
Setelah semua pekerjaan selesai kini mereka sudah berada di jakarta, Vieeta kembali kepada aktifitas nya dan Reza pun kembali ke aktifitasnya. Sementara Quan Khoi kembali ke negaranya.
Hari-hari Vieeta lalui sendiri dan terkadang berkirim kabar dengan sang keksih Dat Thien. Namun malam ini pembahasan mereka sangat serius, hingga membuat Vieeta harus banyak menjelaskan
"jika kita menikah apakah tidak bisa dalam dua agama?" tanya Dat Thien karna sejujurnya ia masih belum faham
"tidak bisa, karna itu sangat di larang di agama ku. Dua orang yang berbeda agama tidak bisa menikah kecuali masuk ke agama yang sama karna itu akan termasuk zinah dan tidak sah" jawab Vieeta menjelaskan meski harus di bantu menggunakan translet entah apakah perkataannya yang di maksud benar atau tidak
"apakah kamu mau masuk agama ku?" tanya Dat Thien lagi ia sejujurnya ragu jika Vieeta akan menjawab iya karna melihat penampilan Vieeta sudah pasti gadis itu kuat akan agamanya
"maaf aku tidak bisa meninggalkan agama ku, jika kakak mau menikah dengan ku maka kakak harus ikut agama ku!" jawab Vieeta tegas, bagai mana pun ia tidak akan pernah meninggalkan agamanya karna ia selalu mengingat pesan ibunya, untuk tetap memegang teguh agama nya.
"lantas jika aku masuk agama mu, apakah anak ku juga harus ikut agama kita? dan apakah anak ku juga harus memakai penutup kepala " pertanyaan demi pertanyaan Dat Thien ia lontarkan demi mencari titik terang
"islam tidak memaksa seseorang untuk mengikutinya, namun wanita muslim memang di wajibkan memakai penutup kepala. Meski tidak semua orang menjalaninya" jawab Vieeta menjelaskan
"tapi aku tidak bisa membiarkan anak ku memakai penutup kepala, karna di agama ku anak-anak di bebaskan memilih agamanya" ucap Dat Thien agak sedikit tidak pas dengan yang di bilang Vieeta karna mereka menggunakan translet yang sudah pasti ada terjemahan yang tidak pas
"itu terserah kakak karna aku tidak memaksa untuk kakak tetap bertahan dengan ku. Karna sedari awal kita memang berbeda keyakinan!" ucap Vieeta
"aku tidak masalah ikut dengan keyakinan mu , tetapi anak ku bagai mana? " pertanyaan itu kembali terucap oleh Dat Thien
"Cara masih bisa dengan agamanya, tidak ada yang melarang dia untuk ikut siapa" jawab Vieeta memberikan pengertian
"kalau kakak masih bingung kita bicarakan ini lain kali saja, sampai kakak benar-benar yakin jalani saja dulu jangan terlalu terburu-buru " lanjutnya
dan Dat Thien pun sesaat termangu dan kemudian ia mengangguk. ia sadar sesuatu yang di paksakan tidak akan baik nantinya
"ya sudah kamu tidur, ini sudah malam" titah Dat Thien
"kakak juga ya, jangan tidur malam-malam...god ninght" Vieeta melambaikan tangannya dan kemudian ia tersenyum
__ADS_1
"mimpi indah" Dat Thien pun melambaikan tangannya dan juga tersenyum
Tak lama panggilan vidio pun berakhir, Vieeta yang kini membaringkan tubuhnya di ranjang dengan mendekap ponsel di atas perutnya memikirkan sesuatu yang begitu rumit di kepalanya.
"ya Allah ku serahkan semua pada mu, jika memang kami berjodoh maka mudahkan lah untuk kami melangkah ke jenjang lebih serius. Jika memang dia bukan jodoh ku maka jangan kau biarkan aku mencintai nya terlalu dalam" ucap Vieeta dalam hati dan tanpa terasa bulir bening membasahi pipinya
ada rasa sakit dengan ucapan terakhirnya barusan, namun ia mencoba iklas jika memang itu sudah menjadi kehendak dari Allah.
Ia pun menghapus air mata yang meleleh di pipinya, dan kemudian Vieeta menarik selimut dan mulai memejamkan matanya.
...----------------...
Sehabis vidio call dengan Vieeta kini Dat Thien termangu di kursinya, ia memikirkan sesuatu hal yang di ucapkan Vieeta tadi.
Dat Thien pun kemudian mengambil ponsel miliknya, dan mulai berselancar di google mencari tahu bagai mana tentang islam. Dat Thien membaca satu persatu artikel yang cocok dengan yang ia cari
dan ia pun menemukan satu artikel tentang islam sama persis dengan yang di ucapkan Vieeta tadi, bahwa memang tidak di perbolehkan menikah dalam dua agama. Membuat Dat Thien pun membuang nafas nya kasar, ia sangat mencintai kekasihnya itu namun ia pun masih ragu bagai mana nanti anaknya apalagi tadi sepertinya ada sesuatu yang salah dalam percakapan mereka
"sepertinya tadi ada sesuatu yang mengganjal dengan apa yang di ucapkan Vieeta. Namun entah itu apa!" Dat Thien masih termangu
Dat Thien kembali lagi menatap ponselnya dan terus mencari tentang islam di artikel tersebut, ia bersungguh-sungguh ingin mempelajari itu semua tanpa sepengetahuan siapa pun. Karna ia ingin mempelajarinya dari hati bukan hanya sekedar ucapan belaka
Dat Thien terus membaca hingga larut malam, karna merasa matanya mulai lelah baru lah Dat Thien mengakhiri aktifitasnya.
Ia menaruh ponselnya dan kemudian berjalan menuju ranjang dan mulai membaringkan tubuhnya di ranjang dengan melipat lengan di bawah kepalanya sebagai bantalan
Tanpa terasa ia pun memejamkan matanya dan mulai tidur terlelap.
Dalam suatu hubungan pasti ada pasang surut nya, dan banyak kendalanya. entah itu dari agama, restu orang tua, perbedaan pendapat, kepercayaan satu sama lain, dan masih banyak kendala yang lainnya
namun semua perbedaan dapat di sikapi dengan memikirkan matang-matang ,apakah akan melangkah lebih maju ke depan atau kan hanya diam di tempat, dan apakah akan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
semua tergantung dari pemikiran masing-masing. orang seperti apa, jika hanya diam di tempat maka tidak ada kemajuan, jika memilih pergi hubungan yang telah di bina akan hancur sia-sia namun jika tetap bertahan dan memikirkan matang-matang maka akan mendapatkan apa yang di mau. dan juga akan bersama pujaan hati untuk menempuh hidup baru
Jika masih bisa di jangkau maka pertahankan, namun jika sangat sulit di jangkau maka lepaskan lah secara perlahan .agar tak terlalu merasakan sakit yang begitu dalam dan perlahan akan mudah melupakannya
•
•
•
Pagi hari nya Vieeta sudah bangun dari tidurnya, ia sudah mandi dan memakai pakaian rapi karna hari ini ia akan menjalani rutinitas pekerjaan yang sudah menumpuk.
"sudah rapi kak" tanya bunda Aisah
"iya bun, hari ini kakak mau ada kerjaan di luar" jawab Vieeta dengan tersenyum sembari menyiapkan tasnya
"ya udah kita sarapan dulu" ajak bunda Aisah
"iya bun" Vieeta pun telah siap dan mereka pun menuju meja makan untuk sarapan pagi.
Semua kini berada di meja makan dan merka pun sarapan pagi bersama-sama. Vieeta pun hanya makan sedikit karna ia harus buru-buru
"bun kakak sudah ya, soalnya ini sudah di tunggu temen" ucap Vieeta ia meminum air putih dan langsung berdiri dan menyelempangkan tas di pundaknya
"ya sudah hati-hati di jalan ya, apa mau bareng sama ayah" tanya ayah Branden
"enggak usah yah, kaka tadi sudah pesen taksi onlain kok" tolak Vieeta halus
"ya sudah bun, yah. Kakak berangkat dulu" Vieeta menyalami kedua orang tua angkatnya itu
"Assaalamualaikum" ucap Vieeta sebelum melangkah keluar
__ADS_1
"waalaikumsalam" jawab bunda Aisah dan ayah Branden
Vieeta pun berjalan menuju pintu utama rumah dan terlihat taksi yang ia pesan sudah terparkir di depan rumah. Vieeta pun langsung menuju taksi dan masuk ke dalam taksi dan meminta supir taksi itu mengantarkannya ke alamat yang ia sebutkan. Mobil pun melaju meninggalkan kediaman bunda Aisah dan memecah jalanan kota jakarta yang padat kendaraan.