Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
Keluargamu yang tak menganggapku


__ADS_3

Arvi menggeleng, dibawanya jemari Lola yang tadi membelai rahangnya ke arah bibir untuk di kecup lama. "Gak, sayang. Kamu lebih dari cukup, tolong jangan bicara seperti itu lagi."


Lola menelan ludah getir, rasanya ia benar-benar lelah dengan semua hal yang terjadi di rumah tangga mereka. "Kapan keluarga kamu mau menerima aku, Mas?" Tanya Lola dengan mata berkaca-kaca balik menatap Arvi. "Kamu sadar gak sih kalau sebagian besar pertengkaran yang terjadi di antara kita itu selalu aja di akibatkan oleh keluargamu?" Dapat ia rasakan tangan Arvi kini mulai menangkup kedua pipinya. "Aku capek selalu jadi pihak yang terus disalahkan!"


Isakan Lola yang semakin menjadi membuat Arvi segera membawa wanita itu kedalam pelukannya, "kenapa mereka gak bisa memperlakukan aku sama seperti keluargaku memperlakukan kamu?" Tanya Lola mulai berlinang air mata. "Keluargaku semuanya menghormati kamu, mereka gak pernah ikut campur dalam segala urusan rumah tangga kita. Tapi kenapa keluargamu malah bertindak terlalu jauh? Aku capek, Mas! Memangnya ini salahku kalau dalam dua tahun umur pernikahan kita, aku juga masih belum hamil!"


"Sayang, tenang." Merasa Lola semakin tak terkendali, Arvi pun mempererat pelukannya. "Aku akan selalu disini. Apapun yang terjadi aku gak akan pernah ninggalin kamu. Kita berjuang bersama-sama ya?"


"Andai aja waktu itu aku gak pernah menerima lamaranmu pasti semua ini gak akan terjadi."


Bagaikan disiram air es, wajah Arvi sontak berubah kaku saat mendengar pernyataan Lola barusan. Pelukannya yang tadi erat melingkari Lola perlahan mengendur. "Kamu bilang apa tadi?" Tanya pria itu memastikan kalau dia memang tak salah dengar. "Coba ulangi."


Arvi yakin tadi dia benar-benar mendengar perkataan Lola dengan sangat jelas. Dia tak mungkin salah dengar, "apa itu artinya kamu menyesal menikah denganku?" Arvi berbicara dengan nada rendah sambil menatap kedua bola mata Lola dengan tatapan terluka. Dia tak menyangka kalau kalimat itu akan keluar dari mulut sang istri.


Lola mengedarkan pandangan ke sekitar. Kini dia sudah tak bisa lagi melihat Arvi dengan jelas karena air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk mata.


"Jawab Lola!" Arvi lagi-lagi meminta jawaban. "Apa kamu menyesal menikah denganku?" Tanyanya menuntut Lola agar segera bicara.

__ADS_1


Karena Arvi terus saja memaksa, Lola pun lantas berucap lantang. "Iya, aku menyesal! Puas kamu sekarang!" Serunya dengan dada yang mulai bergerak naik turun. Membuat Arvi seketika terdiam sambil menatap Lola dengan tatapan tak percaya. "Kamu pikir aku gak capek jadi menantu di keluarga kamu yang harus selalu di tuntut ini itu dan tampil sempurna? Aku capek, Mas! Ini bukan kehidupan rumah tangga yang aku inginkan," lanjut wanita itu sambil terisak-isak.


Sementara pria itu sama sekali tak bereaksi apa-apa. Pernyataan Lola barusan benar-benar mengejutkannya. Menyesal, ya wanita itu baru saja mengakui kalau di menyesal menikah dengannya. Arvi tak tahu apa lagi yang jauh lebih buruk dari itu? Namun yang jelas hatinya sekarang benar-benar hancur.


"Aku pikir kita harus menjaga jarak terlebih dahulu," Lola tampak mengusap jejak air mata yang membekas di kedua pipinya. "Setidaknya untuk beberapa saat."


"Kamu bisa disini. Aku akan tidur diluar." Dengan helaan nafas memberat Arvi pun segera keluar dari kamar. Mungkin benar jika Lola sekarang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Dia berharap setelah semuanya baik-baik saja mereka nanti bisa mulai bicara dari hati ke hati.


Namun, baru dua langkah pria itu berjalan. Ia lantas kembali berbalik saat Lola tampak kembali berbicara.


Arvi seketika mengangkat kedua alis heran, "pulang kemana? Ini rumahmu."


"Aku ingin pulang kerumah orangtuaku," putus Lola membuat perasaan Arvi jadi semakin tak karuan. "Aku gak peduli kalau kamu mau izinin atau enggak. Aku akan tetap pergi malam ini." Tambahnya membuat Arvi semakin tidak bisa berkata-kata. Rasanya seperti semua tulang yang ada di tubuhnya tercabut paksa di waktu yang bersamaan.


***


Arvi mungkin berhasil menahan niat Lola untuk pulang malam ini. Tapi tidak dengan keesokan paginya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, tapi pria itu masih saja tetap terjaga. Coba bayangkan bagaimana bisa ia tidur usai mendengar perkataan sang istri yang mengatakan kalau ia menyesal menikah dengannya. Sungguh Arvi sama sekali tak menyangka kalau kalimat itu akan keluar dari mulut Lola.

__ADS_1


Mengepulkan kembali asap rokok yang dia hisap, Arvi tampak mengacak rambut gusar. Dia bukan perokok berat, sesekali ia memang merokok ketika sedang memiliki masalah.


Namun itu dulu sebelum Arvi bertemu dengan Lola, karena semenjak menikah dengan wanita itu ia boleh dikatakan tak pernah lagi menyentuh benda tersebut. Dibanding merokok ia lebih memilih untuk menceritakan semua masalahnya pada Lola. Walau terkadang solusi yang di berikan wanita itu sama sekali tak masuk akal dan diluar nalar, ada perasaan lega yang menyelimuti hati Arvi saat bisa membaginya dengan sang istri.


Wanita itu selalu tahu bagaimana caranya membuat ia jadi lupa dengan masalah yang ia hadapi. Bersama Lola masalah sesusah apapun jadi terasa lebih ringan. Walaupun tak jarang mereka bertengkar karena masalah sepele, tetap saja dalam dua tahun umur pernikahan mereka baru kali ini Lola mengatakan bahwa ia menyesal menikah dengannya.


Arvi tak pernah sekacau ini dalam hidupnya. Semua tuntutan yang diberikan keluarganya pada Lola nyatanya membuat rumah tangga mereka semakin tak baik-baik saja. Arvi menyadari kalau ini semua adalah kesalahannya. Sebagai suami dia memang boleh dikatakan tak becus dalam menjaga keutuhan rumah tangga mereka. Tidak salah kalau Lola mengatakan ia menyesal menikah dengannya.


Arvi kembali masuk kedalam rumah ketika merasakan angin malam mulai menusuk tulang. Dimatikannya ujung rokok yang tadi ia hisap sebelum akhirnya berjalan menuju kamar. Rencananya ia ingin mengambil beberapa bantal dan juga selimut untuk di bawa ke sofa ruang tamu.


Awalnya Arvi pikir Lola sudah tidur. Namun saat melihat lampu kamar masih menyala, ia jadi yakin kalau istrinya itu masih terjaga di dalam sana. Menatap Lola yang tampak sibuk mengemas pakaiannya ke dalam sebuah koper besar membuat Arvi sontak mengerutkan dahi tak habis pikir. Kenapa dia harus memakai koper sebesar itu?


"Mas izinin kamu tinggal dirumah orangtuamu itu hanya untuk beberapa hari bukan selamanya. Kenapa harus mengemas pakaian sebanyak itu?" Tanya Arvi sambil menahan tangan Lola yang tampak memasukkan semua bajunya ke dalam koper. Ya, semua!


Lola menepis tangan Arvi kasar sebelum menatap tajam ke arah suaminya itu. "Terus? Masalahnya dimana? Keberatan?".


Kembali ia masukkan semua pakaiannya ke dalam koper. Seolah tak memperdulikan apa yang barusan dikatakan oleh sang suami.

__ADS_1


__ADS_2