
" Dimakan Ya, Mas Arvi. Bilangin juga sama Mbak Lola kalau saya tadi mampir buat ngantar makanan. Kebetulan lagi masak banyak, hehehe." Ucap Bu Inem terdengar samar-samar.
" Iya, Bu terima kasih banyak. Maaf kalau merepotkan." Balas Arvi seperti biasa. Mengikuti template yang sering ia gunakan jika sedang diberi makanan oleh tetangga.
" Gak merepotkan sama sekali kok. Malah saya senang bisa berbagi dengan tetangga," balas wanita itu sambil tersenyum lebar. " Udah malam kalau begitu saya pulang dulu ya, Mas Arvi. Titip salam sama Mbak Lola."
" Baik, Bu. Sekali lagi terima kasih banyak atas makanannya."
Lola tak tahan untuk tidak tertawa melihat interaksi super kaku dari suami dan juga tetangga samping rumahnya tersebut. Bisa dibilang suaminya itu benar-benar seperti robot. Mulai dari raut wajahnya, cara bicaranya, gerakkannya, semua seperti struktur secara nyata dan akurat.
" Dapet makanan dari tetangga yang mana lagi nih?" Ucap Lola sambil bersidekap saat Arvi baru saja masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
" Itu dari tetangga sebelah, Ibu Kiyem." Balas Arvi sambil menyerahkan piring berisi ayam bakar itu pada Lola.
Lola mengerutkan dahi lalu berjalan mengikuti sang suami. " Ibu Kiyem yang mana, Mas? Kita gak punya tetangga yang namanya Bu Kiyem."
" Tetangga sebelah yang tadi pagi yang tadi nyapa. Siapa namanya? Mas lupa."
Lola menghembuskan nafas sambil geleng-geleng kepala. " Itu Bu Inem, Mas." Serunya.
" Ah iya, Bu Inem. Maaf sayang Mas gak bisa inget nama-nama tetangga kita." Arvi berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin.
" Nama tetangga aja lupa." Cibir Lola.
Padahal mereka sudah tinggal disini selama dua tahun. Kasihan Bu Inem sudah susah payah caper dengan mengantarkan makanan tapi sayangnya namanya gak diingat sama sekali oleh suaminya itu.
" Tapi kan sama kamu gak pernah lupa." Arvi tampak mengelilinginya meja sebelum mencium puncak kepala Lola. Caranya mengucapkan kata sayang entah kenapa selalu berhasil membuat hati Lola bergetar. Bahkan disaat mood nya sedang tidak bagus sekalipun.
" Ayo duduk." Pintanya sambil menarik tangan sang istri agar duduk di kursi meja makan tersebut. " Kamu capek? Mau dipijit?" Tawar pria itu membuat Lola lantas mengerutkan keningnya.
" Tumben." Heran Lola saat Arvi kini mulai memijit bahunya. " Kamu begini pasti ada maunya ya?"
__ADS_1
" Memang gak boleh mijit istri sendiri?" Tanya Arvi.
" Ya bukan gitu, aneh aja. Masa tiba-tiba mau mijit?" Entah kenapa Lola mulai menikmati sentuhan Arvi saat memijit kedua bahunya.
" Kamu kan udah capek kerja seharian. Beres-beres rumah, nyiapin sarapan, masak, ngurus keperluan Mas dan juga Gembul." Balas Arvi lalu menjeda beberapa saat. " Mas minta maaf ya soal pagi tadi. Itu benar-benar gak terduga, Mas janji gak akan ngotorin dapur lagi, Ya Sayang? Maaf ya?" Pintanya lalu mengalungkan tangannya dibahu Lola sambil mengecup pipi kiri wanita itu.
Membuat Lola lantas mengulum senyum. Dia paling tak bisa terlalu lama marah dengan Arvi. Semarah apapaun ia pada suaminya itu tetap saja nantinya mereka akan kembali berbaikan. Arvi selalu meminta maaf atas kesalahan yang telah ia lakukan dan Lola tentu memaafkannya karena ia sendiri juga tak bisa mendiamkan pria itu terlalu lama.
" Hm." Lola sengaja berdehem sebagai jawaban.
" Hm." Arvi sengaja meniru jawaban Lola tadi. " Hm itu artinya iya kan, Sayang?"
Lola menarik nafas sebelum akhirnya menganggukkan kepala. " Iya, iya." Ucapnya yang lantas membelalakkan mata saat Arvi tiba-tiba menarik rahangnya dan mencium bibirnya. Suaminya itu tampak terkekeh puas ketika melihat raut wajah kaget Lola. Meski kaget istrinya itu tetap saja kelihatan menggemaskan dengan wajah bareface nya saat ini.
" Sayang, kayaknya kita tetap perlu asisten rumah tangga."
Bola mata Lola yang tadinya membelalak kini tampak kembali membesar. " Ha? Tiba-tiba?" Kata Lola. " Untuk apa, Mas?"
" Terus aku kerja apa? Kalau semua diserahin di ART?" Protes Lola.
" Ya kamu tetap bisa buatin bekal dan masak kayak biasanya. Nyuci dan setrika baju gak usah karena ada laundry yang bakal ngerjain. Terus apalagi ya sekiranya beratin kamu?" Arvi tampak menoleh sekitar.
" Oh iya nyikat kamar mandi dan wastafel juga gak perlu karena itu kerjaan ART nanti."
" Kenap tiba-tiba, Mas? Tanya Lola. " Kan kita udah sepakat untuk gak pakai asisten rumah tangga."
" Setelah Mas pikir-pikir ngurus pekerjaan rumah itu berat, Sayang. Terlebih jamu melakukannya setiap hari."
" Mas kita sudah bicarakan tentang hal ini sejak awal. Dan kita udah sepakat untuk gak pakai asisten rumah tangga, right."
" Tapi Sayang----!"
__ADS_1
" I am fine, gak ada yang perlu di khawatir kan. Aku bisa kok mengurus semuanya sendiri. Lagipula dirumah ini hanya ada kita berdua, Mas. Jadi aku mohon tolong hargai keputusanku."
Arvi mengangguk paham. " Baiklah kalau itu yang kamu mau," balas Arvi membuat Lola lantas tersenyum lebar. " Tapi tawaran untuk memperkerjakan ART berlaku kapan saja. Bisa digunakan jika kamu berubah pikiran, Paham?"
Lola mengangguk. " Dipahami." Ujarnya lalu gantian mengecup pipi suaminya itu.
Arvi mengacak rambut Lola sebelum beralih menatap gelas berisi jamu yang tadi sudah disiapkan.
" Ayo diminum, Oma tadi kebetulan menitipkan jamu untuk kita berdua minum."
Lola tampak mengernyitkan dahi saat Arvi mulai mengangsurkan gelas yang ternyata adalah jamu itu padanya. " Jamu? No! Aku gak mau minum jamu. Kamu aja, Mas!" Mendadak ia merasa mual.
" Kamu harus minum, sayang. Ini bagus buat kesehatan. Oma akan sedih kalah tahu kamu tak meminum jamunya."
Lola sontak mengerutkan hidung saat aroma jamu itu kembali menguar.
" Tapi aku gak suka jamu, Mas. Rasanya aneh, pahit."
" Makanya kita minumnya sama-sama. Gak pahit kok." Bujuk Arvi menyakinkan. " Masa kamu tega biarin Mas minum jamu ini sendirian?"
Lola menghela nafas. Suaminya itu juga tidak suka minum jamu. Seluruh hal yang berbau obat-obatan juga dia tidak suka mengonsumsinya. Maka dari itu Lola Taka dan pilihan lain selain meminum jamu tersebut.
"Okeyy."
Arvi tersenyum lalu mendekatkan gelasnya pada gelas Lola untuk bersulang. " Cheers?"
Lola mengulum senyum geli. Lucu! Memangnya mereka berdua mau minum alkohol. " Cheers." Serunya sebelum meminum jamu itu hingga tandas.
Walaupun harus menahan tawa karena kelihatannya Arvi jauh lebih dari tersiksa saat meminum jamu itu, dibandingkan dengan dirinya sendiri.
***
__ADS_1
Lola tersenyum saat membaca tanggapan orang-orang di Twitter mengenai peluncuran produk terbaru mereka. Ada yang langsung berniat membelinya, mengapresiasi kehebatan mereka dalam mengembangkan bisnis, mengaku iri karena masih tak terima idolanya menikah dengan seorang wanita biasa dan beberapa cibiran negatif lainnya, yang selalu Lola abaikan karena merasa tidak penting.