
"Saya mau ambil beberapa berkas dulu di kamar hotel, ayo mari" ajak nya dengan wajah smirk nya
Dengan langkah gontai Nindy mengikuti pria itu dengan beribu ketakutan yang kini sudah berada di otak nya
POV Nindy
Aku berusaha fokus, jika aku sudah panik aku susah sekali untuk berfikir.
"Om saya tunggu di sini aja ya, soal nya kaki saya sakit untuk berjalan" aku mencoba mencari alasan
Dia tak menjawab, lalu datang dua pria berbadan tinggi dengan otot-otot yang besar, aku menelan ludah berat, pria paruh baya tadi pun berkata
"Kau mau jalan sendiri, atau di bantu dua orang itu?" Tanya nya dengan wajah yang menyeramkan bagi ku
"A-aku berjalan saja"
Entah apa yang akan terjadi sekarang, aku menyesal, seharunya aku mendengar kan kata Alen, ku ikuti saja pria paruh baya di depan ku ini, entah kemana dia akan membawa ku, kami pun masuk ke sebuah lift, tampak oleh ku dia menekan tombol 3.
Tiba tiba aku mencium bau anyir darah, mata ku edar kan ke segala arah di dalam lift ini, sampai pria di samping ku ini bertanya
"Kau kenapa sayang?" Ucap nya yang lantas membuat ku kaget bukan main
"Apa maksud anda om?!" Dia tak menjawab
"Siap siap lah kau anak kecil akan jadi seperti ku" tiba tiba aku mendengar suara bisikan di telinga ku,dengan suara serak. aku menoleh dengan cepat kearah belakang, sudah berdiri sosok wanita memakai baju merah ketat, dan bagian dada terbuka, dibagian wajah nya penuh luka lebam, leher nya agak miring ke kanan, ku perhatikan kaki nya seperti terseok, aku menoleh lagi ke wajah nya, di pun menyeringai ke arah ku, aku yang kaget lantas menjerit
"Aaaaaaaaaaa!"
__ADS_1
"Hei kau kenapa!!" Bentak pria paruh baya itu
"Ituu itu" aku menunjuk sosok wanita di hadapan ku, yang langsung di jawab oleh wanita itu "Nama ku Sindi"
"Apa!" Seru pak tua itu
"Sindi" ucap ku spontan yang membuat pak tua di samping ku ini terbelalak enatah kenapa dia terbelaalak aku juga tak tau, tapi apakah dia yang membunuh wanita yang bernama sindi ini karena itu dia kaget, dan ini yang di maksud sindi' pikir ku kacau
"Kenapa dia bisa ada disini, padahal aku kan sudah memagari diri ku dari 'mereka' " gumam pria paruh baya di samping ku ini yang sedikit terdengar oleh ku.
"Apa maksud nya, siapa sebenarnya dia ini" batin ku kesal
Ku coba sedikit mengetes nya, apakah dia kenal Sindi ini
"Pak sindi tengah menjilati muka mu!" Pekik ku
Aku lantas menahan tawa melihat nya seperti itu, Sindi pun sama
"Sindi jangan kau ganggu aku!" Ucap nya seraya meniup kan bubuk hitam yang di ambilnya dari saku jaketnya dan membuat ku menganga kaget, karena perempuan yang bernama Sindi itu pun lenyap bersama dengan abu hitam yang ditiup kan oleh pria paruh baya itu kesegla penjuru lift
"Uhuk uhuk!"
"Apa itu!?, jadi benar dia mengenal nay" batin ku mulai ketakutan tentang kata kata yang di ucap kan Sindi tadi 'akan jadi seperti ku' "
aku berfikir dan terus berfikir, mencoba fokus dan fokus trulala, untuk mencari jalan keluar untuk ku kabur, tapi itu sedikit tidak mungkin karena diluar sana sudah ada algojo, dua sekaligus, dia pasti sudah mengenal wajah ku, aku mulai putus asa.
Ting!
__ADS_1
Pintu lift pun terbuka pria paruh baya itu menarik tangan ku dengan kasar dan menyeretnya ku tanpa mendengar kan teriakan ku kesakitan, karena kaki ku sekarang terasa amat sakit.
Dia pun membuka pintu nomor 344 dan melemparkan ku ke atas ranjang, aku meringkuk menjauhi nya, peluh bercucuran nafas ku memburu, air liur ku rasanya kering
"Kak jin bantu aku" lirih ku terus meringkuk ke ujung ranjang
Pria paruh baya itu pun menyeringai ke arah ku, dia mulai mendekat ke arah ku semakin mendekat, aku menjerit sekuat tenaga, tapi aku rasa ini akan sia sia, karena sepertinya ruangan ini kedap suara.
Tapi aku tak membuang waktu yang tersisa ini, aku berusaha berdiri turun dari ranjang dan berlari sekuat tenaga ke arah pintu, tapi usahaku sia sia pintu dikunci, kaki ku semakin sakit badan ku terasa lemas, tak kuat lagi untuk berdiri, aku pun terduduk di samping pintu dengan terus menangis.
"Hahah apa yang kau lakukan gadis bodoh" Dia malah tertawa mencibir ku
"Kau sudah ku beli, CAS " ucap nya lalu tertawa terbahak-bahak"hahahah"
"Tidak!!!!"
"Dia mendekat kan Wajah nya padaku, dengan kekuatan yang masih tersisa ku pukul wajah nya itu sekuat tenaga, pukulan ku tepat mengenai hidungnya dan mengeluarkan darah segar, dia melotot ke arah ku, nampak dia sangat marah
Dia jangkau tangan ku, dan kembali menyeret kasar tubuh ku keranjang yang sangat empuk, dia pun hendak menamparku, ku pejamkan mata sudah pasrah kena tampar,karena tubuh tak bisa lagi di gerak kan
Beberapa saat tak kurasakan sakit nya kena tampar, aku pun membuka mata, sudah berdiri pria tampan yang sedang menahan tangan pria paruh baya yang hendak menamparku itu du pelintir nya tangan pria itu, dan membuat nya sedikit mengerang kesakitan.
Pandangan ku lama lama memudar
"Dasar pria tak tau di untung kau!" Pekik pria tampan itu yang tak lain adalah kak jino ku
Lalu pandangan ku kelam ...
__ADS_1
Bersambung...