
Lola terdiam sambil menatap kedua bola mata Arvi bergantian. Matanya menyelam diantara pekatnya iris mata pria itu sebelum akhirnya mengulas senyum.
" Marahnya tunda dulu ya? Tuh lihat Vito dan Celine udah mau jalan menuju kesini." Kata Lola sambil menunjuk penampakan sepasang suami istri yang mulai berjalan ke arah mereka.
" Hey, bro! Apa kabar?"
Arvi terkejut saat tiba-tiba Vito mulai merangkul bahunya akrab. " Gue baik, by the way, happy anniversary buat kalian berdua." Jawabnya dengan hati-hati melepas rangkulan tersebut.
" Thank you bro."
Lola menyadari kalau Arvi bukanlah tipe orang yang suka skinship ( kecuali dengan orang yang benar-benar dekat dengannya) sontak terkekeh. Dan ganti bersalaman pipi dengan Celine.
" Semoga kalian bisa langgeng dan harmonis selalu." Timpal Lola setelah bercipika-cipiki dengan Celine yang malam ini terlihat sangat sexy dengan dress merahnya.
" Thank you, Lola." Ucap Celine sambil memperhatikan penampilan Lola dari ujung kepala sampai kaki. " You look so beautiful tonight. Bagi tahu dong apa sih resepnya supaya muka bisa awet muda terus? Soalnya aku perhatiin kamu baby face banget."
Lola tertawa pelan. Saking seringnya mendengar pujian seperti itu, ia jadi tak tahu harus bagaimana menanggapinya. " Apa ya? Gak ada resep sih. Just enjoy your life and be happy."
Seakan tak puas dengan jawaban yang Lola berikan, Celine lantas kembali bertanya. " Pipi kamu kayaknya kenceng banget. Pasang implan di dokter kecantikan mana?"
" Lola gak pernah melakukan implan di wajahnya. Dari dulu sampai sekarang wajahnya memang seperti ini." Belum sempat membuka mulut nyatanya Arvi sudah lebih dulu menanggapi pertanyaan dari Celine.
Sepertinya dia tak terima kalau istrinya dikira memasang implan di wajahnya.
" Ah gitu ya." Ujar Celine yang dari ekspresinya masih saja kelihatan tak percaya. " Kalau gitu salon deh. Kamu biasanya ke salon mana? Mungkin kapan-kapan kita bisa pergi bareng?"
" Sebenarnya aku gak terlalu sering ke salon sih. Paling kalau memang lagi pengen treatment wajah atau creambath ke salon punya mami aku."
__ADS_1
" Oh jadi Mami kamu punya salon?" Tanya Celine yang tampak excited. " Boleh dong kapan-kapan kita pergi bareng."
Lola mengangguk cepat. " Atur aja. Aku selalu ada waktu kok," balas Lola ramah sebelum akhirnya beralih menatap sang suami yang sepertinya semakin badmood lantaran tadi Celine sempat mengira kalau dia melakukan implan pada bagian pipinya.
Lucu, sekali. Padahal pipinya kencang bukan karena implan, tapi karena apapun yang ia makan selalu berkumpul di kedua pipinya.
***
Apa yang lebih buruk dari melihat sang suami sedang diwawancarai bersama lawan mainnya dengan begitu mesra di depan mata kepala sendiri?
Lola meletakkan mangkok puding mangga yang tadi ia ambil di tempat jamuan dengan sedikit menghempas. Untuk kali ini ia merasa muak saat memakan makanan kesukaannya.
Setelah setengah jam merelakan sang suami berbincang dengan sutradara dan beberapa pemain Eternal Love yang kebetulan juga hadir di acara anniversary Vito dan Celine. Ia jadi bingung harus melakukan apa? Terlebih saat mengetahui kalau Arvi kininsedang di wawancarai oleh awak media bersama dengan lawan mainnya yang super cantik, Yasmin Bard.
Ya Tuhan, sejak kapan kaki Yasmin sembuh? Bukannya waktu itu Arvi mengatakan kalau kaki Yasmin masih dalam tahap pemulihan? Kalau dia sudah bisa berjalan seperti biasa berarti ada kemungkinan kalau syuting akan segera dilanjutkan. Dan Lola harus kembali menjalani hari-hari sepinya, dimana ia dan Arvi hanya akan bertemu di pagi dan malam hari.
Oh lupakan kayu dan batu karena sekarang Lola dapat melihat Yasmin tampak tertawa di samping Arvi sambil mencubit pinggang suaminya itu.
Pupil matanya melebar seketika. Heii! Nanti kalau salah cubit, gimana?
Merasa suasana jadi agak panas Lola lantas memberhentikan seorang pelayan yang membawa sebuah nampan berisi minuman dihadapannya.
" Minta satu," pintanya sambil mengambil satu gelas kecil yang ada disana sebelum meminumnya.
Lola menghabisinya dalam satu tegukan. Hal yang sangat ia sesali karena ternyata rasa minuman tersebut sangatlah pahit dan getir di lidah. Mata Lola mulai mengedar ke sekeliling untuk mencari hal yang bisa membuat indera pengecapnya membaik saat sebuah tangan mulai mengulurkan gelas berisi air putih padanya.
" Thanks," ucap Lola tanpa aba-aba langsung meminum air yang ada di gelas itu.
__ADS_1
" Makanya Nyonya kalau minum tuh diliat dulu. Jangan asal nyosor aja."
Lola sontak melebarkan mata saat mengetahui kalau orang yang memberinya minum itu adalah Enggar, salah satu teman SMA- nya ( atau mungkin bisa dibilang mantan gebetannya) yang kini berprofesi menjadi penyanyi pop terkenal se-Indonesia.
" Enggar Askara. Ini beneran elo?"
Enggar terkekeh saat melihat ekspresi Lola. " Syukur deh kalau Miss narsis masih inget gue?" Lanjutnya sengaja memanggil Lola dengan julukan yang dulu pernah ia berikan pada wanita itu saat mereka masih sekolah SMA.
" Astaga Lo apa Kabar, Gar?"
" Ya gini-gini aja. Lo sendiri gimana? Kayaknya udah jadi crazy rich nih. Iya, kan?" Godanya yang ia ingat betul dulu saat Lola SMA berkeinginan untuk menjadi seorang crazy rich.
" Sok tahu, Lo." Cibir Lola. " Crazy rich dari Hongkong."
Enggar adalah cowok yang lumayan dekat dengannya waktu SMA. Sama-sama punya hobby meribut dikelas membuat mereka jadi akrab satu sama lain. Biasanya saat jam kosong mereka akan duduk didepan kelas sambil bernyanyi bersama. Suara Enggar yang merdu setidaknya mampu menutupi suara Lola yang yang seperti kaleng rombeng. Namun sayangnya semua tak berlangsung lama karena tiba-tiba Enggar harus berhenti sekolah usai dinyatakan lulus dalam sebuah ajang pencarian bakat.
Berkat talentanya dalam bernyanyi kini ia bisa masuk ke dalam ketatnya persaingan di industri hiburan. Dan sejak saat itu Lola tak pernah lagi bertemu dengan Enggar, hubungan mereka putus begitu saja. Jujur Lola sempat merasa patah hati waktu itu karena sebelum berhenti sekolah Enggar sempat melakukan pendekatan padanya. Tapi sayangnya nasib berkata lain.
" Lo masih sama kayak Lola dulu yang gue kenal." Ujar Enggar sambil menatap wajah wanita itu lekat. Padahal mereka sudah tak bertemu selama sepuluh tahun tapi wajah Lola sama sekali tak banyak berubah.
" Ya sama lah, kecuali kalo gue operasi biar mirip Han Soo Hee," balas Lola asal. " Mungkin Lo gak bakal duduk disini dan ngenalin gue."
" Bukan cuma wajah tapi tingkah Lo juga. Yang suka nyerocos dan asal nyablak, persis kayak waktu SMA dulu."
" Itu karena gue udah kenal dengan sama Lo makanya gue begini." Ujar Lola memberi tahu. " Sama orang lain gue mah elegan."
" Jadi gue bukan orang lain?" Tanya Enggar sambil mengulum senyum.
__ADS_1