Cinta Lola dan Arvi

Cinta Lola dan Arvi
kedatangan Michelle bikin kesel


__ADS_3

Mereka terlihat antusias saat bermain bersama Gembul. Membuat Lola yang melihatnya terkekeh, dia tersentak saat tiba-tiba Arvi mulai menyerahkan plastik berisikan berbagai Snack itu padanya.


"Ini makannya sama-sama ya. Jangan rebutan." Peringat Lola lalu memberikan plastik itu pada Zia selaku yang tertua.


"Siap Tante!"


"Kalian main disini dulu ya. Nanti kalau udah mulai bosan sama kucingnya bilang Tante, Oke?"


"Oke!"


Membiarkan anak-anak itu bermain di teras bersama Gembul, Lola dan Arvi pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Anak-anak itu sangat penurut, jadi Lola tidak perlu merasa khawatir melepas ketiganya bermain diluar. Terlebih gerbang juga sudah dijaga ketat oleh satpam yang bertugas mengawasi rumah tersebut.


Pemandangan yang Lola lihat sesampainya di dalam rumah adalah Michelle duduk di sofa bersama Oma. Terlihat perut wanita itu membuncit karena memang sekarang usia kandungannya menginjak 6 bulan. Michelle menikah dengan seorang pria kebangsaan Australia tahun lalu. Dia baru saja kembali ke Indonesia setelah tinggal cukup lama disana mengikuti sang suami. Lola sempat berbicara dengan Michelle beberapa hari yang lalu di telpon dan wanita itu menganggapkan kalau ia ingin sekali melahirkan bayinya di Indonesia. Sekaligus melepas rindu dengan anggota keluarga lain lantaran beberapa bulan belakang ia memang memilih menetap di Australia alih-alih di Indonesia.


"Mas Arvi!"


Diujung sana tampak Michelle melambaikan tangan. Wajahnya terlihat antusias saat menatap ke arah mereka berdua. Oh ralat bukan mereka berdua, tapi hanya suaminya saja.


"Aduh Michelle jangan lari-lari!" Peringat Oma pada Michelle yang sudah lebih dulu menghambur ke pelukan Arvi.


"Michelle kangen banget sama Mas!" Ucapnya yang di balas Arvi dengan elusan pelan di kepalanya.


"Mas juga kangen sama kamu," balas pria itu lalu menatap perut Michelle yang sudah membesar. "Sudah berapa bulan?"


"Enam bulan," tanpa aba-aba Michelle segera meraih tangan Arvi dan meletakkan tangan pria itu di perutnya. "Elus deh, Mas. Biar anakku mirip sama kamu."


Lola tak bisa untuk tidak menampilkan wajah cengonya. Gimana cara miripnya? Orang bikinnya aja beda orang? Lagipula kenapa juga dia ingin sekali anaknya mirip dengan suami orang lain. Kasihan suaminya kalau sampai tahu Michelle lebih ingin anak mereka mirip dengan kakaknya dibanding suaminya sendiri.


"Uhm... Maksudku ganteng sama pintarnya yang mirip. Gapapa kan Mbak Lola?" Michelle mulai mengalihkan pandangannya kearah Lola untuk meminta izin. Ya sok atuh! Elus aja. Kenapa juga harus minta izin segala? Kecuali kalau setelah di elus perut Michelle jadi mengeluarkan jin seperti lampu ajaib.

__ADS_1


"Udah gak papa elus aja, siapa tahu anak Michelle beneran mirip Arvi." Sahur Oma membuat bibir Lola seketika mengerucut dengan hidung kempas kempis.


Sebenarnya dia agak tidak terima dengan kalimat itu, satu-satunya orang yang boleh mirip dengan Arvi itu hanya anak-anaknya. Aneh sekali, bikinnya sama siapa, ingin miripnya juga sama siapa. Lola jadi kasihan dengan suami Michelle yang telah mengeluarkan effort besar untuk membuat bayinya.


Walau kelihatan ragu akhirnya Arvi pun mulai mengelus perut Michelle pelan, "sehat-sehat ya disana." Wah manis sekali. Pria itu sudah sangat cocok untuk menjadi seorang ayah.


"Makasih papa."


What? Lola yang tadinya sudah tersenyum seperti orang kurang waras melotot saat mendengar perkataan Michelle barusan. Apa dia tak salah dengar? Papa? Kalau Arvi di panggil Papa, terus yang jadi Mamanya siapa? Kepala Lola benar-benar pusing sekarang.


"Aku pamit ke belakang dulu ya. Mau liat Mama lagi sibuk apa?" Pamitnya.


"Ah iya Mbak, maaf ya Michelle gak bisa bantuin," ujarnya dengan raut wajah bersalah.


"Gak papa kamu kan lagi hamil, gak boleh kerja berat dulu. Ayo duduk." Ajak Oma lalu memegang lengan Michelle untuk kembali duduk di sofa. Bertepatan dengan Arvi yang berpamitan karena ingin bergabung bersama Papa dan kedua Kakaknya di teras samping.


Lola sudah akan pergi dari sana saat suara Oma menginterupsi tiba-tiba. "Oh ya Lola."


"Tolong buatkan Michelle teh hangat ya,"


Lola mengangguk, "ada lagi?"


"Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Oma pada Michelle.


"Lagi kepengen makan buah Oma, yang seger-seger."


Oma mengangguk paham, "di kulkas kan ada buah, tolong kamu kupasin ya, La. Taruh di piring lalu bawa kemari." Perintah wanita itu yang langsung di angguki oleh Lola.


"Udah? Itu aja kan?" Lola memastikan.

__ADS_1


"Oh ya, Mbak. Tehnya less sugar ya. Aku kurang suka teh yang terlalu manis."


Lola mengangguk paham sebelum akhirnya mengulas senyum, "oke tunggu sebentar ya bumil, aku buatkan dulu."


"Terima kasih, aunty." Sahut Michelle dengan suara di buat-buat menyerupai anak kecil membuat Lola lantas tersenyum kikuk.


Uhm, sebentar berarti yang jadi Mama bukan dia ya?


***


Menjadi menantu termuda di keluarga ini membuat Lola harus selalu sigap dalam melakukan apapun.


Lola tolong buatkan ini..


Lola tolong ambilkan itu..


Lola lakukan ini, lakukan itu..


Kenapa seakan-akan semua hal di dalam rumah ini harus dia yang kerjakan? Lola bukannya ingin mengeluh. Hanya saja ia merasa lelah jika sedari tadi selalu disuruh melakukan ini itu tanpa di beri istirahat. Dan kalian tahu siapa pelakunya? Ya, benar! Dia adalah Oma.


Wanita itu begitu protektif dengan kehamilan Michelle, namun anehnya yang jadi sasarannya adalah Lola. Oma memintanya melakukan beberapa hal untuk Michelle. Mulai dari membuatkan susu kehamilannya, mengupas buah sebagai cemilan, memijat pundaknya dan terakhir mengantar wanita itu ke kamar mandi.


Ya awalnya sih Lola senang-senang saja melalukannya. Tapi saat menyadari kalau Michelle ternyata mulai memanfaatkan keadaan dengan menyuruhnya melakukan ini itu setiap waktu. Ia jadi tak bersimpati lagi.


"Mukamu jangan cemberut gitu dong. Michelle itu lagi hamil jadi wajar kalau ia ingin dibuatkan ini itu. Namanya juga lagi ngidam, apalagi kan dia jauh dari suami. Nanti kalau kamu hamil pasti tahu sendiri gimana rasanya jadi dia," ucap Oma ketika meminta Lola membuatkan jus alpukat untuk Michelle. Padahal lima menit yang lalu Lola baru saja datang ke kamar wanita itu sambil membawakan jus tomat yang tadi ia minta.


Memasang kembali topeng palsunya, Lola lantas tersenyum lebar saat memasuki kamar Michelle. "Ini jusnya silahkan diminum, atau perlu aku yang bantu tahan gelasnya?" Ujar Lola membuat Michelle yang sedang sibuk bermain ponsel lantas menengadah.


"Letakin disana dulu aja ya, Mbak." Balasnya lalu menunjuk meja kecil di dekat jendela. Bersebelahan dengan jus tomat yang bahkan masih terisi penuh.

__ADS_1


"Eh gak bisa harus minum sekarang. Soalnya tadi Oma minta aku buat pastiin kamu jusnya." Tak ingin kalah Lola lantas mengulurkan gelas itu pada Michelle. Enak aja dia sudah susah payah bikin jus tapi tidak diminum.


__ADS_2