
Lola mengelus senyum ramah sebelum akhirnya menyambut permintaan remaja itu dengan senang hati.
"Boleh dong sini biar aku yang pegang kameranya."
Semenjak membuat YouTube Lola merasa semakin banyak orang yang mengenalinya.
Dulu orang hanya dapat mengenalinya sebagai istri Arvi saat ia berada di dekat pria itu. Tapi sekarang, setelah chanel-nya itu sudah mendapat lebih dari satu juta subscribers, banyak dari orang-orang yang mulai mengenalinya sebagai Lola, istri Arvi. Bahkan tanpa ia perlu berada di dekat suaminya itu.
Muka remaja perempuan itu sontak berseri seketika, segera ia memberikan ponselnya pada Lola sebelum akhirnya mengambil ancang-ancang untuk berpose.
"Gak nyangka bisa Kakak disini," ucap remaja itu dengan mata berbinar menatap Lola. "Aku suka banget loh nonton Vlog-nya Kakak."
"Oh ya? Thank you," sahut Lola tak kalah antusias sebelum melemparkan pertanyaan pada gadis itu. "Kamu siapa namanya? SMA kelas berapa?"
"Namaku Raya, Kak. Kelas satu SMA."
Lola lagi-lagi mengulas senyum, "salam kenal ya, Raya."
Saking senangnya Raya tampak tak kuasa menahan pekikannya, "aslinya baik banget ternyata." Gumamnya pelan seperti berkata, "kak Lola aku ini salah satu admin fanbase-nya Arvela loh.
"Ha? Arvela, apa?" Lola menaikkan satu alis tak paham.
"Loh, emang Kak Lola gak tahu, Arvela tuh nama club penggemar buat Arvi Lola."
Lola melebarkan mata tak percaya, oh jadi selama ini dia dan Arvi punya club penggemar sendiri? Jika perkumpulan penggemar Arvi-Yasmin biasa di panggil dengan sebutan Vimin. Maka perkumpulan penggemarnya dengan Arvi disebut dengan Arvela, Wah.
"Jujur aku baru tahu loh."
"Makanya Kak Lola coba deh sering-sering menjelajah ke Instagram biar tahu informasi terkini," celoteh Raya. "Atau Kak Lola mau follow akun fanbase punyaku juga boleh biar gak ketinggalan informasi."
Dan alangkah terkejutnya Lola saat melihat akun fanbase yang dikelola Raya ternyata sudah mencapai puluhan ribu followers, Wow. Lola benar-benar tak menyangka.
Setelah berbincang cukup lama, Raya memutuskan untuk pamit. Begitu juga dengan Lola yang langsung melipir ke rak lain untuk mencari barang yang ia perlukan. Tak terasa keranjangnya kini sudah di penuhi oleh bahan-bahan untuk membuat kue. Merasa dia tidak akan bisa lagi merekam karena harus mengangkat keranjang. Lola pun memutuskan untuk menyimpan kameranya ke dalam tas.
__ADS_1
Ah, rasanya tidak sabar untuk mem-prank suaminya itu? Kira-kira bagaimana ya reaksinya.
Arvi baru saja akan berganti pakaian saat tiba-tiba telponnya berdering menampilkan nama Lola, sang istri.
"Sebentar," pamitnya pada Karina sang asisten yang sebelum akhirnya keluar dari ruang ganti.
"Halo sayang."
"Halo Mas...." Balas Lola dengan suara bergetar seperti orang yang sedang ketakutan.
Arvi mengerutkan dahi heran, "sayang, kamu kenapa?" Paniknya.
Kini isakan tangis Lola mulai terdengar di ujung sana membuat Arvi jadi melebarkan mata, "sayang, kenapa?" Ulangnya.
"Mas kayaknya di luar ada maling yang mau nyerobot ke rumah kita."
"Ha? Maling gimana?" Heran Arvi sama sekali tak mengerti bagaimana bisa maling masuk ke rumah mereka.
"Terus sekarang kamu ada dimana? Keluar sekarang juga."
"Aku lagi bersembunyi di kamar," ujar Lola. "Aku gak bisa keluar, Mas. Aku takut kalau mereka bawa senjata tajam gimana?" Lanjutnya dengan nada cemas, "Mas cepetan pulang."
Arvi yang kepalang panik segera keluar dari ruang ganti dan berjalan cepat menuju tempat dimana mobilnya di parkirkan. Jujur sekarang dia sama sekali tak bisa lagi berpikir jernih. Lagipula bagaimana bisa maling masuk kerumah mereka?
"Mas pulang sekarang, kamu jangan kemana-mana. Tetap berada dikamar, kalau perlu sembunyi dulu di lemari atau bawah tempat tidur." Perintah Arvi.
"Cepetan pulang, Mas. Aku takut." Isak Lola lagi membuat Arvi jadi semakin kelimpungan.
"Iya sayang iya, Mas pulang sekarang. Kamu jangan takut, mereka gak akan bisa nyentuh kamu."
Arvi tampak memukul setir berulang kali sebelum menjalankan mobilnya membelah jalanan. Jujur dia sama sekali tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa pada sang istri.
***
__ADS_1
Lola terkikik geli saat mendengar nada panik dari sang suami saat ia mengadu di telpon dengan mengatakan kalau rumah mereka di masuki maling. Sepertinya pria itu tidak sadar kalau hari ini atau lebih tepatnya jam dua belas malam nanti adalah hari ulang tahunnya.
Menghapus jejak air mata palsunya yang menggenang di pipi, Lola pun segera menyiapkan alat serta bahan yang di perlukan. Mulai dari mengatur letak kamera, menyebarkan balon di ruang tamu, mengeluarkan kue yang ada di kulkas serta terakhir mematikan seluruh lampu agar prank-nya kelihatan begitu real.
"Sekarang aku tinggal nunggu Mas Arvi pulang, dari suaranya sih tadi pas di telpon kayaknya panik banget. Kira-kira dia maraj gak ya?" Bisik Lola sambil menatap kamera.
Segera Lola mengambil ancang-ancang untuk bersembunyi di dekat sofa. Rencananya saat Arvi mulai membuka pintu barulah ia akan keluar dan mengejutkan pria itu dengan ucapan selamat ulang tahun serta kue.
Semoga aja rencananya berjalan dengan lancar.
Mendengar deru suara mobil sang suami di luar sana membuat Lola kembali bersembunyi di balik sofa sambil memegang kue. Jantungnya entah sejak kapan mulai berdegup kencang, terlebih saat suara kenop pintu kini terdengar yang menandakan kalau suaminya itu sudah akan masuk ke dalam sana.
"Sayang?" Panggil Arvi menggema hingga satu ruangan, "kamu dimana?" Kerutan di dahinya semakin jelas saat menyadari kalau hanya lampu di rumah mereka saja yang mati. Jujur dia tak pernah merasa sepanik ini dalam hidupnya.
Dengan cepat Arvi berusaha untuk mencari saklar lampu, membuat ruangan itu seketika berubah terang memperlihatkan banyaknya balon beraneka warna yang berterbangan di lantai. Arvi sontak mengerutkan dahi heran, kenapa ada banyak balon di rumahnya?
"Suprise!"
Seruan itu membuat Arvi lantas tersentak dan menoleh ke arah Lola yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.
"Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you."
Lola mulai bernyanyi sambil menyalakan lilin-lilin yang ada di atas kue sebelum akhirnya berhenti di depan Arvi.
"Selamat ulang tahun, sayang!" Serunya sambil tersenyum lebar.
"Mana malingnya?" Tanya Arvi mengabaikan ucapan ulang tahun dari sang istri, "kamu gak apa-apa kan?" Dia mulai meneliti tiap detail permukaan tubuh Lola.
Lola tak bisa menahan tawa saat melihat raut suaminya itu yang masih kentara betul paniknya, "aku gak papa kok. Gak ada maling disini." Kekehnya.
"Tapi tadi kamu bilang di telpon...."
"Its just prank. Aku gak serius bilang kalau rumah kita kemalingan. Itu cuma prank aja buat rayain hari ulang tahun kamu."
__ADS_1