Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Egois


__ADS_3

Anggaplah dia terlalu kekanakkan dan berlebihan tapi jujur Lola benar-benar kecewa dengan keputusan yang Arvi pilih.


Apa tidak cukup pria itu menghabiskan harinya dengan Yasmin di lokasi syuting sampai disaat ulang tahun wanita itu sekalipun, yang seharusnya menjadi kepunyaan Lola.


Kalau begitu kapan Lola bisa menghabiskan waktunya yang tak seberapa itu bersama sang suami jika sekarang saja kesempatan itu telah di renggut begitu saja darinya.


***


Keesokan harinya Lola memutuskan untuk mendiamkan suaminya itu. Bukan di sengaja sih tapi memang sudah menjadi kebiasaannya kalau sedang marah akan cenderung diam dan tak banyak bicara. Tipikal perempuan pada umumnya.


" Ini bekalnya."


Lola memberikan kotak makan berisi dua potong sandwich dan buah apel serta mangga yang sudah dikupas pada Arvi yang kini sedang memakai alas kakinya.


Arvi menerima kotak makan itu sambil mencuri-curi pandang Lola yang masih mempertahankan raut masamnya. Ini adalah kalimat pertama yang Lola ucapkan setelah kejadian malam itu.


" Seperti biasa Mas akan terlambat pulang hari ini. Kamu bisa tidur duluan kalau sudah mengantuk." Pesan Arvi tak mau kejadian dimana wanita itu menunggunya di sofa ruang tamu terjadi lagi.


Lola berdehem sekenanya. " Aku juga nanti rencananya mau pergi ke acara akikahannya anak Sandra bareng."


" Naik taksi aja, mobil kamu udah lama gak dipakai. Takutnya nanti kenapa-kenapa dijalan."

__ADS_1


" Aku mau tetap pakai mobilku sendiri. Ribet kalau harus naik taksi." Kekeh Lola sambil bersedekap. " Paling tinggal dipanasin sebentar juga aman." Entengnya terkesan menyepelekan.


" Tetap saja sayang, mobil yang udah jarang di pakai itu kualitas mesinnya menurun. Perginya naik taksi aja ya jaga-jaga." Arvi masih berusaha membujuk istrinya itu.


Semenjak menikah Lola memang jarang menggunakan mobilnya sendiri dengan alasan Arvi yang selalu mengantarnya kemana pun ia mau. Maka tak heran kalau mobilnya yang berjenis mini Cooper itu hanya menjadi pajangan di garasi. Di jual pun rasanya sayang karena dulu Lola sudah bersusah payah membelinya dengan menyisihkan gajinya selama bekerja di Dream Production, tempat perusahaan dimana ia bekerja dulu yang bergerak di bidang even organizer.


" Pokoknya aku mau pakai mobilku, Mas gak usah khawatir semua bakalan aman-aman aja kok." Ucap Lola setengah menggerutu. Mungkin efek masih kesal dengan suaminya itu.


" Tapi, kalau nanti terjadi apa-apa sama kamu, gimana?"


Lola spontan mendecakkan lidah mendengarnya. " Mas itu terlalu berpikiran negatif tahu gak? Doainnya yang baik-baik kek. Kalau Mas ngomong begitu terus yang ada aku malah kedistraksi. Bisa-bisa aku jadi gak fokus nyetir." Kekehnya tanpa sadar menaikkan intonasi.


" Kekhawatiran Mas itu berlebihan, lagian selama ini aku pakai mobilnya juga fine-fine aja kok." Lola tampak masih kekeh dengan keputusannya. " Nanti sebelum pergi aku bakalan panasin mesinnya. Jadi gak ada alasan buat Mas untuk khawatir dan larang-larang aku lagi."


Dapat Lola lihat Arvi kini menatapnya dengan sorot mata tak habis pikir sebelum akhirnya bangkit dari kursi. " Terserah, lakukan apa yang kamu suka."


" Okey, fine!" Seru Lola sambil mengangkat bahu tak acuh. Dia juga tak tahu darimana asal keberaniannya ini sampai ia bisa begitu lantangnya menentang sang suami.


" Mas gak nyangka kalau kamu se-egois ini." Ucap Arvi merasa kesal dengan sikap Lola yang tak biasanya antikritik dan hanya mementingkan diri sendiri seperti ini.


Lola membulatkan mata seketika sambil menatap kesal kepergian sang suami yang kini mulai masuk ke dalam mobil. Egois? Lola sontak berdecih. Egois apanya? Dia hanya ingin membawa mobilnya sendiri. Memang itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan egois? Harusnya Arvi bangga punya istri yang serba mandiri seperti dirinya. Bukanya malah semakin memanjakannya dengan memintanya pergi bersama taksi. Lagipula menurut Lola kekhawatiran pria itu sangatlah berlebihan. Dan sesuatu yang berlebihan jelas tidaklah baik, iya kan?

__ADS_1


Dengan langkah sedikit menghentak Lola lantas masuk ke dalam kamar dan segera menyiapkan semua hal yang dibutuhkan Gembul selama disana. Dia memang berencana untuk membawa kucing itu pergi bersamanya, jaga-jaga kalau misalnya ia pulang lama. Dia tak perlu khawatir dengan keadaan kucing yang sudah ia anggap bagaikan anak sendiri itu.


Melirik ke arah jendela yang memperlihatkan mobil Arvi yang melaju membuat kekesalan Lola semakin di ubun-ubun. Harusnya dia yang marah, tapi kenapa malah suaminya yang balik mengatai dia egois. Lola tahu kata egois itu berkonotasi negatif, yang artinya kalau tidak salah menurut KBBI adalah orang yang mementingkan diri sendiri. Memang kapan Lola mementingkan dirinya sendiri? Bukankah selama ini dialah yang sering mengalah? Yang ada suaminya itu yang egois. Bisa-bisanya ia membatalkan janji yang telah ia buat bersama sang istri hanya demi merayakan ulang tahun lawan mainnya itu.


Lola tanpa sadar jadi mengigit bibir bawahnya keras, terlebih saat menyadari kalau Arvi sama sekali tak berpamitan padanya dengan cara yang biasa ia lakukan. Heiii, bisa-bisanya pria itu pergi begitu saja tanpa mencium dahinya terlebih dahulu. Entah perasaan Lola yang terlalu halus atau mungkin dia yang terlalu baper, tapi apapun masalah yang mereka hadapi tidak seharusnya Arvi pergi begitu saja tanpa berpamitan dengannya. Iya kan?


Aneh! Lola lagi-lagi mendengus sebal. Selain itu juga tidak biasanya Arvi menyerah begitu saja dalam menghadapi kekeras kepalanya. Kalau suaminya itu benar-benar khawatir harusnya bagaimana pun caranya dia tetap harus membujuk Lola kan? Bukannya begitu saja tanpa berpamitan dan mengatai dirinya dengan sebutan egois. Menyebalkan!


" La, ini mobilmu aman gak sih? Kok selama di perjalanan tadi bunyinya krok krok gitu, Mami jadi ngeri!" Ucap Puspa sesampainya mereka di kediaman Sandra yang kebetulan baru saja melahirkan ank keduanya.


" Aman kok Mi, ini cuma gara-gara jarang dipakai aja." Balas Lola cepat waktu selama di perjalanan tadi ia sudah harap-harap cemas takut kalau mobilnya itu nanti mogok dijalan.


Puspa bergidik ngeri. " Mending mobil kamu minta ganti aja sama Arvi dengan mobil keluaran terbaru. Ngeri Mami numpang sama kamu lagi, kalau masih pakai mobil itu. Berasa naik bajaj lewat jalan krikil."


Lola mendengus seketika mendengar roastingan sang mami mengenai mobil kesayangannya itu. " Emang Mami pikir beli mobil baru itu gak pakai duit apa?"


Puspa berdecih. " Jangan kayak orang susah, La! Beli mobil baru juga gak bakalan bikin suami kamu langsung jatuh miskin. Lagian mobil kamu ini memang udah gak layak pakai." Komentar sang Mami dengan gaya sok tahunya.


" Sayang duitnya Mi, mending duitnya di tabung buat investasi pendidikan anak Lola nanti. Lagian aku juga gak butuh-butuh banget sama mobil." Cibir Lola agak kesal juga saat Maminya mengatakan kalau mobilnya itu sudah tak layak pakai.


" Terserah kamu saja La, ayo masuk." Tak ingin mencampuri pilihan sang anak, Puspa pun mengajak Lola masuk kedalam rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2