cinta ku berlabuh di vietnam

cinta ku berlabuh di vietnam
kasih sayang seorang ibu


__ADS_3

Dat Thien dan Lam Phong kini sudah berada di bandara surabaya, mereka akan langsung menuju ke rumah ibu dari Vieeta menggunakan taksi onlaine. karena jarak yang lumayan jauh menuju ke rumah Vieeta sekitaran tiga jam.


setelah mengambil koper mereka pun langsung keluar bandara dan menuju taksi yang sudah di pesan tadi, meski keterbatasan bahasa namun ia bisa menggunakan translate di ponselnya. hingga membuatnya sedikit lebih mudah


setelah memberitahukan kepada supir taksi itu alamat yang akan mereka tuju. dan sang sopir faham, sopir taksi pun langsung melajukan mobilnya menuju alamat yang di tuju.


sepanjang perjalanan Lam Phong menatap takjub keluar jendela taksi. ia melihat hamparan luas persawahan yang hijau serta pepohonan rindang yang menghiasi jalanan membuat pagi itu terasa sejuk.


sementara Dat Thien ia sibuk dengan fikirannya sendiri, karena pesan dari penggemarnya semalam yang bisa di bilang adalah orang paling berpengaruh untuk mengurus para fans yang terkadang di luar batas.


Dat Thien sudah menganggap saudara, hingga mereka pun bisa menyampaikan apa yang di rasa secara langsung. dan itu yang di rasakannya sekarang, fans nya itu menginginkan Dat Thien bertemu dan duduk berdua dengan Vieeta menyelesaikan masalah mereka secara dari hati ke hati.


karena sejujurnya mereka merasa Dat Thien dan Vieeta hanya salah faham di karenakan perbedaan bahasa yang di awal mereka tak terlalu mengerti


dengan bahasa yang di gunakan masing-masing.


hingga tak terasa karena Dat Thien asik melamun mereka sudah sampai di tempat yang di tuju. Lam Phong pun menyadarkan Dat Thien yang melamun


"kak, benar ini rumahnya?" tanya Lam Phong menepuk bahu Dat Thien


dengan sedikit terkejut ia pun menatap rumah tingkat yang berlantai dua itu dan kemudian mengangguk. mereka pun turun dari mobil setelah membayar taksi tadi.


merek berdua pun berjalan ke halaman rumah Vieeta karena memang rumah nya tak ada pagar rumah. langkah mereka pun semakin dekat dengan teras rumah


"Assalamualaikum" Dat Thien mengucapkan salam seperti apa yang di ajarkan Vieeta selama ini, ia masih sangat mengingatnya dan akan selalu mempelajarinya


"waalaikumussalam....!!" jawab suara dari dalam rumah yang terdengar sedikit nyaring, mungkin di karenakan sang pemilik berada di belakang


tampak lah ibu Mutia keluar dari rumah yang memang pintunya tak tertutup itu, karena hanya di desa sudah biasa setiap pintu rumah orang-orang terbuka, meski sang pemilik berada di dapur.

__ADS_1


" Ya Allah...!!! Anak langang ku teko....." ibu Mutia dengan ekspresi yang tak bisa di gambarkan lagi dengan keterkejutannya, ia langsung mengahmpiri Dat Thien dan memeluknya erat. ia tak peduli jika para tetangga melihat nya aneh karena memeluk orang asing.


meski terkenal di kalangan muda mudi dan para orang tua, terkadang para tetangga justru banyak yang tak tahu, karena tidak semua melihat ponsel setiap hari kalau tidak di tunjukan oleh anak-anak mereka.


"Ya Allah kok luwih kurus kowe, nak (kok semakin kurus kamu nak)" ibu Mutia memegang pipi Dat Thien dengn kedua tangannya kemudian ia memgang pergelangan tangan Dat Thien, setiap inci ia perhatikan, dengan linangan air mata kerinduan ia tumpahkan


Dat Thien tersenyum kemudian mengahpus air mata yang membasahi pipi wanita yang sudah tak muda lagi itu.


Lam Phong hanya memperhatikan saja interaksi ke duanya.


"ayo masuk....masuk" ibu Mutia kemudian mempersilahkan kedua tamunay masuk ke dalam rumah, dengan menggandeng sang mantu idaman yang tak jadi itu.


mereka pun kemudian duduk di kursi kayu yang terbuat dari kayu jati itu yang berada di ruang tamu.


"sebentar ya mama bikin kan minuman dulu" ibu Mutia langsung beranjak dari duduk nya dan menuju dapur


"itu Dat Thien pak" jawab ibu Mutia yang kini tengah sibuk membuat teh hangat


"loh...bukane di vietnam " suami ibu Mutia nampak terkejut


"enggak pak, kemarin dia ada kerjaan di bali. terus ibu suruh mampir ke sini" ucap ibu Mutia yang kini sudah menaruh tiga gelas teh di atas nampan


"ayok pak, kita ke depan" ajak ibu Mutia dan sang suami pun mengikuti ke depan


sesampainya di ruanng tamu Dat Thien yang melihat ayah sambung Vieeta itu pun langsung bangun sari duduknya dan menyalami, di ikuti oleh Lam Phong


"ini silahkan di minum tehnya" ibu Mutia menaruh gelas berisi teh di depan masing-masing orang yang ia suguhi, dan kemudian ikut duduk di sana


"papa, bagai mana kabarnya sehat" tanya Dat Thien

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat nak....nak Dat Thien sendiri bagai mana?" tanya balik papa Vieeta


"baik pa" jawab Dat Thien dengan tersenyum


"ini siapa?" tanya papa Vieeta pada pemuda di sebelah Dat Thien


"oh ..iya..kenalkan dia Lam Phong teman saya sekaligus keluarga saya" Dat Thien memperkenalkan Lam Phong dan langsung di sambut senyuman dan tundukan oleh Lam Phong


"nak Dat Thien di indonesia berapa lama?" tanya ibu Mutia setelah tadi mendengarkan obrolan ringan seputaran tanya kabar dari sang suami


"besok saya sudah pulang ma" jawab Dat Thien dengan tersenyum


"kenapa sebentar seklai" ibu Mutia tampak kecewa


"iya karena pekerjaan sudah selesai di sini" Dat Thien sebenarnya merasa tidak enak karena melihat raut wajah ibu dari perempuan yang ia cintai itu tampak sedih.


namun mau bagai mana lagi, ia sudah berjanji pada diri sendiri ia tak akan ke indonesia jika tak ada tujuannya, dan kali ini ia menjejakan kaki di indonesia karena permintaan ibu dari wanita yang ia cintai. meski di selingi oleh pekerjaan tadinya


namun ia berjanji pada diri sendiri tidak akan mendatangi daerah tempat Vieeta tinggal kecuali jika ada tujuan yang jelas.


"sudah bu, jangan di bikin sedih kasihan nam Dat Thien nanti bu. asal dia masih ingat kita itu sudah jadi kebahagiaan untuk kita bu" papa Vieeta mengelus bahu sang istri agar ia lebih tenang


"maaf ma....karena Dat Thien tidak bisa lama di sini, tapi nanti pasti Dat akan selalu menghubungi mama" Dat Thien menggenggam jemari ibu Mutia untuk meyakinkannya


"iya nak...tidak apa karena kamu juga punya keluarga di sana, mama sudah senang karena kamu masih sudi mampir ke rumah" ibu Mutia menghapus bulir bening di pelupuk matanya yang menetes ke pipi


"iya ma, sampai kapan pun mama akan tetap jadi mama ku yang berada di indonesia" Dat Thien tersenyum sangat manis karena ia tak akan pernah melupakan kedua orang tua Vieeta itu


di kala bincang-bincang kedua keluarga itu, Lam Phong yang tak tahu apa-apa dengan percakapan mereka ia malah asik minum teh hangat dan juga makan camilan, yang cocok juga di lidah nya. karena Lam Phong bukan seorang yang pemilih makanan asalkan makanan itu cocok dan enak di lidah nya maka ia akan makan.

__ADS_1


__ADS_2