
Not: Cerita ini hanya khayalan dan imajinasi penulis jika ada kesamaan atau kesalahan mohon di maklumi, jika ada kesamaan cerita, penulis tidak berniat sedikit pun untuk meniru
Terimakasih.
Happy Reading
POV JINO
Setelah Kembali dari rumah Riri atau rumah bibinya itu, aku kembali ke rumah sakit, bersama kapten Johan di samping ku, ketika kami masuk keruangan Riri, gadis itu masih terbaring lemah, tak sengaja aku menoleh pada kapten Johan dia terlihat gelisah. aku pun bertanya
"kenapa kap?" tanya ku memastikan
"Ada yang tidak beres, mereka menginginkan Raga Gadis ini" ucap kapten Johan seraya menunjuk Nindy
" Mereka? siapa? apa maksud mu kap?" aku sangat tak mengerti apa yang di katakan oleh kapten Johan ini
"Seseorang harus membantu nya keluar, sebelum terlambat" kapten Johan kembali berucap setelah diam beberapa saat.
"Biar aku saja kap" Jawab ku dengan mantap walau aku tak tau apa yang akan terjadi
"kamu yakin jin, ini bisa membahayakan nyawamu"
"aku yakin kap, aku tak mau lagi membiar kan orang yang ku sayang pergi meninggalkan ku" sahut ku, ya benar aku sudah menaruh hati pada gadis yang kutemui beberapa hari ini, dan aku tak akan membiarkan nya meninggalkan aku, sekalipun aku yang akan pergi.
"sebaik nya jangan jin" cegah kapten Johan
"Tidak kap, tolong lah bantu aku. ..." kalau keinginan sudah bulat tak akan ada lagi yang dapat mencegah ku
Setelah lama berfikir panjang, kapten Johan pun menyetujui permintaan ku, dengan berbagi Syarat.
"Bawalah ini" ucap kapten Johan seraya memberikan unjukan kecil
"apa ini kap?" tanya ku
"Pakai lah jika dalam keadaan bahaya" jawabnya
"baik kap"
"Oh iya, kau punya kalung permata biru kan, nanti pakai kan lah kalung itu pada gadis ini, supaya keberadaan nya tidak di ketahui jin Jahat itu, karena sebenarnya dia lah kena incar.
Setelah mendengar kan beberapa Saran dan arahan dari kapten Johan,
aku pun disuruh nya berbaring dan memejam kan mata, benar saja tak berapa lama, ketika aku membuka mata aku sudah berdiri di tempat yang entah dimana aku juga tak tau.
"berjalan lah kesebelah barat jin" titah kapten Johan yang terdengar di telinga ku, aku pun mengikuti saran nya, tak lama aku berjalan nampak oleh ku, gadis ya gadis itu, Riri, ucap ku dengan semangat kupanggil namanya, aneh nya dia malah bukan mendekat ke arah ku, dia malah berlari menjauhi ku.
aku pun mengejarnya dan terus mengejar
terdengar lagi suara kapten johan, "jangan sampai kau dan gadis itu masuk ketempat itu, sebab aku tak dapat lagi memantau mu, karena kekuatan nya disitu sangat kuat.
dengan sekuat tenaga aku mengejar Riri, sedikit lagi dia akan masuk kedalam hutan belantara penuh asap dan pohon tinggi yang kering menjulang di sekeliling nya.
"Hap" dapat , Nindy sudah berada dipelukan ku , tpi sesuatu menyeret kami kembali kedalam
"Kak jin, ngapain disini?" Tanya Riri dengan wajah polos
"Kamu! Ngapain disini" jawab ku
"Hem gatau" sahut Nindy dengan wajah yang kali ini menggemaskan bagi ku
'kenapa di saat gini kamu malah buat aku ngakak sih Ri' batin ku memperhatikan nya.
"Yuk kita balik kalau gitu" aku pun menjangkau tangan nya dan hendak membawanya dari hutan belantara yang penuh asap dengan suasana yang mencekam itu.
Ketika kami hendak melangkah keluar sesuatu menahan Riri
"Nindy... Tolong bibi..." Seru seseorang
"Ya Nindy... Tolong paman..."
__ADS_1
"Itu suara bibi dan paman ku kak" Riri menoleh ke belakang yang juga ku ikuti
Tiba tiba sosok Vanya sepupunya Riri sudah berdiri di depan kami.
"Aaaaaa" Karena kaget aku memeluk Riri
"Peyukkk jugaaaa" ucap Vanya dengan manja
"Vanya! Ternyata beneran kamu, ngapain kamu disini?" tanya Riri memandang kearah sepupunya itu
"Iya Nin, tolong bantuin ibuk sama bapak yaa" sahut Vanya dengan wajah memelas
'oh jadi ini yang di maksud gadis ini' batin ku
"Emang bapak dan ibuk kenapa?" Tanya Nindy penasaran, sedangkan aku masih diam menyimak
"ARGHHHH! TOLONG!!!!" tiba tiba muncul suara jeritan seseorang dan bersahut sahutan dengan suara erangan.
"GRRRRRRRRR!"
"Apa itu kak" seketika kedua gadis di samping dan depan ku ini lansung bersembunyi di balik tubuh ku.
"Nin... Itu ibuk ..hiks hiks" kini Vanya menagis di belakang tubuh ki
"Ibuk kenapa sih,, nyaaa!" Riri bingung
Vanya pun menceritakan semua yang menimpa ibuk dan ayah nya, tentang mereka yang di hasut oleh Vanya palsu dan mengambil tubuh Vanya, Vanya palsu hanya membutuhkan ibuk dan paman Nindy hanya untuk memberi kan nya tumbal balasannya kekayaan, seperti ibuk ibuk yang di rumah kosong itu, dia meninggal karena di jadikan tumbal.
sebenarnya aku kurang yakin gitu sih.
"Apah!" Riri tampak kaget
"iya nin, plissss bantuin ibuk sama bapak" Vanya terisak
"oke oke, ayo kita kesana" Nindy berkata dengan mantap
"kamu serius RI?" timpal ku
Aku yakin dia pasti sangat ingi membantu bibi dan paman nya itu, lebih baik ku ikuti saja dia.
"iya kak serius, kakak kalau mau balik balik aja"
"kamu kok gitu sih, ngusir ni ceritanya" aku mencoba mengetes nya
"enggak gitu kak, maksudnya kakak kalau mau pulang engga papa kami bisa kok" Nindy menatap ku dengan senyum manis nya, yang sangat membuat ku tak ingin meninggalkan nya.
"enggak aku ikut " ku tarik tangan Riri
GRRRRRRRRR!
Karena terkejut Riri meremas tangan ku, dengan kuat aku pun menjerit karena tak tahan lagi.
"haaaaaaaa"
"kakak kenapa?" Nindy bertanya dengan polosnya
"tangan tangan."
"eh eh sorry kak" tanpa sadar Nindy meniup meniup tangan ku
Hembusan nafas nya terasa hangat dan nyaman di tangan ku terasah saat itu.
"eh kalian, udah dong kek gitunya.." Vanya angkat bicara
"gitu ngapain" tanya ku dan Riri berbarengan
"mesra-mesraan" Vanya memutar bola matanya sedangkan aku dan Nindy saling bertatapan yang membuat ku gerogi dan langsung memalingkan wajah ku.
"nin itu ibuk!" Vanya menunjuk ke arah pohon besar dan tinggi
__ADS_1
yang segera kami ikuti menoleh kesana
Dengan secepat kilat Vanya menarik tubuh Riri dan memberikan pada makhluk yang sangat mengerikan
"Vanya!!!" Bentak ku kaget
Vanya langsung tertawa terbahak-bahak dan berubah wujud nya menjadi makhluk mengerikan.lalu sesuatu nampak keluar dari tubuh makhluk itu dan terpental ke batu besar
"itu itu bukan Vanya"
aku jadi kalut, ku tolehkan wajah pada Riri dia terkulai, dengan sekuat tenaga ku kejar tubuh nya yang diseret oleh makhluk mengerikan itu
sosok mengerikan itu, menyerang kak ku dengan segumpal asap hitam yang membuat tubuh ku terpental ke batu besar, aku pun berdiri lagi seraya memegangi punggungku yang sangat nyeri rasanya, aneh nya tidak terlalu sakit, tapi kalau di dunia nyata pasti tulang ku sudah patah semua, aku pun kembali mengejar riri, dia tampak menangis.
Aku pun menarik tangan Riri, dan melemparkan sebuah bubuk yang di berikan kapten Johan tadi pada mata sosok mengerikan itu, dan berhasil membuat nya mengerang kesakitan.
Kami pun berlari sekuat tenaga entah kemana yang jelas harus menghindar dari mahluk itu.
"kak, kakak duluan aja, nanti aku nyusul " ucap Riri menatap ku
"Tidak Ri" sahutku, tujuan ku kesini adalah menyelamatkan kamu, jadi kalau kau tak selamat aku akan sia sia kesini' batin ku
"akuu enggak kuat lagi kak...." dia menangis
"sini aku gendong " ucap ku dan membungkuk kan badanku, "aku sayang kamu Ri" Gumam ku
"kalau seperti ini kita akan tertangkap kak"
"kita bersembunyi dulu disini" Aku pun menduduk kan nya di sebuah semak semak dan melindungi tubuh nya, ku pakai kan kalung permata biru pada Riri seperti yang diperintahkan oleh kapten Johan tadi
"kakak lupa pakai ini tadi, coba kamu pakai, menurut yang kakak browsing di google, kalau permata-permata seperti ini dapat menyembunyikan kita dari makhluk tak kasat mata yang membuat kita celaka atau membahayakan kita" ucap ku sekenanya
"kakak saja yang pakai" lirih Riri
"tidak yang di incar disini adalah kamu" jawab ku tersenyum manis padanya
"Aku sayang kamu Ri" ucap ku menatap nya, Riri tampak mengeluarkan bulir bening dari kelopak mata lentiknya.
"Aku akan melindungi mu, walau nyawa ku jadi taruhan nya" batin ku mengusap lembut pucuk kepala nya, yang dibungkus jilbab yang sudah tak tentu bentuk nya, tapi dia masih cantik.
"GRRR!"
Aku kaget, sosok mengerikan itu sudah muncul di balik semak, sosok berbadan tinggi dan berbulu lebat serta taring taring yang tajam yang nampak ketika dia memggeram pada ku.
'kenapa dia bisa tau aku di sini' batin ku
Diseret nya aku keluar, dan mengangkat tubuh ku tinggai tinggi, "GRRR!" Sosok itu hendak mencabik badan ku, dengan sigap aku mengambil bubuk biru yang masih ada di saku celana ku dan melempar kan nya pada makhluk ini, dia melepaskan tubuh ku, tapi aneh nya sekarang dia melihat Riri, ku coba amati bagian leher Riri ternyata kalung yang dia pakainya dia copot.
'ya ampun ri'
Dengan semangat 45 aku kembali berdiri setelah terkena serangan bertubi-tubi oleh sosok mengerikan itu.
Riri tampak menggelengkan kepala, mungkin sebagai pertanda dia sudah pasrah dengan nasib yang menimpa nya, tapi aku tak akan membiarkan itu.
di serang nya ku lagi okeh makhluk mengerikan itu, aku terpental ke sebuah pohon besar, sesuatu menyilaukan nampak tak jauh dari ku, ku seret tubuh ku kearah itu dan mengambil nya, Setelah aku memegangnya, sesuatu menyilaukan yang awalnya berbentuk batu biru berubah menjadi pedang es, hati ku berkata jika aku harus memotong ekor makhluk itu, itu adalah kelemahan nya, entah dari mana aku mendapat kan ide itu, tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke arah makhluk itu yang kebetulan membelakangi ku
"yaaaaaaa cykkk!"
JEDUAR!!!
makhluk itu hancur seketika
aku pun menyapu pandang mencari Riri, ternyata dia sudah berada di bibir pembatas alam itu, Nindy tanpak terbaring disitu, aku pun berlari sekuat tenaga dan mendorong Riri
sebuah lubang alam baik itu dan tak lama sesuatu menghantam tubuh ku, sakit yang teramat aku rasa kan saat itu juga, tulang rasa nya berpisah dengan persendian lain nya.
Bersambung..
Mampir juga ke Novel ku satu lagi
__ADS_1
-Sahabat atau kekasih
Terimakasih 😘😘