
Hari yang di tunggu pun telah tiba kini Vieeta dan Reza sudah berada di bandara untuk menyambut kedatangan Đặng Đạo Đạt Thiện.
"mana ya mas, kok belum muncul- muncul" nampak ketegangan Vieeta menanti kedatangan Đạt Thiện kekasih nya
"sabar to..bentar lagi juga muncul" Reza menenangkan
Tak berapa lama terlihat di sebrang sana seorang pria tampan bersama dengan team nya sudah terlihat, Dat Thien terlihat sedang mendorong koper milik nya.
Vieeta pun melambaikan tangan nya, dan di sambut senyuman Dat Thien ia pun buru- buru menghampiri pujaan hatinya itu.
dan Vieeta pun juga menghampiri dan menyalimi Dat Thien, setelah ituDat Thien pun merengkuh tubuh Vieeta ke dalam pelukannya.
Terlihat pula ada tiga orang lain nya yang ikut bersama Dat Thien
"hallo" Vieeta menyapa ketiga orang itu setelah pelukannya lepas dari Dat Thien
"hallo.... my name Mai Taho, I'm Dat Thien's manager ( hallo, nama ku Mai Thao, aku manager Dat Thien)" sapa seorang wanita yang memeperkenalkan nama nya dan memberi tahu dia sebagai manager Dat Thien
"hai, My name is Vieeta Zhyani" Vieeta memperkenalkan diri meski mereka sebenarnya sudah kenal
"oh yeah this is Reza's brother (oh iya, ini kakak Reza)" Vieeta memperkenalkan Reza
"hai... my name is Reza" Reza mengulurkan tangan nya dan di sambut juga oleh wanita itu
"Mai Thao" jawab Mai Thao sembari tersenyum
"Hi Anh Tuan Lam" Vieeta menyalami adik dari Dat Thien yang merupakan adik angkat nya tetapi sudah di anggap sebagai adik sendiri, laki- laki itu putih, tinggi berperawakan kurus tetapi tidak terlalu kurus dengan gigi gingsul di sebelah kanan. menambah ketampanan nya
" hai Chi Vieeta ( Chi artinya mba/ kakak dalam bahasa Vietnam)" Tuan Lam menjabat tangan Vieeta dan beralih pula menjabat tangan Reza
"Reza" Reza membalas salam Tuan Anh Lam
"Quan Khoi"seorang lelaki bertubuh tinggi sedikit berisi, berwajah tampan dengan wajah maskulin menyalami Reza
"Reza" Reza pun beralih menyalami Quan Khoi
Sedangkan Vieeta memang sudah mengenal ke dus cowok tampan tadi jadi ia hanya menyalami saja.
Setelah sesi perkenalan kini mereka pun keluar dari bandara, dan masuk ke dalam mobil yang sudah Vieeta rental untuk membawa mereka semua menuju hotel.
Kini mereka dalam perjalanan menuju hotel di mana Vieeta dan Reza menginap, setengah jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di hotel. Mereka semua pun turun dan masuk ke dalam hotel dan Vieeta pun mengurus kamar di mana ke lima tamunya itu untuk tidur.
Setelah mendapatkan kunci kamar, Vieeta pun memberikan kartu pada Dat Thien karna ke empat cowok itu akan tidur dalam satu kamar tetapi mungkin akan ada yang tidur bareng Reza sedangkan Mai Thao akan tidur bersama dengan Vieeta.
Mereka pun kini menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai tiga, yang memang kebetulan kamar mereka akan dalam lantai yang sama.
Ting pintu lift pun terbuka ketika sudah sampai di lantai tiga. Dan mereka semua pun keluar dari lift menuju ke kamar.
Vieeta membantu mencari nomor kamar yang bernomor 223 yang ternyata bersebelahan dengan kamar Reza. setelah menemukan kamar para cowok ia pun meninggalkan ke empat cowok itu ke kamar dan membagi siapa yang akan tidur dengan Reza
Sementara Vieeta mengajak Mai Thao ke kamar nya untuk istirahat
"ayo Chi, kita ke kamar" ajak Vieeta ( anggap menggunakan bahasa inggris ya)
Mai Thao mengikuti langkah Vieeta, Vieeta pun menempelkan kartu dan terbukalah pintu kamar nya. Mereka pun masuk ke kamar
"silahkan Chi, mau istirahat dulu atau mau mandi dulu" tanya Vieeta dan mempersilahkan Mai Thao untuk melakukan yang mau di lakukan
"sebaiknya aku mandi dulu, gak enak soalnya badan lengket" tutur Mai thao lalu ia menaruh koper nya di sudut yang sama dengan koper milik Vieeta ia pun lalu mengambil baju ganti nya dan langsung menuju kamar mandi
"chi...aku ke kamar cowok- cowok dulu ya" pamit Vieeta karna takut nanti di cari
"ok..." dan Vieeta pun akhirnya keluar dari kamarnya dan menuju kamar para cowok.
...----------------...
Tok tok tok
Vieeta mengetuk pintu kamar Dat Thien, dan tak berapa lama pun langsung di buka oleh pemilik kamar
"Hai. Chi Viee mari masuk" ternyata yang membuka pintu adalah Anh Tuan Lam
"anh Dat Thien di dalam (anh adalah sebutan kakak/ mas dalam bahasa Vietnam)" tanya Vieeta yang kini masuk ke dalam
__ADS_1
"anh Dat lagi di balkon, tuh orang nya" tunjuk Anh Tuan
"Quan Khoi tidur sama siapa" tanya Vieeta karna tak melihat lelaki satu itu
"sama anh Reza" jawab Anh Tuan
Vieeta pun manggut- manggut lalu ia pun menyusul kekasihnya menuju balkon. " ya udah aku ke balkon dulu" yang mendapat anggukan dari Anh Tuan
"sedang apa" tanya Vieeta membuat Dat Thien sedikit terkejut dan menghadap ke arah Vieeta
"sejak kapan kamu di sini" tanya Dat thien menghampiri kekasihnya itu
"baru saja, kenapa gak istirahat" tanya Vieeta sembari memeluk pinggang kekasihnya itu
"nanti, masih pengen lihat pemandangan di sini" Dat Thien merangkul bahu Vieeta dengan mata yang menatap lurus ke depan melihat pemandangan pantai dari balkon kamar nya
"apakah kamu bahagia" tanya Dat Thien yang masih merangkul bahu Vieeta dengan dagu ia sandarkan di kepala Vieeta
"sangat bahagia, aku gak menyangka kita bisa bertemu sekarang" Vieeta mendongakan kepala nya menatap lelaki tampan yang ia cintai
"aku juga tak menyangka kita akan bertemu, aku benar- benar bahagia bisa mengenal mu. Dan menjadikan hidupku lebih berwarna" Dat Thien berucap sangat tulus dengan senyuman mengembang di wajah nya
"gak usah gombal deh" Vieeta mencubit pelan pinggang kekasih nya itu
"aku gak gombal, tapi itu semua adalah kejujuran ku mengungkapkan isi hati ku" Dat thien menangkup wajah Vieeta membuat Vieeta mendongakan wajah nya menatap wajah tampan kekasih nya itu ia menatap manik mata Dat Thien yang memancarkan ke jujuran dan kebahagiaan
"terimakasih sudah mau menerima ku, tetaplah bersama ku meski nanti ke depan nya kita tak pernah tau akan ada apa. Tapi aku mohon pada mu tetap lah bersama ku dan mencintai ku" pinta Dat Thien penuh harap
"aku akan selalu bersama mu dan selalu mencintai mu ,meski badai menghantam sekali pun aku tak akan goyah dan aku akan selalu bersama mu" Vieeta mengucapkan janji nya dan Dat Thien pun membawa tubuh Vieeta ke dalam pelukannya kembali
Mereka tak akan pernah tahu akan ada badai seperti apa ke depannya yang akan menimp hubungan mereka, karna tembok yang terlalu tinggi itu dan tentunya keterbatasan bahasa.
kini ereka menikmati suasana berdua di balkon tanpa menghiraukan dua orang yang sedang rebahan di kamar, karna bagi dua sejoli itu dunia milik mereka
berdua kini.
...****************...
kini Vieeta masih berada di kamar Dat Thien bersama Quan Khoi yang asik dengan ponselnya sembari bersandar di sandaran ranjang. dan Dat Thien pun sama ia fokus pada ponselnya.
Dat Thien pun langsung memberikan botol air minum namun masih fokus pada ponselnya, kemudian meminta Reza untuk mengambilkan obat
Vieeta pun meminum air yang di berikan Dat Thien . hingga Reza pun masuk ke dalam kamar mereka dan menghampiri Vieeta dan memberikan obat kepada Dat Thien
Dat Thien pun membuka obat itu dan akan mengoleskan pada bibir Vieeta
"kamu itu sedang sakit, bibir sariawan seperti itu" Dat Thien berucap sembari membuka bungkus obat
"buka mulut mu" pinta Dat Thien hendak mengobati bibir Vieeta yang sariawan
"nggak mau" tolak Vieeta
"biar cepat sembuh bibirnya" Dat Thien masih mencoba merayu. sementara Reza modar mandir keluar masuk kamar itu
"nggak mau" Vieeta terus menolak
"apa mau minum obat saja" Dat Thien masih tidak kehabisan akal untuk merayu Vieeta
"iya" jawab Vieeta mengangguk dengan telapak tangan yang di taruh di keningnya sendiri menahan sakit
Reza pun duduk di kasur yang sama jadi di tempat itu ada empat orang, Dat Thien turun untuk mengambil obat
"ini minum dua sekaligus" titah Dat Thien saat sudah mengambil obat dan kembali duduk di ranjang
"satu, bukan dua" protes Reza
"iya satu" sahut Vieeta membenarkan Reza
"satu itu untuk anak kecil, untuk orang dewasa itu dua" Dat Thien masih ngeyel
"over dosis nanti" ucap Reza yang kini membaca aturan pakai obat
"nggak overdosis, itu memang sudah anjuran nya anak-anak satu, untuk orang dewasa dua" tutur Dat Thien tetap dengan pendiriannya
__ADS_1
akhirnya Reza pun membuka obat itu sesuai yang di pinta Dat Thien yakni dua kapsul obat, Vieeta pun terpaksa meminu obat sekaligus dua
"ya sudah aku ke kamar mandi dulu" ucap Reza lalu ke berjalan ke arah kamar mandi
"sini bibirnya di obatin dulu, menghadap ke sini" Dat Thien meminta Vieeta menghadap ke arah dirinya
ia pun menurut karna demi kelancaran mengerjain kekasihnya itu. Dat Thien pun dengan telaten mengobti bibir Vieeta.
setelah selesai ia kembali duduk, Vieeta masih mencari momen yang pas.
"kak aku ke toilet dulu ya" karna jalan satu-satunya adalah itu
"hati-hati" Dat Thien memegangi lengan Vieeta takut jika terjatuh
Vieeta pun turun dari ranjang dengan lemas, saat berdiri ia terjatuh dan Dat Thien pun langsung sigap turun membantu Vieeta
"duduk sini, kamu gak baik-baik aja" Dat Thien nampak khawatir
Quan Khoi yang tadi fokus dengan ponselnya untuk mengerjakan sesuatu pun melihat ke arah keduanya.
"gak kok aku gak apa-apa" ucap Vieeta meyakinkan ia kembali berdiri namun tubuhnya langsung ambruk. Dat Thien panik
"Viee, Vieeta bangun" Dat Thien menepuk-nepuk pipi gadis itu
terlihat Quan Khoi juga panik ia mondar mandir dan hendak memanggil Reza, namun saat keluar ia tak menemuka Reza hingga ia pun masuk kembali ke kamar
"Quan tolong bantu" pinta Dat Thien untuk membantunya membopong Vieeta ke atas ranjang
Quan Khoi pun memabantu Dat Thien mengangkat tubuh wanit itu ke atas tempat tidur. terlihat wajah keduanya yang panik terlebih Dat Thien yang sudah berkaca-kaca ia sangat takut kekasih nya itu kenapa-kenapa.
keduanya nampak panik, Dat Thien masih mencoba membangunkan Vieeta sementara Quan Khoi masih mondar mandir untuk mencari sesuatu yang bisa mneyadarkan kembali gadis itu
di tengah kepanikan itu Vieeta sudah tidak bisa menahan tawanya, ia membalikan tubuhnya menjadi tengkurap. sesaat kedua lelaki itu terdiam tak berkata apa pun, sampai lah Vieeta bangun dan berteriak "Yey....berhasil hahahahaha" ucap Vieeta dengan tertawa ia lalu berdiri dan melompat di atas kasur empuk itu dan melompat turun
sementara Quan Khoi mengambil sandalnya dan memukul ****** Vieeta menggunakan Sandal" Hahahahahahaha" Vieeta malah tertawa dengan memegangi ****** nya yang di pukul Quan Khoi
dan dengan gemas Quan Khoi masih memukul ****** Vieeta, " dasar ya orang udah khawatir juga malah taunya di kerjain, nih rasain nih....PLAK" Quan Khoi dengan gemas memukul Vieeta. justru yang di pukul hanya tertawa
sementara Dat thien langsung menelungkupkan tubuhnya di bawah selimut dan bantal ke khawatirannya tadi masih membekas, ia menangis di bawah sana.
Viieta yang melihat itu langsung mengarah ke arah tempat tidur dan merayu Dat Thien kalau ia hanya main-main saja.
"kak maaf aku cuma main-main aja tadi" Vieeta menarik selimut yang menutupi tubuh Dat Thien namun usahanya itu gagal bahkan ia menarik bantal itu juga gagal
"kak, jangan marah dong" Vieeta menjadi khawatir
"hayo loh, marah kan" Quan Khoi malah menambah kepanikan
di saat seperti itu pula Reza keluar dari tempat persembunyiannya karna yang mengetahui itu hanyalah dirinya.
"hahahaha, kena kan kalian di kerjain" ucap Reza saat keluar dari persembunyiannya
"kenapa dia" tanya Reza pada Quan Khoi
"marah kayanya di kerjain tadi" jawab Quan Khoi ia kembali memukul Vieeta dengan sandal saking gemas nya
"Plak......PLAK...." Quan Khoi kembali memukul ****** Vieeta
"sakit lo kaka, udh...hahahahaha" ucap Vieeta namun masih dengan tertawa
"kak, ih sini liat aku" Vieeta berhasil membuka selimut dan menarik bantal itu namun Dat Thien masih mempertahankan bantalnya
"maafin aku kak" Vieeta masih merengek
"nangis kayanya dek" ucap Reza
"masa sih mas" Vieeta kembali penasaran ia menarik tangan Dat Thien agar melonggarkan tangannya yang menutupi wajah lelaki itu
"iya beneran nangis" ucap Vieeta saat kelihatan sedikit wajah kekasihnya itu
"kak maafin aku ya" Vieeta masih mencoba merayu dan Dat Thien pun menatap kekasihnya itu
"jangan di ulangin lagi, aku benar-benar khawatir " ucap Dat Thien pada akhirnya
__ADS_1
"iya janji gak ngulangin lagi" Vieeta berjanji dan tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...