
Lola beralih dari room chat grup-nya bersama Risa dan Angel menuju room chat-nya bersama suami. Bisa dibilang sekarang dia sudah sangat rapi. Tinggal menunggu suaminya itu datang untuk menjemputnya pergi ke acara reuni yang akan di adakan di SMA-nya dulu.
[ Mas, dimana? Jadikan temani aku ke acara reuni?]
Lola menimbang-nimbang ponselnya sambil mematut tubuh di depan cermin. Sore ini dia terlihat sangat cantik dalam balutan kemeja long dress berwarna coklat dengan celana kulot warna putih yang sedikit menggantung. Bersama outfit ini dia ingin memperlihatkan sisi dewasa dan elegan.
Karena teman-teman SMA nya selalu mengenalnya sebagai pribadi simple yang selalu menjadikan crop, serta Hoodie sebagai kebangsaan yang selalu ia pakai kemana-mana.
Saat sedang fokus membubuhkan lipstik di bibirnya, Lola dikagetkan dengan bunyi dering ponsel. Senyumnya sontak merekah saat melihat nama Arvi tertera disana.
" Halo Mas, udah dimana?" Serbu Lola cepat bahkan sebelum mendengar suara Arvi di ujung sana.
" Halo sayang, emm kayaknya Mas gak bisa nemenin kamu ke acara reuni hari ini."
" Ha? Kenapa, Mas? Tadi pagi katanya bisa kok sekarang gak bisa?" Lola seketika melebarkan mata.
" Syutingnya masih belum selesai."
" Kapan selesainya? Aku tunggu." Balas Lola. Daripada ia pergi ke sana sendirian lebih baik ia menunggu Arvi dengan kemungkinan datang terlambat.
" Masih lama." Ucapnya sebelum memberi solusi. " Kamu perginya reuninya sendiri aja ya. Nanti pulangnya tetap Mas jemput."
" Masssss." Rengek Lola tak terima. Masalahnya ini tuh acara reuni. Semua orang pasti datang ke sana bersama pasangan masing-masing. Akan aneh kalau Lola kesana sendirian. Ya walaupun ada Risa dan Angel juga disana, tetap saja mereka pasti akan sibuk dengan suaminya masing-masing.
" Maaf ya sayang." Ucap Arvi tampak menyesal. " Tapi pulangnya tetap Mas jemput kok. Nanti kabari aja kalau kamu udah pulang. Ya?" Bujuknya.
" Gak usah deh. Aku gak jadi pergi." Balas Lola yang sudah kehilangan mood untuk bepergian. Kalau tahu begitu mending sejak awal tidak usah saja mengumbar janji akan menemaninya.
" Sayang marah?" Tanya Arvi di ujung sana memastikan dengan suara teriakan yang samar-samar terdengar.
" Enggak. Udah Mas lanjut aja syutingnya. Aku mau tidur." Balas Lola sebelum akhirnya menutup telepon begitu saja.
Seperti yang ia katakan tadi mood-nya untuk bepergian sudah menghilang entah kemana. Kalian tahu bagaimana kesalnya saat sudah berpakaian rapi tiba-tiba rencana pergi batal begitu saja. Ya begitulah yang Lola rasakan saat ini.
__ADS_1
***
" Good! Makasih atas kerja samanya hari ini. Kita sambung besok!"
Setelah mendengar kalimat ini keluar dari mulut sang sutradara Arvi sontak buru-buru mendekat ke arah Karina, asistennya.
" Baju gue tadi mana, Rin?" Tanyanya membuat Karina langsung memberikan Tote bag berisi pakaian tersebut pada pria itu.
" Lo mau pulang sekarang, Vi?" Tanya wanita itu sebelum Arvi pergi ke ruang ganti untuk menemani Lola pergi ke acara reuni sekolahnya.
" Tapi kata pak Aji artis, kru kamera, asisten dan lainnya belum pada boleh pulang semua."
" Kenapa belum boleh? Syutingnya kan sudah selesai." Ujar Arvi dengan kerutan di dahinya.
Karina tampak melirik ke sekitar sebelum akhirnya membisikkan sesuatu pada Arvi. " Katanya habis ini kita semua mau diundang Yasmin buat makan malam."
" Dalam rangka apa?"
" Ini adalah ulang tahun dia." Beber Karina. " Lo gak tahu?"
" Telat." Sahut Karina dengan bola mata yang bergerak spontan ke arah lain. " Karena Yasmin udah mau jalan kesini."
Arvi sontak memutar badan untuk mengikuti arah mata Karina. Dan benar terlihat Yasmin mulai berjalan ke arah mereka dengan senyum lebar di bibirnya.
" Hai, kok masih pada disini?" Ucap wanita itu. " Its my birthday. Aku baru aja pesan banyak makanan untuk rayainnya sama-sama. Ayo kumpul disana."
" Sorry. Yasmin kayaknya gue_____?"
" No, untuk hari ini aku gak mau dengar penolakan. Arvi please, its my birthday." Pintanya. " Sahabat mana yang tega ninggalin sahabatnya yang lagi ulang tahun."
Arvi mengernyitkan dahi. Dia tak pernah membela dirinya sebagai sahabat Yasmin. Mereka bisa dekat hanya karena sering di pasangkan bersama.
" Ayo gabung sama yang lain." Lagi-lagi Yasmin berucap dengan mimik wajah yang tampak mengiba.
__ADS_1
Arvi tampak menghela nafas panjang. Jika sudah begini ia pasti akan segan untuk menolak. Rasanya aneh kalau tiba-tiba ia pergi begitu saja di saat semua orang masih berkumpul di lokasi syuting untuk merayakan ulang tahun Yasmin.
" Gimana?" Tanya Yasmin lagi dengan satu alis terangkat.
Arvi tampak membasahi bibir bawah dilema sebelum akhirnya mengangguk setuju. " Okey." Ucapnya membuat Yasmin lantas berseru girang.
" Thank you, Arvi. Kamu memang partner terbaik sedunia."
***
" Yakin La, Lo gak mau pergi?"
" Ya ampun, Gar. Mau berapa kali sih gue harus bilang ke Lo kalau gue gak bisa pergi." Balas Lola sambil menghempaskan tubuhnya yang sudah di balut piyama tidur ke kasur.
" Ya padahal gue berharap Lo bisa pergi." Terdengar nada kekecewaan tersirat di suara pria itu.
" Gue beneran gak bisa pergi. Kalo Lo mau pergi. Pergi aja sana. Ada Risa dan Angel juga."
" Tapi kalo gak ada Lo gak rame La." Ungkap Enggar.
Lola terdiam seketika. Enggar memang jadi salah satunya orang yang bersemangat untuk pergi ke acara reuni saat ia sendiri mengatakan akan pergi juga. Dengan begitu antusias pria itu bahkan juga ikut merencanakan apa-apa saja yang akan mereka lakukan disana. Tak heran kalau Enggar tampak kecewa pada Lola saat mengatakan kalau dia tak bisa pergi.
" Yaudah deh kalau gitu gue juga gak jadi pergi."
" Gar, Lo gak perlu sampai segitunya." Helaan nafas Lola sontak memberat. " Just go."
" Kayaknya setelah gue pikir-pikir gue juga gak bisa deh. Lagian apa bagusnya acara reuni? Mending gue tidur di rumah." Kekeh pria itu membuat Lola lantas terheran-heran. Lah padahal sebelumnya dia sendiri yang begitu antusias untuk pergi ke sana. Dasar Enggar!
" Kok gitu?"
" Yaudah ya La, gue tutup dulu telponnya. Gue lupa kalau jemuran di atas belum diangkat. Byee."
Lola sontak mengerutkan dahi saat Enggar tiba-tiba mematikan telponnya. " Ini anak kenapa, sih?" Lola geleng-geleng kepala tak habis pikir salah rasanya agak aneh menyebut seorang pria berusia dua puluh delapan tahun dengan sebutan anak. Tapi mau gimana lagi? Lola terbiasa memanggil Enggar seperti itu.
__ADS_1
Mengabaikan keanehan Enggar, Lola pun beralih membuka aplikasi Instagram nya. Kebiasaan sebelum tidur, ia akan menjelajah ke Instagram dulu. Melihat beberapa postingan sebelum akhirnya tertidur dengan sendirinya.