Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Hujan


__ADS_3

Begitu juga saat kejadian dimana ia harus mundur dan merelakan untuk tidak lagi dengan Arvi, pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Hidup Lola memang banyak drama, semua hal dari yang penting sampai yang gak penting pasti ia tangisi. Jadi Enggar tidak seharusnya merasa spesial, iya kan?


Lola sontak melirik tajam ke arah Risa. Mulutnya yang ember memang selalu berhasil memancing emosi Lola. Kenapa tidak dibocorkan saja sekalian kalau dulu dia juga sempat berharap di tembak Enggar karena terjebak friendzone rasanya tidak menyenangkan?


***


" Lola tambah cantik aja. Titip salam ya buat suami kamu."


" Lola, suami kamu mana? Kok gak di ajak sih? Padahal aku kepengen liat tahu?"


" Laki Lo mana, La? Gak dateng? Ya, sayang bangeeeet." 


Dibandingkan dengan basa-basi menanyai kabar, orang-orang tampaknya lebih antusias menanyai kehadiran suaminya. Lola tidak bisa membayangkan kalau suaminya itu benar-benar ada disini. Bisa-bisa acara inti reuni berupa penampilan beberapa band dan penyanyi jazz kalah saing dengan antrian mengular orang-orang yang ingin berswa foto dengan suaminya.


Sebenarnya Lola sama sekali tidak pernah gembar gembor kalau ia menikahi seorang aktor. Bisa dibilang teman-teman SMA yang hanya dia undang ke acara pernikahannya hanya Risa, Angel dan Dennis ( suami Angel yang juga teman satu SMA nya). Kabar Lola menikah dengan Arvi tersebar di grup alumni karena ada yang memberikan screenshot berita pernikahannya. Beberapa bahkan ada yang pernah melihatnya muncul di televisi saat ia sedang di wawancara awak media bersama sang suami.


" Suami Lo kerjaan apaan sih? Kok bisa orang-orang pada kenal dia sedangkan gue enggak. Jangan bilang dia seangkatan juga sama kita?" Tanya Enggar yang kelihatan kepo sekali mengenai identitas suami Lola karena sejak tadi orang-orang selalu menanyainya.


" Gak mungkinlah. Gue SMA aja dia suami gue udah kuliah semester akhir." Dengus Lola. Kini mereka berdua mulai berjalan menjauhi hingar bingar panggung yang menampilkan pertunjukan band.


" Gue denger-denger tadi katanya suami Lo aktor. Itu bener?"


" Emang kenapa?" Lola menoleh ke arah pria itu sambil mengangkat satu alis tinggi. " Lo gak percaya?"


" Antara percaya gak percaya."


Lola tertawa kecil. Mungkin bagi Enggar mustahil sosok pemalas yang dulu hobby tidur saat jam pelajaran seperti Lola bisa punya suami sekelas aktor. Ya walaupun kedengarannya memang sedikit aneh, tapi itulah faktanya yang terjadi.


Telpon yang berbunyi membuat Lola segera merogoh tasnya. Terlihat nama sang suami yang tertera disana.

__ADS_1


" Sebentar ya." Lola melirik sekilas ke arah Enggar disampingnya sebelum memilih untuk mengangkat telpon itu.


" Halo."


" Halo, sayang kamu dimana? Kok rumah dikunci?"


Lola dapat mengambil kesimpulan bahwa Arvi kini sudah berada di depan rumah. Sepertinya acara ulang tahun Yasmin sudah selesai.


" Aku lagi di acara reuni sekolah," balas Lola datar. " Kunci rumah aku letakin di pot bunga atas meja."


" Sayang, tadi kamu bilang gak jadi pergi?" Tanya Arvi keheranan.


" Aku berubah pikiran. Lagian ngapain juga aku sendirian dirumah. Sementara orang lain diluar sana malah bersenang-senang." Sindirnya sengaja membalikkan badan dan berjalan ke arah lain agar Enggar tidak bisa mendengar obrolannya dengan Arvi.


" Sayang, kamu marah ya?"


" Okey, nanti pulangnya Mas jemput ya." Dengan lembut Arvi memberikan penawaran.


" Gak usah aku bisa pulang sendiri atau sama teman. Mas istirahat aja dirumah. Pasti Mas hari ini capek banget kan syutingnya." Balas Lola dengan sengaja menekankan kata terakhir di kalimatnya.


" Mas tetep akan jemput kamu."  Ujar Arvi menekankan.


Lola mencibir. " Dibilang gak usah juga." Tolaknya mentah-mentah.


" Kabari kalau kamu sudah mau pulang, Mas mau mandi dulu." Pesan pria itu sebelum benar-benar menutup telpon.


" Mas, Mas Arvi?" Panggil Lola saat suara Arvi tak lagi terdengar. " Halo?"


Lola sontak mendecakkan lidah saat melihat nama Arvi kini sudah tidak tertera lagi disana.

__ADS_1


Suaminya itu benar-benar bersikeras menjemputnya walau ia sendiri sudah bilang akan pulang sendiri.


Dasar keras kepala!


***


Arvi memacu mobilnya usai mendapat sharelocation tempat reuni tersebut dari Risa, sahabat Lola yang tadi sempat ia hubungi lewat WhatsApp. Entah apa yang terjadi pada ponsel istrinya itu sehingga ketika ia menelpon tak kunjung diangkat. Padahal sekarang sedang hujan lebat. Arvi yang takut Lola kehujanan tentu tanpa pikir panjang langsung melajukan mobilnya membelah jalanan.


Arvi menghela nafas lega saat menyadari kalau jalanan malam ini tidak terlalu macet. Kini pria itu tampak mengetuk kemudi sambil memikirkan apa alasan Lola tiba-tiba pergi ke acara reuni tersebut setelah tadi mengatakan ingin dirumah saja.


Apa Lola marah padanya? Karena istrinya itu bisa dibilang selalu berpamitan padanya jika ingin pergi. Tapi ini tidak, dia pergi begitu saja tanpa memberitahu Arvi terlebih dahulu. Membuat Arvi jadi kebingungan karena sesampainya dirumah ia melihat pintu yang terkunci rapat tanpa tanda-tanda kehidupan didalamnya.


Setelah lampu hijau Arvi buru-buru melajukan mobilnya kembali. Hingga tak terasa kini ia sudah sampai di pelataran parkir SMA itu. Arvi sontak berdecak saat ponsel Lola lagi-lagi tak bisa dihubungi? Arvi terdiam sejenak sambil menatap butir-butir yang jatuh dari langit melalui kaca jendela. Karena kepalang khawatir ia pun memilih untuk turun dari mobil sambil membawa sebuah payung.


Lola pasti tidak memprediksi kalah hari ini akan turun hujan. Maka dari itu Arvi harus segera kesana jaga-jaga kalau istrinya itu kehujanan.


Terlihat banyak orang mulai berlarian sambil melindungi diri masing-masing dari tetesan air hujan. Saat orang-orang tampak berlari keluar, Arvi malah menyerobot masuk ke dalam dengan gesit. Sampai ia tak sengaja berpapasan dengan sosok yang begitu familiar.


" Risa, Lola mana?" Tanya Arvi to the point. Bisa dibilang diantara teman-teman Lola yang lain, dia hanya mengenali sosok Risa dan Angel.


" Ha? Mas Arvi?" Risa tampak melebarkan mata saat melihat sosok Arvi ternyata juga ada disini. " Tadi aku lihat Lola lagi neduh di koridor dekat perpustakaan Mas."


" Perpustakaan ada dimana?" Tanya Arvi yang kebingungan dimana letak bangunan perpustakaan di sekolah ini.


" Mas lurus aja terus belok kiri, nanti juga kelihatan kok." Seru Risa diantara derasnya bunyi hujan.


Setelah mengucapkan terima kasih, Arvi pun semakin mempercepat langkahnya menuju tempat dimana sang istri berada. Senyumnya merekah seketika saat berhasil menemukan Lola yang kini tampak asik menampung tetesan air hujan dengan telapak tangannya.


Langkah Arvi seketika memelan dengan cengkraman di payung yang semakin mengerat ketika menyadari kalau disana Lola tidak sendirian. Tapi juga bersama dengan seorang pria yang wajahnya kelihatan tak asing dimatanya.

__ADS_1


__ADS_2