
Michelle tampak memamerkan cengiran kaku sebelum akhirnya meraih gelas dan meminum jus itu.
"Minum lagi dong habisin biar sehat."
"Udah Mbak, udah." Sahutnya setelah meminum jus itu hanya sekali teguk. "Sebenarnya sekarang udah enggak kepengen lagi. Habisnya Mbak bikinnya lama banget. Baby-nya jadi gak kepengen lagi."
Bukannya bilang terima kasih malah dia yang dikatai lama oleh wanita itu. Lola merasa waktu yang telah dia habiskan di dapur tadi untuk membuat ini itu untuk Michelle terasa sia-sia. Alias buang-buang waktu saja.
"Yaudah kalau gitu, aku keluar dulu." Dia takut kalau terlalu lama disini nanti mulutnya kelepasan berkata kotor.
"Oh ya Mbak?"
Lola berbalik dengan raut wajah lusuh, "apa?"
Michelle tampak mengulas senyum, "panggilkan Mas Arvi dong suruh ke kamar aku."
"Ngapain?" Tanya Lola spontan dengan mata menyipit penuh selidik.
"Aku mau pesan box bayi. Tapi bingung mau pilih warna apa?"
"Oh biar aku aja yang bantu pilihin," dengan cepat Lola menawarkan diri. "Sini."
Terlihat mimik wajah Michelle tampak keberatan. "Uhm... Aku maunya Mas Arvi yang pilihin, secara kan selera dia bagus."
"Kenapa harus Mas Arvi yang pilihin? Kenapa gak suami kamu aja?" Balas Lola dengan satu alis terangkat tinggi. "Itu kan box bayi buat anak kalian?"
"Frans kan lagi sibuk kerja. Jadi aku gak mau ganggu dia," ujar Michelle menyebutkan nama suaminya yang masih di Australia. "Kebetulan Mas Arvi ada disini makanya aku minta tolong. Emang gak boleh? Aku kan adiknya atau jangan-jangan kamu cemburu ya?" Kekehnya.
"Cemburu?" Lola tertawa sambil melipat tangan, "kenapa harus cemburu?" Dia tak menyangka setelah sekian lama tak bertemu wanita itu ternyata masih sama saja menyebalkannya.
__ADS_1
"I Don't know. Mungkin karena aku bisa kasih Mas Arvi ponakan lebih dulu di bandingkan kamu yang belum ngasih anak."
Lola mengumpat dalam hati, omong kosong macam apa itu? Kenapa sikap wanita itu padanya masih tidak kunjung berubah?
"Kok diem? Padahal aku cuma bercanda lho. Don't take it serious." Tawa Michelle terdengar menggelegar memenuhi ruangan.
Lola menahan diri untuk tidak menyumpahi wanita itu. Ya setidaknya tidak ketika ia sedang hamil besar seperti ini.
"Katanya bercanda, tapi kok gak nemu ya dimana letak lucunya." Balas Lola, "kayaknya cuma kamu deh yang nganggap perkataan sampah kamu barusan lucu."
Masih dengan sisa tawanya, Michelle berkata. "Okey, aku minta maaf. Udah cukup kan?"
Mudah bagi Michelle untuk minta maaf setelah berhasil menyakiti hatinya. Memang dia pikir itu lucu? Lola menatap wanita itu tak habis pikir. Mulutnya baru saja ingin membalas perkataan Michelle barusan saat sosok Mama mertuanya mulai memasuki kamar.
"Gimana sayang, masih mual?" Tanya wanita itu pada Michelle yang tadi memang sempat mengeluh mual.
"Udah enggak kok, Ma. Habis minum jus buatan Mbak Lola mualnya langsung hilang." Balasnya lalu menatap Lola dengan tatapan memuja. Dasar pencitraan!
Lola yang baru saja akan pergi ke kamar mandi sontak berhenti di pintu dapur saat tak sengaja mendengar suara Oma yang kini sedang berbicara dengan Arvi sang suami.
"Coba aja dulu kamu nikahnya sama Michelle pasti sekarang Oma udah punya cicit."
Tidak, sama sekali Lola tak salah dengar. Kalimat itu benar-benar di ucapkan oleh Oma kepada suaminya. Membuat tubuh Lola seketika kaku dengan nafas tercekat. Karena tak ingin mendengar perkataan apapun lagi yang berpotensi menyakiti hatinya, ia pun memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Entah kenapa dia merasa kehadirannya disini sudah seperti tak punya harga diri lagi.
Perkataan Oma barusan membuat rahang Arvi seketika mengeras dengan tangan terkepal erat. Raut wajah pria itu sontak berubah saat Oma lagi-lagi menyinggung hal yang sama.
"Apa bedanya? Toh mau itu anak Arvi atau Michelle tetap aja kan Oma dapat cicit."
__ADS_1
"Ya kan Oma maunya cicit dari kamu, darah daging kamu." Balas wanita itu, "mau nunggu sampai kapan lagi?"
Arvi memijit dahi. "Ya, Oma sabar dulu."
"Sabar, sabar. Emang Oma kurang apalagi?" Ucap Oma sambil menaikkan intonasi. "Kalian kok kayaknya nyepelein banget ya. Michelle aja baru setahun menikah udah langsung isi. Lah ini udah dua tahun masih aja belum ada tanda-tanda. Jangan-jangan firasat Oma selama ini benar."
"Oma jangan mikir aneh-aneh. Doain aja semoga kami bisa cepat dapat keturunan," balas Arvi tak ingin terpancing emosi.
"Kadang Oma gak habis pikir sama Lola yang masih bisa haha-hihi seperti gak ada beban. Emang dia gak kepengen punya anak? Jujur Oma agak kesal dengan ngeliat dia yang selalu sibuk sama kucing, kucing dan kucing."
Perkataan Oma barusan secara tidak langsung menyinggung perasaan Arvi. Yang mengenal Lola dengan sangat baik itu adalah dia, dan perkataan Oma barusan jelas tidaklah benar. Apa yang di perlihatkan Lola ke semua orang tentu sangat berbeda dengan apa yang wanita itu rasakan selama ini.
"Berarti Oma gak mengenal Lola dengan cukup baik."
"Maksud kamu?"
Arvi menipiskan bibir. "Yang dia perlihatkan ke kita semua tentu hanya sebagian kecil dari apa yang ia rasakan. Emang Oma berharap apa? Lola akan nangis-nangis di depan semua orang hanya karena kami belum punya anak."
"Kamu bilang apa tadi? Hanya?" Sahut Oma yang tak habis pikir.
"Oma jangan salah beranggapan tentang kami berdua yang terlalu menyepelekan masalah anak. Karena kami sama sekali gak ada niat untuk menunda. Seperti Oma yang sangat menginginkan cicit, kami pun juga demikian." Jelas Arvi dengan nada tegas dan penuh penekanan. "Kalau Oma merasa perlu menyalahkan seseorang, salahkan aja aku. Jangan istriku. Arvi gak mau bikin Lola semakin terbebani oleh semua tuntutan dan ekspektasi yang selama ini Oma berikan."
"Tuntutan kamu bilang?" Pupil mata Oma sontak melebar seketika, "Oma hanya mengingatkan. Lagipula sejak kapan Oma menuntut Lola ini itu?"
Arvi mencoba menahan diri dengan melirik sekitar, berusaha menetralisir perasaannya yang benar-benar campur aduk tak karuan.
"Tapi tadi Oma baru saja membanding-bandingkan antara Lola dengan Michelle. Dua orang yang jelas-jelas berbeda."
"Itu bukan membandingkan tapi berandai-andai. Belum tentu juga Oma menginginkan hal serupa terjadi." Ucapnya membela diri.
__ADS_1
Arvi menatap Oma dengan tatapan tajam, persetan mau apa namanya itu, tetap saja ia merasa tak terima. "Arvi sama sekali gak pernah menyesal menikah dengan Lola. Bahkan walau nanti kami memang gak ditakdirkan memiliki keturunan sekalipun, Arvi tetap gak akan menyesal dan berandai-andai untuk menikahi wanita selain dia."
Mendengar hal itu Oma lantas melotot seketika, "kamu bercanda kan?"