Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Arvi Cemburu


__ADS_3

Lola menatap Enggar sekilas sebelum akhirnya berujar santai. "Lo kan teman gue."


Enggar terkekeh mendengarnya.


" Temen apa yang gak punya nomor teman sendiri?" Tanyanya sebelum menyerahkan ponselnya pada Lola. " Boleh kan gue minta nomor Lo?"


Lola mengangguk dan segera mengetikkan nomornya dilayar ponsel Enggar. " Nanti gue masukin Lo ke grup alumni. Kebetulan bentar lagi angkatan kita mau ngadain reuni."


" Emang gue boleh datang?"


" Kenapa gak boleh?" Lola bertanya balik.


" Ya kan gue sekolah disana gak sampai selesai."


" Boleh kok, asal janji nanti pas reuni Lo nyumbangin beberapa lagu buat dibawain disana. Gimana?" Tawar Lola.


" Boleh, tapi nyanyinya harus bareng Lo."


Sontak Lola tertawa mendengarnya. " Lo gila! Bisa-bisa teman-teman seangkatan kita pada kabur semua."


" Suara Lo gak seburuk itu kok La, sampai membuat orang-orang jadi berhamburan," kekeh Enggar. " Cuma mungkin kita harus sediain petugas kesehatan buat jaga-jaga kalau ada yang pingsan."


" Sial!" Umpat Lola masih dengan sisa tawanya. " Gue gak tau itu pujian atau hinaan!"


Setelah tawa Lola mereda, lantas Enggar kembali angkat bersuara.


" Lo kesini bareng siapa? Mau pulang ba---?"


" Ekhem." Deheman itu membuat perhatian Enggar dan Lola lantas teralihkan pada sosok jangkung yang berdiri dihadapan mereka.

__ADS_1


" Mas udah selesai?" Tanya Lola lalu mulai bangkit dari duduknya. Begitu pula dengan Enggar yang juga melakukan hal serupa.


" Sudah." Balas Arvi yang tak bisa menahan diri untuk menghunuskan tatapan penuh intimidasinya kearah Enggar. " Ayo kita pulang sekarang?"


Karena Arvi buru-buru menarik tangannya, Lola jadi tak sempat untuk mengucapkan selamat tinggal pada Enggar. Berusaha untuk menyamai langkah lebar Arvi malah membuat Lola jadi semakin tertatih-tatih. Astaga dia ini tidak sopan sekali kan? Pergi begitu saja tidak berpamitan pada Enggar. Tapi kalau dipikir-pikir bagaimana caranya mau berpamitan kalau suaminya itu tadi langsung menarik tangannya begitu saja.


Sebenarnya ada apa sih? Kenapa suaminya itu tampak begitu terburu-buru untuk mengajaknya pulang? Padahal kan dia tadi berencana untuk mengenalkan mereka berdua.


***


Mencoba untuk tetap professional di depan awak media jelas adalah hal yang sulit yang harus dilakukan Arvi saat ini. Terlebih saat menyadari Lola, sang istri kini hanya duduk sendirian disana sambil memakan pudding mangga kesukaannya. Sebenarnya hati kecil Arvi tak tega membiarkan wanita itu duduk sendirian di sana. Namun mau gimana lagi? Keinginan sutradara yang memintanya untuk di wawancarai sebentar bersama Yasmin dalam rangka mempromosikan film mereka yang bahkan belum tayang membuat ia jadi tak bisa berbuat banyak.


" Film Eternal love nantinya akan lebih menekankan sisi romantis. Saya gak bisa kasih spoiler terlalu banyak karena syutingnya juga masih belum selesai." Ucap Yasmin dengan telaten menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh wartawan. Kakinya yang semakin membaik membuat Arvi jadi berspekulasi kalau syuting mungkin akan kembali dilanjutkan.


" Bagaimana perasaan kamu Yasmin bisa dipasangkan kembali dengan Arvi?"


Yasmin tersenyum lebar sambil menoleh kearah Arvi. " Yang pasti seneng. Karena saya tahu selama bekerja dalam beberapa film, Arvi orangnya baik, profesional dan disiplin. Dia juga pekerja keras. Jadi saya rasa pasti akan sangat menyenangkan kalau kami bisa dipasangkan kembali dalam film yang sama."


" Mas Arvi."


Saking fokusnya memperhatikan Lola, Arvi jadi tak mendengar pertanyaan yang diajukan wartawan itu. " Oh, sorry. Pertandingannya apa tadi?"


" Apa sisi menyenangkan selama berpasangan dengan Yasmin Bard?"


Jujur Arvi tak bisa memikirkan dua hal dalam satu waktu. Terlebih saat menyadari kalau kini ada seorang pria yang tengah duduk bersama Lola. Siapa dia? Kenapa keduanya tampak begitu akrab satu sama lain?"


" Mas Arvi?"


" Ya." Arvi kembali kehilangan semua fokusnya. " Gak ada." Jawabnya asal dengan mata yang kembali mencuri pandang ke arah dua orang itu. Apa mereka seakrab itu sampai Lola bisa dengan mudahnya tertawa bersamanya?

__ADS_1


" Arvi? Kok gak ada, sih?" Sergap Yasmin membuat Arvi kebingungan sendiri. Ya Tuhan! Memangnya tadi pertanyaannya apa? Apa dia salah jawab?


Arvi mengusap wajah. " Sorry, boleh diulang lagi pertanyaannya?"


Dia tak mengerti kenapa dengan hanya melihat sang istri sedang bicara dengan pria lain membuat semua fokusnya hilang entah kemana?


***


" Mas, kenapa sih? Kok cepet banget pulangnya?" Protes Lola sesampainya mereka dirumah.


" Dia siapa." Tanya Arvi spontan, merujuk pada pria yang tadi duduk bersama Lola. Dia tidak tahu kenapa setelah wawancara selesai ia langsung berjalan menuju keduanya dan menarik tangan Lola untuk segera pergi. Seperti ada sesuatu didalam dirinya yang tidak suka melihat Lola dan pria itu bersama.


" Yang duduk sama aku tadi?" Lola balik bertanya membuat Arvi lantas mengangguk.


" Oh, itu Enggar, Mas. Teman aku SMA dulu. Kebetulan kita bertemu kembali. Keren banget sekarang dia, udah jadi penyanyi terkenal. Padahal dulu waktu sekolah kerjaannya cuma tidur doang dikelas." Kekeh Lola sambil bernostalgia mengingat masa SMA-nya.


Arvi menatap Lola yang begitu antusias saat menceritakan tentang si Enggar-enggar itu. " Begitu?" Ujarnya sambil mengangkat satu alis.


" Tadi aku mau kenalin, Mas sama Enggar. Tapi karena kita pulangnya buru-buru jadi gak sempat. Jangankan kenalan pamitan juga enggak."


Melihat Arvi yang hanya diam sambil melepas jasnya membuat Lola jadi merasa janggal. Sejak di mobil pun Arvi hanya diam dan tak banyak bicara. Heiii kenapa ini?


" Mau aku bantu?" Tawar Lola yang segera mendekat kearah Arvi untuk membantunya melepas kancing dipergelangan tangannya.


" Kamu dekat sama dia?"


Pertanyaan itu membuat Lola lantas menengadahkan kepalanya. Dilihat dari ekspresi wajahnya, ada yang sedang cemburu. Sebisa mungkin Lola berusaha untuk tidak tertawa. Suaminya itu jarang sekali memperlihatkan tanda-tanda cemburu seperti ini. Untung saja dia cukup peka.


" Waktu SMA sih kita dekat banget. Pernah hampir jadian juga malah. Tapi, gak jadi karena aku keburu ditinggal gara-gara Enggar mau kejar impian dia jadi penyanyi." Balas Lola sengaja memanas-manasi. Hal yang membuat Arvi sontak membuang muka. " Emang kenapa, Mas?"

__ADS_1


Arvi mengabaikan pertanyaan itu dan mulai duduk ditepi kasur sambil membuka semua kancing kemejanya. Tangannya bergerak mengatur AC ke suhu paling rendah. Lola sontak mengulum senyum melihatnya. Kenapa gak bilang aja sih, kalau memang cemburu? Padahal dari gelagatnya saja sudah tercium jelas.


Lola segera mendekat kearah Arvi dan duduk disebelahnya. Memeluk lengan pria itu dan mendusel manja seperti apa yang suka ia lakukan.


__ADS_2