Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Ulang Tahun Oma


__ADS_3

" Baguslah kalau kalian masih ingat. Mama tutup dulu telponnya ya. Kita ketemu dirumah," ucap wanita itu sebelum benar-benar menutup telponnya.


" Kenapa Mas?"


" Hari ini ulang tahun Oma. Mama minta kita kerumah sekarang buat rayain bersama. Oma juga dari tadi nanyain kita mulu, jelas Arvi membuat Lola tersadar kalau hari ini adalah hari ulang tahun Oma.


" Yaudah sekarang kita tunggu apa lagi ayo siap-siap. Mas mandi dulu biar aku yang beresin tempat tidur dan nyiapin baju."


" Katanya tadi kamu capek?"


" Lola menggeleng. " Gak capek kok!" Balasnya lalu bangkit dari tempat tidur dan tidur dan menarik tangan suaminya itu. " Ayo Mas buruan mandi, kasian Oma kalau nunggunya kelamaan."


Arvi bangkit dan melayangkan tangannya untuk mengacak permukaan rambut Lola. " Habiskan sarapannya ya." Pintanya sebelum beralih menuju kamar mandi.


Lola segera memasukkan potongan roti yang tersisa kedalam mulutnya sebelum membereskan kasur yang kini benar-benar berantakan karena pertempuran semalam. Tak lupa ia menyiapkan baju yang akan dipakai Arvi nanti sebelum membawa nakas berisi piring dan gelas kosong ke dapur untuk dicuci.


Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat dapurnya kini benar-benar berantakan dengan pintu kulkas dibiarkan terbuka. Tak sampai disitu Lola yang baru saja meletakkan nampan diatas wastafel sontak mengernyitkan dahi saat telapak kakinya kini terasa lengket. Seketika ia berjongkok dan menemukan banyak tumpahan serbuk putih yang berserakan dilantai. Serbuk-serbuk itu sepertinya berasal  dari toples susu yang biasanya ia simpan diatas lemari.


" Sabar, sabar." Batin Lola dalam hati sambil mengurutkan dadanya. Hal yang tak berlangsung lama karena setelahnya ia lantas berteriak kencang demi bisa melampiaskan amarahnya.


" MAS DAPURKU KAMU APAIN?!"


***


" Sayang ini tas Gembul mau dibawa sekalian?" Tanya Arvi pada Lola yang sedari tadi memilih untuk mendiamkannya.


Arvi tahu ini adalah kesalahannya karena tak membereskan kekacauan didapur sebelum memberikan sarapan pada Lola. Wajar kalau wanita itu kini mendiamkannya. Terlebih saat mengetahui kalau Arvi tadi juga sempat memecahkan satu piring makan yang menurut pengakuan Lola adalah barang Limited edition.

__ADS_1


" Sayang." Panggil Arvi yang benar-benar tak tahan dengan aksi diam-diaman mereka.


Sejak tadi memang dia memang sudah berulang kali meminta maaf pada Lola. Namun sayangnya percuma karena tampak wanita itu sengaja mengabaikan nya. Bahkan kini dengan santainya ia masuk kedalam rumah dengan kedua tangan menggendong Gembul. Sementara Arvi berkutat dengan semua tektek bengek milik kucing itu, mulai dari makanan, tas cargo, dan juga mainan yang sumpah demi apapun dia tak mengerti apa gunanya membawa mainan sebanyak ini.


Memangnya nanti Gembul mau sirkus didepan seluruh anggota keluarga apa?


Setelah masuk ia mendapati Lola kini sudah disambut dengan suka cita oleh Keluarganya dengan Gembul yang langsung diambil alih oleh Papanya. Ya semenjak Lola memelihara Gembul, Papa jadi berinisiatif untuk memelihara kucing juga. Tapi sayangnya Mama tolak. Karena Papa tipikal orang yang gampang bosan.


" Akhirnya kalian sampai juga. Oma baru saja mau nyuruh Anggun buat telepon kalian." Ucap Oma usai memeluk Lola erat.


" Iya, Oma kebetulan tadi aku sama Mas Arvi terjebak macet dijalan." Kilah Lola beralibi sebelum mendaratkan kecupan di kedua pipi wanita itu. " Selamat ulang tahun Oma, semoga Oma sehat selalu dan panjang umur."


" Aamiin." Ucap Oma sambil menangkup pipi Lola dan mengecup dahinya. " Makasih ya udah mau repot-repot datang kemari."


Lola mengangguk senang sebelum beralih menatap Anggun, Ibu Mertuanya.


" Mantu Mama udah makan?" Tanya anggun pada Lola. " Mau makan sekarang gak? Kebetulan hari ini Mama masak banyak."


" Oma bisa aja." Balas Lola sambil tersenyum. " Biar Lola bantu ya, Ma?" Lanjutnya sebelum mengikuti jejak sang mertua menuju dapur.


Meninggalkan Oma dan Arvi diruang keluarga karena Papa kini sedang diteras samping sambil bermain dengan Gembul.


" Selamat ulang tahun, Oma." Arvi menyalami tangan wanita itu sebelum mencium pipinya. " Maaf, akhir-akhir ini kami jarang nengokin Oma!"


" Oma bisa maklumi kesibukan kamu itu. Tapi setelah melihat keadaan Lola, Oma gak bisa mentolerir lagi."


" Maksud Oma?" Tanya Arvi tak mengerti.

__ADS_1


" Itu coba kamu lihat, istrimu itu kok badannya bisa jadi tambah kurus begitu. Kamu kasih makan gak sih?"


" Perasaan badan Lola emang dari begitu kok Oma." Ucap Arvi membela diri.


" Dia jauh lebih kurus semenjak menikah dengan kamu. Memang iya pas masih gadis badannya itu kecil, tapi sekarang kamu lihat betul-betul. " Jelas Oma bertepatan Lola yang berjalan dari dapur menuju meja makan, meletakkan beberapa piring. " Mungkin kamu gak menyadarinya karena kamu terbiasa melihat nya setiap hari. Tapi bagi Oma, yang hanya bisa liat dia sesekali jelas bisa menilai Lola itu sekarang tambah kurus."


Arvi menipiskan bibir dengan mata yang menatap intens pada Lola yang kini tengah menata piring dan peralatan makan. Arvi baru menyadari kalau punggung itu jauh lebih kecil dan tingkah dari biasanya. Bagaimana mungkin ia tak menyadari perubahan tubuh Lola setelah menikah dengannya?


" Sebenarnya kamu kasih duit gak sih ke Lola buat dia belanja?"


" Kasih kok, Oma!" Serga Arvi cepat. " Malah Lola sendiri yang memegang ATM ku. Aku gak pernah batasin Lola mau pakai uang itu. Dia boleh belanja apapun yang ia mau."


" Tapi kok bisa sekurus itu? Oma takutnya keluarganya menyangka kalau dia gak bahagia sama kamu. Buktinya aja dia kelihatan jauh terurus pas masih sama orangtuanya dibanding sama kamu."


Arvi terdiam mendengarnya. Kalau Oma saja bisa berpikiran berpikiran seperti itu bagaimana dengan orangtua Lola?


Apa selama ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sampai lupa menanyakan pada Lola apakah dia bahagia dengan pernikahan ini? Selama ini Lola telah mengurusnya dengan sangat baik tapi yang jadi pertanyaannya adalah apakah ia sudah melakukan hal yang sama pada istrinya itu?


Apa Lola bahagia menikah dengannya?


***


" Kalian lagi berantem ya?" Tanya Vina pada Lola yang kini tengah duduk di sofa panjang ruang keluarga bersama Elsa dipangkuannya.


" Berantem? Siapa Mbak?" Tanya Lola pura-pura tak paham


Vina mendecakkan lidah. " Kamu sama Arvi. Pasti lagi berantem kan?"

__ADS_1


Lola sontak saja mengarahkan pandangannya pada sosok jangkung yang sedang bicara serius dengan Yazid, Kakak iparnya yang diruang tamu. Entah apa yang mereka bicarakan Lola pun tak tahu. Tapi kelihatannya cukup serius. Eh, sepertinya gak seserius itu karena Lola cukup mengetahui kalau wajah keduanya memang sudah terdesain datar seperti itu. Sebelas dua belas lah.


" Kok Mbak bisa tahu? Emang kelihatan ya?" Tanya Lola sambil sesekali menyuapkan kue bolu ke mulut Elsa.


__ADS_2