Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Arvi manja


__ADS_3

Yaudah hati-hati sampaikan salam Mami buat Arvi ya."


Lola mengangguk dengan perasaan yang sama sekali tidak bisa di deskripsikan. Berharap tidak terjadi apa-apa pada suaminya itu.


"Kalau gitu aku pamit dulu ya Mi." Bergegas Lola menyalami tangan sang Mami. Dapat ia rasakan telapak tangan wanita itu kini mulai membelai lembut rambutnya.


"Kalau ada masalah harusnya di coba selesaikan dulu jangan main kabur gitu aja." Pesan Mami menasehati. "Katanya gak berantem tapi kenapa setiap hari Arvi malah nanyain tentang kamu yang udah makan atau belum ke Mami." Lanjut wanita itu membuat Lola lantas menatap sang Mami dengan raut wajah cengoh.


Jadi selama ini suaminya itu menanyakan langsung tentang keadaannya pada sang Mami?


Arvi masuk ke dalam rumah dengan badan yang serasa ingin tumbang.


Efek dari kehujanan saat menjemput Lola waktu itu nyatanya membuat tubuh Arvi jadi meriang. Hal itu sebenarnya sudah ia rasakan tiga hari lalu namun karena gejalanya tak terlalu terasa Arvi memilih untuk mengabaikannya. Tapi entah kenapa hari ini semakin menjadi-jadi, dengan flu yang sumpah demi apapun rasanya membuat kepala Arvi jadi terasa pusing dan berat. Bersyukur sejak tadi ia bisa menyetir dengan selamat sampai tujuan.


Menolak ajakan yang lain untuk merayakan ulang tahun Pak Aji dengan alasan kurang enak badan nyatanya adalah keputusan yang paling tepat bagi Arvi saat ini. Lihatlah baru saja tubuhnya bersentuhan dengan kasur matanya sudah langsung terpejam, padahal dia sudah jelas tahu harus membersihkan diri terlebih dahulu sebelum istirahat. Tapi kenapa rasanya sangat sulit sekali untuk bangun.


Arvi terbatuk kecil dengan flu yang tak kunjung sembuh bahkan setelah ia meminum obat yang diberikan oleh Karina, asistennya. Arvi jarang sakit, maka dari itu ia merasa aneh dengan kondisinya saat ini.


Arvi mencoba merogoh saku untuk mencari ponsel, berniat memberitahu sang istri tentang keadaannya yang sedang sakit. Dia berharap sekali kalau wanita itu mau segera pulang, namun saat menyadari kalau ponselnya sekarang sudah mati karena kehabisan baterai, Arvi lantas menghembuskan nafas berat. Oke, baiklah dia akan mengabari istrinya itu nanti setelah istirahat sebentar. Kepalanya yang pusing dan berat membuat ia kesulitan untuk mencari charger.


"Mas."


Arvi tak tahu entah berapa lama ia sudah tertidur saat tiba-tiba ia mulai mendengar suara wanita yang terdengar samar-samar, itu suara Lola. Astaga apa sekarang dia sedang berhalusinasi lantaran panasnya yang terlalu tinggi? Atau jangan-jangan efek karena Arvi memang sudah merindukan istrinya itu?


"Mas Arvi?"


Lagi-lagi suara itu, dapat Arvi lihat dari arah pintu kamar muncul sesosok manusia yang sangat mirip dengan Lola. Wajah cantik wanita itu jelas sangat familiar di matanya, apa orang sakit cenderung suka berhalusinasi? Tapi kenapa sosok Lola itu kelihatannya nyata sekali?

__ADS_1


"Mas sakit ya?" Arvi dapat merasakan sosok Lola itu muncul kini mulai mendekat dengan tangan yang kini mengitari bagian dahi, pipi, dan lehernya. "Demamnya tinggi banget," paniknya yang begitu kentara. "Sebentar ya aku ambilkan obat dulu."


Arvi buru-buru menahan pergelangan tangan Lola supaya bisa memastikan kalau sosok itu bukanlah sebatas halusinasinya. "Sayang ini beneran kamu?"


"Iya ini aku." Lola menatap Arvi dengan alis bertaut sebelum akhirnya mengusap rambut pria itu lembut. "Sebentar ya aku ambilkan obatnya dulu."


"Sayang disini aja, jangan pergi." Ucap Arvi seolah tak ingin ditinggal.


"Iya Mas bentar ya, aku mau ambil dulu." Lola berucap sambil berusaha melepaskan cekatan tangan Arvi ditangannya, merasakan seluruh badan pria itu yang panas membuat Lola benar-benar khawatir. "Sebentar aja kok, ya?" Lanjutnya.


"Jangan lama-lama." Pinta Arvi dengan tangan ganti memegangi kepalanya. "Kepala Mas pusing."


"Iya makanya aku ambilin obatnya dulu,  udah Mas jangan banyak omong. Istirahat aja ya."


Arvi mengangguk sambil memejamkan mata, dia benar-benar lega karena ternyata sosok itu benar-benar Lola, bukan sekedar halusinasinya. Tak butuh waktu lama derap langkah sang istri yang memasuki kamar sembari membawa obat dan segelas air di atas nampan.


"Susah," balas Arvi pelan. "Masih pusing."


Lola menghembuskan nafas sebelum meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas, "aku bantu ya." Dengan telaten ia pun membantu sang suami untuk bangun agar bisa meminum obatnya.


Setelah semua selesai, Lola ganti membuka sepatu Arvi dan kausnya. Sebelum naik ke atas kemeja pria itu untuk membuka semua kancingnya.


"Mas bajunya ganti dulu biar enak tidurnya." Ucap Lola usai mengambil sebuah kaus tipis di dalam lemari.


"Nanti," gumam Arvi dengan suara yang agak serak.


Lola menghembuskan nafas kasar, sebenarnya menghadapi Arvi saat sedang sakit adalah hal yang cukup sulit, selain pria itu yabg cenderung manja dan rewel ketika sedang sakit. Lola juga menyadari kalau kesabarannya benar-benar diuji di situasi saat ini.

__ADS_1


"Aku bantu ya? Tapi Mas duduk dulu sebentar."


Segera Lola membantu Arvi untuk duduk sebelum mengganti kemeja pria itu dengan kaus tidur berwarna putih yang sering ia pakai. Lola sontak menghela nafas lega saat ia sudah berhasil menggantinya.


"Udah selesai, sekarang tidur ya." Ucapnya sambil menaikkan selimut supaya bisa menutupi tubuh pria itu yang tadi mengeluh kedinginan.


Lola baru sadar hendak pergi ke dapur untuk mengisi air saat Arvi tiba-tiba kembali menahan lengannya.


"Sayang, jangan pergi lagi." Lirihnya sambil terbatuk kecil.


"Aku cuma mau isi air ke dapur, sebentar ya?"


Arvi tampak menggeleng, "sini aja, temani aku."


See! Pria dewasa ini benar-benar manja kalah sedang sakit, bahkan untuk sekedar pergi ke dapur saja dia sama sekali tidak mengizinkan Lola pergi.


"Iya iya nih aku disini," Lola pun mengalah dan duduk di tepi kasur dengan tangan yang masih berada di genggaman pria itu.


Lola terkekeh geli melihatnya, seharusnya dia marah karena pria itu sama sekali tidak memberi kabar padanya kalau sedang sakit. Tapi entah kenapa saat melihat wajahnya yang pucat membuat Lola jadi tak tega, kini tangannya yang bebas mulai ia gunakan untuk membelai permukaan rambut Arvi. Menyusuri kedua alisnya yang bertaut sebelum turun ke pipi dan memainkannya dengan gemas.


"Cepat sembuh sayang." Ujar Lola lalu meninggalkan sebuah kecupan di dahi pria itu.


***


Selama dua tahun pernikahan mereka yang Lola tahu suaminya itu tipikal orang yang jarang sakit. Kalau pun sakit paling akibatnya karena padatnya jadwal kerja dan syuting yang ia lakoni. Tapi, sekalinya sakit dia benar-benar berubah menjadi orang yang manja dan rewel.


Seperti pagi ini contohnya, Arvi menolak makan saat ia sendiri harus minum obat. Namun anehnya ketika Lola menawarkan diri untuk menyuapinya baru pria itu setuju.

__ADS_1


__ADS_2