Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Oma pingsan


__ADS_3

Segera ia berjalan mendekat ke arah Oma dan berdiri tepat dihadapan wanita itu, "apa karena selama ini Arvi gak menuruti kemauan Oma? Kenapa kayaknya sesusah itu bagi Oma untuk membiarkan Arvi bahagia dengan keluarga Arvi sendiri? Lola pergi ninggalin Arvi karena gak tahan dengan Oma dan keluarga kita berikan!"


"Mas," tegur Michelle sambil merangkul bahu Oma yang tampak termangu menatap cucu kesayangannya yang sudah diselimuti amarah. Baru kali ini ia melihat Arvi semarah itu padanya.


"Sikap Oma yang selalu mencampuri urusan rumah tangga Arvi itu sudah sangat keterlaluan. Dan Arvi gak akan pernah bisa maafin Oma kalau sampai terjadi sesuatu pada rumah tangga kami." Tegas Arvi walau akhirnya tersentak saat tubuhnya tiba-tiba di putar dan di tampar keras di bagian pipi oleh Rendra, sang Papa.


"Papa saja selama hidup tidak pernah sekalipun menaikkan intonasi saat bicara dengan Oma. Sementara kamu? Cucu kesayangan yang selalu dibela-bela malah bersikap semena-mena. Keterlaluan!"


Arvi dapat merasakan bekas tamparan dari sang Papa membuat pipinya kini serasa terbakar. Sudah tak terhitung berapa kali ia mendapatkan tamparan di tempat yang sama. Harusnya ia mulai terbiasa dengan tamparan-tamparan itu. Tapi entah kenapa rasa sakitnya malah semakin terasa nyata.


"Jangan pernah samakan antara Arvi dan Papa, karena Arvi bukan Papa yang hanya bisa diam saat ngeliat istri sendiri tertekan karena tuntutan Oma. Arvi dari kecil udah terlalu sering melihat bagaimana tertekannya Mama dalam menghadapi semua tuntutan Oma. Dan Arvi gak akan biarkan hal serupa terjadi sama Lola."


Mendengar hal tersebut bola mata Rendra lantas membelalak sempurna. Egonya benar-benar tersentil saat Arvi dengan lancangnya berkata seperti itu. "Keluar kamu dari ruang ini sekarang juga! Disini tidak ada tempat bagi seorang pembangkang yang tak tahu cara menghormati orangtua seperti kamu."


"Rendra jangan bicara seperti itu pada Arvi." Ujar Aisyah membela sang cucu kesayangan.


"Ini akibatnya kalau Ibu selalu memanjakan dia. Dia jadi tidak punya sopan santun. Dari dulu sampai sekarang selalu saja merasa paling hebat."


Rahang Arvi sontak mengetat seketika. Saat yang ia butuhkan sekarang adalah dukungan dari keluarga, tapi nyatanya yang ia dapat malah pengusiran. Dia sama sekali tak pernah merasa paling hebat dan superior seperti apa yang dikatakan sang Papa. Dia juga tak bermaksud tak sopan pada Oma, tapi karena ini sudah keterlaluan. Ia memilih angkat bicara.


"Mulai dari sekarang kita gak perlu mencampuri hidupnya lagi! Karena dia bukan bagian dari keluarga ini," putus Rendra membuat semua orang lantas berjengkit kaget. Baginya sang Ibu adalah segalanya.

__ADS_1


"Mudah bagi kamu bicara seperti itu pada anak kita Mas!" Seru Anggun tak terima.


"Gak papa, Ma." Balas Arvi sambil menahan lengan Mamanya itu. "Kalau memang itu menurut Papa yang terbaik. Arvi juga gak akan menginjakkan kaki lagi di rumah ini." Hal yang langsung di sambut teriakan histeris oleh Oma sampai Michelle jadi harus menahan tubuhnya.


"Arvi jangan begitu, Nak. Ini juga rumah kamu!" Ucap Anggun sambil memegang lengan sang anak. Dia tak ingin kejadian waktu itu dimana Arvi pergi dari rumah dan mengasingkan diri untuk waktu yang cukup lama terulang kembali.


Arvi menggeleng sebelum memeluk Anggun erat, "mungkin ini yang terbaik buat kita semua. Apapun itu Arvi tetap akan jadi bagian dari keluarga ini. Arvi sayang Mama." Ujarnya sebelum benar-benar pergi dari rumah tersebut. Membuat Oma sontak pingsan usai meneriaki nama cucu kesayangannya itu.


"Astaga, Oma pingsan Ma!" Seru Michelle membuat Rendra dan Anggun langsung buru-buru membawanya ke kamar.


"Michelle kamu cepat panggilkan dokter." Pinta Rendra pada Michelle yang langsung di angguki oleh wanita itu.


Bodoh sekali memang! Kalau Michelle jadi Arvi pasti dia sudah mencari wanita lain yang sekiranya bisa memenuhi keinginan Oma daripada harus kehilangan keluarga dan memohon-mohon pada wanita itu agar kembali pulang bersamanya. Benar-benar definisi dari buang-buang waktu. Memang dia pikir Lola adalah Puteri kerajaan sampai seorang Arvi Tarada harus memohon-mohon padanya. Dasar tidak tahu diri!


Tapi Arvi memang pantas mendapatkannya, pria itu pasti mendapat karma karena telah menolak perjodohan yang dulu sempat di rencanakan Oma dengannya. Ya andai dua tahun lalu Arvi tidak keras kepala dan mau menerimanya sebagai istri pasti hal ini tidak akan terjadi. Entah apa yang pria itu lihat dari diri Lola sampai dia bisa begitu mencintainya. Karena kalau dilihat segi manapun Michelle jelas menang telak.


***


Sudah tiga hari Lola tinggal di rumah ini tapi tidak ada tanda-tanda kalau ia mau menceritakan masalah yang sebenarnya terjadi antara dia dan Arvi. Membuat Puspa jadi terheran-heran lantaran yang seharian wanita itu lakukan hanyalah mengurung diri di kamar.  Dia hanya keluar untuk mengambil makan dan itu pun dengan kondisi yang amat buruk lantaran mata sembab dan hidung memerah seperti orang yang habis menangis. Di tambah Arvi yang selalu menelponnya setiap hari untuk menanyakan kabar Lola membuatnya semakin bingung.


Apa tidak bisa mereka berdua saling bicara saja? Kenapa setiap bertengkar Arvi selalu menanyai kabar Lola padanya?

__ADS_1


"Nih, kamu ngomong aja sendiri sama Lola. Mami pusing tiap kali kalian berantem Mami terus yang jadi burung merpati buat nyampein pesan." Ucap Puspa lalu membuka pintu kamar Lola yang memang selalu di biarkan terbuka.


Segera ia menyerahkan ponselnya itu pada Lola yang tampak sedang bergelung di balik selimut sambil menonton sesuatu di laptopnya.


"Siapa?" Tanya Lola saat Mami tiba-tiba menyerahkan ponselnya.


"Ini Arvi dari nelpon Mami mulu."


"Bilang kalau Lola lagi tidur," ujar Lola yang tentu dapat di dengar dengan jelas oleh Arvi di ujung sana.


Puspa sontak berdecak, "kalau mau bohong itu minimal yang pinteran dikitlah." Bisiknya tak habis pikir.


"Gak papa, Mi. Kalau misalnya Lola belum mau ngomong sama Arvi." Sahut Arvi membuat Puspa sontak meletakan ponsel kembali di dekat telinga.


"Tapi besok jadi kan kesini?" Tanya wanita itu membuat Lola  yang pura-pura fokus menonton drama kesukaannya sontak menolehkan kepala.


"Mi," serunya dengan mata melotot.


"Apa sih? Mami mau ngomong dulu sama Arvi," Puspa berusaha menjauhkan diri saat Lola tampak ingin merebut ponsel di tangannya dengan paksa.


"Iya jadi, besok Arvi kabari lagi." Ujarnya membuat Lola spontan mendelik kan mata dengan wajah masam, "Mi, Arvi titip Lola ya." Pintanya.

__ADS_1


__ADS_2