
"Tetep aja pasti ada yang tertinggal." Sahut Oma kekeh, "belum lagi virus dan bakteri yang ada pada kucing itu."
"Oma gak perlu khawatir, kami selalu rutin bawa Gembul periksa ke dokter hewan kok."
"Gara-gara kucing itu Oma jadi kepikiran satu hal."
Arvi mengangkat satu alis tinggi, "kepikiran apa?"
"Jangan-jangan penyebab Lola belum hamil juga karena kucing itu."
"Maksud Oma?" Arvi benar-benar tak mengerti. Lagipula apa hubungannya memelihara kucing dengan kehamilan?
Oma mendesis pelan, "kamu gak tahu ya kalau penyebab orang mandul tu biasanya karena dia suka memelihara kucing."
"Tapi Lola gak mandul Oma," tanggap Arvi cepat. Entah kenapa merasa tersinggung dengan ucapan wanita itu barusan, "dan tentang Gembul aku kan udah bilang kalah kami rutin untuk bawa dia ke dokter hewan."
"Kalau benar Lola gak mandul suruh dia untuk berhenti memelihara kucing itu lagi sebelum semuanya terlambat," peringat Oma membuat Arvi lantas menghela nafas panjang.
Bagaimana mungkin Arvi bisa meminta Lola berhenti memelihara Gembul saat kucing itu sendiri sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri? Mustahil, bagi Lola jelas Gembul bukan hanya sekedar kucing. Tapi juga sudah menjelma bagaikan teman, sahabat bahkan anak sekalipun.
"Gak mungkin Oma, Lola jelas gak setuju."
"Dia harus setuju!" Seru Oma seakan tak terima penolakan, melihat Lola dengan santainya mencium dan menempelkan wajahnya pada kucing itu entah kenapa membuat perasaannya jadi tak enak. "Atau kamu mau Oma yang ngasih ini semua pada Lola."
Arvi menggeleng cepat, kalau Oma yang bicara ada kemungkinan nanti Lola akan merasa sakit hati dengan ucapan wanita itu yang menusuk.
"Biar nanti aku yang coba bicara dengan Lola," putus Arvi dengan helaan nafas memberat. Ia sendiri pun tak yakin bisa membicarakan hal ini dengan Lola.
Bukan hanya Lola, dia sendiri pun rasanya juga tak setuju kalau mereka berdua harus berhenti memelihara Gembul.
"Baguslah kalau begitu."
Bahkan sebelum Oma dan Arvi sempat memberitahunya, Lola jelas sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Karena sedari tadi ia memang menguping pembicaraan keduanya lantaran lupa bawa dompet.
***
__ADS_1
"Sampai kapanpun aku gak akan pernah berhenti memelihara Gembul," ucap Lola tiba-tiba usai melepas kepergian Oma dan mertuanya di pekarangan rumah. "Aku sengaja ngomong ini lebih awal supaya Mas gak perlu susah payah merangkai kata buat bujuk aku."
Arvi yang menyadari bahwa ternyata Lola sudah mengetahui semuanya bahkan sebelum ia memberitahu sontak melebarkan mata.
"Sayang, Mas juga gak mau misahin kamu sama Gembul."
"Kenapa sih Oma selalu aja ikut campur dalam urusan rumah tangga kita?" Sergah Lola tak suka.
"Sayang bukan begitu, Oma cuma khawatir."
Lola sontak mendecih sambil memutar mata, "khawatir apanya? Jelas-jelas Oma selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kita. Mulai dari rumah, kesuburan ku, kamu dan sekarang Gembul juga yang kena. Hanys karena dia Oma kamu bukan berarti dia punya hak untuk ikut campur."
Arvi dapat melihat muka Lola merah padam dengan dadanya yang bergerak naik turun. Kalau Lola sudah memanggilnya dengan sebutan 'kamu' bukan 'Mas' itu tandanya dunia sedang tidak baik-baik saja, "sayang, jangan marah. Mas gak akan minta kamu buat berhenti melihara kucing. Kita bisa bicarakannya baik-baik."
"Mas bisa gak sih mulai bersikap tegas pada Oma? Alasan aku belum hamil juga sama sekali gak ada sangkut pautnya dengan Gembul."
Arvi yang merasa suara Lola mulai bergetar lantas memeluk istrinya itu, membuat Lola yang awalnya menolak sambil berulangkali mendorong dada Arvi sontak terdiam. Saat pria itu mulai mengusap rambutnya.
"Mas janji ini kali terakhir Oma bersikap seperti itu," ujar Arvi yang di tanggapi Lola dengan gelengan keras.
"Serius, Mas janji." Arvi melepas pelukan sebelum akhirnya menangkup kedua pipi Lola.
Terlihat wajah istrinya itu tampak masih kesal dengan bola mata yang terus berotasi, ditambah bibir tipisnya yang cemberut membuat Arvi jadi semakin gemas dibuatnya.
"Udah ya?"
"Apanya yang udah?" Lola balik bertanya dengan mata melotot tajam.
"Marah-marahnya," Arvi menyelipkan anak rambut Lola di telinga. "Kamu tahu kan kalau orangtua kadang punya kekhawatiran yang berlebih?"
Lola tak menjawab hanya bola matanya saja yang sibuk berpencar ke arah lain.
"Sayang, lihat Mas dulu," pinta Arvi sambil menahan wajah Lola agar hanya melihat ke arahnya.
Lola memejamkan mata lelah sebelum menatap wajah tampan milik Arvi dengan mata yang di buka lebar-lebar.
__ADS_1
"Mas, janji ini yang terakhir kalinya, okey?"
"Hm," Lola berdehem malas. Entah kenapa ia merasa sulit untuk mempercayainya.
"Jangan marah lagi ya?" Arvi kembali membawa Lola dalam pelukannya.
Lola sebenarnya ingin mengelak dengan mendorong dada Arvi, tapi sayangnya tak bisa karena alih-alih menepis pria itu agar menjauh darinya. Lola malah luluh dan balik memeluk Arvi kuat erat, terlebih saat tangannya kini mulai mengelus puncak rambutnya dengan lembut.
"Aduduh, ada syuting sinetron apa ini ibu-ibu?"
Keduanya tersentak saat tiba-tiba segerombolan ibu-ibu yang kelihatannya baru saja pulang pengajian memergoki mereka yang tadinya sedang berpelukan. Menyadari hal itu pipi Lola sontak memerah seketika.
"Duh, Kenapa harus ibu-ibu sih?" Rungutnya dalam hati.
Tahu kalau istrinya itu merasa malu, Arvi kembali menyembunyikan wajah Lola di dadanya.
"Kami gak lagi syuting sinetron kok, Bu. Ini istri saya lagi ngambek."
"Oalah," sahut salah seorang ibu-ibu tersebut. "Mbak Lola kalau ngambek enak ya suaminya langsung meluk, kalah suami saya mah boro-boro. Langsung di gelindingin kayak galon."
"Suaminya saya lebih parah, Bu. Malah dikatain balik 'kamu gak usah sok ngambek-ngambek segala, malu sama umur' gitu katanya. Emang gak ada romantis sama sekali, padahal saya ngambek kan emang sengaja biar dimanja-manjain," balas yang lain ikut menimpali.
"Udah, udah kalau mau di manja-manjain pas lagi ngambek tuh cari suaminya kayak Mas Arvi bukan kayak suami Bu Nur sama Bu Inem."
"Sudah kalau itu mah," kata ibu Nur sebelum akhirnya melempar pertanyaan. "Mas Arvi ada buka lowongan buat istri kedua, gak? Kalau ada saya mau daftar."
Arvi mengulas senyum tipis menanggapi pertanyaan itu, "saya gak lagi nyari istri kedua, Bu. Ngurus satu aja udah kewalahan," ucapnya yang langsung dihadiahi dengan sebuah cubitan diperutnya oleh Lola.
Arvi meringis kesakitan. Astaga memang dia salah apa?
***
Cara Arvi membujuk Lola agar tidak marah lagi ternyata cukup ampuh. Walau awalnya agak sulit karena tadi Lola masih bersikeras tidak ingin bicara padanya. Namun, berkat kegigihannya ia berhasil membuat Lola kini bersandar di dadanya sambil berselancar diaplikasi belanja online di ponselnya.
Ya, agar istrinya itu mau kembali bicara seperti semula Arvi jadi harus memutar kepala.
__ADS_1