Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
prank gagal


__ADS_3

Arvi tampak berusaha untuk mencerna semua perkataan Lola, di tatapnya wajah cantik sang istri yang tampak begitu cerah dengan mata menyipit penuh selidik. "Jadi kamu bohong?" Ucapnya menyimpulkan.


"Bukan bohong Mas cuma nge-prank kamu aja, itu lihat kameranya aku letak di sana," tunjuk Lola ke arah kamera yang sengaja ia sembunyikan di dekat lemari.


Arvi menoleh ke arah tunjuk Lola sebelum akhirnya menggeleng tak percaya. Jadi alasan Lola menelponnya tadi hanya karena ingin mem-pranknya untuk dimasukkan ke dalam konten YouTube-nya? Arvi benar-benar tak habis pikir.


"Bercandaan kamu gak lucu."


Senyum Lola yang tadi kelihatan merekah menampilkan deretan giginya yang rapi perlahan menghilang, menyisakan raut wajah plas ketika mendengar nada bicara sang suami yang berubah ketus. Pun dengan guratan wajahnya yang tampak dingin, Apa pria itu marah?


"Mas, aku cuma pengen ngerayain ulang tahun kamu dengan cara yang berbeda aja." Ujar Lola tak sadar kalau lilin-lilin di atas kue yang tengah ia pegang kini mulai meleleh.


"Aku nyetir kalang kabut kayak orang gila demi bisa nyamperin kamu secepatnya. Harusnya ku tahu Lola kalau kekhawatiranku bukanlah hal yang patut di permainkan."


Lola meneguk ludah getir, setelah menikah suaminya itu tidak pernah menyebut nama. Dia selalu memanggil Lola dengan panggilan sayang. Semarah apapun, Arvi tak pernah memanggilnya dengan sebutan Lola saja. Gawat! Pasti suaminya itu sedang marah besar kepadanya.


"Mas aku cuma pengen kasih kejutan." Sahut Lola berterus terang, dapat dipastikan kalau raut wajahnya kini sudah berubah pucat sepucat-pucatnya.


"Kalau ini yang kamu sebut kejutan, aku lebih milih untuk gak mendapat kejutan apapun di sisa umurku."


"Mas kok ngomong gitu sih?"


"Asal kamu tahu aku hampir aja nabrak orang di jalan saking takutnya kamu kenapa-kenapa di rumah. Kalau sampai aku tadi benar-benar nabrak orang kamu tahu apa kemungkinan terburuknya. Mungkin aku bakal di penjara dan gak akan bisa lagi jagain kamu."

__ADS_1


Lutut Lola benar-benar lemas sekarang, pantas saja kalau Arvi semarah itu padanya. Ternyata dia benar-benar ceroboh, secara tak langsung saja Lola hampir saja membuat suaminya celaka."


"Aku minta maaf Mas," Lola mulai bergerak maju agar bisa meraih tangan Arvi. Tapi yang ada pria itu malah memilih untuk mundur beberapa langkah.


"Aku gak masalah kalau kamu mau bikin Vlog tentang kehidupan kita. Tapi kalau sampai apa-apa di jadiin konten kayak begini. Aku pikir aku punya hak untuk gak buat Vlog lagi."


"Mas, aku benar-benar minta maaf." Ucap Lola sambil menghembuskan nafas kasar, "aku tahu aku salah. Untuk seterusnya aku janji gak akan bakal gitu lagi," lanjutnya tampak begitu menyesal. Namun sayangnya Arvi sama sekali tak membalas apa-apa dan lebih memilih untuk meninggalkan Lola yang kini hanya terpaku menatap kepergian sang suami dengan dada sesak dan lilin-lilin kue yang padam karena tertiup angin malam.


***


Setelah membulatkan tekad akhirnya Lola pun menyusul sang suami masuk ke dalam kamar. Terlihat Arvi kini tengah sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil menelpon seseorang. Karena bingung harus melakukan apa, Lola pun menyusul untuk duduk di tepi kasur. Menunggu Samapi suaminya itu selesai menelpon sebelum akhirnya meminta maaf dari hati ke hati.


Sementara Arvi yang menyadari betul kalau sedari tadi Lola tampak mencuri-curi pandang ke arahnya hanya bersikap tak acuh. Jujur ia sama sekali tak bisa mentolerir sikap Lola yang satu ini. Arvi heran entah dapat darimana ide Lola untuk menjadikan prank sebagai bagian dari kontennya.


"Sorry, gue tadi pulang gitu aja. Soalnya ada urusan penting, tolong sampaikan maaf gue ke yang lain." Ucap Arvi pada Boss sebelum menutup telpon. Saking paniknya ia jadi tak sempat berpamitan pada orang-orang di lokasi syuting. Padahal aturannya ada beberapa kali take adegan lagi yang harus ia lakukan.


Setelah panggilan dengan Boss berhenti Arvi lantas berjalan menuju tempat tidur. Sengaja ia abaikan sosok Lola yang sejak tadi tampak duduk di sana dengan wajah lesu tak bersemangat.


"Mas," Arvi menoleh saat pergelangan tangannya tiba-tiba di cekal oleh Lola saat hendak berjalan melewatinya.


Arvi tak bergeming, dia berusaha untuk melepaskan tangan Lola dari tangannya. Walau percuma karena wanita itu malah semakin erat mencengkram tangannya.


"Masih marah ya?" Tanyanya segera bangkit dan berusaha untuk memegang wajah Arvi.

__ADS_1


Arvi menolak dengan memalingkan wajahnya. Membuat Lola lantas tersentak mundur karena tak biasanya Arvi menolak di sentuh olehhnya.


"Mas jangan marah gitu dong. Aku benar-benar minta maaf. Aku janji gak akan begitu lagi," ujar Lola sambil berusaha meraih tangan Arvi. "Maafin aku ya?" Cicitnya karena Arvi terus menerus menepis tangannya.


"Gak semua hal harus kamu jadiin konten. Kamu begitu sama aja dengan kamu membunuh aku. Kamu gak tahu gimana takutnya aku tadi? Aku pikir kalau sampai saja aku terlambat satu detik mungkin aku gak akan bisa liat kamu lagi. Aku bahkan sampai mengutuk diri sendiri sampai terjadi apa-apa dengan kamu. Sedangkan kamu sendiri malah sengaja menjadikan kekhawatiranku sebagai sebuah lelucon."


Dapat Arvi lihat kini Lola mulai menundukkan kepala dalam, "aku minta maaf." Ucap wanita itu untuk kesekian kalinya.


"Tolong bersikap lebih dewasa. Gak semua hal tentang kita harus kamu publikasikan ke orang-orang." Peringat Arvi, "aku sama sekali gak butuh kejutan seperti ini. Harusnya kau tahu itu."


Lola terdiam begitu saja. Walaupun sebelumnya ia sudah menyiapkan beberapa kalimat pembelaan tetap saja untuk kali ini ia tak bisa berkutik saat Arvi memarahinya habis-habisan. Lola tahu betul kalau dia yang salah.


Menatap sebentar wajah Lola yang sudah tertekuk pasrah, Arvi pun memilih untuk berjalan menuju tempat tidur.


"Mas mau kemana?"


"Tidur."


"Potong kuenya dulu," sambar Lola cepat. Ia merasa tidak rela kalau kue yang sudah susah payah ia buat di anggurkan begitu saja.


Karena tak mendapat tanggapan apapun ia memilih keluar dari kamar. Menatap kue yang masih utuh di atas meja makan membuat Lola sontak menghembuskan nafas kasar.


Rencana prank untuk mengejutkan sang suami di hari ulang tahunnya ternyata gagal total. Bukannya tersanjung, malah pria itu malah berbalik memarahinya.

__ADS_1


Ya wajar saja kalau Arvi bersikap demikian, siapa yang tidak kesal coba, hampir celaka hanya sebuah prank bodoh? Tapi walaupun begitu Lola masih tetap berharap kalau nanti Arvi mau memakan kue dan meniup lilin yang telah ia siapkan tersebut agar usaha yang ia lakukan tidak sia-sia begitu saja.


__ADS_2