Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
kunjungan mertua


__ADS_3

Aroma Arvi yang selalu wangi membuat ia betah berlama-lama untuk menempel disana.


" Mas cemburu, Ya?" Tanya Lola sambil mendekatkan wajahnya ke arah Arvi. Membuat suaminya itu lantas mengalihkan wajahnya. " Gak papa, kalo memang Mas cemburu. Biar impas, malam ini kita berdua sama-sama cemburu."


" Emang kamu cemburu kenapa?" Tanya Arvi merasa ambigu dengan kalimat terakhir Lola.


" Cemburu aja lihat Mas Arvi sama Yasmin." Ujarnya terlampau jujur. " Sementara aku malah ditinggal sendirian."


" Kamu tahu kan Sayang, bukan keinginan Mas untuk ninggalin kamu sendirian."


" Tahu." Balas Lola cepat, " tapi setidaknya aku jujur dengan bilang kalau aku tadi memang cemburu." Akunya. " Kalau Mas, gimana? Cemburu gak liat aku sama Enggar tadi?"


Arvi segera menoleh ke arah sang istri. Menatap wajah cantiknya yang kini tampak penasaran dengan jawaban apa yang akan ia berikan.


" Apa dia tahu kalau kamu sudah menikah?" Bukannya menjawab. Arvi malah balik bertanya.


" Sepertinya belum."


" Bilang kalau kamu itu udah punya suami." Tanggap Arvi.


Lola terkekeh geli. " Okey, lalu?" Pancingnya.


" Yang gak pernah ninggalin kamu seperti apa yang pernah dia lakukan dulu."


Lola menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Suaminya itu memang tidak mengakui kalau dia cemburu tapi dari caranya berbicara Lola jelas dapat menyimpulkan dengan sangat baik.


***


Kunjungan mertua memang selalu datang tiba-tiba. Tanpa kabar dan selalu di pagi buta.


" Silakan masuk Ma, Oma." Ujar Lola sambil mempersilahkan kedua wanita itu masuk ke dalam rumah. Rambutnya yang kini masih digulung dengan handuk membuat kedua wanita itu jadi saling melirik dan melempar senyum penuh arti.


" Habis keramas ya, La?" Tanya Oma sambil terkekeh pelan. " Maaf kami ganggu pagi-pagi."


Lola menggeleng sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah. " Iya gak apa-apa, Oma. Lola sama Mas Arvi malah seneng kalau di jenguk begini." Ujarnya dengan senyum di bibir.


" Sebentar ya, Lola buatin minum dulu."


" Gak usah repot-repot, La." Ucap sang mertua.

__ADS_1


" Enggak repot kok, Ma."


Bergegas Lola berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum. Dia meninggalkan Anggun dan Aisyah yang kini tampak sibuk mengamati tiap detail rumah dari anak dan juga menantunya tersebut.


" Rumah ini apa gak kekecilan buat kalian?." Tanya Oma Aisyah usai Lola meletakkan dua gelas teh dan cemilan di meja tamu. Dia cukup terkejut kalau cucunya yang biasa hidup dengan kemewahan bisa tahan tinggal di rumah sekecil ini.


" Gak kok, Oma rumah ini pas untuk kami. Lagian kami juga cuma tinggal berdua di sini." Balas Lola sebelum ikut duduk disana.


" Tapi pekarangannya cukup luas Loh, La?" Kali ini giliran ibu mertuanya yang bicara sambil menyesap teh yang tadi sudah Lola siapkan.


" Iya, Ma biasanya anak-anak sering Pake buat main sepeda kalau sore-sore."


" Anak-anak?" Oma Aisyah sontak mengerutkan dahinya.


" Maksud Lola anak tetangga yang tinggal di sekitar sini."


" Oalah, kirain anak siapa!" Oma Aisyah tampak mengangguk-angguk.


" Ngomong-ngomong kamu rutin kan minum jamu yang waktu itu Oma kasih ke Arvi?"


Bicara tentang jamu jujur Lola tak lagi meminumnya. Rasanya yang pahit membuat ia benar-benar harus melambaikan tangan ke kamera. Arvi yang paling tak tega membuat Lola tersiksa sontak saja tak mempermasalahkan kalau istrinya itu tak lagi meminumnya.


" Oma harap sih, kamu rutin meminumnya. Karena jamu ampuh banget buat kesuburan."


" Iya, Oma. Lola selalu minum kok." Kilahnya. " Mas Arvi yang selalu ngingetin kalau aku lupa."


" Bagus, karena Oma udah gak sabar dengar kabar baik dari kalian."


Lola hanya tersenyum mendengarnya.


" Oh iya Arvi mana, La? Kamu udah kasih tahu kan kalau kami kesini?"


" Udah kok, Oma. Pas aku turun Mas Arvi emang lagi mandi." Jawabnya diakhiri dengan sebuah ringisan.


" Nah, itu dia orangnya." Ucap Mama mertuanya bertepatan dengan Arvi yang keluar dari kamar.


Wajahnya yang terlihat segar mengindikasikan kalau memang dia baru saja selesai mandi.


" Kesini naik apa, Oma?" Tanya Arvi usai gantian menyalami dan memeluk kedua wanita itu.

__ADS_1


" Sama sopir, Papamu lagi ada kerjaan. Jadi gak bisa antar." Balas Oma. " Gimana kabar cucu kesayangan, Oma? Sehat gak?"


" Alhamdulillah sehat." Balas Arvi lalu mengambil tempat duduk di sebelah sang istri. " Oma sama Mama sendiri gimana kabarnya?"


" Alhamdulillah, kami juga baik," balas Anggun menyahut.


" Kalau Papa gimana?"


" Papa juga sehat. Kemarin mama habis temani Papa main golf. Katanya umur udah tua ini harus banyak olahraga!"


" Wah seru ya, kapan-kapan boleh dong Ma ajakin Lola sama Mas Arvi main golf juga." Celetuk Lola.


" Oh boleh dong. Nanti kita atur jadwalnya ya. Sekalian kita ajak Oma juga."


Mendengar hal itu Oma Aisyah lantas berdecak. " Udah tua begini, kenapa kalian ajakin Oma main golf. Sengaja mau bikin Oma sakit pinggang," ucapnya membuat semua orang lantas tertawa.


" Gak usah main, Oma nanti kita nonton aja. Biar Papa sama Mas Arvi yang main." Balas Lola sebelum akhirnya mempersilahkan kedua wanita itu untuk mencicipi kue bikinannya. " Silakan Mama dan Oma cobain kue bikinan Lola."


" Wah ini kue kamu yang bikin?" Tanya Anggun antusias.


Lola mengangguk. " Iya, tapi Lola belajarnya dari YouTube Ma. Jadi maaf kalau rasanya tidak enak."


" Udah enak kok ini," sahut Oma sambil mengacungkan jempolnya. " Kalau boleh nanti Oma mau bawa pulang."


" Boleh banget, Oma. Nanti Lola siapin ya." Serunya begitu bersemangat.


Pagi itu mereka habiskan dengan berbincang bersama. Membicarakan semua hal, dari yang penting sampai yang tak penting sekali pun. Hingga tak terasa waktu jadi berjalan dengan begitu cepat.


" Kalian gak ada niatan buat pindah?"


Arvi tersentak saat Oma tiba-tiba menarik tangannya menuju teras rumah saat Lola sedang sibuk memasak bersama Anggun, Mamanya.


" Pindah kemana, Oma? Rumahku disini." Balasnya karena topik ini jujur sering sekali Oma singgung setiap kali berkunjung kerumah mereka.


Oma berdecak mendengarnya. " Udah dua tahun kalian disini. Apakah gak pengap? Rumahnya kecil Lo, Ar?"


Arvi menghembuskan nafas kasar. Rumah ini gak bisa dibilang kecil, kalau Oma membandingkan dengan rumah orangtua serta kakak-kakaknya jelas ini termasuk kecil.


Arvi pun dulu juga berpikiran sama saat Lola tiba-tiba berinisiatif untuk membeli rumah ini. Tapi setelah di tempati nyatanya jelas gak sekecil itu kok. Masih banyak ruang yang tersisa disini karena mereka hanya tinggal berdua. Ralat, maksudnya bertiga bersama dengan Gembul.

__ADS_1


" Gak kecil kok, Oma. Lagian kami cuma berdua."


" Ya tetap aja Ar, nanti kalau kalian punya anak gimana? Mau diletakkan dimana?" Tanya Oma Aisyah beruntun. " Mana panas banget didalam? Ada berapa AC sih yang kalian pasang disini?"


__ADS_2