Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
kejadian di acara kumpul keluarga


__ADS_3

Arvi menggeleng, "Arvi sangat mencintai Lola Oma. Terlepas dari apapun masalah yang terjadi di rumah tangga kami, Lola akan tetap selalu jadi istri Arvi. Pengandaian yang Oma bilang tadi udah sangat keterlaluan dan Arvi gak akan bisa mentolerir kalau sampai Lola mendengarnya," peringatnya keras.


"Kenapa sekarang jadi kamu yang marahin Oma?" Tanya wanita itu dengan dahi berkerut. Karena tak biasanya Arvi menaikkan intonasi saat bicara dengannya.


"Wajar kalau Arvi marah, Lola itu istri Arvi Oma. Wanita yang sudah Arvi janjikan pada orangtuanya untuk selalu di bahagiakan." Jelas Arvi sambil menatap Oma lekat, "bahkan semisal Arvi bisa kembali ke dua tahun lalu dan memilih wanita lain untuk di jadikan istri, pilihan Arvi tetap jatuh pada Lola. Karena kebahagiaan Arvi hanya padanya, ada ataupun tidak adanya anak dalam pernikahan kami, Arvi gak akan pernah berpikir untuk memandang wanita lain sama seperti Arvi memandang Lola."


Ada nada keseriusan yang dapat Aisyah tangkap dari ucapan cucunya itu. Jika dulu hanya ada dia dan Anggun sosok wanita yang paling Arvi puja, sekarang semua jelas berbeda. Ada sosok baru yang seolah menjadi tumpuan bagi hidup pria itu. Dan itu adalah Lola.


Aisyah terdiam. Merasa apa yang ia katakan tadi mungkin sudah sangat keterlaluan dan menyakiti hati Arvi. Namun mau bagaimana lagi? Nasi telah menjadi bubur.


"Arvi, Oma ha___"


"Om! Om!" Seruan dari Zia membuat Arvi lantas menoleh seketika.


"Kenapa Zia?" Tanyanya saat melihat wajah anak perempuan itu terlihat panik.


"Itu Tante Lola lagi dimarahin sama Om Yazid."


"Dimarahin?" Merasa janggal, Arvi pun segera berjongkok dan memegang kedua lengan anak itu. "Dimarahin gimana?"

__ADS_1


"Tadi pas lagi main di teras dedek Elsa gak sengaja injak perut Gembul. Jadi sama Gembul tangan dedek Elsa-nya di cakar. Om Yazid langsung marah-marah pas tahu tangan dedek Elsa berdarah."


Arvi tampak mengusap wajah kasar sebelum akhirnya menuju ke teras. Dimana tepatnya Lola sedang tertunduk sambil mendengarkan amukan Yazid mengenai Gembul yang tak sengaja mencakar tangan Elsa yang kini sedang menangis di pelukan Vina.


"Kamu tahu kan kalau disini banyak anak kecil, kenapa harus bawa kucing segala?" Tanya Yazid semakin menyudutkan Lola. "Kalaupun kamu memang ingin bawa peliharaanmu itu. Ya harusnya kamu jaga sendiri, bukannya malah nyuruh anak-anak main sama dia."


"Mas udah," potong Vina sambil berusaha menenangkan Elsa yang masih saja menangis. "Jangan diperpanjang."


"Ada apa ini?" Tanya Arvi tiba-tiba menyelinap masuk dan berdiri di tengah-tengah kerumunan.


"Kamu lihat tangan Elsa, dia terluka gara-gara kucing peliharaan istrimu itu."


"Itu kecelakaan, Mas. Tadi Zia bilang Elsa gak sengaja injak perut Gembul. Makanya kucing itu bereaksi seperti itu," jelas Arvi benar-benar tak suka melihat Lola di bentak begitu saja di depan semua orang oleh sang kakak.


"Oh jadi kamu mau menyalahkan anak umur tiga tahun? Iya? Harusnya sebelum menyalahkan anakku kamu ajari dulu istrimu  itu untuk gak sembarangan bawa binatang ke acara keluarga. Kenapa dia selalu saja bersikap seenaknya di rumah ini?"


"Bersikap seenaknya?" Tanya Arvi dengan rahang mengerat. Dia benar-benar sakit hati dengan penilaian sang kakak terhadap Lola.


Bola mata Yazid kini mulai beralih menatap Lola, "bahkan aku dan Vina saja gak pernah memberikan sembarangan makanan untuk Rehan dan Elsa. Tapi kenapa dia malah bersikap seenaknya dengan memberikan snack-snack yang ia bawa entah dari mana itu pada anak-anak kami? Bahkan tanpa seizin aku dan Vina selaku orangtuanya. Apa itu namanya kalau bukan bersikap seenaknya?" Sahut Yazid telah sebelum akhirnya menatap Lola tajam. "Bahkan sampai saat ini Mas belum mengerti kenapa kamu bisa memilih dia sebagai istri?"

__ADS_1


Rahang Arvi mengetat seketika. Bogeman mentah langsung ia layangkan di rahang sang kakak. Membuat seisi rumah lantas memekik kaget. Jujur dia sama sekali tak pernah bersikap di luar kendali seperti ini, terlebih memukul orang lain. Tapi entah kenapa kali ini ia merasa bogeman itu lebih dari cukup untuk menjelaskan bagaimana perasaannya ketika mendengar perkataan pria itu barusan. Ini pertama kali bagi Arvi memukul saudaranya sendiri menggunakan tangannya dan untuk itu ia sama sekali tidak menyesal.


"Arvi! Yazid! Udah!" Teriak Oma dengan sang Mama yang berusaha untuk memisahkan kedua kakak beradik itu. Entah kenapa suasana mendadak menjadi panas. Terlihat keluarga Galih dan Kinan yang sama sekali tidak ingin ikut-ikutan hanya bisa menonton keributan itu dengan raut wajah tak percaya. Karena ini adalah Arvi, anak laki-laki termuda kebanggaan keluarga yang selalu menggunakan akal sehatnya sebelum bertindak.


"Kalian ini apa-apaan sih?" Tanya Oma terlebih saat melihat sudut bibir Yazid tampak mengucurkan darah segar. "Arvi, Oma gak pernah ngajarin kamu untuk main tangan! Apalagi sama kakakmu sendiri."


Arvi menggeleng keras, "gak Oma dia pantas mendapatkannya." Balas pria itu lalu segera berbalik dan meraih tangan Lola. "Kalau dia gak bisa menghargai Lola sebagai istri Arvi, Arvi juga gak akan pernah nganggap dia sebagai kakak." Lanjutnya sebelum membawa sang istri keluar dari rumah tersebut. Mengabaikan teriakan Oma dan sang Mama yang meminta keduanya untuk segera kembali.


***


Setelah selesai mandi, Arvi segera mendekati Lola yang kini tengah duduk di tepi kasur sambil menyisir rambutnya. Entah kenapa sejak di dalam mobil wanita itu jadi tak banyak bicara. Wajahnya pun terlihat tak seceria biasanya, dengan mata kosong yang selalu menatap lurus ke depan."


"Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Arvi karena tadi saat dirumah orangtuanya Lola sama sekali tidak makan apapun.


Lola tersentak saat menyadari sang suami yang entah sejak kapan sudah ada didekatnya, "aku gak lapar."


Arvi tampak membasahi bibir sebelum ikut duduk di samping Lola. Dia tahu jika sekarang ada yang tengah mengganjal dipikiran wanita itu. "Omongan Mas Yazid tadi gak usah terlalu kamu pikirkan," katanya membuat Lola tanpa di sangka-sangka tertawa kecil. Tawa yang terasa berbeda karena entah kenapa kali ini terdengar begitu menyayat hati.


"Aku udah biasa. Toh dari dulu kakak-kakakmu itu emang gak suka aku kan?" Tanya Lola sambil tersenyum getir. "Oh bukan hanya kakak-kakakmu, tapi juga seluruh keluargamu. Kecuali Mama."

__ADS_1


Lola lalu menatap wajah tampan sang suami dengan tatapan dalam. Jemarinya perlahan menyusuri rahang Arvi yang di tumbuhi titik-titik hitam bekas cukuran. "Aku gak nyangka menjadi istri seorang Arvi Tarada ternyata bisa se-melelahkan ini. Aku terlalu naif waktu kamu minta aku untuk jadi istri tanpa memikirkan apa yang sekiranya terjadi di rumah tangga kita nanti. Selama ini aku mencoba sebaik mungkin agar bisa pantes berada di tengah-tengah keluarga kamu. Tapi kenyataannya apa? Seorang Syerin Lola bahkan gak akan pernah cukup untuk posisi itu."


__ADS_2