Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Masih Ngambek


__ADS_3

Kebetulan keluarga Kinan, Galih dan anak-anaknya tidak bisa hadir karena sedang liburan ke Singapura. Mereka tadi sempat Video Call untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Oma dengan janji akan pulang lebih awal supaya bisa memberikan oleh-oleh.


Vina terkekeh begitu saja. " Banget. Biasanya kalian berdua tuh suka nempel. Kemana-mana aja mesti berdua. Tapi tadi pas Mbak masuk kerumah pada jauh-jauhan. Apalagi namanya kalau bukan berantem. Emang ada masalah apa sih? Jarang-jarang Lo Mbak lihat kalian berantem gitu?"


Lola menghela nafas. " Sebenarnya gak berantem sampai adu mulut gitu, cuma aku tuh sengaja gak mau ngomong sama Mas Arvi. Habisnya tadi pagi dia bikin kesel."


" Kesel, kenapa?" Kekeh Vina yang selama tiga tahun ini sudah menjelma bagaikan kakak bagi Lola. Hubungan mereka semakin dekat setelah ia menikah dengan Arvi. Tak jarang pula mereka pergi bersama untuk sekedar hangout dan ke salon. Tidak lupa mengajak Kinan, Iparnya yang lain kalau dia sedang tak ada kesibukan.


" Tadi pagi Mas Arvi berinisiatif nyiapin sarapan untuk aku. Dia bikin roti sama susu. Karena Jarang-jarang dia begitu, ya aku seneng dong. Eh taunya pas lihat dapur semuanya berantakan. Sampai piring keramik yang aku beli impor dari Jepang pecah. Untung cuma satu, Mbak." Adu Lola berapi-api membuat Vina tertawa kencang.


" Wait, wait pantesan muka Arvi dari tadi asem banget. Beneran berantem ternyata?"


" Gak berantem juga sih soalnya langsung aku diemin aja. Bayangin deh Mbak padahal cuma bikin roti sama susu, tapi dapur udah kayak kapal pecah," keluh Lola sambil geleng-geleng kepala heran. " Gak lagi deh aku biarin Mas Arvi bikinin sarapan."


Dengan sisa tawa yang masih ada di bibir Vina lantas bercelituk. " Tapi La kalau dipikir-pikir sebenarnya niat Arvi tuh baik gak sih? Dia berinisiatif nyiapin sarapan buat kamu. Kalau Mas Yazid mah boro-boro mau begitu. Orang aku pas tidur aja langsung dibangunin kalau dia udah kelaperan." Ucap Vina membeberkan. " Bukannya mau banding-bandingin tapi kalau dibandingkan dengan Mas Yazid sama Mas Galih aku pikir Arvi itu lebih sweet lho dalam memperlakukan istri. Ya walaupun sebenarnya mereka bertiga itu sama aja cueknya, tapi Arvi tuh jauh lebih mending."


Lola manggut-manggut mendengarnya. Apa yang dikatakan Vina jelas ada benarnya. Tidak kehitung berapa kali Lola sudah dipelototi dan ditatap sinis oleh Galih dan Yazid. Mereka berdua memang tampan tapi disisi lain juga punya sisi menyeramkan yang membuat Lola kadang lebih milih menghindar jika bertemu dengan kedua kakak beradik itu.


Sementara Arvi, suaminya itu walau pada awalnya dulu juga terkesan cuek dan dingin tapi Lola tak pernah merasa takut atau sensi saat mendekatinya.


" Tuh, tuh Arvi liatin kamu lagi." Bisik Vina sambil memberi kode pada Lola lewat matanya.


Lola bukannya tak tahu, dia hanya pura-pura tak menyadari saja bahwa sedari tadi Arvi memang terus-terusan mencuri-curi pandang kearahnya.


" Udah minta maaf belum, dia?"


" Udah minta maaf dirumah tadi." Jawab Lola.

__ADS_1


" Diulang-ulang terus malah."


" Kalau Mas Yazid mah boro-boro mau minta maaf. Kadang aku lagi marah aja dia suka gak peka. Eh tau-tau besoknya udah baikan karena gak tahan diem-dieman terus." Curhat Vina sebelum mengambil Elsa yang rewel dipelukan Lola. " Udah waktunya Elsa tidur. Mbak bawa ke kamar atas dulu ya. Kalian mending baikan gih sana. Gak baik tahu suami istri diem-dieman gitu."


" Iya, Mbak." Kata Lola lalu melepas kepergian Vina yang kini mulai menaiki anak tangga.


Kini ia duduk sendirian disofa sambil memikirkan apa ia harus mulai berbaikan dengan suaminya itu.


***


Arvi mengambil langkah untuk mendekati Lola yang kini tampak asik bermain dengan Rehan, keponakan nya dengan Gembul berada dipangkuannya.


" Tante Gembul ini cowok apa cewek?" Tanya anak laki-laki berumur sembilan tahun itu lantas membuat Lola tertawa.


Arvi menarik sudut bibirnya. Dia selalu suka setiap kali melihat Lola tertawa. Tidak hanya melihat, tapi juga mendengar suara wanita itu yang terdengar merdu.


" Dia cowok." Balas Lola merasa geli karena Rehan tidak menggunakan kata Jantan atau betina untuk menamai jenis kelamin hewan. " Atau bisa disebut jantan."


" Oh ya? Coba Tante lihat dulu mukanya." Lola mengangkat Gembul tinggi-tinggi. " Beneran cantik gak nih?" Kekehnya membuat Gembul lantas membuang wajah dengan ekspresi malas.


Mungkin dalam benaknya ia mengatakan dasar manusia sinting!.


" Aku juga mau melihara kucing, tapi kata Papa gak boleh," rengut Rehan.


" Kenapa gak boleh?" Lola bertanya sambil menatap lekat wajah keponakannya itu yang terlihat sangat tampan walau usianya masih tergolong anak-anak. Kulitnya bersih dengan sepasang alis tebal, hidung mancung, bibir tebal serta dagu yang terbelah.


Sepertinya gen orangtuanya bekerja dengan sangat baik.

__ADS_1


" Papa bilang aku belum bisa jaga kucing dengan baik. Katanya aku masih belum bertanggung jawab."


" Memelihara kucing itu emang gak semudah kelihatannya, Rehan. Papa gak sepenuhnya salah kok. Mungkin nanti kalau kamu udah sedikit dewasa Papa kamu bakal ngizinin. " Jelas Lola sambil mengulas senyum. " Sekarang mainnya sama Gembul aja ya." Lanjutnya membuat Rehan lantas mengangguk.


Arvi menatap kedua orang yang sedang duduk diteras samping itu dengan tatapan menghangat. Lola bisa dibilang sangat akrab dengan semua keponakannya. Bahkan dengan Rehan yang notabene nya kaku dan canggung dengan orang baru sekali pun. Mereka akrab hanya dalam beberapa kali pertemuan.


" Rehan mana?"


Arvi tersentak saat sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya. Suara yang ternyata berasal dari kakaknya, Yazid.


" Itu lagi sama Lola."


" Dia kan harus pergi les," ujar Yazid sebelum berjalan mendekati sang anak yang disusul oleh Arvi dibelakang.


" Rehan ayo pulang. Kamu harus pergi les."


Lola dan Rehan yang masih asik mengobrol sontak menoleh mendengar suara itu.


Raut wajah Rehan yang tadinya antusias mendadak muram seketika. " Tapi aku masih mau main disini sama Tante dan Gembul."


" Mainnya bisa nanti, Rehan. Sekarang kamu harus siap-siap. Miss Lina sudah menunggu."


Lola yang menyadari betul kalau Rehan terlihat enggan lantas bersuara. " Rehan les dulu ya, nanti bisa main sama Gembul lagi. Tante gak akan pulang kok sebelum Rehan selesai les."


" Papa boleh gak selesai les Rehan  kesini lagi?" Pinta Rehan pada sang Ayah.


" Rehan, papa sibuk. Gak ada waktu buat nganterin kamu kesini lagi. Adik kamu juga sejak tadi rewel. Selesai les kamu harus pulang kerumah."

__ADS_1


Rehan berdecak tak setuju. " Tapi aku mau main disini, aku gak mau pergi les."


" Rehan jangan membantah!" Seru Yazid mulai menaikkan intonasinya membuat Rehan lantas memegang tangan Lola untuk meminta perlindungan.


__ADS_2