
" Bosen?" Lola bertanya lagi. Dia tahu suaminya itu paling anti berbelanja ditempat umum. Bukan karena dia antisosial atau semacamnya. Lebih tepatnya suaminya itu hanya lelah jadi pusat menjadi pusat perhatian. Karena setiap kali pergi pergi ketempat umum pasti akan selalu saja orang-orang meneriaki namanya dan meminta foto.
" No, memang sejak kapan Mas pernah ngeluh bosan kalau sama kamu." Sahutnya begitu manis membuat Lola jadi tersipu.
Bagi orang yang hanya mengenal Arvi dari beberapa pertemuan, mungkin akan kaget jika mengetahui kalau ternyata pria itu bisa mengatakan hal semanis ini.
" Mas," panggil Lola.
" Ya?"
" Aku kepikiran buat bikin Vlog."
" Vlog ?" Arvi tampak mengerutkan dahinya. " Vlog apa?"
" Semacam Vlog keluarga. Nanti video nya di aploud ke YouTube. Gimana?"
Arvi tampak menggelengkan kepala tak habis pikir. " Memang kamu mau aploud video apa?"
" Ya, video seru-seruan aja. Video tentang kehidupan kita."
" Sayang," Arvi mendesah pelan. " Jangan aneh-aneh ya."
" Loh kenapa aneh? Semua artis punya Chanel YouTube sendiri lho, Mas. Kita harus bikin juga. Untuk video biar aku yang edit. Gimana?" Tawar Lola dengan begitu meyakinkan.
Sebenarnya dia merasa agak bosan tinggal sendiri dirumah selagi Arvi bekerja. Jadi, ia pikir kalau mereka sepakat membuat Vlog, Lola jadi punya kesibukan lain, selain mengurus bisnis aksesoris handmade -nya yang akhir-akhir ini telah ditangani oleh Tyas dan beberapa pekerja lainnya.
" Sayang, kamu mau coklat gak?" Tanya Arvi tiba-tiba berharap Lola tak membahas lagi tentang masalah keinginannya untuk membuat Vlog , dan Chanel YouTube.
" Mau." Seru Lola yang baru sadar kalau mereka kini mulai berada di rak khusus makanan ringan, " Snack, boleh juga."
" Ambil aja yang kamu mau." Ucap Arvi sambil mengangguk.
Jujur ini adalah kalimat favorit yang selalu berhasil membuat Lola tersenyum merekah setelah ' nanti Mas transfer ' andalan suaminya itu.
Karena sudah diberi izin Lola pun mulai mendekat ke rak tersebut, sejenak ia melupakan Vlog dan Chanel YouTube. Dengan telaten ia memasukkan beberapa merek coklat dan juga Snack kedalam troli.
__ADS_1
Kalau kalian bertanya apakah Lola akan memakan semuanya sendiri? Tentu jawabannya tidak. Karena biasanya ia akan membaginya dengan anak-anak tetangga yang suka mampir kerumah cuma sekedar bermain bersama Gembul jika Arvi sedang tidak ada. Biasanya anak-anak sering memakai pekarangannya sebagai tempat bermain sepeda sebelum nantinya dipanggil oleh orangtuanya masing-masing menjelang Maghrib berkumandang.
" Sudah semua, kan?" Tanya Arvi saat mereka hendak mengantri kemeja kasir.
Lola mengangguk. Troli yang penuh dengan cemilan itu jelas adalah hal yang sangat disukai. Dia sudah dapat membayangkan bagaimana senangnya anak-anak saat mengetahui kalau ia punya banyak jajanan untuk dibagikan.
" Ada yang lain?" Tanya Arvi lagi memastikan.
Lola menggeleng. Sepertinya semua sudah ada di troli. Mulai dari peralatan mandi, bahan makanan, dan cemilan.
Tapi tunggu sebentar...
Lola tiba-tiba teringat sesuatu.
" Mas sebentar ada yang kelupaan!" Seru lola lalu berbalik segera menuju rak untuk mengambil sesuatu.
Tak lama kemudian dia datang dengan kedua tangan membawa beberapa kotak kecil berwarna orange yang sangat Arvi kenali.
" Obat cacing? Buat apa?" Tanya Arvi yang tampak keheranan. Tidak biasanya Lola membeli obat cacing, sebanyak itu. " Kamu cacingan?"
Lola melotot saat mendengar perkataan suaminya itu. Amit-amit! Jangan sampai ia benar-benar cacingan. " Gak kok, buat jaga-jaga aja. Walaupun gak cacingan kita kan tetap harus minum obat cacing 6 bulan sekali." Kilahnya yang tak sepenuhnya bohong.
Suaminya itu tidak tahu saja kalau alasan utama Lola membeli obat cacing sebanyak ini adalah agar ia bisa terhindar dari sumpah Bu Inem lantaran ia tanpa sengaja membocorkan rahasia perkumpulan mereka kepada dirinya tadi.
Setelah selesai berbelanja bulanan, Arvi dan Lola menyempatkan diri untuk pergi ke outlet brand pakaian milik mereka untuk mencheck beberapa hal. For your information, brand cossy, yang dulunya hanya menjual pakaian laki-laki kini sudah berkembang dengan menyediakan berbagai jenis pakaian, mulai dari semua gender dan usia.
Arvi mengembangkannya hanya butuh waktu dalam dua tahun. Dia bilang bisnis seperti ini adalah investasi jangka panjang. Jaga-jaga kalau nanti popularitasnya makin menurun dunia hiburan, setidaknya ia masih punya pemasukan lain untuk menghidupi keluarga mereka.
Suaminya itu tahu kalau kariernya didunia hiburan pasti akan selalu ada diatas seperti sekarang. Ada masanya ia akan digantikan dengan pendatang baru yang jauh lebih muda dan berpotensi. Makanya ia memutuskan untuk mengembangkan bisnisnya itu. Arvi tak mau kariernya yang mulai meredup didunia hiburan nanti akan berdampak pada istri dan anak-anaknya kelak.
" Gimana, Mas? Meta bilang apa?" Tanya Lola sesaat setelah Arvi bicara dengan Meta, orang yang dipercayakan untuk mengurus brand pakaiannya tersebut.
Arvi memijit dahi pelan sebelum menghembuskan nafas kasar. " Meta bilang model yang akan kita gunakan untuk memperkenalkan produk baru kita tiba-tiba membatalkan kontrak."
" Kok bisa tiba-tiba jadi batal?" Lola membelalakkan mata tak percaya.
__ADS_1
Arvi memang berencana mengeluarkan new collection berupa piyama couple untuk suami istri. Terinspirasi dari Lola yang selalu mengeluh setiap malam karena bahan piyama yang ia gunakan gatal dan panas. Harusnya produk itu segera dirilis, namun karena model yang mereka ajak kerja sama tiba-tiba membatalkan kontrak, Arvi jadi kebingungan.
" Pak, pihak manajemen dari model tersebut bilang akan mengembalikan semua yang yang sudah kita transfer, selain itu juga mereka meminta maaf karena sudah membatalkan kontrak secara tiba-tiba."
" Kok bisa gitu sih? Gak profesional banget?" Komentar Lola.
" Produknya kan akan segera dirilis."
" Iya Bu, katanya ada masalah internal antara pihak manajemen dan modelnya." Balas meta. Dia tahu betul pasangan suami istri ini sangat berbeda bagaikan dua kutub yang saling berlawanan. Dimana yang satu tenang dan kalem sedangkan yang satunya lagi ekspresif dan meledak-ledak.
" Yaudah kita cari model lain aja," ujar Arvi tak ingin memperpanjang masalah.
" Kalau cari model lain ada kemungkinan peluncuran produknya telat, Pak!" Ucap Meta. " Apalagi kita sudah sebar di instagram kapan mau diliris, memangnya gak papa?"
" Ya usahakan cepat cari pengganti sebelum produknya diluncurkan. Memang sesulit itu cari pengganti?"
Meta terlihat kebingungan. Mencari model pengganti tidak semudah itu. Apalagi produk yang mereka luncurkan adalah sebuah piyama couple yang harus menekankan kemistri antar satu sama lain.
" Sabar dong sayang." Sahut Lola sambil mengusap lengan suaminya itu lembut. Membuat Meta yang melihatnya sontak mendapat ide tatkala raut wajah Arvi melunak saat balik menatap sang istri.
" Pak saya punya ide!" Ucap Meta sambil menjentikkan jari.
" Ide apa?"
" Gimana untuk peluncuran produk kali ini yang jadi modelnya Bapak dan Ibu? Ide bagus kan? Jadi kita gak perlu susah payah mencari model lain?"
" Meta kamu jangan.." Arvi sudah akan memperingati wanita itu saat Lola tiba-tiba memotong.
" Wah ide bagus itu! Selain menghemat waktu kita juga bisa sekalian menghemat uang. Jadi lebih ekonomis."
Mendapat tanggapan yang positif, Meta jadi semakin berapi-api. " Iya, Bu. Kenapa harus susah payah cari model kalau kalian bisa melakukannya dengan baik."
" Tapi Met, muka aku kayaknya gak modelable. Kira-kira bisa gak ya?"
" Bisa, Bu! Pasti bisa! Gak usah insecure. Ibu itu cantik. Kalau tidak cantik gak mungkin dapatin suami kayak Bapak." Tekan Meta sambil memberikan dua jempolnya.
__ADS_1
" Ah kamu bisa aja." Dipuji seperti itu lantas membuat Lola tersipu.
" Jadi gimana, Pak? Tanya Meta meminta persetujuan. " Kebetulan fotografer nya masih nunggu di studio.