Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Bertemu lagi


__ADS_3

" Ya kan bisa aja Sa, ada kesalahan. Dokter kan bukan Tuhan." Lola berucap sambil mengaduk smoothies yang sisa setengah dengan sedotan. " Gue takut banget kalau belum juga hamil nanti bakal dicerain kayak yang di televisi-televisi."


Risa mendengus sambil memutar mata. " Kebanyakan nonton Sinetron Indonesia deh, Loh."


" Kalau beneran gue di cerain, gimana Sa? Gue gak bisa. Gue sayang sama Mas Arvi. " Lola yang kepalang gusar lantas mulai meracau tak jelas. Membuat Risa lantas geleng-geleng kepala dibuatnya.


" Gak ada yang nyuruh Lo cerai sama laki Lo juga, Marpu'ah. Lagian kalau pun kalian masih belum bisa punya anak, Kan masih ada cara lain. Bayi tabung mungkin? Atau kalian bisa pakai cara surogasi kayak artis-artis Hollywood. Tapi belum legal di Indonesia sih."


Lola menghembuskan nafas panjang. " Tapi kalau nanti gue malah di poligami, gimana?"


" Dah lah mending cerai aja daripada dipoligami. Mengutip pertanyaan dari Gusti Nurul, wanita berpendidikan tuh pantang dimadu."


" Iya sih gue juga amit-amit kalau beneran dimadu."


" Makanya jangan asal ngomong perkataan itu doa tahu." Risa memperingati. " Udah jangan nangis, kayak bocah aja Lo." Lanjutnya sambil menghapus jejak air mata Lola. " Nih ya kalau sampai laki Lo menceraikan atau mempoligami Lo, gue nanti yang bakal maju paling depan buat pasang badan. Kita ajak gelud sekalian tuh nenek-nenek."


Sebagai saksi perjuangan Lola, Risa jelas tak bisa tinggal diam saat melihat sahabatnya itu harus menanggung semuanya sendirian. Bagi Risa, Lola bukan hanya sekedar sahabat tapi juga saudara yang tak boleh ada satu pun orang yang menyakitinya.


Lola terkekeh di sela tangisnya. Bicara dengan Risa sedikit banyak bisa mengurangi beban yang kini ia rasakan. Mereka mungkin boleh dikatakan sudah jarang bertemu karena telah sibuk mengurus kehidupan rumah tangga sendiri, tapi keduanya pasti akan selalu ada jika salah satu di antara mereka membutuhkan bantuan.


" Senin besok pergi reuni, gak?" Tanya Risa.


" Gue sih mau, tapi Mas Arvi gak bisa nemenin. Dia udah mulai lanjut syuting."


Risa kontan berdecak mendengar penuturan Lola barusan. " Yaelah La, kalau Lo bawa suami Lo yang ada nanti jadinya malah acara meet and greet dia sama penggemarnya.


" Ya, emang itu tujuan gue, buat pamer." Enteng Lola.


Lagi-lagi Risa memutar mata. " Yang penting Lo pergi aja."


" Lo enak bawa suami sama anak. Nah kalau gue? Yang ada malah kayak anak hilang." Cibir Lola.


" Gak bakal, karena selama disana Lo bisa bantu gue jagain Tessi," cengir Risa menyebutkan nama anaknya.


" Setan!" Seru Lola membuat Risa sontak tertawa kencang. Dia bahagia karena bisa membuat sahabatnya itu terpancing emosi.

__ADS_1


***


Lola terpaku menatap layar ponselnya yang kini tengah menampilkan instastory  milik Yessi Bard bersama sang suami di lokasi syuting. Sambil memakan gelatonya. Lola tampak mengulang-ulang video itu berkali-kali.


Saking fokusnya Lola jadi tak sadar saat tiba-tiba ada seseorang yang mulai duduk di hadapannya. Mengisi tempat yang tadinya kosong tak berpenghuni.


" Hey, Miss narsis. Sendirian aja?"


Suara berat itu membuat Lola lantas menengadahkan kepala dengan sendok gelato yang masih menempel di bibirnya.


" Enggar?" Matanya membelalak sempurna. Tak menyangka akan bertemu pria itu lagi ditempat ini.


" Eits matanya biasa aja dong. Kayak lagi liat setan aja." Kekehnya. " Gue boleh duduk disini kan?"


Lola berdehem. Mengiyakan.


" Silakan."


" Gak nyangka bisa ketemu Lo lagi. Padahal baru aja gue mau telepon." Dengan santai Enggar mulai menyuap gelatonya. " Greentea disini kok gak enak ya?" Komentarnya sebelum mencomot gelato yang ada di cup Lola dengan sendoknya sendiri. " Punya Lo enak."


Lola sontak membelalakkan matanya melihat sikap Enggar yang tiba-tiba itu. Mengingatkannya pada kejadian SMA dimana pria itu selalu merebut es teh miliknya sebelum menyesapnya dengan sedotan yang sama dengan yang ia gunakan. Dulu Lola merasa berdebar setiap kali Enggar melakukan hal itu. Tapi sekarang jelas tidak lagi. Ia merasa risih. Sikap semena-mena Enggar ternyata masih belum berubah.


" Cuma mau nanya kabar aja. Kemarin Lo pergi tanpa pamitan." Jelas Enggar.


" Sorry, kemarin gue buru-buru."


" Dia siapa? Tanya Enggar.


" Huh! Maksud Lo?"


" Cowok yang bawa Lo kemarin. Dia siapa?"


" Dia suami gue." Jawaban Lola barusan membuat Enggar yang tadi asik menyuap gelato ke mulutnya melebarkan mata.


" Suami? Kok Lo punya suami sih?" Ada nada tak terima yang bisa Lola dengar disana.

__ADS_1


" Ya punyalah." Sahut Lola. " Apa Lo pikir gue gak akan ada cowok yang mau sama gue?" Dengusnya.


" Bukan gitu maksudnya anak Bu Puspa. Gue kaget aja karena Lo udah nikah gak ngundang-ngundang."


Lola berdecak pelan. " Kita aja baru ketemu lagi beberapa hari ini. Gimana caranya gue mau ngundang Lo?"


" Udah berapa lama?" Tanya Enggar.


" Mau jalan dua tahun." Balasnya cuek. Mood nya sedang tidak bagus untuk beramah tamah seperti biasa.


" Gue telat banget ya, La?" Kekeh pria itu.


" Maksud Lo?" Lola mengangkat alis.


Enggar menggeleng, masih dengan sisa tawanya ia berkata. " Enggak apa-apa. Andai kita bertemu lebih awal." Lirihnya pelan sebelum mengalihkan topik. " Lo dateng gak ke reuni nanti?"


" Belum tahu." Balas Lola. Awalnya ia bersemangat untuk pergi, tapi karena Arvi ternyata sudah kembali syuting semangatnya pun memudar.


" Lo harus pergi."


" Kenapa harus?"


" Ya karena kalau Lo gak pergi gue juga gak akan pergi." Sahut Enggar menatap lekat ke manik mata Lola yang gelap.


Lola terkekeh mendengarnya. Pria ini memang tak banyak berubah. Dulu saat sekolah mengadakan study tour dia juga tidak ingin pergi kalau Lola juga tak pergi. Bahkan Enggar remaja sampai rela pergi ke rumahnya utnuk meminta izin pada Mami Papinya agar Lola bisa diizinkan pergi karena waktu itu ia sedang berada dalam tahap pemulihan karena sakit DBD.


Dengan tekad serta kegigihannya pria itu mencoba untuk meyakinkan orangtuanya kalau dia bisa menjaga Lola dengan baik selama disana.


" Gar, please kita bukan anak lima belas tahun lagi. Kita udah dewasa." Kekeh Lola sambil menggelengkan kepala tak habis pikir.


" Ya terus apa bedanya?" Sahut Enggar masih dengan gaya tengilnya.


" Gue males pergi karena suami gue lagi ada urusan. Jadi dia gak bisa kesana. Dan Lo tahu sendiri kan  acara reuni tuh identik dengan pasangan."


" Yaudah, perginya sama gue aja?" Tanggap Enggar cepat membuat Lola mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


" Sorry?"


"  Gue juga gak ada pasangan." Ceplos pria berkaus putih dengan kemeja flanel itu sebelum buru-buru melanjutkan. " Maksudnya selama di sana gue bisa ajak Lo ngobrol biar gak bosen."


__ADS_2