin yang kurasakan, seperti aku tengah memeluk Olaf teman nya Ana dan Elsa (wkwk)


kutatap wajah nya lekat lekat, wajah yang kini pucat pasi tersenyum ke arah ku.


"sayang ikhlas aku ya" ucap nya lirih


aku tak menjawab ku peluk dirinya sekali lagi sampai seseorang mengagetkan kami,


"Cynta!! Jino!!!" ucap dengan nafas tersengal sengal


"Alena!!, kau kenapa" tanya Cynta

__ADS_1


"Nindy, tolong Nindy " sambung nya


"Nindy kenapa?" tanya ku tak mengerti


"Cepatlah kita segera kerumahnya, cegah dia untuk pergi bersama orang itu, di-dia akan mencelakai Nindy " ucap Alena ya Alena aku juga dapat melihat nya sekarang, dengan di temani dua makhluk yang sudah beda dunia dengan ku ini, ku pacu mobil ku dengan kecepatan tinggi menuju tempat tinggal Nindy, Nindy bukan siapa siapa ku tapi entah kenapa aku merasa peduli saja dengan nya.


jalur rumah nya yang sedikit susah di lalui membuat ku memukul setir berkali kali


"sabar sayang..pasti Nindy baik baik aja" ucap wanita kesayangan ku menenangkan ku, ya aku sangat sayang kepadanya karena dia wanita yang baik dan selalu mengerti aku, tapi sekarang kami malah tidak bisa bersatu.


aku menoleh kepada nya lalu tersenyum


Tin Tin..


sebuah mobil sedan hitam hampir saja menabrak kami, reflek ku injak rem sehingga kepala Cynta dan Alen terbentur, lalu mengeluarkan darah, darah yang hampir berwarna hitam pekat, Alena yang hampiri saja keluar tembus ke kaca mobil saking kencangnya aku Mengerem, lalu Alena sudah kembali lagi ke jok belakang.


"sayang kau tak apa?" ucap ku kawatir yang di sambut tawa olehnya


"kau kenapa tertawa?" sahut ku bingung


"aku tak apa, seharusnya kau lah yang akan kenapa, Kan ku sudah meninggal!, sudah jadi arwah sayang...aku tak akan


"oh iya!, kau Alena " tanya ku seraya tertawa kecil pada Alena yang duduk di jok belakang, dia menoleh kebelakang


"apa yang kau liat?"


"itu... itu Nindy! jin" ucap nya seraya menunjuk mobil yang hampir saja kami tabrak, mobil itu sudah berada di ujung gang


"Yang benar!? enggak salah Liat kan?" tanya ku memastikan


"enggak!"


aku pun langsung banting setir daan melaju kencang mengejar mobil itu.


"Jin?" Alena memanggil nama ku

__ADS_1


"ya apa Alen" jawab ku Seraya melihat wajah nya di kaca mobil depan, Alen aku juga sudah cukup kenal dengan nya, karena dia adalah suster yang akhir akhir ini menjaga keponakan ku, dia pindah dari rumah sakit untuk berkerja jadi suster untuk menjaga keponakan ku yang tinggal di rumah ku, aku tak menyangka kiranya dia salah satu selingkuh si tua Bangka yang tak tau di untung itu, bahkan dia jadi korban pembunuhan tua Bangka itu, aku jadi kesal mengingat nya.


"kau tau jin! yang membawa Nindy itu adalah ayah tiri kau! karena itu aku tak dapat mendekatinya, dia sudah memagari dirinya dari makhluk tak kasat mata seperti kami, tapi kecuali jika mahluk itu berada pada tempat yang memang di tempat nya" jelas Alen yang membuat ku terperanjat, ku pukul setir berkali kali.


"Aku tau mereka akan pergi kemana" ucap Alen membuat ku menghentikan aksiku


kami pun melaju ke tempat yang di sebutkan oleh Alen, berharap kami bisa sampai duluan, melalui jalan tikus.


setelah sampai di halaman hotel itu, ku edarkan Padangan ke parkiran Pribadi pemilik hotel ini, ya tentu saja aku tau kalau ada parkiran pribadi karena ini adalah salah satu hotel milik ayah ku yang sudah di alih nama jadi nama pria tua Bangka itu, di sana belum ku lihat mobilnya.


Aku bergegas ke dalam hotel, ku temui penjaganya, dan mengambil kunci kamar yang sudah di katakan Alen, karena seperti biasa pria tua Bangka itu akan membawa simpanan simpanan nya ke sana, aku masuk kesana tanpa di curigai, karena memang mereka sudah kenal aku.


setelah tiba di kamar hotel, aku segera masuk ke dalam toilet untuk bersembunyi sementara.


benar saja belum lama aku berada di dalam toilet, aku mendengar suara seorang membuka pintu


cklek!!


Aku sedikit membuka pintu toilet untuk memperhatikan siapaa yang masuk, rupanya benar pria itu seraya menyeret Nindy, aku iba melihat nya yang di perlakukan seperti itu.


Nampak memang pria itu yang melakukan ini, ku raih ponsel ku dan ku tekan nomor polisi untuk melaporkan kalau ada penyiksaan Disini, dan tak lupa ku telfon mama yang selama ini tak percaya dengan semua yang kuliat, dengan berat hati mama ku datang kesini karena dia masih saja tak percaya.


setelah melakukan semua itu, ku intip kembali apa yang dilakukan pria itu, tentu saja aku tak akan membiarkan nya berlaku seperti apa pun pada Nindy, gadis yang telah mengetuk pintu hati ku dan membuat nya menerima orang kembali.


sekarang dia ku lihat sedang mendekat kan Wajah nya pada Nindy, tiba tiba hal yang tak terpikirkan oleh ku terjadi, Nindy menonjok keras hidung si tua Bangka itu, aku sedikit terkekeh dan terperanjat pada aksi yang di lakukan nindy.


Di seretnya Nindy kembali, jelas terlihat oleh ku Nindy sudah tak bertenaga lagi, ku buka pintu kamar mandi ini pelan pelan, ketika dia hendak menampar kan tangan kotor nya itu ke Nindy dengan sigap ku tangakap tangan nya, dan kupelintir kuat-kuat, biar saja Patah, ini yang sudah ku tunggu sangat lama, untuk menghabisi orang sepertinya.


dia pun mengerang kesakitan, bukan iba yang kurasakan malah asrat ingin menghabisi nya semakin menggebu.


"dasar pria tak tau di untung kau!" pekik ku menambah kekuatan untuk mengeratkan tangannya ku pelintir


aku menoleh ke arah Nindy dia sudah pingsan, ku lepaskan pria ini dan ku hampiri Nindy yang terbaring lemah ku angkat tubuhnya dan menggendongnya, pria Bangka yang hendak kabur itu langsung terperanjat ketika di depan pintu suddah menunggu beberapa polisi yang ku telpon tadi, serta mama yang sudah menganga kaget, tapi hal yang tak wajar malah ku lihat dari mama, bukan nya dia marah pada pria tua Bangka itu,karena telah berselingkuh, malah dia menangis melarang pria itu di bawa polisi, ku panggil satu orang polisi untuk mengawasi mama dan langsung ku gendong Nindy ke mobil untuk membawa nya kerumah sakit.


Bersambung.....

__ADS_1


Terimakasih ya buat Para Reader yang nungguin cerita ku, walau enggak banyak sih.


jangan lupa like, komen and rate bintang lima ya, kalau boleh vote juga, hehe..


__ADS_2