
" AC nya cuma di kamar aja."
" Pantesan panas banget. Oma kagum loh sama kamu bisa tahan tinggal disini selama dua tahun."
" Oma, disini gak seburuk itu," balas Arvi. Kalau Lola tahu Omanya berpendapat seperti ini tentang rumah mereka pasti wanita itu akan sedih. " Bagi aku gak masalah tinggal dimana aja. Asal selalu bersama istriku."
Gantian Oma Aisyah yang menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. " Tadi Oma pas mau ke kamar mandi ngeliat dengan mata kepala Oma sendiri kalau dapur kalian berantakan. Piring dan peralatan makan pada menumpuk di wastafel. Apa kalian sekarang mulai terbiasa hidup jorok begitu?" Ucap wanita itu terang-terangan. " Harusnya kalau Lola emang gak sanggup ngurus pekerjaan rumah tangga sendiri. Kamu cariin dong pembantu. Oma aja yang gak tinggal disini lihatnya. Kok kalian malah nyaman-nyaman aja."
" Oma bukan begitu ceritanya, tadi malam----?"
" Kamu jangan coba-coba mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan oleh Lola. Itu tugasnya sebagai seorang istri. Belum punya anak aja dia sudah keteteran dalam mengurus pekerjaan rumah tangga. Kalau begitu ya harusnya gak usah sok nolak kalau ditawari pembantu. Lihat sendiri kan akibatnya gimana?" Potong Oma.
Arvi membasahi bibirnya yang kering dengan lidah. Bukan begitu kronologi yang sebenarnya. Tadi malam mereka berdua memang sempat membuat mie instan karena kebetulan merasa lapar. Lola bertugas untuk memasak sementara Arvi berjanji akan mencuci piring keduanya setelah selesai makan nanti. Namun karena malam itu Arvi merasa mengantuk karena kekenyangan, ia memutuskan untuk mencucinya besok pagi. Hal yang sangat terlambat karena Oma dan Mama sudah lebih dulu berkunjung kerumah mereka.
" Oma itu bukan sepenuhnya salah Lola. Karena Aku yang salah. Kebetulan kemarin aku yang bertugas untuk mencuci piring."
Mendengar pernyataan lugas sang cucu membuat Aisyah lantas melebarkan mata. " Jangan bilang selama ini Lola suka nyuruh kamu nyuci piring? Iya?" Tanya wanita itu tampak tak terima. " Ini gak bisa dibiarin. Oma harus bicara sama dia."
Karena tak ingin semua jadi bertambah kacau, Arvi pun segera menahan pergelangan tangan wanita itu. Ya Tuhan! Kenapa masalah jadi tambah rumit begini sih?
" Lola sama sekali gak pernah nyuruh aku. Arvi sendiri yang mau melakukannya. Kalau lagi gak sibuk bekerja. Kami memang suka bagi-bagi tugas." Dengan hati-hati Arvi berusaha untuk menjelaskan.
Namun karena Oma Aisyah adalah tipikal wanita yang pantang melihat laki-laki melakukan pekerjaan rumah tangga, dia sama sekali tak bisa memahaminya.
" Selain mencuci piring apalagi pekerjaan yang sering kamu lakukan?"
" Gak banyak. Aku paling ikut bantu nyapu rumah, ngepel lantai, kadang juga masak kalau dia lagi pengen makan masakanku."
__ADS_1
" Arvi, gak seharusnya kamu mengerjakan tugas istrimu." Peringat Oma.
" Oma itu bukan semata-mata tugas Lola. Tapi tugasku juga." Balas Arvi tanpa bermaksud untuk membantah.
" Tugas kamu itu cuma mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan istri kamu. Untuk urusan rumah seperti itu biarkan saja Lola yang mengerjakannya."
Arvi mendesah pelan. Mau dijelaskan sampai mulutnya berbusa pun rasanya percuma untuk memasukkan paham bahwa memasak, mencuci, mengepel, dan lain sebagainya itu bukan hanya tugas istri saja tapi juga suami. Sampai kapanpun Oma tak akan mengerti kalau hal semacam itu adalah basic skill yang harusnya dimiliki oleh semua individu. Tak peduli mau gendernya laki-laki atau perempuan.
" Mending rumah ini dijual aja." Putus Oma tiba-tiba.
" Kalau dijual aku sama Lola mau tinggal dimana, Oma?" Tanya Arvi tak habis pikir. Benar kan? Kalau rumah ini dijual dia dan istrinya mau tinggal dimana?
" Kamu bisa pindah kerumah yang Oma dan Mama Papa kamu tempati sekarang. Daripada tinggal disini lebih baik kita semua tinggal bersama-sama. Biar Oma juga ada temannya."
Arvi tahu ini bukanlah hal yang Lola inginkan. Dia menyadari betul kalau sejak awal Lola memang ingin mereka berdua hidup mandiri tanpa adanya campur tangan dari orang lain.
" Ya kamu bujuk dong supaya mau. Lagi pula keputusan rumah tangga itu ada ditangan suami. Jadi gak masalah kalau misalnya kamu yang mengambil keputusannya sendiri." Ujar Oma sambil mengusap lengan Arvi. " Oma udah tua. Keinginan Oma hanya ingin dekat dengan anak dan juga cucu-cucu Oma. Jadi tolong dipertimbangkan ya? Oma tahu kamu gak akan pernah mengecewakan Oma."
Damn! Arvi tak tahu kenapa sekarang ia malah terjebak di situasi serumit ini. Dimana ia harus berada di antara kedua wanita yang amat ia sayangi.
***
" Kalian hati-hati dirumah ya. Jangan lupa sering-sering jenguk Oma." Pamit Oma Aisyah kedalam sebelum masuk kedalam mobil.
" Oma jangan lupa jaga kesehatan," balas Arvi sambil menyalami tangan wanita itu. Begitu pula dengan Lola di sebelahnya yang juga melakukan hal serupa.
" Mama pulang dulu ya, sayang." Kalian yang akur disini." Ucap Anggun sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri Lola sebelum akhirnya beralih menatap Arvi. " Kamu juga jagain Lola, ya. Awas kalau Sampai bikin menantu kesayangan Mama nangis." Lanjutnya mewanti-wanti sang anak.
__ADS_1
Arvi tersenyum sambil merangkul pundak istrinya itu. " Gak ada sejarahnya Arvi pernah bikin Lola nangis." Balasnya lalu menoleh pada sang istri. " Iya kan sayang?"
Lola mengangguk. " Iya Ma, malah Lola yang sering ngerepotin Mas Arvi." Ujarnya.
Anggun tersenyum lebar. " Ya gak papa. Selagi bisa direpotin, repotin aja terus." Kekehnya sebelum benar-benar berpamitan. " Mama pamit dulu ya."
Setelah itu mobil pun mulai berjalan meninggalkan rumah mereka dengan Arvi dan Lola yang masih setia melambaikan tangan.
" Hari ini mau pergi kemana? Jalan yuk." Ajak Arvi pada sang istri.
" Enggak." Lola menggeleng sambil melepas tangan Arvi dipundaknya. " Lagi gak mood." Lanjutnya dengan cepat masuk ke dalam rumah. Membuat Arvi sontak mengernyitkan dahi karena Lola bisa dikatakan sangat jarang menolak tawarannya.
Ponsel tiba-tiba berdering menghentikan langkah Arvi menyusul Lola.
" Hallo, Kenapa Boss? Tanyanya to the point setelah melihat nama yang tertera disana ternyata Irboss, yang sering dipanggil Boss, sang manajer.
" Lo udah tau kan kalau besok syuting udah mulai dilanjutin lagi?"
Arvi mengangguk. " Iya, Pak Yudi udah kasih tahu gue. Katanya kondisi Yasmin mulai membaik."
" Oke, gue cuma ngasih tau itu doang."
Sebelum menutup telepon, Arvi menyempatkan diri untuk mendengar semua perkataan Boss mengenai syuting nanti. Hingga semua berakhir membuatnya langsung masuk kedalam rumah dan melihat Lola kini sedang berkutat di dapur.
" Kok kamu yang nyuci piringnya?" Tanya Arvi saat melihat Lola kini sudah berdiri di wastafel dengan rambut yang di kuncir dan kedua lengan baju di gulung sampai siku. " Biar Mas aja."
" Gak usah," sahut Lola datar. " Biar aku aja." Lanjutnya lalu membuka keran air dan mulai mencuci tumpukan piring yang sudah menggunung itu.
__ADS_1