
" Apa gak usah pergi aja ya? Kita bisa kirim hadiah kita ke mereka dengan alasan berhalangan hadir. Vito pasti mengerti. Lagian mana mungkin dia memperhatikan tamunya satu persatu."
" Mas kita sama-sama udah rapi loh, tinggal pergi aja. Masa iya mau dibatal? Lagian alasan kita berhalangan hadir apa?" Balas Lola sambil mendekat kearah Arvi untuk merapikan kerah kemejanya yang terlipat, " Bohong itu dosa loh!" Timpalnya.
" Ya gak sepenuhnya bohong, kan Mas memang udah ada janji sama kamu!"
Lola sontak mengerutkan dahi. Perasaan suaminya itu tak punya janji apa-apa padanya malam ini. " Janji apa?"
" Janji menemani kamu nonton drama Korea," sahut Arvi enteng membuat Lola lantas melongo seketika. Ternyata suaminya itu masih ingat dengan dengan permintaan isengnya tadi pagi.
" Apa Mas mau pikir menemani Lola nonton drama Korea itu lebih penting daripada pergi ke acara anniversary nya teman Mas itu?" Tanya Lola yang kini berusaha setengah mati untuk menahan tawa gelinya.
" Of course." Jawabnya tanpa ragu.
" Tapi kan Mas gak suka nonton drama Korea?"
" Kalau sama kamu semua juga suka." Sahutnya membuat Lola lantas memukul dada Arvi pelan.
" Gombal." Balasnya tak percaya. Paling juga baru beberapa menit film berjalan Arvi sudah ketiduran sembari memeluk perutnya seperti apa yang biasanya terjadi pria itu saat mengatakan akan begadang untuk menemaninya Marathon drama Korea.
" Lagian kalau pergi sekarang kayaknya juga bakal terlambat." Arvi kembali melirik jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Lebih baik terlambat kan, dari pada gak sama sekali?" Tanya Lola sambil menaikkan kedua alisnya. " Lagian ini acara penting buat Vito dan Celine. Mereka pasti akan senang kalau kita datang langsung daripada hanya mengirimkan hadiah."
Arvi menganggukkan kepala. Yang dikatakan Lola ada benarnya. Dia bisa dibilang cukup dekat dengan Vito karena kerap membintangi beberapa judul film yang sama. Sudah seperti saudara karena dulu mereka sempat sama-sama berjuang dalam merintis karier di industri perfilman. Lola memang benar, mereka harus datang ke acara itu. Walau nanti harus terlambat sekalipun.
" Ayo, pergi." Ujar Lola sambil mengalungkan tangannya di pundak Arvi. " Mas bisa temani aku nonton lain kali."
__ADS_1
" Okey." Ucapnya sambil melingkarkan tangannya dipinggang sang istri. " Tapi sebelum itu can i get a kiss?
Lola spontan mendelik saat mendengar pertanyaan itu. " No. Kita harus pergi sekarang kalau gak mau terlambat," balasnya. Bisa-bisa kalau harus memberi kiss duluan mereka malah tak jadi pergi.
" But i want to kiss you."
Lola dapat merasakan Arvi semakin menarik pinggangnya ke depan. " Nanti Lipstik nya bisa berantakan.
Walaupun sudah memakai Lipstik waterproof yang tahan lama dan super awet, Lola tetap sangsi untuk membiarkan suaminya itu menciumnya. Sebenarnya ini bukan masalah Lipstik tapi tentang kebiasaan Arvi yang jika sedang menciumnya, tangannya seakan tak mau diam ditempat. Bisa-bisa ia sudah seperti gembel sebelum pergi ke acara itu. Atau yang lebih buruknya mereka malah berakhir diranjang dan tertidur karena kelelahan.
" Mas bantu perbaiki." Ujar Arvi sambil mengusap sudut bibir Lola. Godaan terberatnya adalah saat melihat sang istri memakai Lipstik berwarna merah menyala.
" Sekali aja ya! Kita kan mau pergi?" Putus Lola karena merasa tak tega. " Tangannya juga jangan kemana-mana nanti dress ku kusut." Lanjutnya memperingati.
" Iya sayang, iya." Jawab pria itu yang jelas adalah sebuah kebohongan. Karena mana mungkin dia bisa tahan mencium istrinya itu hanya sekali saja. Terlebih saat mengetahui kalau Lola terlihat sangat cantik malam ini.
Menghadiri acara mewah seperti ini jujur baru Lola rasakan setelah menikah dengan Arvi. Dia baru memahami kalau beberapa publik figur bahkan tak segan-segan untuk mengeluarkan banyak uang demi sebuah acara yang diadakan di salah satu hotel berbintang. Lola tidak tahu harus bersyukur atau tidak saat menyadari kalau Arvi termasuk bagian dari itu semua. Terbukti dengan acara anniversary mereka dirayakan berdua, intim dan tanpa mengundang orang lain.
Membayangkan harus mengeluarkan banyak dana untuk menyewa hotel, catering, dan segala tektek bengeknya. Jujur membuat Lola sontak menelan ludah. Dulu awalnya ia pikir wajar-wajar saja kalau ingin mengadakan acara semewah itu.
Namun, setelah menikah entah kenapa jiwa perhitungan khas ibu-ibunya semakin menggelora.
Dan disinilah ia berada sekarang. Di salah satu hotel berbintang lima yang masih berada dikawasan Jakarta. Kebanyakan tamu yang menghadiri acara tersebut berasal dari kalangan artis, influence, sutradara, model serta beberapa crazy rich yang berpenampilan necis dan parlente.
Selain itu disana juga banyak awak media dari beberapa stasiun televisi swasta yang hadir untuk meliput jalannya acara tersebut.
Tidak hanya meliput mereka juga mencoba mengambil kesempatan untuk mewawancarai beberapa publik figur yang ada disana.
__ADS_1
Seperti saat ini contohnya.
" Mas Arvi tolong kasih spoiler dong tentang film terbarunya sama Yasmin. Katanya lanjutan dari film the Lost Love ya?" Tanya seorang wanita bersama beberapa kru kamera ketika berhasil menghadang jalann mereka.
" Maaf Mas gak bisa bicara tentang film ini karena saya datang kemari untuk memenuhi undangan dari teman saya. Terima kasih." Arvi berujar tegas sambil menggenggam tangan Lola.
Karena tak dapat jawaban apapun dari Arvi, wartawan itu pun mulai beralih pada Lola.
" Mbak Lola, sebagai seorang istri gimana perasaannya saat mengetahui kalau sang suami akan kembali beradu akting dengan Yasmin Bard?"
Pertanyaaan bodoh seperti itu membuat Lola membuang nafas seketika.
" Yang pasti seneng dong, Masa suami dapat job saya sedih." Balas Lola sambil mengulas senyum.
" Apa Mbak mendukung penuh pembuatan film tersebut atau malah diam-diam merasa cemburu karena Arvi lagi-lagi dipasangkan dengan Yasmin yang notabene punya banyak fans yang menginginkan mereka bersama bahkan di luar film?" Pancing wanita itu sambil mengarahkan sebuah mic padanya. Membuat Arvi jadi semakin mempererat cekalannya dipergelangan tangan Lola.
" Gak kok. Saya sama sekali gak cemburu. Lagian itu cuma film. Kalaupun banyak fans yang menginginkan mereka tetap bersama bahkan di luar film sekalipun. Saya anggap itu sebagai nilai plus bagi suami saya karena mampu mendalami peran dengan sangat baik."
" Sebentar Mbak Lola, masih ada yang mau kami tanyakan?" Tahan wanita itu saat Arvi sudah berniat akan membawa Lola pergi dari kerumunan tersebut.
" Tolong jangan bertanya pada istri saya lagi, okey? Kami butuh privasi!" Arvi berucap dengan begitu tegas membuat para wartawan itu lantas menghela nafas dan mundur seketika.
" Jangan galak-galak dong," kekek Lola sambil ganti memeluk lengan suaminya itu. " Nanti, gantengnya hilang!" Godanya seakan tahu betul kalau sekarang Arvi sedang tidak berada di mood yang baik.
" Apa mereka digaji hanya untuk memberikan pertanyaan sampah seperti itu?" Kesal Arvi.
" Sabar, Sayang." Lola mencoba menenangkan suaminya itu dengan mengelus lengannya." Aku gak masalah kok kalau ditanya begitu."
__ADS_1
" Tapi aku yang masalah."